Transkrip:

Drama pentahbisan Uskup SSPX tanggal 1 Juli 2026 yang dibayangi oleh ancaman ekskomunikasi semakin dekat, dan kontroversi antara pro dan kontra semakin runcing. Sebenarnya ini merupakan pengulangan dari drama yang sama di tahun 1988. Tapi yang membuat perbedaan signifikan adalah pengaruh dari keterbukaan informasi.

Jika dulu drama tersebut hanya diikuti sekelompok elit hirarki dan mereka yang berkepentingan, kini drama yang sama diikuti oleh banyak orang Katolik. Sekarang semakin banyak orang Katolik yang tahu bahwa persoalannya bukan sekedar perbedaan liturgi Misa. Ini perbedaan antara mereka yang setia pada ajaran Gereja Katolik, dan mereka yang menyimpang demi mengikuti perkembangan zaman. Dan akar perbedaanya juga sudah mulai teridentifikasi: Konsili Vatikan II. 

Cukup dari buah-buahnya sebenarnya kita sudah tahu bahwa Konsili Vatikan II telah berdampak sangat buruk bagi Gereja Katolik. Penerimaan Paus Leo XIV pada Uskup Perempuan Anglikan menjadi skandal ikonik yang setara dengan skandal Paus Yohanes Paulus II dalam doa bersama di Asisi dan aksi mencium Quran, juga dengan skandal Pachamama dari Paus Fransiskus. Semuanya adalah buah-buah buruk yang sangat mencolok dari Konsili Vatikan II. 

Pembaharuan Gereja pasca-Konsili Vatikan II terbukti telah menghasilkan sebuah gereja sinodal yang tetap memakai nama "Gereja Katolik" tapi sebenarnya sudah menyimpang dari Gereja Kristus. Seperti kata St. Athanasius, para hirarki Konsili Vatikan II memang menguasai gedung Gereja tapi sudah kehilangan imannya.

Pada video ini saya akan membahas sebuah perubahan penting yang dibawa oleh Konsili Vatikan II, namun tidak banyak diperbincangkan. Padahal dampak dari perubahan ini tidak hanya terbatas pada lingkup Gereja Katolik saja tapi sudah bersifat global dan sangat merusak. Perubahan yang dimaksud adalah sikap Gereja Katolik terhadap Islam.

Dalam dokumen Lumen Gentium tertulis:

Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; diantara mereka terdapat terutama kaum muslimin, yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim...

Ada dua hal yang perlu kita pertanyakan disini:

1. Benarkah rencana keselamatan merangkum kaum Muslim?
2. Benarkah Katolik dan Muslim menyembah Tuhan yang sama?

Kita akan menjawab pertanyaan yang pertama...

Islam datang sekitar 6 abad setelah Yesus Kristus menggenapi seluruh rencana keselamatan. Adakah ajaran baru yang dibawa Islam? Itu mustahil karena seluruh kebenaran telah dinyatakan oleh Yesus Kristus.

Dalam teologi Islam, kehadiran Islam di dunia konon bertujuan untuk meluruskan ajaran para nabi yang diselewengkan oleh para pengikutnya. Benarkah demikian? Ini juga mustahil, karena keutuhan seluruh kebenaran di dalam Gereja Katolik sudah dijamin oleh Roh Kudus dan tidak ada bukti obyektif terjadinya penyimpangan.

Kesimpulannya, Islam tidak menambahkan ajaran baru dan juga tidak mengoreksi ajaran yang sudah ada. Satu-satunya alasan kedatangan Islam yang paling mungkin adalah untuk menyangkal ajaran Kristus dan menggantikannya. Dengan demikian Islam bukan bagian dari rencana keselamatan. Justru sebaliknya, Islam datang untuk menghalangi dan merusak rencana keselamatan.

Islam bahkan lebih buruk dari ajaran-ajaran agama pagan penyembah berhala. Orang-orang pagan hanyalah orang-orang yang tersesat dalam pencarian mereka akan Tuhan. Kedatangan Yesus Kristus untuk menyelamatkan mereka seperti yang ditunjukkan dalam kisah ketiga orang majus yang datang ke Betlehem.

Islam juga lebih buruk dari orang-orang Yahudi yang nenek moyang mereka di masa lalu telah menyalibkan Tuhan kita. Tuhan Yesus sendiri sudah memaafkan orang-orang Yahudi karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Dan bagi orang-orang Yahudi, sudah tersedia rencana keselamatan seperti yang dinubuatkan Rasul Paulus (Roma 11:25-26).

Juga Islam jelas jauh lebih buruk dari orang-orang Protestan atau Ortodoks yang memisahkan diri dari Gereja Katolik. Setidaknya, untuk mereka juga sudah tersedia rencana Tuhan yang akan memanggil domba-domba terpisah agar kembali menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Faktanya, Islam adalah satu-satunya agama yang datang ke dunia dengan tujuan jahat untuk menentang iman Kristen dan menggantikannya. Maka satu-satunya ungkapan yang cocok bagi mereka di dalam Kitab Suci adalah: orang-orang yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan sejak dunia dijadikan (Why.13:8 dan Why.17:8). Itulah tempat kaum Muslim dalam Kitab Suci.

Karena Islam disebut sebagai golongan orang-orang yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan, maka mustahil pada saat yang sama kaum Muslim menjadi bagian dari rencana keselamatan. Dengan demikian pernyataan dokumen Lumen Gentium dalam hal ini jelas keliru.

Sekarang pertanyaan kedua, benarkah orang Katolik dan Muslim menyembah Tuhan yang sama?

Merujuk pada pembahasan dalam beberapa video Crusader Network yang terakhir tentang konsep ketuhanan Islam, jawabannya amat sangat jelas: TIDAK. Katolik dan Muslim tidak menyembah Tuhan yang sama. Jadi pernyataan Lumen Gentium dalam hal ini juga salah.

Ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa Konsili Vatikan II membuat pernyataan positif tentang Islam dan Muslim yang bertentangan dengan kebenaran obyektif?

Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja Katolik memang tidak pernah mengeluarkan dokumen resmi yang secara khusus menjelaskan posisi teologis Islam. Namun dari apa yang dipaparkan tadi, sudah jelas bahwa tujuan kedatangan Islam adalah sebagai antitesis dari kekristenan. Status ini sudah terkonfirmasi dalam sejarah.

Sejak awal berdirinya, Islam selalu melancarkan invasi jihad ke wilayah-wilayah Kristen. Mereka menguasai Yerusalem di abad ke 7, sejak abad ke 8 mereka menguasai wilayah Iberia (Spanyol dan Portugal) selama berabad-abad, dan akhirnya berhasil menghancurkan kekristenan Timur dengan menguasai Konstantinopel sampai hari ini.

Gereja Katolik yang menjadi benteng terakhir kekristenan tidak tinggal diam menghadapi upaya invasi jihad Islam ini. Dengan seruan "Deus Vult!" Gereja Katolik tahun 1095 menyerukan perang melawan kekuatan invasi jihad Islam, dan kekuatan tentara salib Eropa pada tahun 1099 berhasil merebut Yerusalem. Sayangnya penguasaan atas Yerusalem ini hanya berlangsung sampai dengan tahun 1187 sebelum kekuatan Islam kembali merebutnya.

Perang "Reconquista" atau penaklukan kembali pada abad 15 juga berhasil membebaskan wilayah Spanyol dan Portugal dari kekuasaan Islam. Lalu berlanjut dengan Perang Laut Lepanto tahun 1571 yang menghentikan semua upaya invasi Islam melalui laut. Dan pada tahun 1683 Raja Jan Sobieski dari Polandia berhasil membebaskan Wina dari pengepungan pasukan Kekalifahan Ottoman Turki.

Dalam seluruh sejarah konflik melawan Islam tersebut, posisi Gereja Katolik sangat jelas: mendukung dengan berkat surgawi seluruh upaya perlawanan terhadap upaya invasi jihad Islam. Gereja Katolik menyadari betul karakter jahat Islam sebagai musuh abadi yang terus berupaya mencari kesempatan untuk menghancurkan peradaban Kristen. Ini sikap yang benar dan seharusnya dipegang terus dengan setia. Islam yang sejak awal hadir sebagai antitesis kekristenan tidak pernah melepaskan identitas tersebut dari DNA mereka.

Kekalifahan Islam terakhir memang dihapuskan pada tahun 1924 oleh kekuatan sekuler. Namun semangat jihad Islam untuk menghancurkan kekristenan tidak pernah padam. Semangat itu tetap ada dan terus terwujud dalam berbagai wajah invasi jihad yang baru, termasuk melalui imigrasi dan juga kekuatan ekonomi yang diuntungkan oleh eksplorasi sumber energi minyak dan gas alam di berbagai wilayah mayoritas Muslim.

Dari sini kita bisa melihat bahwa keputusan Konsili Vatikan II untuk mengambil sikap lunak terhadap Islam adalah sebuah pengkhianatan keji. Melalui Konsili Vatikan II, Gereja Katolik yang seharusnya menjadi benteng terakhir kekristenan, dengan sukarela meletakkan senjata dan menyambut kedatangan musuh dengan tangan terbuka.

Perubahan sikap Gereja Katolik pasca-konsili terhadap Islam ini berdampak fatal. Negara-negara Eropa dan Amerika mulai menurunkan kewaspadaan mereka terhadap bahaya Islam. Mereka membiarkan para imigran Muslim berdatangan dan kekuatan petro-dollar mempengaruhi pusat-pusat intelektual dengan agenda jihad tersembunyi.

Sekarang kita semua sudah melihat sendiri akibatnya, bagaimana wajah negara-negara Eropa yang selama berabad-abad telah berjuang keras melawan kekuatan jihad Islam, hanya dalam waktu beberapa puluh tahun sejak Konsili Vatikan II telah berubah sangat drastis. Di London dan beberapa kota lain di Inggris, walikotanya adalah Muslim dan suara azan selalu menghantui kota-kota tersebut setiap hari. Demikian juga di New York, walikotanya adalah Muslim dan suasana islami termasuk suara azan juga mulai meracuni kota besar tersebut. Bahkan Raja Charles III, yang entah karena takut dengan kekuatan Muslim di negaranya atau diam-diam sudah menjadi mualaf, memilih tidak memberi pesan Paskah tapi setia memberi pesan bagi setiap momen perayaan penting Islam.

Mungkin ada yang mengatakan faktor bangkitnya Islam di Eropa dan Amerika tidak hanya sikap Gereja akibat Konsili Vatikan II. Itu benar, ada banyak faktor. Tapi bagaimanapun peran perubahan sikap Gereja Katolik sangat penting dan signifikan. Semua upaya perlawanan dan penolakan terhadap Islam menjadi lemah akibat pengkhianatan Gereja Katolik.

Beberapa negara Eropa memang mulai menyadari bahaya invasi jihad Islam melalui imigrasi ini, tapi keadaannya sudah sangat terlambat. Ditambah lagi dengan sikap Gereja Katolik yang mendukung kebijakan imigrasi dan terus membangun sikap bersahabat terhadap Muslim, semakin mempersulit Eropa sebagai jantung peradaban Kristen, untuk terbebas dari serbuan invasi jihad Islam modern ini. Jika ingin terbebas dari pengaruh Islam, suka atau tidak Eropa harus melalui konflik kekerasan yang akan membawa kehancuran dan banyak korban.

Itulah pengkhianatan keji Konsili Vatikan II terhadap Gereja Kristus dan peradaban dunia. Semua pendukung Konsili Vatikan II, langsung atau tidak langsung, sebenarnya ikut bertanggung jawab atas segala kerusakan ini. Sikap ramah mereka terhadap musuh kekristenan telah ikut andil terhadap semua kerusakan yang diakibatkan oleh invasi jihad Islam modern ini.

Untuk para pendukung konsili, setelah melihat kehancuran yang sekarang terjadi di jantung kekristenan akibat pengkhianatan Konsili Vatikan II, masihkah anda terus mendukung semangat Konsili Vatikan II dan segala perubahan yang dihasilkannya? Gunakan akal sehat kalian!

Sekalipun keadaannya sudah terlanjur parah, kita masih bisa ikut berpartisipasi memulihkan Gereja Kristus dan peradaban dunia. Kita dapat memulainya dengan satu langkah penting: tolak Konsili Vatikan II yang telah mengkhianati Gereja Kristus dan peradaban dunia!

Kembali ke drama pentahbisan Uskup SSPX. Kini menjadi jelas bahwa keputusan SSPX untuk mentahbiskan Uskup baru yang akan melestarikan kesetiaan Gereja Katolik terhadap iman para Rasul, adalah langkah yang benar dan dikehendaki Tuhan. Itu adalah upaya strategis untuk menolak pembaharuan konsili sambil tetap berada di dalam Gereja Katolik untuk memulihkan keadaannya dari dalam. Mereka yang mencintai Kristus harus ikut mendukungnya demi kebangkitan kembali Gereja Kristus dari sengsara Kalvari yang sedang dijalaninya.

Viva Christo Rey!