Menuju Tanah Terjanji #3a: Demi NKRI - STOP Dukung Palestina (bagian 1)


Adalah kebijakan politik luar negeri pemerintah Indonesia untuk mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Alasannya, itu adalah bagian dari amanat konstitusi yang menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi.

Tapi benarkah ada penjajahan bangsa Palestina?

Jika kita mau melihat duduk perkaranya berdasarkan fakta sejarah, sesungguhnya tidak ada yang namanya bangsa Palestina dan otomatis juga tidak ada penjajahan terhadap bangsa Palestina. Yang ada adalah upaya politik dan kekerasan yang kotor dan bodoh untuk menolak keberadaan negara Israel. Saya sebut kotor karena akarnya adalah niat jahat, dan bodoh karena sudah pasti tidak akan menang. Isu bangsa Palestina tidak lebih hanyalah rekayasa yang dimunculkan untuk menentang keberadaan negara Israel. Dan sayangnya negeri kita ikut-ikutan terjebak di dalamnya demi solidaritas konyol. Itulah kira-kira garis besarnya.

Pada video kali ini saya akan membahas masalah konflik Palestina dan dampaknya terhadap NKRI atas sikap dukungannya terhadap Palestina. Pada bagian pertama saya akan membahas secara ringkas akar masalah konflik Israel dan Palestina. Dan pada bagian kedua saya akan membahas dampak buruk dukungan tersebut bagi kesatuan NKRI.

-------

Kita sering mendengar bahwa konflik di Timur Tengah adalah karena perjuangan bangsa Palestina untuk merdeka dari pendudukan Israel.

Sayangnya ini cuma hoax...

Bangsa Palestina itu sesungguhnya tidak ada saat Israel menyatakan kemerdekaannya...

Mereka yang menyebut dirinya orang-orang Palestina tidak lebih adalah orang-orang yang bermukim di wilayah yang disebut dengan Palestina. Mayoritas mereka adalah keturunan Arab tapi ada juga keturunan Yahudi dan etnis-etnis lain.

Selama 2000 tahun sejak bangsa Israel meninggalkan tanah tersebut entah mengapa tidak pernah terbentuk sebuah bangsa Palestina yang memiliki identitas budaya dan kebangsaan sendiri. Sebagai kekuatan politik dan militerpun juga tidak pernah ada. Faktanya, tidak pernah ada yang namanya raja atau pemimpin bangsa Palestina sampai dengan pertengahan abad 20. Bahkan sampai hari ini tidak ada yang namanya bahasa Palestina.

Tepat apa yang dikatakan oleh Golda Meir, PM Israel, "Tidak ada yang namanya bangsa Palestina...bukannya kita datang lalu mencampakkan mereka keluar dan merebut negara mereka... Mereka tidak ada!"

Hal yang sama ditegaskan juga oleh Hafez Al-Assad, Presiden Syria, dalam pesannya kepada Yaser Arafat, "Jangan melupakan satu hal ini: tidak ada yang namanya bangsa Palestina.... Palestina adalah bagian tak terpisahkan dari Syria"

Intinya Palestina sebagai sebuah bangsa yang memiliki identitas sejarah, budaya, ras, bahasa, atau kekuatan politik tersendiri sama sekali tidak pernah ada sebelum pertengahan abad 20. Itu cuma hoax yang disuarakan oleh orang-orang yang tidak paham sejarah.

Ini contohnya...

Yasser Arafat pernah mengatakan bahwa bangsa Palestina adalah orang-orang Kanaan yang tinggal di tanah tersebut jauh sebelum bangsa Yahudi. Ini tentu saja tidak benar karena bangsa Kanaan sudah punah.

Ada lagi yang mengatakan mereka adalah bangsa Filistin yang disebut dalam Alkitab. Itupun tidak benar karena bangsa Filistin tidak lain adalah kaum pendatang Yunani yang menginvasi daerah tersebut sekitar seribu tahun sebelum kedatangan Yesus dan mereka juga sudah punah...

Yang paling konyol, ada orang yang mengatakan bahwa Yesus adalah bangsa Palestina.. Sama sekali bukan, Yesus jelas orang Yahudi dan di jaman itu tidak ada yang namanya orang Palestina...

Jadi dari mana nama Palestina berasal?

Istilah ini diberikan pertama kali tahun 154 M kepada wilayah Yudea oleh Kaisar Romawi bernama Hadrian yang menguasai wilayah tersebut. Pada masa itu Kaisar Hadrian yang dipusingkan oleh pemberontakan orang-orang Yahudi, membasmi dan mengusir mereka keluar dari wilayah Yudea. Untuk mencegah orang-orang Yahudi datang kembali karena alasan keterikatan mereka terhadap tanah tersebut, wilayah Yudea diberi nama baru dengan mengambil nama bangsa Filistin yang pernah menjadi musuh orang-orang Yahudi. Tanah tersebut selanjutnya diberi nama Syria-Palestina. Itulah asal-mula penamaan wilayah tersebut menjadi Palestina.

Walaupun sebagian besar orang Yahudi sudah diusir dari wilayah tersebut tetap ada kelompok-kelompok kecil Yahudi yang tinggal disana berbaur dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa Yunani, Mesir, Arab, Persia, dan lain-lain. Selanjutnya wilayah tersebut menjadi tempat tinggal bagi banyak bangsa dan berkali-kali berganti penguasa. Tapi tidak ada satupun yang pernah mengklaim wilayah tersebut sebagai tanah air mereka. Jadi satu-satunya bangsa yang pernah menglaim wilayah tersebut sebagai tanah air mereka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya dan bangsa itu masih ada hingga hari ini hanyalah bangsa Yahudi.

Itu fakta sejarah....

Sepertinya sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa tidak satupun ada bangsa yang mengklaim wilayah tersebut sebagai tanah air kecuali bangsa Israel.

Adalah Theodor Herzl yang pada tahun 1897 mengemukakan ide tentang adanya negara Yahudi. Gagasan ini kemudian mulai membuat banyak orang Yahudi yang tertarik kembali ke tanah Palestina, tempat nenek moyang mereka berasal.

Setelah PD I, wilayah tersebut ada dalam kekuasaan Inggris yang merebutnya dari Kekalifahan Ottoman Turki. Sementara itu imigran Yahudi mulai bertambah banyak datang ke wilayah Palestina. Kedatangan imigram Yahudi ini tentu menimbulkan pergesekan sosial dengan orang Arab yang menjadi mayoritas pada waktu itu. Akhirnya pada tahun 1936 muncullah pemberontakan orang-orang Arab melawan pendudukan Inggris dan sekaligus juga orang-orang Yahudi.

Untuk mengatasi pemberontakan tersebut kemudian Lord William Peel membentuk komisi yang menawarkan kemerdekaan pada dua pihak yang bertikai: Orang Arab akan menguasai 80% wilayah, dan sisanya diberikan pada Yahudi. Meskipun pembagian ini merugikan, orang Yahudi setuju tapi orang Arab justru menolak. Dalam ketamakannya mereka ingin menguasai seluruhnya dan mengusir orang-orang Yahudi.

Itu adalah penolakan pertama orang-orang Arab Palestina untuk merdeka...

Selanjutnya sebagai pemegang mandat atas wilayah tersebut Inggris memberikan kemerdekaan pada Yordania (1946) dan Iraq (1947). Sedangkan sisa wilayah yang masih bertikai diserahkan pada Liga Bangsa-Bangsa setelah mandatnya habis pada tahun 1947.

Sama seperti sebelumnya, pada bulan November 1947 Liga Bangsa-Bangsa menawarkan untuk membentuk dua negara terpisah di wilayah yang bersengketa. Kali ini luas wilayahnya relatif hampir sama karena meningkatnya imigran Yahudi yang datang secara signifikan akibat kekejaman Nazi pada Perang Dunia II. Orang-orang Yahudi setuju pada tawaran ini tapi orang-orang Arab kembali menolak.

Ini adalah penolakan kedua orang Arab-Palestina untuk merdeka.

Tidak hanya menolak, kali ini orang-orang Arab-Palestina dibantu oleh Libanon, Syria, Yordania dan Mesir melancarkan perang untuk mengusir orang-orang Yahudi. Hasilnya mereka kalah dan orang-orang Israel menyatakan kemerdekaan pada tahun 1948.

Negara Israel yang baru merdeka ini mencakup semua wilayah yang sudah diberikan kepada mereka menurut mandat Liga Bangsa-Bangsa ditambah dengan wilayah-wilayah lain yang mereka menangkan dalam perang kemerdekaan, termasuk Yerusalem Barat.

Sementara itu wilayah yang tadinya diperuntukan bagi Arab Palestina di daerah Gaza dikuasai oleh Mesir dan di daerah Tepi Barat dikuasai oleh Yordania. Tapi anehnya tidak sedikitpun orang-orang Arab Palestina mempersoalkan pendudukan Mesir dan Yordania atas wilayah mereka. Hanya pendudukan oleh Israel saja yang mereka permasalahkan. Ini bukti telak yang menunjukkan bahwa alasan perlawanan orang-orang Arab-Palestina bukanlah masalah pendudukan wilayah! Ada faktor lain!

Keinginan bangsa Arab untuk mengusir Israel tidak berhenti. Pada tahun 1964 orang-orang Arab-Palestina membentuk PLO, Organisasi Pembebasan Palestina, yang salah satu tujuannya adalah menghapuskan negara Israel. Tujuan itu tertulis secara eksplisit di dalam piagam pendirian PLO. Baru tahun 1964 itulah orang-orang Arab-Palestina untuk pertama kalinya mengklaim diri mereka sebagai bangsa Palestina.

Jadi yang disebut sebagai bangsa Palestina, sesungguhnya adalah sebuah bangsa yang lahir pada tahun 1964 dari semangat kebencian terhadap Israel. Ini perlu digarisbawahi karena akan membantu kita memahami mengapa mereka selalu menolak setiap usulan perdamaian!

Pada tahun 1967, tiga negara Arab, Mesir, Yordania, dan Syria, merencanakan untuk menyerang Israel. Tapi Israel menyerang lebih dulu dan secara memalukan negara-negara Arab kalah telak dalam perang 6 hari. Hasilnya, wilayah Israel menjadi tiga kali lipat, termasuk menguasai Tepi Barat dan Gaza.

Israel kemudian menawarkan dua opsi. Yang pertama, mengembalikan Gaza pada Mesir dan Tepi Barat kepada Yordania untuk perdamaian. Opsi lain, memberikan kedua wilayah tersebut kepada Arab-Palestina yang mulai menyebut diri mereka sebagai bangsa Palestina. Tapi kembali tawaran ini ditolak. Ini adalah penolakan ketiga terhadap kesempatan orang-orang Palestina untuk merdeka.

Israel sebaliknya tidak berhenti memberikan kesempatan. Pada tahun 2000 PM Ehud Barak dan Yaser Arafat bertemu di Camp David untuk membicarakan kemerdekaan Palestina dengan menawarkan wilayah Gaza, 94% wilayah Tepi Barat, dan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Tapi kembali tawaran ini ditolak oleh Yaser Arafat yang memilih meninggalkan perundingan dan melanjutkan terorisme.

Ini penolakan yang keempat untuk bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaan secara damai. Bangsa yang lahir dari kebencian ini memilih untuk terus melakukan teror.

Pada tahun 2005 Israel secara sepihak meninggalkan Gaza dan memberikan wilayah itu sepenuhnya pada orang-orang Palestina. Apa yang terjadi? Bukannya mereka mengambil kesempatan itu untuk membangun kehidupan yang damai di Gaza, tapi malah menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat perlawanan dan basis terorisme. Sepertinya bangsa Palestina memang tidak ingin merdeka dan hidup berdampingan secara damai dengan Israel.

Pada tahun 2008 kembali Israel menawarkan kemerdekaan Palestina. PM Ehud Olmert menawarkan Palestina apa yang ditawarkan di Camp David ditambah beberapa wilayah lain. Tapi oleh pemimpin PLO Mahmoud Abbas, tawaran ini kembali ditolak.

Ini penolakan yang kelima dari Palestina untuk mendapatkan kemerdekaannya secara damai...

Dari kelima penolakan yang konsisten ini kesimpulannya cuma satu: doktrin perjuangan Palestina bukanlah kemerdekaan mereka sebagai bangsa, tapi pemusnahan Israel. Ini doktrin yang sangat jahat dan pasti berasal dari kuasa gelap.

Sekarang kita beralih ke Israel, dari manakah bangsa ini berasal...

Kita bisa membaca sejarahnya di dalam Kitab Suci:

..berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya... " (Kej.12:14-15).

Jadi tanah yang dimiliki bangsa Israel sesungguhnya adalah tanah yang dijanjikan TUHAN kepada Abram atau Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya. Sementara itu Israel adalah nama lain dari Yakub, cucu Abraham. Dia memiliki 12 orang anak laki-laki yang nama-namanya kelak menjadi nama dari suku-suku Israel. Dari keturunan Yakub inilah bangsa Israel berasal.

Selanjutnya kurang lebih 1000 tahun sebelum masehi bangsa Israel mendirikan Kerajaan mereka dengan Saul sebagai raja mereka yang pertama, Daud menjadi raja yang kedua dan Salomo yang ketiga. Ibukota Kerajaan Israel ini tidak lain adalah Yerusalem yang dikenal juga dengan nama Kota Daud. Setelah Salomo Kerajaan Israel akhirnya terbagi-bagi, yang terbesar: Samaria di utara dan Yudea di selatan.

Itulah dasar historis dan religius dari keterkaitan bangsa Yahudi terhadap negara Israel yang mereka dirikan sekarang. Tak ada suatu bangsa di muka bumi ini yang punya keterkaitan dengan tanah airnya lebih kuat dari pada keterkaitan yang dimiliki bangsa Isreel terhadap tanah airnya, sebab Tuhan sendirilah yang memberikan tanah itu secara eksplisit kepada mereka. Itu fakta yang unik, hanya satu-satunya.

Setelah terpencar di berbagai penjuru dunia selama berabad-abad mereka kembali ke tanah air mereka yang sudah diubah namanya menjadi Palestina sebagai imigran. Selanjutnya tahun 1948 mereka menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka di tanah air yang sudah dijanjikan Tuhan kepada mereka, dan kemerdekaan itu diakui sah di mata hukum internasional. Bahwa negara-negara Arab tidak mau mengakuinya, itu soal lain. Satu hal yang jelas, TUHAN pasti menyatakan kemerdekaan itu sah.

Demikian juga ketika mereka sebagai negara yang berdaulat dan wajib membela diri dari serangan bangsa lain dapat merebut kembali seluruh wilayah Yerusalem dan wilayah-wilayah lain yang membuat luas negara mereka bertambah tiga kali lipat. Itu hasil yang didapat pada tahun 1967 melalui peperangan 6 hari yang ajaib.

Perhatikanlah bagaimana Tangan Tuhan bekerja bagi Israel..

Pada saat pembagian wilayah yang diberikan Liga Bangsa-Bangsa tahun 1947, Israel tidak menguasai Yerusalem. Tapi karena dipaksa berperang mereka menjadi negara merdeka di tahun 1948 dengan mendapatkan Yerusalem Barat. Kemudian ketika mereka kembali dipaksa berperang pada tahun 1967, mereka malah berhasil menguasai Yerusalem seluruhnya!

Pada perang enam hari di 1967 itu mereka dipaksa menyerang lebih dahulu setelah tiga negara yaitu Mesir, Yordania, dan Syria berrencana akan menyerbu dan menghapuskan negara Israel. Ada banyak keajaiban yang membuat Israel dapat memenangkan peperangan yang tidak seimbang itu.

Ini beberapa contohnya....

Serangan udara pertama Israel terhadap Mesir dapat berhasil dengan gemilang karena Mesir tidak dapat membaca pesan bahaya yang dikirimkan Yordania. Penyebabnya adalah, secara kebetulan sehari sebelum serangan terjadi Mesir mengubah sistem pembacaan kode rahasia. Akibatnya mereka tidak dapat membaca peringatan penting yang dikirimkan oleh Yordania!

Sementara itu seminggu sebelum terjadi perang, Mesir juga mengganti komandan-komandan pasukan di Gurun Sinai dengan orang-orang yang tidak berpengalaman di wilayah gurun. Dan entah mengapa Presiden Gamal Abdul Nasser mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan para jendralnya pada saat terjadi serangan. Kebetulan-kebetulan itu selanjutnya menjadi salah satu kunci kemenangan Israel dalam perang tersebut.

Dan ini yang paling mencolok, perang tersebut berakhir dalam waktu 6 hari dan pada hari ketujuh mereka beristirahat. Ini sebuah kebetulan yang mengingatkan kita pada kisah penciptaan menurut Kitab Suci dimana TUHAN bekerja selama 6 hari dan pada hari ke tujuh Tuhan beristirahat! Keterkaitan ini seperti menunjukkan pada semua orang bahwa TUHANlah yang sedang bekerja menolong Israel dalam peperangan tersebut.

Bahkan dengan melihatnya secara lebih luas, hasil perang yang membuat bangsa Israel kembali menguasai seluruh Yerusalem setelah terbuang hampir 2000 tahun lamanya, menjadi tanda bahwa keberadaan negara Israel dan penguasaan terhadap Yerusalem adalah bagian dari rencana TUHAN. Yaitu untuk memulangkan bangsa Yahudi yang tersebar, kembali ke Tanah Terjanji. Sama seperti saat TUHAN mengembalikan mereka dari Mesir dan juga Babel di masa lalu.

Soal bangsa Arab yang sudah dipermalukan habis-habisan dalam perang 1967 tersebut lalu merengek-rengek meminta bantuan banyak negara melalui PBB untuk tidak mengakui kemenangan Israel, itu soal lain. Satu hal yang pasti, TUHAN sendiri yang memberikan kemenangan itu!

Tapi kemudian akan muncul pertanyan...

Mengapa kembalinya bangsa Israel ke Yerusalem begitu penting sehingga Tuhan sampai campur tangan begitu dalam untuk menolong mereka tetap eksis sampai dengan detik ini?

Mari kita gali hal itu lebih jauh lagi...

Seperti yang sudah disebutkan tadi, kepada Abraham Tuhan menjanjikan Tanah Kanaan sebagai milik keturunan Abraham, yakni bangsa Israel, untuk selamanya. Namun dalam Kitab Suci juga disebutkan dua kali bangsa Israel keluar dari Tanah Terjanji dan dua kali pula Tuhan mengembalikan mereka.

Yang pertama adalah karena bencana kelaparan yang memaksa semua keturunan Yakub mengungsi ke Mesir an menetap di sana. Awalnya mereka diterima dengan baik, taoi kemudian mereka dijajah oleh bangsa Mesir. Empat ratus tahun kemudian dengan dipimpin Musa, Tuhan mengeluarkan mereka dari penjajahan di Mesir dan berkelana di padang gurun. Tapi akhirnya dengan dipimpin oleh Yoshua bangsa Israel berhasil kembali masuk ke Tanah Terjanji.

Yang kedua, karena ketidaksetiaan bangsa Israel, kira-kira 600 tahun sebelum Masehi bangsa Israel ditaklukkan oleh bangsa Babel dan mereka dibuang ke negeri Babel selama kurang lebih 50 tahun lamanya. Tapi Raja Koresy (Cyrus) dari Persia menaklukkan bangsa Babel dan dia digunakan Tuhan untuk mengembalikan bangsa Israel ke Tanah Terjanji.

Selanjutnya pada tahun 70 Masehi Bait Allah di Yerusalem dihancurkan bangsa Romawi dan Kaisar Hadrian pada tahun 154 Masehi mengusir orang-orang Yahudi dari Tanah Yudea yang kemudian diganti namanya menjadi Syria-Palestina.

Terusirnya mereka dari Tanah Terjanji selama hampir dua milenium lamanya dapat diinterpretasikan sebagai hukuman TUHAN akibat penolakan mereka terhadap Yesus. Selama masa pengasingan itu dimanapun mereka tinggal mereka terus dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang di sekitarnya. Itu semua adalah bagian dari hukuman Tuhan yang harus mereka jalani. "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"  demikian teriak mereka saat meminta Yesus untuk disalibkan.

Tapi sebesar apapun kesalahan mereka, hukuman tersebut tidak dimaksudkan TUHAN untuk selamanya. Sebagaimana melalui tangan Koresy yang tidak mengenal Tuhan bangsa Israel dikembalikan dari Babel, demikian juga melalui tangan kaum sekuler yang tidak peduli pada Tuhan, bangsa Israel dikembalikan ke Tanah Terjanji di abad 20.

Mengenai kembalinya bangsa Yahudi setelah terusir selama hampir 2000 tahun lamanya, sebenarnya sudah dinubuatkan, baik dalam Kitab Perjanjian Lama (atau tepatnya Deuterokanonika) maupun Kitab Perjanjian Baru.

Sebelum bangsa Babel menghancurkan Yerusalem, Nabi Yeremia menyembunyikan Tabut Perjanjian dan Tabernakel (Kemah Suci) di dalam sebuah gua yang tidak akan ditemukan sampai umat TUHAN kembali ke tanah airnya lagi.

Ini katanya, "Tempat itu harus tetap rahasia sampai Allah mengumpulkan kembali umat serta mengasihaninya lagi. Kelak semuanya akan ditunjukkan oleh Tuhan dan kemuliaan Tuhan serta awan akan nampak lagi, sebagaimana dahulu dinyatakan kepada Musa dan sebagaimana Salomopun telah berdoa juga, supaya tempat itu disucikan secara istimewa." (2Mak.2:7-8).

Memang setelah pembuangan dari Babel bangsa Israel sudah kembali lagi ke tanahnya, namun Tabut Perjanjian dan Tabernakel tidak ditemukan. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa kembalinya bangsa Israel dari Babel bukanlah yang dimaksud oleh Nabi Yeremia dalam nubuatnya. Akan ada masa lain dimana bangsa Israel terusir lagi dan kembali ke tanahnya.

Dan itu terbukti! Setelah menyangkal Yesus, bangsa Yahudi kembali terusir dari tanahnya dan mengembara di berbagai tempat sebagai bangsa tak bertanah air.

Sekarang, setelah hampir dua milenium lamanya bangsa Israel terusir dari tanah airnya, sejak tahun 1948 mereka kembali memiliki negara yang merdeka tepat di tanah yang sudah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Jika kita melihat penyertaan tangan Tuhan yang begitu kuat dalam proses kembalinya mereka ke Tanah Terjanji hingga hingga sat ini, cukup beralasan jika kita mengatakan ini adalah bagian dari rencana Tuhan dan sudah dinubuatkan oleh Nabi Yeremia.

Ini diperkuat juga dengan nubuat Rasul Paulus:

Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri. Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." (Rm.11:24-27)

Nubuat Rasul Paulus ini mengisyaratkan bahwa pada akhirnya bangsa Yahudi akan diselamatkan dengan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Mesias. Mereka akan kembali menjadi umat pilihan-Nya. Jika dikaitkan dengan nubuat Nabi Yeremia, maka sudah menjadi rencana Tuhan bahwa bangsa Israel akan berkumpul kembali di tanah airnya, yaitu tanah yang sudah dijanjikan TUHAN kepada Abraham, agar mereka dapat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Mesias di tempat dimana mereka pernah menolak-Nya dua milenium yang lalu.

Dengan demikian berdirinya negara Israel adalah bagian dari rencana Tuhan yang akan mempertobatkan dan memulihkan kembali status bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan. Dalam teologi Kristen, setelah kedatangan Yesus dan penolakan mereka status bangsa pilihan ini beralih dari bangsa Yahudi kepada orang-orang Kristen yang disebut sebagai bangsa Yahudi yang rohani.

Tapi sekarang kita akan melihat sebuah rencana Tuhan yang luar biasa dan menggetarkan umat beriman....

Sebagaimana Yesus dibangkitkan bukan hanya dalam Roh tapi juga dengan Tubuh-Nya, demikian juga dengan Mempelai-Nya, yaitu Gereja kelak tidak hanya terdiri dari bangsa Yahudi yang rohani atau orang-orang Kristen saja, tapi juga bangsa Yahudi menurut daging atau menurut keturunan. Itu akan diwujudkan ketika bangsa Yahudi kembali ke tanah airnya dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Mesias.

Jadi amat terang benderang bahwa kembalinya bangsa Yahudi ke tanah air mereka setelah terbuang selama hampir dua milenium, berdirinya Israel sebagai negara merdeka, kembalinya Yerusalem ke tangan Israel, dan berbagai kemenangan mereka atas musuh-musuhnya adalah bagian dari rencana Tuhan untuk memulihkan status mereka sebagai bangsa pilihan-Nya.

Karena itu adalah rencana Tuhan, maka otomatis semua yang menghalang-halangi bangsa Israel berkumpul kembali di Tanah Terjanji dan berusaha mengusir mereka berada dalam posisi melawan kehendak Tuhan. Mereka ada dalam posisi yang sama seperti Firaun yang menolak dan menghalang-halangi Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir! Kegigihan bangsa Arab dan Palestina untuk menolak keberadaan Israel di Tanah Terjanji sama persis dengan kegigihan Firaun menolak bangsa Israel pergi ke Tanah Terjanji.

Dari kitab suci kita tahu persis apa yang terjadi pada Firaun dan bangsa Mesir, Tuhan menghukum mereka dengan keras! Itu juga yang akan terjadi pada bangsa Palestina dan semua bangsa yang mendukung perjuangan mereka.

Semoga kita segera sadar bahaya ini dan meminta pemerintah untuk berhenti mendukung perjuangan bangsa Palestina selama perjuangan tersebut ditujukan untuk menolak keberadaan Israel. Ini harus kita lakukan agar bangsa kita tidak ikut ditimpa hukuman Tuhan.

Sikap yang benar dalam mendukung perjuangan Palestina adalah mendorong mereka untuk berdamai dan mengakui eksistensi Israel. Dengan cara demikian dukungan kita pada Palestina tetap berada dalam koridor rencana Tuhan.