Transkrip video:
Ada satu ayat dalam Al-Quran yang sangat jujur.
Begitu jujurnya sampai-sampai, jika Anda berpikir cukup dalam tentang implikasinya, ayat itu menjadi menjadi lubang besar dalam teologi Islam.
Ayat yang dimaksud adalah Surah Adh-Dhariyat, ayat 56:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."
Perhatikan satu kata kecil dalam kalimat itu:
"..supaya...."
Kata "supaya" menunjukkan tujuan. Artinya, Allah menciptakan manusia karena ada sesuatu yang ingin Dia capai, yaitu secara eksklusif ingin disembah. Di situlah pertanyaan yang tidak nyaman mulai muncul.
Jika Allah menciptakan manusia supaya disembah, berarti ada sesuatu dalam diri Allah yang belum lengkap sebelum ada penyembahan itu.
Analoginya...
Saya lapar dan ingin makan karena tubuh saya kekurangan energi. Saya haus dan ingin minum karena tubuh saya kekurangan cairan. Jadi keinginan muncul dari kekurangan. Jika Allah menginginkan penyembahan dan menciptakan manusia demi penyembahan itu, maka logikanya ada sesuatu yang kurang dalam diri Allah yang perlu diisi oleh penyembahan manusia.
Dan kekurangan, dalam bentuk apapun, adalah tanda ketidaksempurnaan.
Dengan demikian ayat Al-Quran tersebut menunjukkan suatu gambaran tentang Tuhan yang tidak mulia dan tidak sempurna. Tuhan yang membutuhkan ciptaan untuk melengkapi dirinya.
Sekarang bandingkan dengan jawaban iman Kristen.
Bayangkan seorang pelukis besar yang sudah kaya dan terkenal. Dia tidak perlu menjual karya untuk bertahan hidup dan juga tidak butuh pengakuan siapapun. Tapi setiap pagi dia masuk ke studionya dan melukis.
Mengapa?
Bukan karena dia butuh uang atau pujian, karena dia sudah punya itu semua. Jawabannya adalah, dia melukis untuk mengekspresikan rasa seninya dalam lukisan.
Begitu juga dengan Tuhan...
Tuhan yang sempurna tidak membutuhkan apapun dari ciptaan-Nya. Penciptaan bukan karena ada suatu kekurangan yang perlu diisi. Seperti dalam analogi pelukis, penciptaan yang dilakukan Tuhan adalah kehendak bebas untuk mengekspresikan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya dalam rupa ciptaan.
Itulah sebabnya manusia diciptakan serupa dengan gambar Tuhan sendiri. Alasannya jelas, karena hanya dengan cara demikian manusia dapat menjadi ekspresi kemuliaan dan kesempurnaan Tuhan sebagai ciptaan.
Konsep ini mengubah segalanya tentang bagaimana kita memandang kemanusiaan kita
.
Dalam Islam, manusia diciptakan untuk menjadi hamba yang menyembah Tuhan. Tujuan hidup Muslim adalah ibadah, dengan motivasi utama: takut neraka dan ingin surga. Ini hubungan yang bersifat transaksional, dangkal, dan kekanak-kanakan.
Dalam Kristen, manusia diciptakan serupa dengan gambar Tuhan. Oleh karena itu manusia dipanggil, bukan sekadar untuk menyembah Tuhan, melainkan menjadi ekspresi kemuliaan Tuhan dengan berpartisipasi dalam kehidupan yang kudus dan abadi bersama-Nya.
Ini seperti yang ditulis oleh Rasul Petrus, "...supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi." (2 Petrus 1:4).
Kalimat seperti ini sama sekali tidak ada padanannya dalam Islam, bahkan dianggap kufur. Sementara dalam iman Kristen, itu menunjukkan panggilan kodrat kemanusiaan kita.
Ini dua konsep penciptaan yang berbeda, dua konsep Tuhan yang berbeda, dan dua visi tentang kemanusiaan yang berbeda. Yang satu menggambarkan Tuhan yang membutuhkan penyembahan. Yang lain menggambarkan Tuhan yang sempurna dan menciptakan karena pilihan bebas untuk mengekspresikan kemuliaan-Nya. Perbedaan keduanya seperti bumi dan langit.
Sekarang pertanyaan kritis untuk Anda renungkan: Tuhan yang manakah sungguh-sungguh Sang Pencipta yang sempurna? Tuhan yang menciptakan manusia sekedar menjadi hambanya, atau Tuhan yang menciptakan manusia sebagai ekspresi dari kemuliaan-Nya?
Jawabannya tentu cukup jelas bagi mereka yang berakal sehat.
Pembahasan ini hanya satu dari sekian banyak argumen cerdas yang diurai dalam buku Islam dan Akal Sehat. Buku ini bukan sekadar polemik, melainkan undangan untuk berpikir lebih dalam tentang siapa Tuhan yang sesungguhnya.
Dapatkan bukunya sekarang. Link-nya ada di keterangan video.









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar