Tipu-Tipu Allah Yang Mengaku Dekat Padahal Jauh


 

Translkrip video:

Selama berabad-abad kaum Muslim terbuai dan tertipu oleh sepotong ayat yang diambil dari Surah Qaf ayat 16:

"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."

Mereka sering membanggakan kedekatan Allah dan manusia dalam Islam dengan mengutip ayat tersebut. Tapi coba kita baca secara lengkap ayat tersebut dan kita pahami konteksnya:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."

Perhatikan kata kuncinya: mengetahui. Jadi, Allah dikatakan "dekat" karena Allah mengetahui apa yang dibisikkan hati manusia. Ini sama sekali bukan kedekatan relasional. Ini kedekatan dalam konteks pengawasan. Allah mengetahui segala sesuatu tentang Anda.

Ini seperti CCTV yang terpasang di seluruh rumah Anda. Kamera ada di setiap sudut dan mengawasi anda sepanjang hari sehingga tidak ada satu detik pun yang luput dari rekaman. Seperti inilah "kedekatan Allah" yang ditawarkan dalam teologi Islam: Allah dekat kepada manusia dalam arti dia mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan dan kita pikirkan. Tidak lebih.

Ini relasi kedekatan yang hanya berjalan satu arah. Allah dapat mengawasi seluruh aktivitas manusia, tapi manusia tidak bisa mendekati dan mengenal Allah. Ini sama sekali bukan relasi timbal-balik, tapi pengawasan. Allah dalam Islam bagaikan seorang tuan yang mengawasi para hamba-hambanya agar ia dapat memberikan imbalan bagi yang taat aturan dan menjatuhkan hukuman bagi yang melanggar.

Jadi, selama berabad-abad Muslim terbuai oleh sepenggal ayat tersebut dan mengira dalam Islam mereka bisa dekat dengan Allah. Padahal dalam kenyataannya sama sekali tidak. Sesuai dengan teologi yang dibangun dalam Islam, Muslim selamanya tidak dapat mengenal atau dekat dengan Allah.

Mengapa demikian?

Itu karena Allah dalam Islam bersifat transenden mutlak. Dari perspektif manusia: Allah itu jauh, tak terjangkau, dan sama sekali tidak dapat dikenal. Atau lebih tepatnya, Allah dalam Islam tidak ingin dikenal. Jadi tidak akan pernah ditemukan dalam teologi Islam dimana Allah berupaya mendekati dan menjangkau manusia. Logikanya, jika Allah tidak pernah berupaya menjangkau manusia bagaimana manusia dapat mendekat kepada Allah?

Ini berbeda 180 derajat dengan iman Kristen.

Matius 1:23 mencatat sebuah nama yang diberikan kepada Yesus:

"...dan mereka akan menamakan Dia Imanuel - yang berarti: Allah menyertai kita.."

Dalam iman Kristen, Tuhan yang transenden tidak membiarkan Diri-Nya tetap tak terjangkau manusia selamanya. Tuhan berinkarnasi menjadi manusia dan hidup ditengah-tengah mereka agar manusia dapat mengenal-Nya. Dengan demikian dalam iman Kristen, Tuhan itu transenden sekaligus imanen. Dia transenden karena tak terlihat, kudus, dan tak terjangkau manusia. Tapi Tuhan sekaligus juga imanen karena hadir dan dikenal dalam kehidupan manusia.

Kedekatan Tuhan yang hadir dalam hidup manusia melalui inkarnasi itulah yang mampu membuat Petrus menjawab:

"Ya Tuhan, aku mengasihi Engkau..."

Kedekatan relasi seperti ini tidak akan pernah terjadi dalam relasi Muslim dengan Allah yang mereka sembah.

Anda tidak percaya?

Jika anda seorang Muslim, cobalah dalam setiap sholat anda ucapkan kalimat sederhana ini, "Ya Allah, aku mengasihi engkau..."

Anda mungkin bisa mengatakannya, tapi jujurlah... doa seperti itu akan terasa sangat canggung. Rasanya seperti menyatakan cinta kepada orang asing yang tak dikenal. Itu perasaan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. 

Sebaliknya, orang Kristen dapat mengucapkan, "Ya Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau" dengan penuh kelegaan dan sukacita. Alasannya, karena semua orang Kristen tahu pasti bahwa Tuhan telah lebih dahulu mengasihi mereka.

Dari hal kecil ini anda dapat melihat fakta yang kontras: Muslim menyembah Allah yang tidak dikenal, sedangkan orang Kristen menyembah Tuhan yang dikenal dan dicintai. 

Itulah perbedaan yang nyata dari konsep tuhan yang sepenuhnya transenden seperti dalam Islam, dengan Tuhan yang transenden tapi sekaligus imanen seperti dalam iman Kristen. Imanensi Tuhan yang dikenal dalam iman Kristen melalui inkarnasi telah memungkinkan manusia mengenal dan mengasihi Tuhan.

Dan hebatnya imanensi Tuhan ini tidak berakhir setelah Yesus naik kesurga, tetapi menetap sampai selama-lamanya. Ini dikatakan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga:

"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat.28:20).

Imanensi Tuhan setelah inkarnasi terjadi dengan dua cara.

Yang pertama, melalui Roh Kudus seperti yang dikatakan Yesus:

"Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran." (Yoh.14:16-17).

Yang kedua, melalui Sakramen Ekaristi. Yesus berkata: 

"Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia." (Yoh.6:56)

Inilah puncak imanensi Tuhan yang tidak tertandingi oleh agama manapun di dunia. Tuhan bukan hanya hadir bersama manusia dalam Roh, tapi juga bersatu dengan manusia secara nyata dalam Sakramen Ekaristi.

Sekarang makna kedekatan manusia dengan Tuhan dari kedua agama menjadi semakin jelas perbedaannya.

Dalam Islam kedekatan dengan Tuhan diungkapkan dalam teks ini:

"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."

Ini teks yang dalam konteks sesungguhnya hanya menunjukkan relasi satu arah dan tidak berkontribusi apa-apa terhadap relasi timbal-balik antara manusia dan Tuhan.

Sementara dalam iman Kristen kedekatan dengan Tuhan diungkapkan melalui inkarnasi Tuhan, penyertaan Roh Kudus dalam hidup manusia, dan melalui Sakramen Ekaristi. Ini kedekatan yang tidak hanya membangun relasi akrab manusia dengan Tuhan, tapi juga mempersatukannya secara nyata.

Cukup dengan akal sehat kita tahu mana yang lebih baik dari keduanya.

Perbedaan ini adalah salah satu dari sekian banyak argumen yang diurai dalam buku Islam dan Akal Sehat. Ditulis untuk siapapun yang ingin mengenal Tuhan bukan hanya dengan hafalan atau iman buta, tapi juga dengan kejujuran intelektual yang penuh.

Dapatkan bukunya melakui link di keterangan video.


Posting Komentar

0 Komentar