Sejarah Perang Salib #3b: Pengepungan Malta 1565 (bagian 2a)


Sultan Suleiman mulai berkuasa di Kekalifahan Ottoman Turki sejak tahun 1520. Sejak kecil ia sudah bermimpi untuk menuntaskan tugas yang belum berhasil dijalankan oleh kakek buyutnya, Sultan Mehmet II. Tugas tersebut tidak lain adalah menaklukkan Pulau Rhodos yang dikuasai para Ksatria Hospitaller.

Bagaimanapun kegagalan penaklukan Pulau Rhodos menorehkan luka sejarah yang memalukan karena Sultan Mehmet II yang dikenal sebagai penakluk Kota Konstantinopel harus menerima kenyataan gagal menaklukkan Pulau Rhodos yang hanya dijaga oleh ratusan ksatria biarawan dengan kekuatan yang tidak sebanding.

Bagi Sultan Suleiman, ini adalah sebuah urusan yang belum tuntas. Maka pada tahun 1522 ia segera mempersiapkan armada untuk menyerbu Pulau Rhodos. Karena tidak ingin mengulangi kegagalan pendahulunya, Sultan Suleiman mempersiapan armada yang jauh lebih besar dan ia sendiri akan menyertai langsung ekspedisi penyerangan itu. Lebih dari 400 kapal dan sekitar 200 ribu pasukan termasuk 6000 pasukan elit janisarry dipersiapkan untuk menyerbu Pulau Rhodos!

Pada saat itu Knight Hospitaller dipimpin oleh Grand Master Philippe Villiers de L'Isle-Adam. Belajar dari serangan tahun 1480, Knight Hospitaller sudah membangun jaringan mata-mata di wilayah Ottoman. Dari informasi mata-mata mereka, Grand Master Philippe Adam segera mengetahui tentang rencana penyerangan tersebut.

Ia lalu mengirimkan utusan ke berbagai kerajaan Eropa untuk meminta bantuan pasukan. Namun usahanya tidak membuahkan hasil, hanya Ksatria-ksatria Hospitaller yang ditempatkan di berbagai pos di Eropa ditambah beberapa perwira dan prajurit simpatisan yang segera merespon. Mereka segera kembali ke Pulau Rhodos sambil membawa banyak perbekalan, senjata, dan amunisi yang dibutuhkan.

Akhirnya sekitar 1000 orang pasukan Venesia yang ditempatkan di Pulau Siprus juga ikut bergabung. Total ada sekitar 700 Ksatria Hospitaller dan 2500 pasukan reguler ditambah sekitar 3500 milisi lokal yang siap mempertahankan Pulau Rhodos dari serbuan pasukan Ottoman. Meski jumlah pasukan yang ada di Pulau Rhodos sangat tidak memadai, tapi kondisi benteng pertahanan mereka saat itu jauh lebih baik ketimbang saat penyerangan di tahun 1480. Selama 40 tahun lebih setelah serangan pertama mereka telah memperbaikinya sehingga menjadi benteng dengan pertahanan terbaik di dunia saat itu.

Tanggal 16 Juni 1522 Sultan Suleiman memimpin lebih dari 100 ribu pasukannya untuk bergerak menyeberangi Selat Bhosporus dan bergabung dengan armada Ottoman di Galipoli, pangkalan angkatan laut Kekalifahan Ottoman Turki. Dua hari kemudian 400 kapal armada Ottoman Turki dengan dipimpin oleh adik ipar Sultan Sulaiman, yaitu Mustafa Pasha, berangkat menuju Pulau Rhodos.

Pada tanggal 24 Juni 1522 kapal-kapal armada Ottoman mulai merapat ke Pulau Rhodos. Mereka segera mengepung Pulau Rhodos dengan ketat untuk menutup kemungkinan datangnya pasukan bantuan dari Eropa atau tempat lain. Pada saat yang sama, para Ksatria Hospitaller merayakan pesta St. Yohanes Pembaptis pelindung ordo dengan meriah sambil memohon perlindungan dari santo suci tersebut.

Pada tanggal 28 Juli 1522, sekitar 100 ribu pasukan Ottoman dibawah pimpinan langsung Sultan Suleiman mendarat di Pulau Rhodos dan mulai mempersiapkan rencana penyerangan.

Beberapa hari kemudian kanon mulai ditembakkan ke arah tembok pertahanan untuk mengalihkan perhatian. Sementara sebagian pasukan Ottoman mulai menggali terowongan bawah tanah untuk menanamkan bom yang akan membongkar tembok benteng pertahanan. Tapi strategi ini segera terbaca oleh pasukan Rhodos. Penembak-penembak jitu dari arah benteng mulai menembak dengan gencar dan pasukan penjaga benteng keluar menyerang untuk membinasakan serta menghalau pasukan Ottoman yang berusaha menggali terowongan.

Persediaan jumlah pasukan yang berlimpah membuat Sultan Sulaiman tidak peduli pada ratusan atau bahkan ribuan korban yang jatuh. Ia tetap memerintahkan pasukannya untuk terus menggali terowongan-terowongan tersebut hingga berhasil membongkar tembok benteng...

Bagaimanapun usaha ini tidak sia-sia. Pasukan Ottoman yang bekerja siang-malam akhirnya mulai berhasil membuat puluhan terowongan yang terus merayap menuju arah tembok benteng. Sementara itu kanon-kanon pasukan Ottoman dan meriam raksasa yang disebut "Basilisk" terus memborbardir tembok benteng untuk merusaknya. Tapi tembok benteng yang sudah diperkuat dengan baik terbukti berhasil membuat upaya ini tidak banyak memberikan dampak yang berarti. Setelah berminggu-minggu serangan, benteng pertahanan Ksatria Hospitaller yang berlapis tetap belum tertebus!

Menghadapi terowongan-terowongan yang akan merusak tembok benteng, para Ksatria Hospitaller membuat alat deteksi sederhana yang sanggup mendeteksi getaran di bawah tanah yang diakibatkan dari aktivitas pembuatan terowongan. Jika ada terowongan yang terdeteksi, mereka langsung menggalinya dan menjatuhkan bom api untuk menghabisi pasukan-pasukan Ottoman yang sedang bekerja di dalamnya. Ada lebih dari 50 terowongan berhasil dinetralisir dengan cara ini.

Tapi pada tanggal 4 September, dua buah terowongan yang diarahkan pada tembok pertahanan di sektor Inggris gagal terdeteksi dan berhasil meledakkan bom yang membuat kerusakan parah. Sekitar 10 meter tembok di sektor Inggris runtuh dan memberi peluang pasukan Ottoman untuk menyerbu masuk benteng. Secara bergelombang ribuan pasukan Ottoman yang dipimpin pasukan elit janissary berusaha memasuki tembok benteng yang runtuh dan berhasil menancapkan bendera di tembok benteng.

Namun pertahanan benteng berlapis yang dirancang dengan baik dalam menghadapi gempuran musuh membuat posisi pasukan Ottoman tidak pernah aman. Tidak berapa lama kemudian para Ksatria Hospitaller dan pasukan lainnya segera menetralisir situasi dengan menahan gerak maju pasukan Ottoman dalam pertempuran sengit yang menimbulkan banyak korban di kedua pihak, sebagian besar dari pasukan Ottoman Turki dan pasukan elit janissary yang terjebak dalam benteng dan menjadi sasaran tembak.

Tapi upaya pasukan Ottoman untuk memasuki benteng terus berlanjut meski ribuan korban terus berjatuhan. Sebagian besar korban adalah pasukan bayaran yang dipaksa untuk terus maju oleh pasukan elit janissary. Namun akhirnya pada tanggal 9 September para Ksatria Hospitaller dan pasukan lainnya berhasil memukul mundur pasukan Ottoman dan menguasai kembali tembok benteng tersebut.

Meskipun korban di pihak Ksatria Hospitaller dan pasukannya jauh lebih sedikit, yaitu hanya berkisar ratusan orang termasuk beberapa puluh ksatria, namun pengaruhnya besar. Akibat korban yang jatuh, kini kekuatan pasukan yang mempertahankan benteng menjadi lemah. Sebaliknya, meski ribuan pasukannya sudah tewas, ancaman pasukan Ottoman Turki tidak berkurang jauh. Masih cukup banyak pasukan yang tersedia untuk merebut benteng Pulau Rhodos.

Pada tanggal 19 September kembali pasukan Ottoman Turki menyerbu tembok benteng sektor Inggris yang rusak. Tapi para Ksatria Hospitaller dan pasukan lainnya tetap berusaha menahan serangan dengan baik. Pada tanggal 23 September Mustafa Pasha memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran ke dalam benteng. Sebelum subuh pasukan Ottoman secara mengejutkan melakukan serangan dengan membombardir tembok pertahanan untuk membuat kerusakan yang lebih besar dan memerintahkan pasukan janissary untuk memimpin penyerbuan ke dalam benteng bersama ribuan pasukan Ottoman lainnya.

Serangan mengejutkan ini berhasil melumpuhkan pasukan yang mempertahankan benteng dan pasukan janissary kembali berhasil menancapkan bendera Ottoman di tembok benteng. Namun tidak lama kemudian direspon oleh perlawanan hebat para Ksatria Hospitaller dan pasukan dari sektor lain yang berdatangan membantu. Mereka menembaki pasukan Ottoman dari berbagai arah dan menyerang dengan efektif di wilayah benteng yang sangat mereka kenali medannya.

Pertempuran yang berlangsung lebih dari enam jam ini akhirnya menjadi bencana bagi pasukan Ottoman. Kegigihan Ksatria Hospitaller dan pasukan lainhya dalam mempertahankan benteng membuat ribuan korban pasukan Ottoman kembali berjatuhan dan berhasil memaksa mereka mundur. Serangan pasukan Ottoman kembali gagal!

Kegagalan Mustafa Pasha dalam serangan besarnya membuat marah Sultan Suleiman. Ia berniat mengeksekusi Mustafa Pasha di depan seluruh pasukan, namun dihalangi oleh para jendralnya. Akhirnya Mustafa Pasha hanya diusir dan dibuang ke Mesir sebagai hukuman atas kegagalannya.

Banyaknya korban yang jatuh dan gagalnya berbagai serangan mulai meruntuhkan moral pasukan Ottoman. Selain itu korban-korban pasukan Ottoman yang tidak sempat dikuburkan mulai membusuk dan menimbulkan penyakit yang menyerang sebagian pasukan Ottoman lainnya. Tapi itu semua tidak menyurutkan niat Sultan Suleiman untuk melanjutkan serangan.

Pada tanggal 10 Oktober tembok benteng sektor Spanyol berhasil diruntuhkan. Sekalipun tembok benteng sudah didesain untuk mampu bertahan dari serangan semacam itu, namun kali ini tidak ada cukup pasukan untuk mencegah masuknya pasukan Ottoman yang berhasil menguasai sektor tersebut secara permanen. Para Ksatria Hospitaller dan pasukannya memang berhasil mencegah pasukan Ottoman untuk masuk lebih jauh ke dalam benteng, namun mereka juga tidak berhasil mengusirnya.

Ini merupakan saat yang kritis, bukan hanya bagi Ksatria Hospitaller, tapi juga bagi pasukan Ottoman...

Selain pasukan yang tersisa sudah tidak cukup lagi untuk mempertahankan benteng secara efektif, mulai timbul desakan dari penduduk sipil dan milisia lokal agar Grand Master Philippe Adam segera melakukan perundingan dengan pasukan Ottoman agar pertempuran bisa segera diakhiri.

Sementara itu dari pasukan Ottoman juga muncul keinginan serupa. Setelah melihat kegigihan para Ksatria Hospitaller dan pasukannya dalam mempertahankan benteng, Sultan Sulaiman segera sadar mengapa Sultan Mehmet II di masa lalu gagal menaklukkan Pulau Rhodos. Wabah penyakit yang mulai menyerang pasukan Ottoman, runtuhnya moral pasukan akibat jatuhnya banyaknya korban dan kerasnya perlawanan pasukan salib, persediaan logistik yang mulai menipis, serta kekhawatiran akan mulainya musim hujan yang dapat semakin mempersulit keadaan, membuat Sultan Suleiman merasa pesimis untuk melanjutkan serangan.

Tapi mundur dari medan pertempuran juga bukan pilihan. Bagaimana mungkin penguasa terkuat di dunia yang datang dengan lebih dari 200 ribu pasukan harus mengaku gagal menghadapi sekelompok biarawan pejuang yang mempertahankan benteng hanya dengan kekuatan kurang dari 7 ribu orang? Apa kata dunia jika itu terjadi?

Akhirnya setelah melalui berbagai upaya perundingan, terjadi kesepakatan penyerahan secara damai. Ini satu-satunya pilihan terbaik bagi kedua pihak.

Begitu leganya Sultan Suleiman dengan kesepakatan ini sehingga dia memberikan begitu banyak kemurahan yang sangat mencengangkan....

Ksatria Hospitaller akan menyerahkan benteng dan pergi meninggalkan Pulau Rhodos secara terhormat. Mereka akan pergi dengan kepala tegak sambil membawa seluruh atribut kehormatan dan harta mereka kecuali senjata. Sultan Suleiman juga berjanji akan membebaskan semua tawanan, tidak akan memperbudak rakyat di Pulau Rhodos, membebaskan mereka dari pajak jizya selama 5 tahun, dan tidak akan mengubah gereja yang ada menjadi mesjid! Bahkan Sultan Suleiman menawarkan kapal-kapal Ottoman untuk digunakan pergi keluar Pulau Rhodos jika perlu... Tentu saja tawaran ini tidak diambil karena para Ksatria Hospitaller masih memiliki kapal mereka sendiri.

Pada tanggal 20 Desember 1522, para Ksatria Hospitaller berbaris keluar dari benteng mereka di Pulau Rhodos dengan kepala tegak sambil mengenakan seragam kehormatan mereka dan membunyikan drum serta terompet. Sementara itu Sultan Suleiman mengiringi kepergian para Ksatria Hospitaller dengan melepaskan turbannya sebagai tanda hormat terhadap musuh yang begitu tangguh dan nyaris gagal ditaklukannya.

Pada tanggal 1 Januari 1523, 184 orang Ksatria Hospitaller yang masih hidup dan terluka meninggalkan Pulau Rhodos menuju Pulau Kreta dengan tiga kapal mereka, Santa Maria, Santa Katarina, dan Santo Yakobus.

Tapi tidak lama kemudian Sultan Suleiman tersadar dari mabuk kemenangannya dan mulai menyesali keputusannya yang melepaskan begitu saja para Ksatria Hospitaller. Beberapa catatan menunjukkan akhirnya dia mengingkari janjinya untuk tidak menindas rakyat Pulau Rhodos dan menjadikan gereja-gereja di Pulau Rhodos menjadi mesjid.

Sementara itu para Ksatria Hospitaller yang meskipun kalah telah menunjukkan perlawanan yang membanggakan, disambut bagaikan pahlawan. Pemimpin Kekaisaran Romawi Suci, Charles V, berkomentar, "Tidak ada kekalahan yang begitu baik (terhormat) selain kekalahan di Pulau Rhodos!"

Akhirnya Kaisar Charles V memberikan Pulau Malta sebagai markas mereka yang baru. Sebagai imbalannya Ksatria Hospitaller akan mengirimkan seekor elang Malta setiap tahun kepada Kaisar Charles V.

Pulau Malta adalah sebuah pulau yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul pernah dikunjungi oleh Rasul Paulus. Di Pulau inilah Rasul Paulus dipagut ular dan tidak menderita apapun (Kis.28:3-5). Kelak di pulau juga para Ksatria Hospitaller dipagut ular-ular dari Armada Kekalifahan Ottoman Turki tapi mereka tetap selamat dan menjadi saksi iman!