Sejarah Perang Salib #3c: Pengepungan alta 1565 (bagian 2b)



Penyesalan Sultan Suleiman lambat laun memang terbukti. Para Ksatria Hospitaller yang membangun markas mereka di Pulai Malta kembali menjadi kekuatan yang menghambat dominasi Kekalifahan Ottoman Turki di Laut Mediterania.

Pada tahun 1551, armada perompak Ottoman di bawah pimpinan Dragut Reis yang dijuluki "Fajar Pedang Islam" dan "Raja Tak Bermahkota Laut Mediterania" diperintahkan untuk menyerang Malta. Namun upaya ini gagal dan Dragut mengalihkan serangannya ke Pulau Gozo di sebelah utara Malta yang tidak terjaga dengan baik. Sebagai pelampiasan atas kegagalannya, dia membantai serta menjadikan nyaris seluruh penduduk Pulau Gozo sebagai budak sebelum akhirnya diusir oleh para Ksatria Hospitaller yang didatangkan dari Malta.

Pada tahun 1560 kekalahan Armada Liga Suci dalam pertempuran laut di Djerba membuat Armada Ottoman Turki menjadi penguasa Laut Meditarania. Kondisi ini dilihat oleh Sultan Suleiman sebagai kesempatan baik untuk kembali menyerang Malta yang sekaligus akan membuka kesempatan besar bagi invasi jihad ke Eropa dari arah laut untuk menguasai Roma dan seluruh Eropa. Untuk itu Sultan Suleiman memerintahkan Dragut Reis kembali mempersiapkan serangan ke Malta dan menghabisi Ksatria Hospitaller.

Dalam ekspedisi penyerangan ini Dragut akan didampingi oleh Mustafa Pasha sebagai panglima pasukan Ottoman di darat dan Piali Pasha sebagai pimpinan armada kapal Ottoman. Sementara itu pasukan yang dipersiapkan untuk menyerbu Malta seluruhnya berjumlah lebih dari 50 ribu orang, termasuk sekitar 6300 pasukan elit janissary. Kepada Sultan Suleiman mereka menjanjikan akan menundukkan Malta dalam waktu tiga hari..

Sementara itu berkat informasi mata-mata, pemimpin Ksatria Hospitaller Grand Master Jean Parisot de la Valette segera mempersiapkan pulau Malta untuk menghadapi serangan pasukan Ottoman. Saat itu hanya ada sekitar 500 Ksatria Hospitaller dan 3000 pasukan milisia Malta. Grand Master de la Valette lalu mengirimkan utusan ke berbagai kerajaan Eropa untuk meminta bantuan tambahan pasukan. Paus Pius IV merespon dengan memberikan uang untuk membeli senjata, amunisi, dan perbekalan yang diperlukan.

Pada tanggal 9 April 1565, Don Garcia de Toledo, Pangeran Sisilia mengirimkan bantuan sebanyak 1000 pasukan profesional dari Spanyol. Don Garcia juga menjanjikan bantuan yang lebih besar lagi namun membutuhkan waktu beberapa minggu untuk menyiapkannya.

Mengingat serangan pasukan Ottoman sudah makin dekat, Grand Master de la Valette segera menyiapkan pasukan yang ada untuk berjuang mempertahankan Malta semaksimal mungkin sambil menunggu datangnya bantuan. Di depan seluruh Ksatria Hospitaller dia menguatkan semangat mereka:

"Hari ini iman kita dipertaruhkan dan apakah Injil harus menyerah kepada Alquran. Tuhan meminta hidup yang telah kita janjikan kepada-Nya dalam profesi kita. Berbahagialah mereka yang mengorbankan nyawa mereka.."

Karena meyakini pasukan Ottoman akan lebih dahulu menyerang benteng-benteng pertahanan, Grand Master de la Valette memerintahkan semua penduduk sipil di Malta untuk mengungsi sementara ke kota Mdina yang ada di tengah pulau.

Pada tanggal 18 Mei 1565, armada pasukan Ottoman Turki mulai berdatangan dan berhasil mendaratkan pasukan 10 km di selatan pelabuhan. Mereka segera menyiapkan perkemahan pasukan. Secara gerilya pasukan milisia Malta menyerang pasukan Ottoman untuk menghambat gerak mereka. Namun pasukan Ottoman berhasil terus mendesak masuk dan menguasai Bukit St. Margarita yang strategis.

Setelah mendapatkan posisi yang kuat, Piali Pasha memerintahkan pasukannya untuk menyerang Birgu. Namun serangan ini gagal dan dipukul mundur oleh pasukan Spanyol. Berikutnya serangan diarahkan untuk menyerang Sanglia tapi serangan ini juga menemui kegagalan karena dihadang oleh perlawanan sengit para Ksatria Hospitaller dan milisia Malta.

Pada titik ini mulai timbul perpecahan antara Mustafa Pasha dan Piali Pasha. Mustafa Pasha menginginkan serangan dialihkan ke kota Mdina untuk menjatuhkan moral lawan. Tapi Piali Pasha berkeras untuk menyerang benteng St. Elmo agar mendapatkan posisi kuat untuk mengepung kedua benteng lainnya. Akhirnya keduanya sepakat untuk menyerang benteng St. Elmo terlebih dahulu.

Informasi dari mata-mata kembali membocorkan rencana serangan ini sehingga Grand Master de la Valette segera mengirimkan 150 Ksatria Hospitaller untuk memperkuat pertahanan benteng St. Elmo. Dia berpesan kepada mereka agar mempertahankan benteng St. Elmo selama mungkin sambil menunggu bantuan pasukan yang dijanjikan Don Garcia dari Sisilia. "Iman kita dan kehormatan ordo kita yang sedang kita perjuangkan, hanya TUHAN dan pedang kitalah yang dapat kita andalkan..." begitu katanya memberi semangat mereka.

Sementara pasukan Ottoman bergerak lambat dengan membawa senjata artileri berat untuk menggempur benteng St. Elmo, Ksatria Hospitaller dan pasukan Malta lainnya mulai bergerak menyerang untuk menghambat pergerakan mereka. Meski korban yang berjatuhan di pihak pasukan Ottoman Turki jauh lebih banyak namun jumlah pasukan mereka yang besar membuat gerak maju pasukan Ottoman tetap tidak tertahan. Akibatnya, pasukan Ottoman berhasil mempersiapkan artileri berupa ratusan kanon dan meriam raksasa basilisk untuk menggempur benteng St. Elmo.

Serangan berat yang mencekampun segera dimulai....

Tanggal 25 Mei 1565, tembakan ratusan kanon dan meriam raksasa basilisk mulai menggempur dan merusak tembok benteng tanpa memberi kesempatan sedikitpun bagi pasukan di dalam benteng untuk melakukan serangan balasan.

Melihat posisi pasukan Ottoman yang sedang menyerang benteng St. Elmo ada dalam jangkauan tembakan, Grand Master de la Valette segera memerintahkan pasukannya di benteng St. Angelo untuk menembaki posisi pasukan Ottoman dengan kanon. Serangan yang mengejutkan ini berhasil membuat kekacauan dan menjatuhkan banyak korban di pasukan Ottoman. Komandan armada Ottoman Piali Pasha bahkan sempat terluka dan tak sadarkan diri akibat serangan ini. Untuk sementara waktu kepanikan pasukan Ottoman membuat serangan ke benteng St. Elmo terhenti...

Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Ksatria Hospitaller dan pasukan lainnya untuk mengorganisir kembali pertahanan di benteng St. Elmo. Tapi ketenangan ini hanya berlangsung singkat. Tidak lama kemudian pasukan Ottoman kembali menyerang benteng St. Elmo sambil berusaha bertahan dari serangan kanon benteng St. Angelo.

Pada malam hari, setelah melihat kerusakan yang diakibatkan serangan pasukan Ottoman para Ksatria Hospitaller di benteng St. Elmo sadar bahwa benteng tersebut tidak akan dapat bertahan lama. Mereka segera meminta ijin dari de la Valette untuk meninggalkan benteng. Menyadari perlunya mengulur waktu sampai dengan datangnya bantuan, Grand Master menegaskan kembali perintahnya: mereka harus mempertahankan benteng St. Elmo selama mungkin, jika perlu sampai nyawa terakhir! De la Valette hanya bisa memberikan tambahan pasukan secukupnya untuk menggantikan mereka yang tewas dan terluka.

Keesokan harinya serangan artileri pasukan Ottoman kembali berlanjut dan terus merusak pertahanan benteng St. Elmo. Tapi upaya untuk menembusnya selalu menemui kegagalan karena dihadang perlawanan keras Ksatria Hospitaller dan pasukannya. Mereka menyerang para penyerbu dengan api yunani yang membakar setiap pasukan Ottoman yang berupaya mendekati dinding. Sementara itu benteng St. Angelo juga terus memasok bantuan pasukan dan amunisi yang dibutuhkan agar benteng St. Elmo dapat bertahan sampai bantuan pasukan yang dijanjikan Don Garcia datang.

Pada tanggal 2 Juni 1565, Dragut Reis dan armada perompaknya segera bergabung dengan Mustafa Pasha dan Piali Pasha. Kehadiran Dragut membuat serangan pasukan Ottoman makin berbahaya karena Dragut segera mengepung benteng St. Elmo dari laut dan menutup akses bantuan dari benteng St. Angelo. Tapi keterlibatan Dragut tidak berlangsung lama, pada tanggal 17 Juni dia terluka parah terkena serpihan peluru kanon. Tidak jelas apakah itu tembakan dari benteng St. Angelo atau tembakan dari pasukan Ottoman sendiri.

Sementara itu dari benteng St. Angelo, Grand Master de la Valette dengan sedih mengamati keadaan saudara-saudaranya di benteng St. Elmo yang harus berjuang sendiri karena akses bantuan dari benteng St. Angelo sudah terputus. Ia lalu mengumpulkan semua Ksatria Hospitaller yang ada dan mengajak mereka berdoa, "Kita tidak lagi dapat membantu saudara-saudara kita dengan pasukan dan senjata. Mari kita bantu mereka dengan doa-doa kita agar mereka senantiasa diberi kekuatan untuk berjuang demi iman dan kehormatan ordo..."

Pada tanggal 23 Juni 1565, benteng St. Elmo yang sudah bertahan hampir sebulan lamanya melawan gempuran hebat pasukan Ottoman dari berbagai arah, akhirnya harus jatuh. Dari bagian tembok yang runtuh akibat gempuran kanon dan basilisk, Mustafa Pasha mengerahkan serangan besar-besaran untuk menyerbu ke dalam benteng. Sesuai dengan yang telah diperintahkan, para Ksatria Hosptaller dan pasukannya berjuang sekuat tenaga dan pantang menyerah hingga mereka semua harus gugur sebelum Mustafa Pasha dan pasukannya dapat menguasai benteng tersebut. Pada saat yang sama pasukan Ottoman Turki juga mengalami kehilangan besar karena Dragut Reis pemimpin mereka yang terluka, akhirnya tewas.

Setelah menancapkan bendera Kekalifahan Ottoman Turki di benteng tersebut, Mustafa Pasha mengeluh, "Ya Olloh... betapa besarnya pengorbanan yang harus diberikan untuk merebut benteng sekecil ini.. berapa besar lagi korban yang harus jatuh untuk benteng yang besar?"

Korban yang jatuh di antara pasukan Ottoman berjumlah lebih dari 9000 orang termasuk 3000 orang pasukan elit janissary yang tewas. Sementara itu dari benteng St. Elmo pasukan yang gugur berjumlah 1500 orang termasuk 150 orang Ksatria Hospitaller.

Sebagai ungkapan kemarahan kepada Ksatria Hospitaller dan sekaligus untuk menjatuhkan moral lawan, Mustafa Pasha memerintahkan pasukannya untuk memenggal kepala mayat-mayat Ksatria Hospitaller. Selanjutnya mereka menusukkan tombak pada setiap kepala dan memajangnya di depan benteng St. Elmo. Sementara itu tubuh mereka yang sudah tanpa kepala disalibkan dan dihanyutkan ke laut agar terdampar di pantai Birgu sebagai pesan agar mereka segera menyerah...

Melihat penghinaan yang di luar batas ini Grand Master de la Valette menjadi geram. Ia memerintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan Turki dan menembakkan kepala-kepala mereka dengan kanon ke arah pasukan Ottoman sebagai balasan pesan bahwa Ksatria Hospitaller tidak akan gentar terhadap segala ancaman.

Tanggal 24 Juni 1565 keesokan harinya adalah hari pesta St. Yohanes Pembaptis pelindung ordo. Sekalipun mereka dalam keadaan berduka akibat jatuhnya benteng St. Elmo dan gugurnya saudara-saudara mereka, perayaan pesta itu tetap dilangsungkan secara meriah. Pada malam hari Grand Master de la Valette memimpin langsung prosesi perayaan di jalan-jalan di luar benteng yang membuat suasana di tempat itu menjadi terang benderang dan meriah.

Bagi pasukan Ottoman pemandangan ini menjadi pukulan tersendiri karena ternyata keberhasilan mereka merebut benteng St. Elmo sama sekali tidak menjatuhkan moral pasukan Malta. Sebaliknya bagi Ksatria Hospitaller, perayaan ini mengangkat kembali moral mereka untuk kembali siap menghadapi pertempuran yang pasti akan mereka hadapi setelah kejatuhan benteng St. Elmo.

Tanggal 4 Juli 1565, Piali Pasha yang sudah pulih dari lukanya memerintahkan kanon-kanon dan basilisk ditarik dari pengepungan di benteng St. Elmo dan diarahkan untuk menyerang benteng St. Mikael dari arah daratan. Sementara itu puluhan kapal berisi pasukan janissary disiapkan untuk menyerang secara diam-diam dari arah laut.

Namun strategi ini sudah diantisipasi oleh de la Valette yang mendapat informasi dari mata-mata beberapa hari sebelum serangan dilakukan. Ia sudah memasang barikade, deretan kanon, dan senjata api yunani untuk menyambut kedatangan kapal-kapal penyerbu. Akibatnya puluhan kapal penyerbu yang berisi pasukan elit janissary masuk ke dalam jebakan dan berhasil dihancurkan seluruhnya dengan menewaskan seluruh penumpangnya. Lebih dari 2000 pasukan Ottoman termasuk 1000 pasukan janissary tewas dalam penyerbuan yang gagal itu.

Menyadari strategi untuk menyerang dari dua arah sudah gagal, Mustafa Pasha memerintahkan pasukannya membongkar sebagian kapal untuk membangun beberapa buah menara penyerbu. Alat ini akan digunakan sebagai jembatan bagi pasukan Ottoman untuk menyerbu ke dalam benteng.

Tapi de la Valette tidak kalah cerdik. Dia segera memerintahkan pasukannya untuk membuat beberapa lubang di tembok benteng bagian bawah dan mempersiapkan kanon-kanon untuk memberikan serangan kejutan bagi pasukan Ottoman. Ketika beberapa menara serbu pasukan Ottoman sudah mendekati tembok benteng, kanon-kanon di bagian bawah tembok benteng segera ditembakkan dan merubuhkan menara serbu tersebut sebelum sempat berfungsi. Serangan ini menyebabkan ratusan pasukan Ottoman yang ada di atasnya tewas dan luka-luka.

Setelah berbagai upaya serangan selalu gagal, pilihan Mustafa Pasha tinggal satu: menyerang habis-habsan dengan segala kekuatan yang ada...

Pada tanggal 7 Agustus 1565, Mustafa Pasha mulai melakukan serangan besar-besaran dari darat dan laut terhadap benteng St. Mikael dan St. Angelo. Serangan masif yang mengerahkan hampir seluruh pasukan Ottoman ini mulai menampakkan hasil ketika pada tanggal 15 Agustus benteng pertahanan St. Angelo di Birgu mulai runtuh dan membuka jalan bagi pasukan Ottoman untuk menyerbu masuk. Sekalipun Ksatria Hospitaller dan pasukan lainnya berusaha keras menahan namun gelombang serangan 12 ribu pasukan terus bergerak masuk dan mulai menguasai berbagai posisi strategis.

Sepertinya hanya dalam hitungan jam benteng St. Angelo akan jatuh, dan benteng St. Mikael akan menjadi korban berikutnya. Namun keberuntungan berpihak pada pasukan Malta. Sekelompok pasukan kavaleri yang berpatroli dari kota Mdina tanpa sengaja menemukan lokasi salah satu perkemahan pasukan Ottoman yang nyaris tidak terjaga karena ditinggalkan hampir seluruh pasukannya untuk operasi penyerbuan. Pasukan kavaleri ini langsung menyerang dan membantai pasukan Ottoman yang tersisa. Perkemahan berikut seluruh persediaan makanan yang ada dibakar habis.

Ketika asap kebakaran dari perkemahan mereka terlihat oleh Mustafa Pasha, ia menjadi panik karena mengira pasukan bantuan dari Sisilia sudah mulai berdatangan. Pasukan Ottoman yang nyaris meguasai benteng St. Angelo langsung ditarik mundur kembali ke perkemahan dan seluruh operasai penyerangan dibatalkan. Akibat blunder ini benteng St. Angelo selamat dan pasukan Malta kembali mengkonsolidasikan kekuatan serta memperbaiki tembok pertahanan yang rusak dengan barikade pertahanan.

Kegagalam merebut benteng St. Angelo, hancurnya perkemahan, musnahnya sebagian besar persediaan logistik, dan ditambah lagi dengan perseteruan berkepanjangan antara Mustafa Pasha dan Piali Pasha membuat moral pasukan Ottoman menjadi hancur. Penderitaan ini bertambah parah ketika kapal bantuan yang membawa perbekalan dan amunisi bagi pasukan Ottoman tertangkap oleh kapal-kapal Italia.

Karena Mustafa Pasha masih tetap ingin melanjutkan serangan, satu-satunya pilihan adalah menguasai kota Mdina untuk menjadikannya sebagai basis mereka sebelum masuk musim hujan. Namun baru saja mereka bergerak menuju kota tersebut, kanon-kanon dari kota Mdina sudah ditembakkan dengan gencar meski mereka masih ada di luar jangkauan tembakan.

Mustafa Pasha langsung membatalkan rencana penyerangan karena mengira kota Mdina memiliki amunisi yang cukup untuk bertahan. Padahal kota Mdina sama sekali tidak memiliki pertahanan yang memadai dan tembakan tersebut hanyalah upaya panik dari pasukan penjaga kota Mdina untuk menakut-nakuti pasukan Ottoman.

Pada tanggal 7 September 1565, kapal-kapal bantuan dari Don Garcia mulai berdatangan dengan membawa 8000 prajurit bersenjata lengkap yang masih segar. Situasi ini membuat Mustafa Pasha dan Piali Pasha tidak memiliki pilihan lain selain pergi meninggalkan Pulau Malta. Tanggal 8 September pengepungan terhadap Sanglia dan Birgu segera dibatalkan dan seluruh pasukan Ottoman ditarik untuk kembali ke kapal. Tapi pasukan Malta tidak membiarkan pasukan Ottoman pergi begitu saja setelah membantai saudara-saudara mereka dan membawa kerusakan yang begitu parah. Mereka mengejar dan membantai ribuan pasukan Ottoman sepanjang perjalanan mereka menuju pelabuhan.

Akhirnya pada tanggal 13 September 1565, seluruh pasukan Ottoman Turki pergi meninggalkan Pulau Malta tanpa membawa hasil selain menderita salah satu kekalahan paling memalukan dalam sejarah Ottoman. Dari 50 ribu pasukan Ottoman yang datang ke Pulau Malta, hanya tinggal kurang dari 12 ribu saja yang berhasil kembali dengan selamat. Sementara dari pasukan Malta jatuh korban sekitar 3000 orang tewas termasuk diantaranya 250 Ksatria Hospitaller.

Berita kekalahan pasukan Ottoman yang memalukan memberikan pukulan hebat bagi Sultan Suleiman. Dalam kemarahannya dia bersumpah, "Tahun depan, aku sendiri, Sultan Suleiman, yang akan memimpin penyerangan ke pulau terkutuk tersebut. Aku tidak akan membiarkan seorangpun tetap hidup di pulau itu...!" Tapi seperti juga Sultan Mehmet II yang meninggal sebelum sempat melaksanakan sumpahnya, demikian juga Sultan Suleiman meninggal pada tahun 1566 sebelum sempat kembali menyerang Malta!

Bagi Eropa, kemenangan para Ksatria Hospitaller dan pasukan Malta ini mengangkat moral seluruh kerajaan-kerajaan Eropa dalam perjuangan mereka melawan invasi jihad Kekalifahan Ottoman Turki. Tanggal 8 September selanjutnya diperingati sebagai hari nasional Malta. Sementara itu pahlawan Malta, yaitu Grand Master Jean de la Valette diabadikan namanya sebagai kota Valetta, ibukota Malta.

Tentang pertempuran di Malta, Voltaire menulis demikian,
"Tidak ada yang begitu layak dikenang selain pertempuran Malta!"