Seandainya Masjid Al Aqgsa Diubah Menjadi Sinagoga | Hagia Sophia Dan Blunder Erdogan


Pax vobis, salam damai dan sejahtera...

Tidak berapa lama setelah Pengadilan Tinggi di Turki mencabut dekrit Presiden Kemal Attaturk yang memfungsikan Hagia Sophia menjadi musium sejak tahun 1935, Presiden Erdogan segera mengumumkan keputusannya untuk mengubahn Hagia Sophia kembali menjadi masjid.

Ini sebuah keputusan kontroversial yang menuai berbagai reaksi. Selain dari kalangan gereja-gereja di seluruh dunia, pemerintah Amerika Serikat, Rusia, dan Yunani menyesalkan keputusan tersebut. Sementara itu reaksi positif tentu saja muncul dari sebagian besar muslim yang menganggap keputusan tersebut sebagai kemenangan bagi Islam. Mereka menyambutnya dengan seruan takbir.

Hagia Sophia awalnya dibangun sebagai sebuah Katedral Gereja Katolik Timur pada abad ke enam di Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Romawi Timur. Setelah skisma pada tahun 1054 tentu saja fungsinya beralih menjadi Katedral Gereja Ortodoks.

Selanjutnya ketika Konstantinopel jatuh ke tangan Kekalifahan Ottoman Turki di tahun 1453, statusnya berubah menjadi masjid. Tapi sejarah kekalifahan Islam tamat ketika Presiden Kemal Attaturk, bapak nasionalis Turki, menganggap Kekalifahan Islam sebagai penyebab dari kemunduran Turki yang membuat negara itu mendapat julukan 'Orang Eropa Yang Sakit'. Ia menghapuskan Kekalifahan Islam pada tahun 1924 dan pada tahun 1935 mengubah Hagia Sophia menjadi musium.

Kini dengan dukungan dari golongan muslim Turki, Presiden Erdogan mengambil keputusan blunder untuk memfungsikan kembai Hagia Sophia sebagai masjid.

Mengapa saya menyebut ini sebagai blunder?

Karena muslim Turki sesungguhnya tidak memerlukan Hagia Sophia sebagai masjid. Mereka sudah memiliki "Masjid Biru' yang juga megah dan lokasinya tidak jauh dari Hagia Sophia. Dan yang jelas Turki tidak kekurangan masjid. Maka menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid tidak memiliki keuntungan apa-apa selain memuaskan ego kaum muslim yang haus pada kemenangan-kemenangan semu.

Tapi ironisnya, kemenangan semu kaum muslim ini harus dibayar mahal dengan kerugian moral yang luar biasa. Keputusan Erdogan membuat dunia melihat dengan jelas kemunafikan muslim yang berteriak-teriak menuntut perlakuan khusus bagi Masjid Al Aqsa di Yerusalem yang ada dalam kekuasaan Israel namun tidak mau memberikan perlakuan yang sama bagi Hagia Sophia.


Cepat atau lambat kemunafikan ini akan memberikan kesempatan bagi kaum Yahudi garis keras di Israel untuk menuntut pemerintah Israel agar mengubah status Masjid Al Aqsa yang dibangun di atas reruntuhan Bait Suci sebagai musium, atau bahkan sinagoga.

Apabila itu terjadi kemungkinan besar dunia akan mendukungnya.

Dan yang lebih parah, keputusan ini akan menjadi awal bagi tersingkirnya Islam dari panggung sejarah dunia. Ini akan mirip seperti tersingkirnya Islam dari Semenanjung Iberia setelah menjajah wilayah tersebut selama 8 abad.

Mengapa demikian?

Keputusan blunder Erdogan yang menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid akan memicu solidaritas orang-orang Kristen dan membangkitkan semangat persatuan diantara semua Kristen. Ini juga membangkitkan kesadaran diantara banyak orang Kristen, bahwa Islam bagaimanapun adalah musuh Kekristenan. 

Dengan mudah orang Kristen akan menyadari bahwa kehadiran Islam 6 abad setelah kedatangan Yesus Kristus hanya memiliki satu tujuan, yaitu menggantikan ajaran Kristen yang benar dengan agama palsu yang berasal dari kegelapan. Bagaimana bernafsunya muslim untuk mengubah Hagia Sophia menjadi masjid menjadi gambaran simbolik dari nafsu Islam untuk menggantikan kekristenan. Akhirnya, wajah sesungguhnya dari Islam sebagai musuh Kekristenan tidak bisa disembunyikan lagi akibat keputusan bluder Erdogan!

Ini akan memunculkan perang salib versi 2.0 yang tidak mungkin dimenangkan muslim. Bukan dalam perang secara fisik, tapi perang non-fisik di era keterbukaan informasi.

Dulu perang salib gagal merebut Yerusalem dan hanya mampu menahan invasi jihad Islam ke Eropa karena kekristenan terpecah. Tapi konversi Hagia Sophia menjadi masjid akan mempersatukan Kekristenan, setidaknya dalam semangat, untuk melawan Islam yang dianggap sebagai musuh bersama. Dan Kristen yang bersatu tidak mungkin dilawan oleh Islam!

Apalagi berbeda dengan dulu, sekarang dengan keterbukaan informasi berbagai klaim palsu Islam yang selama 14 abad berhasil mengikat semua muslim pada ajaran palsu ini sudah dipatahkan dan mulai menimbulkan krisis iman. Contohnya, klaim keterjagaan Quran dari segala perubahan sudah mulai runtuh dengan munculnya banyak bukti adanya berbagai versi Quran! Dan ini sudah mulai berdampak pada munculnya krisis iman di kalangan para ulama Islam. Cepat atau lambat krisis ini akan melanda umat muslim juga!

Kebohongan apapun, pada waktunya pasti akan terbongkar. Termasuk juga kebohongan Islam. Sekarang keterbukaan informasi pada akhirnya membuat Islam tidak mungkin lagi mempertahankan kebohongannya lebih lanjut. Apabila semua Kristen bersatu dan bahu-membahu untuk membongkar segala kebohongan Islam, seluruh kepalsuannya akan tampak jelas di hadapan banyak orang. 

Jika sudah demikian maka muslim akan ramai-ramai murtad dan Islampun akan tinggal sejarah! Ini akan seperti yang terjadi pada saat Muhamad meninggal, dimana orang-orang Arab yang sebelumnya menjadi muslim karena takut pada Muhamad langsung memilih murtad. Sekarangpun muslim akan ramai-ramai meninggalkan Islam setelah kebohongannya terbongkar. Hanya saja kali ini akan berakibat fatal dan Islam tidak akan bangkit lagi.

Tuhan yang menghendaki semua manusia diselamatkan pasti menghendaki apapun yang menghalangi atau menipu manusia agar tidak percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Penyelamat harus dimusnahkan dari muka bumi. Maka Tuhanpun pasti menghendaki agar Islam yang hadir kedunia dengan tujuan untuk menyangkal-Nya, pada waktunya harus dihapuskan dari muka bumi.

Tanda-tanda kehendak Tuhan ini sedang terjadi sudah mulai terlihat. Tindakan Erdogan menjadikan Hagia Sophia sebagi masjid yang oleh sebagian besar muslim dianggap sebagai kemenangan, justru akan menjadi awal dari proses kehancuran Islam yang fatal dan tidak mungkin bangkit lagi.

Viva Christo Rey.

Posting Komentar

0 Komentar