Transkrip:
Santa Katarina dari Siena adalah seorang awam anggota ordo ketiga Dominikan yang lahir pada tanggal 25 Maret 1347 dan meninggal dunia pada tanggal 29 April 1380. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan rohani yang luar biasa. Ia menjalani hidup sebagai awam dengan semangat asketik dan hidup doa kontemplatif yang sangat kuat. Santa Katarina dikanonisasi pada tahun 1461 oleh Paus Pius II, dan diangkat sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970.
Perannya yang besar pada saat krisis Gereja di masa hidupnya membuat ia layak menjadi teladan bagi setiap Katolik dalam menghadapi krisis besar yang sedang melanda Gereja Katolik sejak Konsili Vatikan II. Berbeda dengan kecenderungan orang Katolik zaman sekarang yang selalu menekankan ketaatan mutlak pada otoritas hirarki, Santa Katarina dengan berani dan sekaligus penuh rasa hormat mengkritik serta mendorong Paus agar berani mengambil sikap yang benar, meski harus menentang banyak pihak. Kata-katanya yang terkenal kepada Paus Gregorius XI jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berbunyi: "Jadilah laki-laki!" Sebuah desakan kepada Paus untuk menyadari martabatnya sebagai Wakil Kristus dan pemimpin Gereja-Nya.
Kepada para uskup dan kardinal di sekitar Paus, Santa Katarina tidak ragu menyebut mereka sebagai "..setan-setan yang berpakaian seperti malaikat terang, yang hanya mencari kesenangan dan kepentingan mereka sendiri..." atau "... bunga-bunga yang telah layu dan membusuk, yang mengotori seluruh taman..." Itulah Santa Katarina dari Siena, seorang awam yang dengan lantang berani menyuarakan kebenaran Kristus kepada Paus dan seluruh hirarki Gereja.
Hari ini Gereja Katolik menghadapi situasi yang hampir sama. Jika dulu Paus diasingkan secara geografis ke Avignon, kini setelah Konsili Vatikan II para Paus Gereja Katolik diasingkan secara dogmatis dari Tahta Petrus. Para Paus diasingkan ke gereja konsili, yang sekarang dengan tegas mengidentifikasi dirinya sebagai gereja sinodal yang mengadopsi nilai-nilai dunia. Mereka tidak lagi setia pada ajaran iman para Rasul, tapi mulai beradaptasi dengan segala perubahan dan perkembangan yang terjadi di dunia. Mereka tidak lagi melayani kehendak Kristus, melainkan tunduk pada keinginan dunia.
Bahkan sekarang Paus Leo XIV benar-benar menunjukkan wajahnya sebagai pelayan dunia dengan mengikuti agenda kaum globalis, berpihak pada aliansi merah-hijau yang ingin menghancurkan kekristenan, bersikap abu-abu dalam hal iman dan moral, dan kehilangan keberanian untuk menyatakan ajaran tradisional Gereja dengan tegas.
Ada lagi paralel yang mencengangkan antara pengasingan Avignon dan penyimpangan Gereja Konsili. Total ada tujuh orang Paus selama masa pengasingan Avignon sebelum akhirnya Santa Katarina dari Siena mendesak Paus Gregorius XI untuk kembali ke Roma. Sekarang, ternyata sampai dengan Paus Leo XIV juga ada tujuh orang Paus yang jatuh dalam pengasingan Gereja Konsili. Total ada 67 tahun masa pengasingan Avignon, begitu juga nanti tahun 2029 ada 67 tahun masa penyesatan Konsili Vatikan II.
Apakah ini pertanda bahwa Paus Leo XIV kelak akan mengakhiri pengasingan Gereja Konsili? Semoga memang demikian.
Agar itu terjadi, mari kita mengadopsi semangat Santa Katarina dengan mendorong para hirarki Gereja Konsili terutama Paus Leo XIV, untuk kembali setia pada ajaran tradisional Gereja Katolik. Ingat, Santa Katarina juga seorang awam, sama seperti kita. Jangan takut pada tuduhan pembangkangan atau skismatik yang sebenarnya hanya bertujuan untuk membungkam semua kritik demi melanggengkan agenda konsili. Hendaknya kita lebih tunduk pada Tuhan dan seluruh ajaran-Nya dari pada kepada manusia.
Dan sama seperti Santa Katarina, seruan kita kepada Paus Leo XIV serta para klerus konsili adalah satu kalimat sederhana ini: "JADILAH KATOLIK!!!"
Santa Katarina dari Siena, doakanlah kami!









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar