Kristen Bersatulah, Kita Pasti Menang - Part 2


Pax vobis, salam damai dan sejahtera...

Pada bagian ini saya akan mengajak kita memahami akar sesungguhnya dari perpecahan Gereja yang sekarang kita sadari sebagai kelemahan dari Kekristenan dan harus segera dibenahi. Seperti pada bagian pertama, saya juga tidak membahas perbedaan teologis yang mengakibatkan perpecahan itu secara detail. Saya hanya mengambil intinya saja bahwa perpecahan tersebut berlawanan dengan kehendak Tuhan. 

Tapi bagaimanapun ini memang topik yang sensitif dan butuh kedewasaan berpikir untuk menyikapinya. Silahkan tonton video ini sampai tuntas agar tidak menimbulkan salah paham....

Setelah kejatuhan manusia di Taman Eden, Tuhan menetapkan permusuhan antara perempuan dan keturunannya melawan ular dan keturunannya (Kej.3:15). Mengapa? Karena seharusnya yang menguasai bumi dan isinya adalah manusia (Kej.1:28). Namun akibat kejatuhannya ke dalam dosa, manusia kehilangan rahmat Tuhan yang dibutuhkan untuk menguasai dunia. Akibatnya kekuasaan atas dunia diambil alih oleh iblis. Kekuasaan iblis atas dunia sangat jelas terlihat saat iblis mencobai Tuhan kita di padang gurun dengan menawarkan dunia dan segala kemegahannya. Tentu saja Tuhan kita menolak tawaran iblis. Tapi ada satu hal yang dapat kita catat, Tuhan kita sama sekali tidak menyangkal bahwa iblis memang berkuasa atas dunia dan isinya.

Ini mengajarkan kita satu hal: Tuhan menghendaki manusia merebut kembali kekuasaan atas dunia dari tangan iblis melalui perseteruan dan peperangan, bukan melalui kompromi atau perdamaian dengan iblis. Yang dimaksud dengan perseteruan dan peperangan ini tidak selalu bersifat fisik, perseteruan ini terutama bersifat rohani.

Dalam konteks ini Amanat Agung dari Tuhan kita untuk mewartakan Injil dan menjadikan seluruh bangsa sebagai murid-Nya dapat kita maknai sebagai perintah Tuhan untuk merebut kembali dunia dari tangan iblis. Perintah, "..jadikanlah semua bangsa murid-Ku.." adalah perintah untuk menguasai kembali seluruh dunia melalui pewartaan Injil agar takluk sepenuhnya di bawah Hukum Tuhan! Ini adalah perintah untuk berperang melawan iblis dan semua pengikutnya!




Dengan demikian Amanat Agung adalah momen dimulainya permusuhan atau perseteruan yang sudah dinubuatkan Tuhan di Taman Eden. Ini sebuah peperangan rohani yang akan berlangsung terus sampai iblis dan pengikutnya dikalahkan, yaitu sampai Injil diwartakan kepada seluruh bangsa! 

Dengan memahami ini maka kita tahu bahwa Tuhan pastilah mengutus Gereja-Nya untuk mewartakan Injil sebagai satu kesatuan, bukan sebagai kawanan yang liar dan terpisah-pisah tanpa hirarki komando yang jelas. Tuhan yang mendirikan satu Gereja dengan Petrus sebagai gembalanya pasti menghendaki Gereja-Nya tetap satu dalam berjuang mewartakam Injil.

Iblis tahu persis bahwa Gereja yang bersatu dalam mewartakan Injil adalah musuh besar yang dapat mengalahkannya! Karenanya iblis harus melakukan banyak strategi agar Gereja gagal mewartakan Injil ke seluruh dunia dan iblis tetap bekuasa. Beberapa strategi iblis antara lain menciptakan agama atau kekuatan yang berusaha menggantikan Gereja, memecah-belah Gereja, merusak Gereja dari dalam dan akhirnya menghentikan penginjilan!

Maka ketika Islam muncul pada abad ke 7 di Tanah Arab dengan mengklaim sebagai agama penutup yang bernafsu untuk mengalahkan dan menggantikan Kekristenan, kita tahu roh apa yang mempengaruhinya. Demikian juga ketika terjadi skisma besar pada tahun 1054 dan kegagalan upaya unifikasi Gereja Katolik dan Ortodoks pada Konsili Ferrara-Florence, kita tahu siapa yang menjadi dalang sesungguhnya.

Termasuk ketika Martin Luther menancapkan 95 thesis di pintu gereja untuk memulai gerakan Reformasi pada tahun 1517 dan disusul oleh Raja Henry VIII yang memisahkan diri dari Gereja Katolik tahun 1532, perpecahan itupun didalangi oleh roh yang sama.

Suka atau tidak suka, kebencian Gereja Ortodoks dan Protestan untuk bersatu kembali dengan Gereja Katolik terungkap pada fenomena aneh yang sama: mereka lebih suka ditaklukkan muslim sebagai kaum dhimmi ketimbang bersatu kembali dengan Gereja Katolik. Ini terungkap dalam keberpihakan sebagian orang-orang Ortodoks dan Protestan pada pasukan jihad Islam dalam perang salib, baik sebelum kejatuhan Konstantinopel maupun sesudahnya! Memang aneh dan memprihatinkan, tapi itulah fakta sejarah yang terjadi. Secara tidak langsung keadaan itu menunjukkan bahwa eksistensi Islam, skisma Ortodoks, dan gerakan Reformasi dipengaruhi oleh roh yang sama.

Selain itu gerakan reformasi Martin Luther bagaikan kotak pandora yang menebar bencana. Gerakan ini tidak hanya menimbulkan tragedi peperangan berdarah antara Katolik dan Protestan di Eropa yang baru berakhir setelah Perjanjian Wesphalia tahun 1648, tapi juga memunculkan pemikiran yang terbukti merusak dirinya sendiri dan terus memecah kaum Protestan menjadi banyak denominasi yang semakin lama semakin parah.

Dengan menolak otoritas Gereja Katolik, Martin Luther bermaksud menempatkan Kitab Suci sebagai otoritas tertinggi melalui prinsip sola scriptura. Tapi ini berakibat fatal karena Kitab Suci tidak bisa menafsirkan dirinya sendiri sehingga otoritas yang sebenarnya justru ada pada individu-individu, bukan pada Kitab Suci. Jadi semangat reformasi Martin Luther menyebabkan otoritas penafsir Kitab Suci berpindah dari Gereja Katolik yang satu menjadi individu yang banyak! Ini adalah akar dari semangat perpecahan yang menetap pada DNA gerakan reformasi Protestan sejak awal dan membuatnya terus membelah diri tanpa akhir.

Setiap orang Protestan, dalam hal ini para pemimpin umatnya, praktis menjadi otoritas yang punya kebebasan dalam menafsirkan Kitab Suci. Ini yang kemudian melahirkan pemikiran bahwa kebenaran itu bersifat subyektif dan relatif. Setiap orang bebas menafsirkan kebenaran menurut pemikirannya sendiri. Konsekuensinya, tidak ada penafsiran kebenaran yang bersifat mutlak dan mengikat bagi semua orang. Dengan demikian dalam Protestan kebenaran absolut mulai disangkal!

Semangat subyektivisme dan relativisme yang dihasilkan oleh gerakan reformasi Protestan ini secara tidak langsung juga ikut menyuburkan pemikiran liberalisme dan humanisme. Selanjutnya pemikiran liberalisme dan humanisme ini di kemudian hari menghasilkan gerakan-gerakan anti Gereja Katolik seperti freemasonry di tahun 1717, dan juga marxisme serta atheisme di abad 19.

Akhirnya perpecahan tanpa akhir yang menjadi kecenderungan kaum Protestan ini mulai disadari sebagai bahaya oleh para pemimpinnya. Pada akhir abad 19 dan awal abad 20 mulai muncul gagasan untuk mempersatukan berbagai denominasi Protestan ini dalam satu wadah ekumenis.

Persatuan ekumenis mulai diwujudkan di tahun 1910 ketika berbagai denominasi Protestan mengadakan Konferensi Misionaris Edinburg. Konferensi ini menandai awal dari gerakan ekumenis Protestan yang berupaya mempersatukan kembali semua denominasi Protestan. Gereja Ortodoks akhirnya juga ikut ambil bagian dalam gerakan persatuan ekumenis ini dengan bergabung pada Dewan Gereja Sedunia (WCC - World Council of Churches) pada tahun 1948. 

Sepertinya gerakan ekumenis ini menjanjikan masa depan persatuan seluruh Kristen. Namun sayang sekali persatuan ekumenis ini tidak pernah menghasilkan persatuan yang nyata kecuali sekedar persatuan simbolik yang rapuh.

Perbedaan-perbedaan mendasar antara Gereja Ortodoks dan Protestan masih tetap ada, bahkan perbedaan antara sesama denominasi Protestan juga terus eksis dan perpecahan terus terjadi. Kenyataannya, setelah seratus tahun lebih gerakan ekumenis diupayakan, tidak pernah menghasilkan persatuan Kristen yang kongkrit! Ini gerakan persatuan yang gagal!

Penyebabnya satu: kekuatan pemersatu dalam gerakan ekumenis sangat lemah karena tidak berdasarkan pada kebenaran. Persatuan ekumenis memang tidak mungkin memiliki pijakan kebenaran yang satu dan solid karena gerakan ekumenis harus mengakomodasi berbagai konsep kebenaran teologis yang berbeda dari masing-masing anggotanya. Akibatnya konsep kebenaran dalam persatuan ekumenis bersifat kompromis, relatif, dan selalu berubah tergantung kesepakatan anggotanya. Itu artinya sama saja dengan tidak ada kebenaran!

Tuhan sudah mengingatkan kita dalam Injil, "...dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan." (Mat.12:30).

Persatuan ekumenis yang tidak berdasarkan pada kebenaran sudah pasti bukan persatuan yang dikehendaki Tuhan. Oleh karenanya persatuan semacam itu menurut Injil justru menceraiberaikan! Karena persatuan ekumenis tidak berasal dari TUHAN dan menceraiberaikan, maka kita tahu roh apa yang ada di balik gerakan persatuan ekumenis! Itu roh yang sama dengan roh yang telah memecah belah kekristenan sebelumnya!

Dapat kita simpulkan persatuan ekumenis bertentangan dengan kehendak Tuhan dan sudah seharusnya persatuan semacam ini ditinggalkan!

Saya tidak bermaksud memojokkan Gereja Ortodoks maupun Protestan, karena semangat persatuan ekumenis yang berasal dari kuasa gelap ini pada akhirnya juga turut menyeret Gereja Katolik ke dalamnya dan mengakibatkan perpecahan internal sampai hari ini. 

Masalah ini akan kita bahas pada video bagian ketiga.

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar