Transkrip video:
Islam dan Kristen sama-sama percaya Tuhan yang mereka sembah itu sempurna. Tapi klaim saja tidak cukup. Suatu pernyataan kebenaran harus sesuai dengan realitas, karena kebenaran pada dasarnya adalah kesesuaian dengan realitas.
Masalahnya dengan cara apa kita dapat mengukur atau menguji kesempurnaan Tuhan? Bagaimana kita dapat mengetahui klaim kesempurnaan yang satu benar dan yang lain tidak benar?
Jika seseorang mengklaim dirinya sebagai pelukis terbaik di dunia, ada satu cara untuk membuktikannya. Mintalah dia menunjukkan karya terbaiknya. Meski penilaian terhadap keindahan lukisan bersifat subyektif setidaknya dari situ kita akan tahu apakah klaimnya sesuai dengan realitas atau tidak.
Kita akan menggunakan prinsip serupa untuk menguji klaim kesempurnaan Tuhan, yaitu melalui ciptaan-Nya. Dengan melihat konsep penciptaan masing-masing agama, kita bisa menilai sejauh manakah klaim kesempurnaan Tuhan itu tercermin dalam ciptaan. Untuk membatasi pembahasan, ciptaan yang dimaksud dalam video ini adalah dalam konteks dunia material.
Mari kita mulai dengan Islam.
Al-Quran berulang kali menyebut Allah dengan atribut kesempurnaan. Sembilan puluh sembilan nama Allah penuh dengan label seperti Mahasempurna, Mahabijaksana, Mahakuasa, dan lain-lain. Tidak ada yang mempertanyakan klaim ini dalam Islam.
Tapi sekarang, mari kita menguji klaim tersebut dengan melihat karyanya.
Ada satu ayat dalam Al-Quran yang sangat menarik untuk dicermati. Surah Ghafir ayat 57 mengatakan demikian:
"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia."
Ayat ini menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar dari penciptaan manusia. Baiklah kita terima dulu pernyataan tersebut. Mungkin yang dimaksud dalam arti ukuran.
Masalahnya, dimanakah puncak ciptaan Allah menurut Al-Quran? Jika manusia bukan yang terbesar, apakah ciptaan yang lebih baik dari manusia?
Silahkan cari di seluruh Al-Quran. Adakah teks yang dengan jelas menyatakan ciptaan Allah yang terbaik?
Sama sekali tidak ada!
Al-Quran Surah At-Tin ayat 4 memang menulis:
"Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
Tapi tepat di ayat selanjutnya tertulis demikian:
"Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya."
Ini sama sekali tidak menunjukkan kodrat manusia sebagai ciptaan yang terbaik. Yang jelas ciptaan terbaik itu bukan manusia karena Surah An-Nisa ayat 28 mengatakan bahwa manusia itu "dijadikan bersifat lemah."
Dan satu hal yang pasti: dalam Al-Quran sama sekali tak ada narasi tentang puncak ciptaan Tuhan.
Ini memiliki konsekuensi yang serius.
Karena tidak ada puncak ciptaan yang jelas maka selalu ada kemungkinan ciptaan yang lebih baik dari yang sudah diciptakan. Jika kita bertanya pada Muslim, apakah Allah mampu menciptakan mahluk yang lebih baik dari manusia? Mereka pasti akan menjawab, ya Allah mampu. Tapi ketika ditanya mengapa Allah tidak menciptakan mahluk yang lebih baik dari manusia? Tak ada satupun Muslim yang dapat memberikan jawaban memuaskan.
St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa Tuhan yang sempurna harus mampu mengadakan ciptaan yang mencerminkan kesempurnaan-Nya. Jadi harus ada puncak adikarya Tuhan.
Jika tidak ada puncak ciptaan, maka ada dua kemungkinan:
Pertama, Tuhan tidak mau menciptakan yang sempurna. Jika demikian, maka ada yang cacat dalam kehendak Tuhan karena Dia mampu menciptakan yang lebih baik tapi memilih tidak melakukannya. Kedua, Tuhan tidak bisa menciptakan yang sempurna. Jika demikian, ada kelemahan dalam kuasa-Nya karena Tuhan tidak benar-benar mahakuasa.
Dalam kedua kasus, klaim bahwa Tuhan itu sempurna menjadi bermasalah.
Konsekuensinya sangat tidak menyenangkan bagi Islam:
Tidak adanya narasi Al-Quran tentang ciptaan Allah yang terbaik berarti klaim kesempurnaannya tidak didukung oleh realitas ciptaan. Akibatnya, klaim itu menjadi sangat lemah.
Sekarang bandingkan dengan pernyataan Kitab Suci...
Kejadian 1:26 mengatakan:
"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita."
Manusia diciptakan serupa dengan gambar Tuhan.
Konsekuensinya, tidak mungkin ada ciptaan yang lebih tinggi dari gambar Tuhan itu sendiri. Dengan demikian manusia adalah ciptaan Tuhan yang terbaik. Manusia adalah puncak ciptaan bukan karena manusia paling kuat, paling besar, dan paling hebat. Tetapi karena manusia memiliki rasionalitas yang mampu memahami kebenaran, dan memiliki kehendak bebas untuk menginginkan yang baik. Dengan kedua kemampuan penting itu manusia menjadi satu-satunya mahluk ciptaan dalam dimensi material yang mampu merefleksikan semua sifat-sifat Tuhan. Tidak perlu heran jika di diantara semua ciptaan di dunia ini hanya manusia yang mampu membangun peradaban yang terus berkembang.
Setelah menciptakan manusia, Kitab Suci juga mencatat sesuatu yang sangat signifikan. Kejadian 1:31 mencatat demikian:
"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik."
Pernyataan ini menunjukkan Tuhan merasa sangat puas setelah menciptakan karya terbaik-Nya.
Dan kemudian, Kejadian 2:2:
"Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia."
Tuhan berhenti mencipta bukan karena lelah atau kehabisan ide, tapi karena pekerjaan-Nya sudah selesai dengan terwujudnya ciptaan yang terbaik.
Singkatnya, dalam Kitab Suci kita melihat tiga hal ini: Tuhan sudah menciptakan yang terbaik, puas dengan pekerjaan-Nya, dan selesai dari pekerjaan mencipta. Dengan demikian kesempurnaan Tuhan sudah sepenuhnya tercermin dalam ciptaan-Nya.
Ini memberikan perbandingan yang sangat timpang dengan Islam.
Allah dalam Islam mengklaim dirinya sempurna, tapi tidak ada narasi tentang Allah yang puas dengan karya-Nya. Tidak ada puncak ciptaan yang jelas. Tidak ada adikarya final. Maka kesempurnaan Allah tidak lebih dari sekedar label verbal yang kosong. Ini menunjukkan bahwa Allah dalam Islam bukanlah Tuhan yang sempurna, tetapi tuhan palsu yang ingin menipu banyak orang dengan mengaku sempurna.
Sebaliknya, kesempurnaan Tuhan dalam Kristen terbukti melalui karya-Nya. Ada puncak ciptaan yang jelas yaitu manusia yang serupa dengan gambar Tuhan. Ada momen kepuasan Tuhan atas ciptaan-Nya. Dan ada keputusan untuk mengakhiri proses penciptaan sebagai tanda bahwa segala sesuatu yang perlu diciptakan untuk mengekspresikan kesempurnaan Tuhan sudah tercipta. Inilah Tuhan yang sungguh-sungguh sempurna.
Argumen ini adalah salah satu dari sekian banyak yang diurai dalam buku Islam dan Akal Sehat. Ditulis untuk siapapun yang mau menguji klaim agama bukan dengan hafalan dan iman buta, tapi dengan akal sehat yang jujur dan berani bertanya.
Dapatkan bukunya sekarang, link-nya ada di keterangan video.









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar