Transkrip:
Bayangkan ada seseorang yang ingin datang ke sebuah kota wisata impian yang sangat indah. Tapi seorang penipu mencegatnya di tengah jalan dan memberinya peta jalan ke kota lain yang sangat berbeda. Ketika sampai ke kota yang salah itu, mungkin dia merasa sudah berada di kota impiannya karena terlanjur percaya. Padahal dia sedang ditipu mentah-mentah, ia berada di kota yang berbeda dan sama sekali tidak indah.
Itulah yang terjadi dengan kaum Muslim yang membuang uangnya begitu banyak hanya untuk menunaikan ibadah kurban Idul Adha dan juga ibadah haji. Biaya ibadah haji sekarang ini sekitar 90 juta rupiah per orang sedangkan haji plus bisa mencapai 250 juta atau lebih per orang. Untuk hewan kurban, kurang lebih sekitar 3 - 8 juta rupiah untuk kambing dan 20 - 40 juta rupiah untuk sapi.
Meski ibadah haji dan ibadah kurban Idul Adha adalah dua ritual yang berbeda, keduanya dilaksanakan pada saat bersamaan dan sama-sama memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kebanyakan Muslim mengira dengan kedua ibadah tersebut mereka telah berbakti kepada Tuhan, padahal dalam kenyataannya mereka sedang tertipu untuk melakukan ritual palsu yang berbiaya mahal tapi miskin makna.
Mengapa demikian?
Mari kita bahas di video ini...
Kita akan mulai dengan ibadah haji.
Perintah untuk melakukan ibadah haji ke Mekah itu sangat jelas di Al-Quran, salah satunya di surah Ali Imran:97
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah."
Dalam narasi Islam, Kabah di Kota Mekah adalah bangunan Bait Allah atau Rumah Tuhan pertama yang dibangun manusia. Bangunan tersebut konon didirikan oleh Abraham (atau Muslim menyebutnya Ibrahim) dan Ismail di Mekah. Sayangnya, narasi ini sangat jauh dari fakta sejarah.
Dalam naskah tertulis pertama tentang Abraham, yaitu Kitab Kejadian, saat memiliki anak Abraham tinggal tanah Kanaan yang sekarang dikenal sebagai wilayah Palestina. Perbedaan jaraknya dengan Mekah jika melalui perjalanan darat pada masa itu kurang lebih 1500 km. Sayangnya, tidak ada catatan apapun tentang perjalanan jauh Abraham ke Tanah Arab atau Mekah. Dengan demikian narasi Islam ini suatu kebohongan yang amat mencolok. Ini jika dibandingkan dengan fakta tertulis dalam Kitab Kejadian, yang sudah dikonfirmasi kebenarannya oleh banyak nabi.
Kesimpulannya, ibadah haji yang didasarkan pada kebohongan adalah ibadah yang sia-sia. Apalagi ritual ini sebenarnya diambil dari tradisi orang-orang pagan di Arab yang dikemas oleh Muhamad dalam bungkus Islam demi mempertahankan keuntungan finansial yang dihasilkannya. Bagi Muslim ibadah haji ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah biayanya mahal ternyata cuma tradisi pagan!
Sekarang tentang kurban Idul Adha.
Perintah untuk melaksanakan kurban berasal dari Al-Quran. Ini salah satunya:
Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!
(Al-Kautsar:2)
Tradisi kurban Idul Adha dalam Islam dimaksudkan untuk meneladani perintah berkurban yang dilakukan Abraham. Dalam tradisi Islam, Abraham diperintahkan untuk mengurbankan Ismail. Tapi kemudian Allah menggantikan kurban itu dengan seekor domba. Tindakan pengurbanan domba oleh Abraham inilah yang ditradisikan dalam ibadah kurban Idul Adha. Tentu saja narasi Islam ini juga salah karena menurut teks Kitab Suci yang sudah dikonfirmasi banyak nabi, yang dikurbankan Abraham adalah Ishak, bukan Ismael. Karena dasarnya suatu kebohongan, maka ritual kurban Idul Adha juga menjadi ibadah yang sia-sia.
Tapi sebagian Muslim tetap mempertahankan keutamaan ibadah ini dengan memaknainya sebagai semangat pengorbanan demi ketaatan pada Allah yang bermanfaat bagi sesama. Ok, makna seperti itu memang baik. Tapi jika hanya sebatas itu saja, maka makna kurban Idul Adha dalam Islam sebenarnya amat sangat dangkal. Tidak peduli sebaik apapun mereka mengemas narasinya.
Mari kita bandingkan dengan makna kurban dalam iman Kristen.
Kita akan mulai dari titik yang sama dengan Islam dalam versi yang benar, yaitu kisah Abraham yang diperintahkan untuk mengurbankan Ishak. Kurban yang dilakukan Abraham ini tidak berdiri sendiri, tetapi berakar pada kejadian di masa lalu dan merujuk pada kurban sempurna yang akan terjadi di masa depan. Ini salah satu kunci penting yang sama sekali gagal dipahami Islam.
Kejadian masa lalu yang dimaksud adalah kejatuhan manusia di Taman Eden. Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah terlarang, mereka kehilangan hidup rahmat dan menyadari ketelanjangan mereka. Tuhan lalu memberi mereka pakaian dari kulit binatang. Dengan cara itu Tuhan mengajarkan manusia bahwa ada binatang yang harus dikurbankan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dari sinilah muncul gagasan perlunya kurban binatang untuk penebusan dosa manusia dan berdamai dengan Tuhan.
Selanjutnya dalam kisah Abraham, Tuhan memintanya untuk mengurbankan Ishak anaknya. Apakah ini berarti Tuhan menginginkan kurban manusia? Sama sekali tidak karena melalui Musa Tuhan sudah melarang kurban semacam itu: "Di antaramu janganlah didapati seorang pun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api..." (Ul.18:10).
Kurban yang dituntut Tuhan dari Abraham sebenarnya hanya simbol dari kurban sempurna di masa depan, yaitu kurban salib Yesus Kristus demi penebusan dosa dan pendamaian manusia dengan Tuhan. Kurban salib Yesus Kritus itulah yang jauh lebih penting.
Itu sebabnya dalam iman Kristen kita tidak mengenang kurban yang dilakukan Abraham karena itu hanya simbol. Yang kita kenang dan sekaligus menjadi fondasi iman Kriten adalah kurban sejati yang disimbolkannya, yaitu kurban salib Yesus Kristus. Sementara itu permintaan Tuhan kepada Abraham untuk mengurbankan anaknya hanyalah tipologi dari Allah Bapa yang menyerahkan Putra tunggal-Nya sebagai kurban sejati. Itulah momen sejarah maha penting yang menjadi pernyataan kasih Tuhan yang terbesar kepada manusia, dan membawa penebusan dosa serta pemulihan relasi manusia dengan Tuhan.
Kurban sempurna dari Tuhan ini jelas jauh lebih penting dan lebih bermakna dari pada segala bentuk kurban yang dilakukan manusia. Jadi teladan kurban Abraham yang diperingati setahun sekali dalam Idul Adha, sama sekali tak sebanding dengan kurban salib Yesus Kristus yang diimani Kristen. Dalam Gereja Katolik kurban sempurna itu dihadirkan kembali pada setiap Misa Kudus yang dilaksanakan setiap hari, bukan setahun sekali.
Jadi kalau diringkas perbedaannya seperti ini:
Dalam ibadah Idul Adha Muslim merayakan simbol yang salah dari kurban sejati, sementara Kristen dalam setiap Misa Kudus ikut ambil bagian di dalam kurban sejati itu sendiri. Melalui Idul Adha Muslim sekedar berharap dapat pahala, sementara dari pengurbanan salib Yesus Kristus orang Kristen memperoleh penebusan dosa, keselamatan kekal dan relasi yang akrab dengan Tuhan. Apa yang dirayakan setahun sekali dengan biaya mahal oleh sebagian Muslim, oleh semua Kristen bisa dilaksanakan setiap hari dalam Misa Kudus tanpa biaya mahal.
Jadi Muslim itu ibarat orang pandir yang rela membayar mahal untuk membeli bungkus tapi dengan bodoh membuang isinya. Ini tercermin dari ibadah Idul Adha yang menjadikan kurban Abraham begitu penting, sementara mereka justru menyangkal penyaliban Yesus Kristus. Sebaliknya orang Kristen tahu persis bahwa isinya itulah yang jauh lebih berharga dan layak untuk dinikmati dengan cara menjadikan kurban salib Yesus Kristus sebagai pusat iman Kristen.
Itulah perbedaan antara agama palsu yang menipu dan agama yang benar.









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar