Menuju Tanah Terjanji #3b: Demi NKRI - STOP Dukung Palestina! (bagian 2)


Winston Churchill pernah mengatakan demikian, "Mereka yang gagal belajar dari sejarah, terkutuk untuk mengulanginya." Kutipan bijak ini mengingatkan kita pentingnya mempelajari sejarah karena bagaimanapun pola-pola sejarah itu cenderung berulang.

Jika belajar dari sejarah yang ditulis oleh manusia sudah dianggap penting, apalagi belajar dari sejarah yang ditulis oleh TUHAN sendiri, yaitu Alkitab! Tentu amat sangat penting dan mutlak dilakukan oleh mereka yang tidak ingin terkutuk mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama.

Sebagai kitab suci, Alkitab tidak hanya berisi ajaran-ajaran para nabi, tapi juga kisah sejarah bangsa terpilih yang prinsip-prinsip atau pola-polanya akan selalu berulang di berbagai jaman untuk menyatakan kehendak dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia.

Maka dari itu untuk memahami rencana Tuhan di dalam Alkitab kita perlu mengenal "type", yaitu suatu event sejarah atau kisah tokoh-tokoh Kitab Suci yang secara simbolik menggambarkan kehendak Tuhan di masa yang akan datang ataupun menggambarkan tanda-tanda jaman.

Misalnya perintah Tuhan kepada Abraham untuk mengurbankan Ishak adalah type dari Bapa yang mengurbankan Yesus Sang Putra demi penebusan manusia. Atau penyeberangan Musa bersama bangsa Israel di Laut Merah yang memisahkan mereka dari tanah Mesir untuk selamanya adalah type dari pembaptisan yang memisahkan manusia dari dosa asal untuk selamanya.. Bahkan Yesus juga menggunakan kisah Yunus yang ada dalam perut ikan selama tiga hari sebagai type dari kematian dan penguburan-Nya di dalam perut bumi!

Apa yang terjadi sekarang, terutama ketika pengaruhnya bagi peradaban manusia begitu penting akan dapat dipahami dengan baik jika kita mampu menemukan 'type'-nya di dalam Alkitab.

Begitu juga dengan konflik Israel dengan Arab/Palestina yang menjadi pusat konflik dunia sejak abad 20 hingga hari ini dapat kita pahami dengan baik jika dapat kita menemukan 'type'-nya di Alkitab. Dengan memahami 'type' yang tepat kita dapat memahami akar masalah dari konflik tersebut melalui perspektif rencana dan kehendak Tuhan. Ini penting agar kita dapat mengambil sikap yang tepat dan sejalan dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai kita ikut menjadi terkutuk karena memilih pihak yang melawan TUHAN dan mengakibatkan kita terkena hukuman.

Kegigihan bangsa Arab/Palestina menolak keberadaan bangsa Israel yang kembali menempati tanah yang sudah dijanjikan Tuhan kepada mereka sejak 4000 tahun yang lalu, dapat kita temukan type yang tepat pada kegigihan Firaun yang menolak bangsa Israel untuk keluar dari Mesir dan pergi ke Tanah Terjanji. Berkali-kali upaya damai Israel yang ditolak oleh Palestina juga dapat ditemukan kemiripannya pada penolakan Firaun yang berkali-kali atas permintaan Musa.

Yang mengerikan dari type tersebut adalah, ternyata Tuhan sendirilah yang mengeraskan hati Firaun agar selalu menolak keinginan Musa!

Tentu menjadi pertanyaan kita, mengapa TUHAN tidak menghendaki Firaun menuruti permintaan Musa? Jawabannya, karena Firaun memang sudah tidak mungkin bertobat. Jika ada sedikit saja kemungkinan untuk bertobat dalam masa hidupnya, pasti TUHAN akan memberikan kesempatan. Karena Firaun sudah tidak mungkin bertobat maka Tuhanpun bertekad untuk menghukum Firaun dan bangsanya atas segala dosa-dosa yang sudah dibuatnya.

Lalu apa dosa yang dilakukan oleh Firaun dan bangsa Mesir?

Yang pertama, Firaun dan bangsa Mesir menyembah tuhan-tuhan palsu, yang kedua mereka memperbudak dan menindas bangsa pilihan Tuhan, yang ketiga kesombongan Firaun yang luar biasa sebagai penguasa bangsa Mesir yang besar membuat dirinya merasa sebagai pemilik kebenaran. Itu yang menyebabkannya tidak mungkin bertobat. Firaun dan bangsanya akan terus menyembah tuhan palsu dan akan terus memperbudak bangsa Israel, karena mereka menganggap itu sebagai kebenaran.

Penolakan Palestina untuk berdamai yang sampai pada taraf tidak masuk akal memperlihatkan kesesuaiannya dengan type tersebut. Setelah dikalahkan secara memalukan dalam perang 6 hari pada tahun 1967, liga negara-negara Arab bersidang di Khartoum, Sudan. Hasilnya, untuk menutupi rasa malu yang begitu besar mereka menyatakan sikap "Tiga TIDAK": tidak mengakui Israel, tidak berdamai dengan Israel, dan tidak ada negosiasi dengan Israel.

Memang pada akhirnya negara-negara Arab yang berperang dengan Israel seperti Mesir, Syria, dan Yordania menjilat kembali ludah sendiri, mereka kini sudah berdamai dengan Israel. Tapi Palestina tetap tidak mau berdamai sampai hari ini dan terus mengancam Israel. Bagaimana Palestina sanggup berjuang sendirian melawan Israel? Jawabannya karena mereka memang tidak berjuang sendiri. Secara diam-diam semua negara Arab sesungguhnya memang menghendaki konflik tersebut tetap ada dan terus mendukung Palestina untuk tidak berdamai. Konflik tersebut menjadikan kesempatan bangsa Arab dan Palestina untuk melenyapkan Israel tetap terbuka lebar.

Artinya, TUHAN juga telah mengeraskan hati bangsa Arab dan Palestina untuk terus menolak keberadaan Israel dengan berbagai cara. Penyebabnya sama, mereka tidak mungkin bertobat sehingga Tuhan sudah bertekad untuk menghukum mereka dengan keras sama seperti Tuhan telah menghukum Firaun di masa lalu.

Tapi apa kesalahan bangsa Arab dan Palestina?

Kesalahan mereka terletak pada ajaran agama yang menjadi pedoman hidup bangsa Arab dan Palestina, yaitu Islam. Sekalipun di Arab dan Palestina juga terdapat kelompok-kelompok minoritas Kristen, tapi yang membentuk karakter dan pemikiran bangsa Arab dan juga Palestina adalah Islam, bukan Kristen yang cuma minoritas dan warga kelas dua.

Dalam konteks pengaruh islam tersebut kita dapat melihat kesalahan-kesalahan bangsa Arab dan Palestina dari sudut pandang type kisah penolakan Firaun:

Yang pertama, kesalahan firaun yang menyembah dewa-dewa berhala adalah type dari ajaran islam yang mengajarkan muslim untuk menyembah tuhan palsu dan memuja berhala Hajar Aswad. Ini sebuah kesalahan yang sangat besar di mata Tuhan. Saya sudah banyak membahas mengapa allah swt yang disembah dalam islam hanyalah tuhan palsu pada seri video Islam Dan Akal Sehat. Silahkan lihat video-video tersebut untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap soal itu.

Yang kedua, perlakuan Firaun dan bangsa Mesir yang memperbudak bangsa Israel adalah type dari ajaran islam yang memperlakukan orang Yahudi dan Kristen sebagai kaum dhimmi, atau warga kelas dua. Bahkan di banyak negara islam penindasan dan penganiayaan terhadap orang Kristen banyak terjadi dalam berbagai bentuknya, termasuk misalnya genosida terhadap orang-orang Kristen Armenia oleh Kekhalifahan Ottoman Turki tahun 1915. Genosida terhadap bangsa Armenia itulah yang menginspirasi Hitler untuk melakukan holocaust terhadap orang-orang Yahudi di Perang Dunia II.

Yang ketiga, kesombongan Firaun adalah type dari arogansi islam yang mengklaim sebagai agama terakhir dan paling benar. Akibat kesombongan tingkat dewa yang ditanamkan dalam ajaran islam oleh para ulama-ulamanya, muslim umumnya sulit melihat kebenaran dan terus terikat pada ajaran sesat. Akibatnya mereka akan terus menyembah tuhan palsu dan sekaligus memperlakukan orang-orang Kristen dan Yahudi sebagai dhimmi jika situasinya memungkinkan.

Satu-satunya kesempatan bagi bangsa Arab dan Palestina untuk bertobat dan diselamatkan dari hukuman TUHAN hanyalah jika mereka melepaskan kengkuhannya sebagai muslim dan mulai terbuka ada kebenaran. Dengan cara itu mereka akan terlepas dari jerat ajaran sesat dan bertobat dari kesalahannya. Secara perorangan itu bisa terjadi, tapi sebagai bangsa itu sama sekali tidak mungkin. Maka sangat logis jika Tuhan sudah berketetapan untuk menghukum mereka sebagai bangsa dengan keras!

Selanjutnya, kegigihan Firaun dan pasukannya yang mengejar bangsa Israel hingga ke tengah laut adalah type dari kegigihan bangsa Arab, Palestina, dan para pendukungnya yang terus memusuhi bangsa Israel dan berusaha mengusirnya. Sikap permusuhan itu terus ada dan dikobarkan sekalipun mereka sudah mendapatkan hukuman berat berkali-kali, termasuk melalui berbagai kekalahan memalukan dalam perang dengan Israel. Pada akhirnya sama seperti Firaun dan pasukannya, mereka semua akan dimusnahkan dari muka bumi.

Seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.
Demikianlah yang tertulis dalam Kel. 14:28...

Itulah takdir menyedihkan dari bangsa Arab, Palestina, dan para pendukungnya!

Kemudian juga tertulis dalam Kitab Suci:

Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.(Kel.14:31)

Ini menunjukkan bahwa kelak kehancuran musuh-musuh Israel, yaitu bangsa Arab, Palestina dan para pendukungnya, akan menjadi pemicu orang-orang Israel yang sebelumnya menyangkal Yesus untuk mulai percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Mesias.

Jadi dukungan yang saya maksud dalam video ini bukanlah terhadap bangsa Israel yang tetap menolak Yesus, karena sebagai seorang Kristen saya tidak mungkin membenarkan itu. Tapi terhadap rencana TUHAN atas bangsa Israel yang ingin memulihkan keadaan mereka kembali sebagai bangsa pilihan TUHAN dengan menerima Yesus sebagai TUHAN dan Mesias..

Itu harus menjadi catatan penting untuk memahami isi video ini dengan baik....

Berikutnya kita akan melihat bagaimana konflik Israel-Palestina ini dapat mempengaruhi bangsa kita, dan bahkan mengancam keutuhan NKRI....

Salah satu penyebab kegigihan bangsa Arab/Palestina yang terus menolak perdamaian dengan Israel sesungguhnya tidak lepas dari keinginan kaum muslim radikal yang dimotori olah Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) untuk kembali menegakkan sistem khilafah. Mereka secara efektif menunggangi atau memanfaatkan konflik tersebut demi agenda mereka.

Perlu kita ketahui bahwa sisten khilafah di dunia sudah runtuh sejak dibubarkannya Kekalifahan Ottoman terakhir di Turki oleh Mustapha Kemal Attaturk pada tahun 1924. Sebagai reaksinya, pada tahun 1928 Hasan Al Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin yang tujuannya tidak lain adalah menegakkan kembali berdirinya sistem khilafah.

Untuk memenuhi ambisinya, mereka berusaha menggalang persatuan dan solidaritas umat islam. Ini tugas yang sulit karena bangsa Arab terpecah-pecah oleh berbagai kepentingan golongan. Tapi kesulitan ini mendapat jalan keluar ketika terjadi konflik Arab-Israel. Keberadaan Israel sebagai "musuh bersama" bisa menjadi alat pemersatu yang sangat efektif. Meskipun banyak negara Arab terpaksa berdamai dengan Israel, setidaknya sampai sekarang masih tetap tersisa satu konflik: Israel- Palestina.

Keinginan untuk menegakkan kembali khilafah mendapatkan momentum terbaiknya setelah keberhasilan revolusi islam Iran pada tahun 1979. Bersamaan dengan meningkatnya propaganda syariah, isu Palestina juga mulai dimanfaatkan secara aktif untuk membangun solidaritas muslim global. Maka konflik Palestinapun sengaja dipelihara untuk mempropagandakan kaum muslim sebagai pihak yang teraniaya atau terdzalimi. Dengan cara demikian semangat solidaritas kaum muslim di dunia terus dipupuk demi membangun kembali sistem khilafah.

Itu sebabnya mereka selalu menolak berdamai, tidak peduli sebesar apapun tawaran yang diberikan oleh Israel. Mereka juga terus sengaja melakukan provokasi dengan berbagai tindakan teror untuk mengundang balasan dari Israel. Mereka justru senang jika balasan pihak Israel berhasil menimbulkan korban di pihak Palestina. Juga aksi intifada digerakkan sedemikian rupa sehingga muncul korban-korban pemuda Palestina dan bahkan juga anak-anak. Mereka semua dijadikan "martir" untuk mengobarkan semangat jihad di seluruh dunia.

Sesungguhnya para teroris Palestina seperti PLO dan HAMAS itulah yang telah membunuhi bangsanya sendiri dengan menjadikan mereka sebagai tameng hidup atau memprovokasi mereka untuk mati konyol, lalu menyalahkan orang-orang Israel demi meraih simpati dunia.

Berikut adalah cuplikan video bagaimana seorang ayah Palestina malah meminta tentara Israel untuk menembak anaknya sendiri...

Juga bagaimana semangat kebencian terus ditanamkan dalam pikiran dan jiwa anak-anak Palestina oleh para pemimpin bangsa Palestina sendiri...

Apa yang tampak dalam video-video tadi bukanlah kasus-kasus yang khusus tapi kecenderungan umum yang terjadi pada bangsa Palestina. Sebuah bangsa yang sejak semula memang didirikan atas dasar semangat kebencian.

Dan sekarang semangat kebencian itu memangsa tuannya sendiri. Kebencian itu telah mengubah bangsa Palestina menjadi bangsa yang sangat jahat. Orang-orang tua yang rela menyerahkan anak-anak mereka sendiri untuk dibunuh, dan pemimpin bangsa yang membunuh jiwa anak-anak bangsa mereka sendiri dengan semangat kebencian, sudah menjadi gambaran jelas betapa jahatnya bangsa Palestina ini. Tanpa disadari kini bangsa Palestina berubah menjadi bangsa Kanaan penyembah dewa Molokh yang suka mengorbankan anak-anak mereka sendiri sebagai sesembahan.

Bersedihkah bangsa Palestina karena kehilangan anak-anak mereka? Sama sekali tidak, bangsa Palestina yang jahat itu bergembira dan merayakannya tepat seperti kegembiraan bangsa Kanaan ketika mempersembahkan anak-anak mereka kepada dewa Molokh.

Inilah Sabda Tuhan tentang itu,

"Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN..."  (Im.18:21)

Kemudian di ayat lainnya,

"Engkau harus berkata kepada orang Israel: Setiap orang, baik dari antara orang Israel maupun dari antara orang asing yang tinggal di tengah-tengah orang Israel, yang menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, pastilah ia dihukum mati, yakni rakyat negeri harus melontari dia dengan batu..." (Im.20:2)

Maka memang layaklah jika Tuhan sudah berketetapan untuk menghukum bangsa Palestina karena mereka sudah menjadi bangsa yang jahat, penyembah dewa Molokh, dan tidak mungkin bertobat.

Apakah yang menginspirasi mereka sehingga menjadi jahat dan menjadi pengikut dewa Molokh? Tidak lain dan tidak bukan adalah ajaran Islam yang sudah mendarah daging dalam DNA mereka ditambah dengan agenda jahat untuk mendirikan kembali sistem khilafah, yang lagi-lagi juga bersumber pada ajaran islam!

Bangsa yang jahat penyembah dewa Molokh inikah yang menjadi saudara seiman kaum muslim di Indonesia dan di seluruh dunia? Bangsa inikah yang layak didukung habis-habisan oleh mereka? Ada sesuatu yang salah di sini. Jangan heran jika di negara-negara Barat para pendukung perjuangan Palestina adalah kaum kiri yang dikenal dengan istilah "social-justice warrior". Mereka adalah orang-orang yang juga mendukung gerakan pro-aborsi, sesama pengikut dewa Molokh!

--------------------------

Ini Sabda Tuhan bagi mereka yang mendukung para penyembah dewa Molokh,

"Tetapi jikalau rakyat negeri menutup mata terhadap orang itu, ketika ia menyerahkan seorang dari anak-anaknya kepada Molokh, dan tidak menghukum dia mati, maka Aku sendiri akan menentang orang itu serta kaumnya dan akan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya dan semua orang yang turut berzinah mengikuti dia, yakni berzinah dengan menyembah Molokh..." (Im.20:4-5)

Tuhan juga akan menghukum mereka yang mendukung dan membiarkan bangsa yang jahat pemuja dewa Molokh ini. Karena bagaimanapun mereka telah ikut setuju dengan pemujaan dewa Molokh.

Jadi dengan mendukung perjuangan Palestina tidak hanya kita melawan rencana Tuhan yang ingin mengembalikan bangsa Israel ke Tanah Terjanji, tapi juga mendukung pemujaan dewa Molokh.

Semoga bangsa kita bisa menyadari kekeliruan ini dan tidak lagi mendukung perjuangan mereka agar kita tidak ikut terkena hukuman Tuhan.

Itu tadi dari aspek teologis.

Dalam konteks ideologi khilafah, apa yang terjadi di Palestina saat ini tidak lebih dari perjuangan kotor yang direkayasa dan diperalat untuk membangun semangat jihad dalam rangka mempersatukan umat muslim demi tegaknya khilafah. Dengan demikian para pendukung perjuangan Palestina otomatis masuk dalam rancangan skenario untuk membangkitkan kembali khilafah, entah mereka sadar ataupun tidak.

Salah satu akibatnya, keberhasilan pola kerusuhan di Palestina ini kemudian diikuti oleh kerusuhan kaum radikal berideologi khilafah di berbagai negara Arab seperti di Mesir dan Syria yang kemudian dikenal dengan nama "Musim semi Arab" atau "The Arab Spring".

Tidak berhenti disitu, pola kerusuhan Palestina ini juga hampir saja berhasil diterapkan di negeri kita dalam kerusuhan paska pilpres tanggal 21-22 Mei. Polanya hampir sama, dimulai dari munculnya demo "damai" yang memang sengaja direkayasa untuk ditunggangi para perusuh, provokasi terhadap aparat keamanan, dan jatuhnya para martir yang sengaja dikorbankan untuk membangun potensi kerusuhan yang lebih besar. Bahkan yang terlibatpun sama, yaitu kaum radikal yang berideologi khilafah. Itu semua merupakan dampak langsung maupun tidak langsung dari dukungan terhadap Palestina. Untunglah TUHAN masih berkenan menolong bangsa ini sehingga upaya jahat tersebut dapat digagalkan...

Seharusnya kerusuhan paska pilpres yang mengambil pola perjuangan Palestina dan dimotori ideologi khilafah ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk segera mengambil jarak dan bersikap rasional dalam menyatakan dukungan politik terhadap perjuangan Palestina. Berhentilah mendukung perjuangan Palestina jika perjuangan itu ditujukan untuk menolak keberadaan Israel. Dukungan seperti itu sama konyolnya dengan sikap Firaun yang terus menghalangi bangsa Israel pergi ke tanah terjanji. Suatu saat sikap itu pasti akan mendatangkan hukuman yang berat dan mencelakakan bangsa ini.

Bagaimanapun perjuangan Palestina paska Revolusi Iran erat kaitannya dengan upaya penegakan khilafah. Perjuangan mereka sudah disusupi kuat agenda penegakan khilafah global. Maka dukungan pemerintah pada perjuangan Palestina, suka atau tidak suka hanya akan menyuburkan tumbuhnya ideologi khilafah di negeri ini. Meningkatnya paham radikal yang terpantau di berbagai survey dan juga kerusuhan paska pilpres 21-22 Mei yang lalu seharusnya jadi peringatan keras bagi pemerintah untuk mempertimbangkan kembali dukungan terhadap Palestina.

Ingat, pilpres berikutnya akan terjadi tahun 2024.....

Itu akan menjadi tahun yang sangat penting karena bertepatan dengan 100 tahun tumbangnya sistem khilafah. Para pendukung ideologi khilafah tentu akan mengerahkan kekuatan secara maksimal dalam skala global untuk memanfaatkan momen tersebut demi menegakkan kembali sistem khilafah. Jika pemerintah gagal mengantisipasi ini sejak sekarang, maka tahun 2024 hampir dipastikan akan muncul kerusuhan dalam skala yang lebih besar dan mungkin tidak terbendung.

Itu akan menjadi hukuman Tuhan yang amat berat bagi bangsa kita akibat sikap pemerintah yang terus mendukung perjuangan bangsa Palestina secara salah.

Jika kita ingin mendukung bangsa Palestina, maka dukunglah mereka untuk berdamai dengan Israel dan mengakui eksistensinya. Artinya pemerintah harus ikut aktif mendesak pemimpin bangsa Palestina, baik PLO ataupun HAMAS, untuk meninggalkan doktrin mereka yang ingin menghancurkan Israel dan juga meninggalkan cara-cara perjuangan mereka yang kotor dan menjijikkan dengan mengorbankan anak-anak.

Sekalipun mungkin PLO dan HAMAS akan mengabaikan desakan untuk berdamai, setidaknya sikap ini dapat membantu memangkas tumbuhnya paham radikal di negeri kita. Dengan demikian bangsa kita tidak perlu mendapat hukuman seperti Firaun dan pasukannya yang tetap ngotot mengejar orang-orang Israel hingga ke tengah laut. Ingatlah, mereka dilenyapkan dari muka bumi untuk selamanya. Tentunya kita tidak ingin NKRI jadi pecah dan bubar karena urusan bangsa lain.

Dengan memberikan dukungan secara benar, maka negeri kita tidak perlu terjebak dalam posisi yang melawan rencana Tuhan dan bisa berharap Tuhan akan menolong kita untuk menjaga keutuhan dan kedamaian NKRI...