Sejarah dunia sedang ditulis di tahun 2026.
Demonstrasi di Iran yang awalnya hanya berupa protes atas kondisi ekonomi, kini meluas jadi perlawanan hebat terhadap pemerintah rezim Islam Iran yang berkuasa. Mesjid yang sering dijadikan sebagai simpul-simpul kekuatan militer tentara revolusi Iran, dibakar oleh massa di berbagai kota. Perempuan Iran ramai-ramai melepaskan hijabnya di depan umum. Bahkan banyak Quran yang dibakar sebagai ekspresi kemarahan rakyat Iran terhadap Islam sebagai agama yang menyengsarakan mereka selama ini.
Para demonstran tidak hanya meneriakkan kutukan dan kebencian terhadap Ayatollah Ali Khamenei, mereka bahkan menginginkan kembalinya dinasti Pahlevi sebagai pemimpin mereka. Ini adalah faktor signifikan yang membedakan demonstrasi kali ini dengan berbagai demonstrasi yang pernah terjadi di Iran sebelumnya. Sekarang mereka punya seorang pemimpin yang dihormati dan diakui bersama, dan sekaligus juga akan memimpin perjuangan mereka sampai berhasil. Ditambah dengan dukungan militer dari Amerika Serikat dan operasi rahasia Mossad yang aktif membantu di tengah rakyat Iran, ada harapan sangat besar perjuangan rakyat Iran akan berhasil.
Jika perjuangan rakyat Iran berhasil, maka ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah modern dinasti raja yang sebelumnya sempat terbuang, kembali diminta untuk memimpin bangsanya.
Banyak orang mengira ini hanyalah sebuah peristiwa politik. Tapi mengingat ada makna simbolik signifikan yang terkandung dalam peristiwa ini, saya memiliki keyakinan ini adalah campur tangan Tuhan.
Setidaknya ada tiga makna simbolik signifikan yang hadir disini:
Pertama, perlawanan rakyat Iran ini masih merupakan kelanjutan dari efek peristiwa 7 Oktober 2023. Sebagaimana sudah pernah dibahas pada video sebelumnya, 7 Oktober adalah peringatan kemenangan perang laut Lepanto tahun 1571 yang sekaligus menjadi simbol kemenangan Gereja Katolik atas invasi kekuatan kekalifahan Islam.
Kedua, kemenangan revolusi Islam Iran tahun 1979 adalah simbol kebangkitan kekuatan Islam di dunia. Maka kejatuhannya, jika itu akhirnya terjadi, juga akan menjadi simbol gagalnya kekuatan Islam menguasai dunia, Ini juga sudah dibahas pada video sebelumnya.
Ketiga, jika gerakan in berhasil maka dinasti kerajaan Iran akan kembali berkuasa. Pertanyaannya, apa makna simbolik yang muncul dari kembali berkuasanya dinasti kerajaan Iran? Inilah yang akan kita bahas dalam video kali ini.
Untuk memahami simbol tersebut, kita perlu mengingat ini:
Dalam Kitab Suci, Tuhan pernah menggunakan penguasa Iran, yaitu Koresy Raja Persia yang pagan, sebagai perpanjangan Tangan-Nya untuk mengembalikan bangsa Israel dari Tanah Babilon. Jadi tidak perlu heran jika hari ini Tuhan juga menggunakan penguasa Iran yang bukan Kristen sebagai perpanjangan Tangan-Nya. Tuhan mungkin sedang menggunakan putra mahkota Raja Iran Reza Pahlevi sebagai tipologi modern dari kembalinya pengakuan atas Kristus Raja.
Hampir setengah abad lalu Raja Iran Shah Pahlevi digulingkan dan terusir dari negaranya akibat berbagai intrik politik dan fitnah. Kekuasaannya digantikan oleh rezim totaliter melalui revolusi Islam Iran. Awalnya rezim Islam ini dianggap sebagai pembebas, namun akhirnya kini disadari sebagai kekuatan totaliter yang represif.
Mereka akhirnya juga mengetahui fakta yang sesungguhnya dari penggulingan Raja Iran. Kini mereka sadar bahwa raja Iran sebelumnya, Shah Reza Pahlevi, tidak seburuk yang dinarasikan selama ini. Akibatnya rakyat Iran mulai bangkit memberontak melawan pemerintah totaliter Islam Iran dan menginginkan kembalinya dinasti Raja Iran. Kita sebut saja gerakan rakyat Iran ini sebagai gerakan kontra revolusi Islam Iran.
Dari perspektif sejarah, dapat kita katakan gerakan kontra revolusi rakyat Iran yang menginginkan kembalinya raja Iran adalah antitesis dari Revolusi Perancis 1789 yang menumbangkan raja Perancis.
Kardinal Suenens, seorang tokoh Konsili Vatikan II, pernah mengatakan bahwa Konsili Vatikan II adalah momen 1789 (Revolusi Perancis) di dalam Gereja Katolik. Maka ada cukup alasan untuk mengatakan apa yang terjadi di Iran ini adalah tipologi dari apa yang akan terjadi di Gereja Katolik, yaitu gagalnya "Revolusi Perancis" dalam Gereja Katolik alias runtuhnya rezim Konsili Vatikan II.
Mari kita lihat keterkaitannya...
Uskup Agung Marcel Lefebvre mengungkapkan semangat Konsili Vatikan II dengan amat baik melalui bukunya "They Have Uncrowned Him." Melalui buku tersebut Mgr. Marcel Lefebvre menggambarkan bagaimana Konsili Vatikan II secara terselubung telah membawa gagasan liberalisme ke dalam Gereja Katolik yang secara perlahan tapi pasti melucuti Yesus Kristus dari Mahkota-Nya.
Penolakan atas Kristus Raja ini juga terlihat secara simbolik dalam kalender liturgi Gereja Katolik pasca-konsili, dimana pesta Kristus Raja dipindahkan menjadi penutup tahun liturgi. Secara implisit itu menunjukkan bahwa pengakuan atas Kristus Raja kini dipandang hanya bersifat eskatologis, yaitu setelah hidup di dunia ini. Sementara untuk hidup di dunia sekarang, Gereja pasca-konsili memilih untuk berkompromi dengan dunia.
Sinodalitas gagasan Paus Fransiskus yang sekarang dijadikan prinsip untuk menjalankan Gereja telah mengubah otoritas Gereja yang sejak awal bersifat monarkis, dipimpin oleh Kristus dengan Petrus sebagai wakil-Nya, kini menjadi demokratis.
Itu semua adalah momen "Revolusi Perancis" dalam Gereja yang melucuti martabat rajawi Kristus.
Tapi sebagaimana rakyat Iran yang akhirnya sadar dan memberontak terhadap rezim totaliter Islam Iran, begitu juga kini mulai banyak orang Katolik yang sadar kesesatan Konsili Vatikan II yang hanya membawa kerusakan demi kerusakan di dalam Gereja. Pada waktunya kesadaran ini akan berubah menjadi pemberontakan "Yudas Makabe" di dalam Gereja, yaitu munculnya orang-orang yang ingin memurnikan Gereja dari berbagai pencemaran akibat semangat Konsili.
Dan kunci keberhasilan pemberontakan "Yudas Makabe" di dalam Gereja ini adalah tekad dan keyakinan orang-orang Katolik untuk kembali memulihkan martabat rajawi Kristus di dalam Gereja dan di seluruh dunia. Seperti rakyat Iran sedang merindukan kembalinya Shah Iran sebagai raja mereka, kita juga merindukan kembalinya Kristus Raja di dalam Gereja dan di dunia.
Mari kita berharap agar gerakan kontra-revolusi rakyat Iran berhasil sehingga dapat menjadi tipologi yang sempurna bagi dihapuskannya Konsili Vatikan Ii dari Gereja Katolik dan kembalinya martabat rajawi Kristus.
Jika rakyat Iran hari ini berseru "Javid Shah" yang artinya "Hidup Raja!" maka kita menyerukan "Viva Christo Rey!"atau "Hidup Kristus Raja!"









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar