Kristen Bersatulah, Kita pasti Menang! - Part 5


Pax vobis, salam damai dan sejahtera...

Di video bagian pertama kita sudah membahas bagaimana skisma tahun 1054 yang membuat Gereja Ortodoks memisahkan diri dari Gereja Katolik telah membuat Kekristenan menjadi lemah. Ini faktor penting yang akhirnya membuat Konstantinopel, pusat Kekristenan Timur jatuh ke tangan Islam sampai hari ini.

Sementara di video bagian kedua kita membahas bagaimana gerakan reformasi Martin Luther di abad 16 telah menghasilkan perecahan Kristen di Eropa. Gerakan reformasi terbukti menghasilkan buah yang buruk karena Protestan yang memisahkan diri dari Gereja Katolik terus membelah diri tanpa akhir sampai hari ini. Selain itu semangat reformasi juga berperan menumbuhkan pemikiran-pemikiran sesat yang kelak menghasilkan bidaah modernisme, yaitu bidaah yang menurut Paus St. Pius X merupakan perpaduan semua bidaah.

Sementara di video bagian ketiga kita belajar bagaimana bidaah modernisme yang menyusup ke dalam Gereja Katolik telah memunculkan Konsili Vatikan II. Konsili ini terbukti mengubah semangat dan orientasi Gereja Katolik sehingga menimbulkan perpecahan internal. Ini serangan terberat bagi Gereja Kristus karena gerakan ekumenis yang ditimbulkan dari semangat konsili membuat Gereja Katolik terarah pada kemurtadan. Skandal doa bersama di Asisi dan skandal Pachamama yang sampai hari ini tidak pernah disesali menjadi tandanya.



Di malam Perjamuan Terakhir, berkali-kali dalam doa-Nya kepada Bapa Yesus menekankan Ia menginginkan para pengikut-Nya menjadi satu sama seperti Dirinya dan Bapa adalah satu. Jadi apapun penyebabnya, perpecahan-perpecahan yang terjadi dalam sejarah Gereja pasti bukan kehendak Tuhan. Itu karya iblis! 

Dengan demikian skisma pada tahun 1054, reformasi di abad 16, maupun Konsili Vatikan II di abad 20 yang telah menyebabkan perpecahan, pasti semuanya dipengaruhi oleh iblis, entah itu secara langsung ataupun tidak.

Di video bagian yang keempat saya tunjukkan bahwa perpecahan yang terjadi pada Gereja bukanlah tujuan akhir dari iblis. Itu adalah awal dari rencana iblis untuk menata kembali apa yang dikacaukannya agar menjadi satu menurut rancangannya, yaitu menjadi gereja atau agama antikristus. Hal tersebut sejalan dengan strategi klasik iblis, solve et coagula atau ordo ab chao.

Dengan demikian gerakan ekumene yang menempatkan prinsip persatuan di atas kebenaran dan pada akhirnya akan berujung pada persatuan agama-agama berdasarkan prinsip kemanusiaan, tidak lain dan tidak bukan adalah rencana iblis untuk membangun agama atau gereja antikristus. Dokumen "Human Fraternity" yang ditandatangani Paus Fransiskus tahun 2019 menjadi contoh yang tepat dari upaya persatuan semua agama berdasarkan semangat kemanusiaan semacam ini.

Dalam Injil Tuhan kita berkata, "...dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan." (Mat.12:30, Luk.11:23). Karena gerakan ekumene yang meminggirkan kebenaran demi persatuan bukanlah kehendak Tuhan, maka sesuai ayat Injil tersebut mereka yang melakukannya dipandang Tuhan sebagai mencerai-beraikan. Dengan demikian gerakan ekumene telah melawan kehendak Tuhan yang ingin mempersatukan Gereja-Nya dan harus ditolak oleh siapapun yang mengaku sebagai pengikut Kristus.

Jika ekumenisme bukan persatuan yang dikehendaki Tuhan, lalu bagaimanakah persatuan yang dikehendaki-Nya? 

Tentu saja bersatu kembali di dalam Gereja yang didirikan-Nya sejak semula!

Dengan demikian sekarang kita dihadapkan pada tiga pilihan: tidak ingin bersatu, bersatu secara ekumenis, atau kembali bersatu di dalam Gereja-Nya. Dari ketiga pilihan tersebut hanya satu yang benar yaitu bersatu kembali di dalam Gereja-Nya. Kedua pilihan lainnya, yaitu tidak ingin bersatu atau bersatu secara ekumenis, berdasarkan ayat Injil tadi dianggap sebagai menceraiberaikan yang sekaligus juga berarti menentang kehendak Tuhan.

Tapi upaya untuk bersatu kembali ke dalam Gereja Katolik sulit direalisasikan. Terutama karena terhalang ego sektarian, baik dari Gereja Ortodoks maupun Protestan, yang menganggap tindakan tersebut sebagai pengakuan terhadap superioritas Gereja Katolik. Siapa yang mau bersatu dengan wajah tertunduk? Tentu ini berat!

Nah, disini untuk pertama lainya saya mengakui bisa melihat hal baik dari terjadinya Konsili Vatikan II. Bukan karena konsili tersebut baik, tapi karena ada berkat tersembunyi di balik kekeliruan konsili tersebut. Ini seperti pengkhianatan Yudas yang menyebabkan tergenapinya karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib! Pengkhianatan Yudas jelas perbuatan terkutuk, tapi dari perbuatan terkutuk tersebut Tuhan membalikkannya menjadi jalan bagi karya penebusan. Demikian juga Tuhan menyiapkan berkat tersembunyi di balik bencana Konsili Vatikan II!

Berkat Konsili Vatikan II sekarang semua kelompok, baik Gereja Ortodoks, Protestan, dan Gereja Katolik memiliki masalah keterpisahan dengan Gereja Kristus! Gereja Ortodoks terpisah dari Gereja Kristus akibat skisma, Protestan terpisah dari Gereja Kristus akibat reformasi, dan Gereja Katolikpun juga terpisah secara internal dari Gereja Kristus akibat Konsili Vatikan II!

Keadaan ini memudahkan upaya persatuan Gereja kembali di dalam Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik, dan apostolik!

Karena semua kelompok telah melakukan kesalahan, maka yang dibutuhkan adalah METANOIA! Semua kelompok harus dengan rendah hati mengakui kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan dan kembali pada posisi sebelum kesalahan itu terjadi! Disini Gereja Ortodoks dan Protestan tidak lagi terhalang oleh superioritas Gereja Katolik karena dengan adanya Konsili Vatikan II Gereja Katolikpun juga jatuh ke dalam masalah keterpisahan internal dengan Gereja Kristus!

Dengan metanoia setiap kelompok harus mau mengakui kesalahan masing-masing. Gereja Ortodoks harus mengakui kesalahan akibat skisma dan berusaha mengkritisi diri sendiri untuk kembali pada posisi sebelum skisma dengan mengakui primat Paus, mengakui filioque, dan memperbaiki apapun yang diperlukan agar kembali pada posisi sebelum skisma terjadi.

Protestan harus mau mengakui kesalahan reformasi Martin Luther dan harus berani mengkritisi diri untuk kembali pada posisi sebelum terjadinya reformasi. Dengan demikian Protestan dengan rendah hati harus mau menerima seluruh ajaran Gereja Katolik dan mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja.

Dan Gereja Katolik juga tidak luput dari perlunya melakukan metanoia! Gereja Katolik harus dengan rendah hati mengakui kesalahan yang terjadi pada Konsili Vatikan II dan berusaha mengkritisi diri sendiri dengan jujur untuk kembali pada posisi sebelum Konsili Vatikan II.

Seperti setiap manusia yang berdosa harus bertobat demikian juga setiap kelompok harus bertobat dari kesalahannya masing-masing. Saya tekankan bertobat dari kesalahannya masing-masing agar setiap kelompok memperbaiki diri dari kesalahan yang dibuatnya, bukan mengurusi kesalahan orang lain! 

Dengan demikian yang Katolik tidak perlu mengurusi kesalahan Gereja Ortodoks dan Protestan, yang Ortodoks tidak perlu mengurusi kesalahan Gereja Katolik dan Protestan, dan yang Protestan juga tidak perlu mengurusi kesalahan Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik. Setiap kelompok punya kesalahan masing-masing yang harus diperbaiki!

Dalam hal ini nasehat Injil menjadi sangat penting, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat. 7:3-5)

Ini yang menjadi sebab mengapa saya seorang Katolik belum pernah membuat video-video yang khusus mengkritik Protestan atau Ortodoks, tapi malah banyak membuat video-video yang mengkritisi Gereja Katolik. Bukan karena Protestan dan Ortodoks bebas dari kesalahan, tapi karena Gereja Katolik masih memiliki balok di mata yang harus dicabut! Kalaupun di video ini saya mengkritisi Ortodoks atau Protestan, itu saya lakukan bersama dengan mengkritisi Gereja Katolik juga!

Banyak yang menuduh tindakan saya memecah belah Gereja Katolik. Justru sebaliknya, hal ini saya lakukan karena kecintaan pada Gereja Katolik dan demi membangun persatuan sejati seluruh Kristen dengan cara melakukan metanoia! Video-video tersebut saya maksudkan sebagai kritik diri bagi Gereja Katolik agar suatu saat dapat berubah kembali pada keadaan semula sebelum bencana Konsili Vatikan II. Saya berharap cara ini bisa ditiru juga oleh channel-channel Kristen lainnya, dimana mereka juga berani melakukan kritik-diri dengan mengkritisi gereja atau denominasinya masing-masing demi kembali bersatu dalam Gereja Kristus!

Tapi mungkin ada orang yang skeptis akan bertanya, "Apakah cara ini cukup?"

Tentu saja tidak! Masih banyak hal yang diperlukan agar persatuan kembali seluruh Kristen dalam Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik, dan apostolik dapat tercapai. Tapi harus diingat bahwa yang mempersatukan bukan manusia. Tuhan sendirilah yang mempersatukan seperti yang dikatakan-Nya dalam Injil Yoh.10:16, Mat.12:30, dan Luk.11:23. Kita hanya berpartisipasi dalam karya Tuhan untuk mempersatukan kembali domba-domba yang terpisah ke dalam Gereja-Nya.

Sama seperti ketika Tuhan memperbanyak roti, Dia dapat menurunkan semua roti yang dibutuhkan langsung dari surga. Tapi Tuhan tetap meminta apa yang ada pada murid-murid-Nya, meskipun itu hanya lima roti dan dua ikan yang tidak ada artinya dibanding 5000 orang yang harus diberi makan. Demikian juga dalam persatuan Gereja, Tuhan yang akan melakukan keajaiban itu. Tapi Dia tetap membutuhkan partisipasi kita dengan cara masing masing kelompok melakukan metanoia agar persatuan itu dapat terwujud.

Sekecil apapun langkah metanoia yang mampu kita lakukan, dalam iman kita percaya Tuhan sendiri yang akan menyelesaikan semuanya agar kita dapat kembali bersatu di dalam Gereja-Nya, agar kita kembali berkumpul di dalam rumah kita bersama!

Dalam iman saya percaya inilah yang dimaksud Tuhan dengan mengumpulkan bersama Dia pada Mat.12:30 dan juga Luk.11:23. Inilah cara terbaik yang dapat saya pikirkan sejauh ini untuk bersatu kembali ke dalam Gereja Kristus! 

Dalam persatuan yang semacam ini kebenaran tidak dikorbankan, tapi ego kitalah yang harus dikorbankan! Sangat berbeda dengan persatuan ekumene dimana demi persatuan nilai-nilai kebenaran harus dikompromikan dan dikorbankan!

Dengan memahami bagaimana posisi kebenaran dalam upaya persatuan yang dilakukan, kita bisa mengetahui bahwa upaya persatuan Kristen dengan jalan melakukan metanoia tanpa mengorbankan prinsip kebenaran adalah cara persatuan yang dikehendaki Tuhan. Sedangkan persatuan ekumenis yang mengkompromikan kebenaran adalah cara persatuan yang dirancang oleh musuh-Nya.

Sekang pilihan ada di tangan kita, mengikuti kehendak Tuhan atau melayani kehendak iblis!

Kembali pada video pertama, difungsikannya Hagia Sophia menjadi masjid yang menyakiti perasaan banyak Kristen perlu kita sikapi dengan bijak. Ketimbang terlarut dalam kesedihan dan kemaraham, mari kita jadikan momen tersebut untuk menyadarkan semua Kristen agar kembali bersatu ke dalam Gereja-Nya. Bukan dengan cara ekumenis yang menyesatkan tapi dengan metanoia dan pengorbanan ego kita masing-masing.

Jika semua Kristen bersatu di dalam Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik, dan apostlik, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kita. Merebut kembali Hagia Sophia atau Yerusalem adalah masalah kecil. Kita pasti akan menaklukkan seluruh dunia dengan kebenaran Injil dan mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi seperti yang selalu kita harapkan melalui Doa Bapa Kami!

Dari hamba Kristus dan pelayan para prajurit Kristus...

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar