KESIMPULAN AKHIR: Kebohongan Islam Terbongkar?

 


Transkrip video:

Akhirnya kita sampai juga pada video bagian terakhir. Kita akan merangkum keseluruhan argumen menjadi sebuah kesimpulan yang utuh tentang konsep ketuhanan Islam di hadapan akal sehat.

Muslim memang tidak terbiasa untuk menguji konsep ketuhanan mereka dengan akal sehat. Ini semua berkat tradisi anti-intelektual yang berhasil ditanamkan oleh Imam al-Ghazali dan berlangsung selama berabad-abad sampai hari ini. Akibatnya banyak Muslim yang terkejut ketika harus menghadapi fakta konsep ketuhanan yang diajarkan dalam Islam ternyata sangat rapuh di hadapan akal sehat.

Untuk membela posisi iman di atas akal sehat mungkin sebagian Muslim akan balik bertanya, bukankah tradisi Kristen juga menunjukkan bahwa iman harus diterima lebih dahulu dibanding pengertian akal budi? Misalnya saja dalam kasus Abraham yang taat ketika diperintahkan untuk mengurbankan anaknya. Atau Yesus yang berkata pada Thomas, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya."

Dimana bedanya dengan prinsip Islam yang juga mengedepankan iman lebih dahulu?

Ternyata perbedaannya seperti bumi dan langit.

Dalam kisah Abraham, ia percaya penuh pada Tuhan yang sudah membuktikan janji-Nya dengan memberikan keturunan secara ajaib melalui Sara, istrinya. Pada kasus Thomas, seandainya bukan Tuhan sendiri yang menjanjikan kebangkitan dan bukan para Rasul lainnya yang mengkonfirmasi kebangkitan Tuhan, ia memang tidak perlu percaya. Tapi karena Thomas meragukan keduanya, maka ia ditegur. 

Pada kedua kasus, baik Abraham ataupun Thomas, ada dasar yang cukup untuk mengambil sikap percaya tanpa melihat. Dasar itu adalah adanya mujizat otentik, janji langsung dari Tuhan, dan pernyataan para Rasul yang mengkonfirmasi penggenapan janji Tuhan.

Sebaliknya, dalam Islam dasar yang cukup untuk percaya tanpa melihat sama sekali tidak ada. Tak ada mujizat otentik apapun yang diberikan kepada Muhammad dalam Al-Quran, dan ajarannya sudah terbukti bertentangan dengan ajaran-ajaran para nabi sebelumnya. Keduanya sudah cukup sebagai alasan untuk menerapkan nasehat Rasul Yohanes, "Ujilah setiap roh..." 

Dan terbukti, dengan menguji konsep ketuhanan Islam berdasarkan akal sehat sebagaimana yang sudah dibahas dalam video-video sebelumnya, konsep itu runtuh berantakan.

Sekarang kita akan merangkum poin-poin terpenting dari hasil pengujian akal sehat terhadap konsep ketuhanan Islam.

Jika Tuhan adalah kebenaran, dan wahyu yang diterima para nabi bertujuan mengajarkan kebenaran dari Tuhan, maka seharusnya puncak dari pewartaan wahyu kebenaran itu adalah Tuhan yang menyatakan Diri-Nya pada manusia. Ini hanya terjadi pada iman Kristen, tapi tidak pada ajaran Islam. 

Pada ajaran Islam, Allah adalah sosok misterius yang tak dapat dikenal. Atau lebih tepatnya tidak ingin dikenal. Muslim seperti menyembah 'black-box' atau kotak hitam yang misterius. Maka ritual ibadah Islam yang sholat dengan bersujud ke arah kotak hitam Kabah di Mekah menjadi simbol ironis bahwa Muslim memang sedang menyembah Allah tauhid yang misterius dan tidak mereka kenal. Lalu tindakan tawaf mengelilingi kotak hitam Kabah juga menjadi simbol ironis pencarian Muslim akan Allah tauhid yang tidak pernah dapat mereka temukan.

Konsekuensi lain dari Allah yang tidak dapat dikenal adalah tidak dapat mengajarkan seluruh kebenaran. Ajaran kebenaran dalam Islam hanyalah kumpulan perintah atau pernyataan dari Allah tauhid yang muncul dari kehendaknya. Karena Allah tauhid tak dapat dikenal, maka kehendaknya juga bersifat arbitrer atau sewenang-wenang tanpa memiliki keutuhan konsep. Akibatnya ajaran Islam bagaikan potongan-potongan puzzle yang tak pernah dapat membentuk sebuah gambar utuh.

Dan akhirnya yang paling menentukan, Islam gagal melewati ujian pertanyaan Hikmat Salomo. Islam gagal menunjukkan bukti adanya kasih Allah yang bersedia berkorban bagi manusia, sebaliknya Allah Tritunggal yang dipercaya Kristen justru sudah menunjukkan bukti itu 6 abad sebelum Islam ada. Dengan demikian Islam gagal membuktikan Allah yang mereka sembah sebagai Tuhan Sang Pencipta. 

Allah yang tidak dapat dikenal, tidak mengajarkan seluruh kebenaran, dan tidak pernah punya bukti mengasihi manusia. Itulah tiga ciri paling penting dari Allah yang disembah dalam Islam, sekaligus menjadi petunjuk kuat bahwa sosok yang mereka sebut sebagai Allah itu berbeda sama sekali dari Tuhan yang diimani Kristen. 

Karena Tuhan yang dipercaya dalam iman Kristen adalah Tuhan yang dapat dikenal, Tuhan yang mengajarkan seluruh kebenaran, dan Tuhan yang terbukti mengasihi manusia, maka Tuhan dalam iman Kristen adalah Tuhan yang benar. Konsekuensinya, Allah Islam hanyalah tuhan palsu yang menipu dan menyesatkan banyak orang. Tidak perlu heran jika konsep ketuhanan monoteisme tauhid menjadi sangat rapuh di hadapan akal sehat, karena memang itu bukan konsep ketuhanan yang benar. 

Sangat ironis, Islam yang mengaku penerima wahyu terakhir selama ini justru mengajarkan umatnya untuk menyembah tuhan palsu. Bagi umatnya, ajaran Islam itu adalah kebohongan yang dihafal dan diucapkan terus-menerus bagaikan mantra sakti, yang akhirnya terpatri di alam bawah sadar sebagai kebenaran iman. 

Tapi tak ada kebohongan yang dapat bertahan selamanya. Pada waktunya kebohongan itu pasti akan terbongkar. Begitu pula nasib Islam. Kini ketika informasi terbuka luas bagi siapapun, cukup dengan menggunakan akal sehat maka kebohongan Islam yang tersimpan rapih selama berabad-abad itu pasti terbongkar. 

Itulah yang dibuktikan dalam buku "Islam Dan Akal Sehat." Dengan narasi dan argumen yang cerdas, buku ini menunjukkan bagaimana akal sehat telah menjadi batu kriptonit menakutkan yang melucuti satu per satu kebohongan Islam.

Dapatkan bukunya sekarang, link-nya ada di keterangan video.

Posting Komentar

0 Komentar