Islam Dan Akal Sehat $25: Babi Bersertifikat Halal


Transkrip:


Di samping ibadah haji, komersialisasi agama yang begitu mencolok dalam islam adalah sertifikasi halal... 

Di beberapa negara, kebijakan label halal ini mulai dipertanyakan... selain sertifikasi tersebut dianggap membebani konsumen non-muslim... yang terpaksa membayar biaya tambahan untuk sesuatu yang tidak mereka butuhkan, terutama karena ada kecurigaan bahwa dana luar biasa besar yang didapat dari proyek sertifikasi halal tersebut disalurkan ke organisasi-organisasi pendukung terorisme..

Di Indonesia, apakah keadaannya juga seperti itu saya tidak tahu. Tapi mengingat nyaris semua restoran, dan produk makanan atau minuman mencantumkan label halal, maka satu hal yang jelas: jumlah dana yang didapat dari sertifikasi halal ini pasti sangat besar...  


Belum lagi dana dari labelisasi halal untuk produk-produk non-makanan seperti kosmetik yang entah kenapa ikut-ikutan harus berbahan baku halal.

Bagi banyak muslim, persoalan makanan halal ini begitu penting seolah-olah surga dan neraka dalam islam itu ikut ditentukan oleh seberapa besar kebencian mereka pada babi. 

Lihatlah bagaimana islam yang mengharamkan babi justru menghalalkan umatnya untuk berzinah dengan pembantu atau budak-budak, menghalalkan poligami dan praktek kawin-cerai, menghalalkan kawin dengan anak perempuan di bawah umur...  dan menghalalkan darah kafir atau orang-orang yang murtad dari islam!

Logika waras kita berkata itu semua jauh lebih penting untuk diharamkan ketimbang babi, tapi logika islam berkata lain....  

Akibat dari logika islam yang terbalik ini kebanyakan muslim lebih takut makan babi ketimbang korupsi, berzinah, menipu, atau bahkan membunuh kafir sekalipun...!!!

Cuma satu kesimpulan yang kita bisa ambil dari soal haramnya babi ini: Islam agama yang MUNAFIK!

Ciptaan Tuhan yang baik diharamkan sementara yang jelas-jelas tidak bermoral dan bertentangan dengan nilai kemanusiaan atau bahkan berdosa justru dihalalkan atau digampangkan...

Persoalan makanan halal menjadi begitu penting bagi muslim karena dalam islam tidak ada ajaran yang sungguh-sungguh baik. Akibatnya persoalan sepele seperti soal haramnya babi harus diangkat menjadi begitu penting dan digembar-gemborkan supaya ajaran islam punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Persis seperti tong kosong berbunyi nyaring... suaranya keras karena isinya tidak ada!

Selain itu seperti yang pernah saya sampaikan dalam video sebelumnya, Islam adalah agama kebencian. Maka muslim butuh obyek untuk dibenci demi memuaskan rasa keislaman mereka. Obyek-obyek kebencian itu antara lain, kafir (termasuk Yahudi dan Kristen) dan babi. Itulah sasaran utama kebencian muslim yang bisa membuat hidup keagamaan mereka menjadi "semarak"..

Kalau kita mau menggunakan akal sehat.. soal makanan atau minuman haram dalam ajaran islam ini adalah suatu pembodohan selama 14 abad yang muncul dari tindakan plagiat dangkal oleh Muhamad....

Muhamad memang cuma mencontek kebiasaan orang Yahudi yang mengharamkan binatang-binatang tertentu tanpa ia sendiri paham maknanya.

Mari kita lihat apa yang dikatakan Alkitab soal makanan haram ini...

Setelah bencana air bah, kepada Nuh Tuhan telah memberikan segala yang bergerak sebagai makanan (Kej.9:3).. Artinya setelah bencana air bah tidak ada binatang yang diharamkan Tuhan, semua boleh dimakan... Juga kepada Abraham, Ishak dan Yakub, tidak ada larangan untuk makan binatang tertentu...

Hanya ketika bangsa Yahudi tengah dalam perjalanan menuju tanah terjanji, Tuhan melalui Musa memberikan larangan untuk mengkonsumsi binatang-binatang tertentu (Im.11:4-31).

Tapi setelah kedatangan Yesus, soal makanan haram ini kembali ditiadakan. Yesus mengatakan "..bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang." (Mat. 15:11). 

Ajaran ini kemudian ditegaskan lagi oleh Rasul Paulus, "Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur..." (1Tim.4:4). Ini sangat konsisten dengan apa yang dinyatakan Tuhan kepada Nuh...

Dari apa yang diajarkan oleh Alkitab, Muhamad hanya mengambil perintah larangan makan binatang tertentu yang diberikan kepada Musa tapi ia mengabaikan ajaran lainnya... 

Kalaupun mencontek, jika Muhamad cukup cerdas seharusnya yang diambil adalah yang diajarkan oleh Yesus atau yang terakhir, yaitu semua makanan yang masuk ke mulut tidak haram, sebaliknya yang dapat menajiskan manusia adalah semua yang keluar dari dirinya: pikiran, perkataan, dan perbuatannya! Tapi rupanya nabi islam tidak secerdas itu sehingga ia malah memilih untuk mencontek ajaran Yahudi sebelum Yesus...

Akibatnya selama 14 abad lamanya semua muslim harus mengikuti bulat-bulat larangan yang dicomot dari agama Yahudi itu tanpa pernah tahu alasannya...

Yang menggelikan, meski hanya mengikuti ajaran hasil contekan, muslim seringkali malah memandang rendah orang-orang Kristen yang tidak mengharamkan babi. Muslim mengira dengan tidak makan babi membuat mereka lebih baik di mata Tuhan!
Padahal jika saja mereka tahu mengapa melalui Musa Tuhan mengharamkan binatang tertentu, sementara sebelum dan sesudahnya tidak ada binatang yang dinyatakan haram, mungkin mereka akan sadar betapa naifnya mereka selama ini....

Mari kita gunakan akal sehat...

Mengapa pada jaman Nuh semua binatang boleh dimakan, di jaman Abraham, Ishak dan Yakub juga sama, pada jaman Musa ada larangan untuk mengkonsumsi binatang-binatang tertentu, dan setelah kedatangan Yesus kembali semua binatang boleh dimakan?

Apakah itu artinya ajaran Tuhan tidak konsisten?
Atau Alkitab sudah dipalsukan seperti yang biasa dituduhkan muslim?

Tentu saja tidak seperti itu!

Justru karena Tuhan itu MAHA konsisten dan TIDAK MUNGKIN melanggar hukum-Nya sendiri maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengharaman terhadap binatang tertentu bukan suatu doktrin yang bersifat permanen seperti halnya Sepuluh Perintah Allah... Itu cuma disiplin yang bersifat sementara...

Mengapa?

Kita harus memahami bahwa sebelum Musa menerima hukum tersebut, bangsa Yahudi tinggal di tanah kaum pagan Mesir. 

Budaya pagan yang melekat dalam kehidupan bangsa Israel selama 400 tahun diperbudak bangsa Mesir harus dihilangkan sebelum mereka bisa masuk ke Tanah Terjanji. Maka selama 40 tahun lamanya bangsa Israel berada di padang gurun, mereka dibentuk dan dimurnikan sebagai bangsa pilihan dengan cara menjauhkan mereka dari budaya dan cara hidup kaum pagan. 

Tidak hanya mereka dilarang membuat patung-patung yang akan mengingatkan mereka pada berhala-berhala di Mesir, mereka juga dilarang mengkonsumsi binatang-binatang tertentu agar cara hidup bangsa pilihan ini berbeda dari bangsa-bangsa pagan! Pengharaman binatang tertentu utuk dikonsumsi ini bisa dianggap sebagai perintah untuk berpantang makanan tertentu yang dimaksudkan untuk membangun karakter rohani bangsa terpilih. Fungsinya kurang lebih hampir sama dengan perintah berpuasa untuk jangka waktu tertentu.

Jadi ada banyak perintah dan larangan dalam Hukum Taurat yang sifatnya hanyalah suatu disiplin untuk membentuk karakter dan identitas bangsa terpilih! Bukan doktrin yang permanen!

Setelah mereka masuk ke tanah terjanji, aturan-aturan disiplin ini, termasuk pantangan mengkonsumsi binatang tertentu, masih tetap berlaku karena Tuhan masih terus membentuk mereka.

Sampai kapan? 

Tentu saja sampai tugas bangsa terpilih keturunan Abraham ini tergenapi, yaitu sampai datangnya Mesias yang dijanjikan! Maka setelah Yesus datang, sebagian dari hukum-hukum lama yang sifatnya hanya berupa disiplin ini menjadi kadaluarsa dan tidak diperlukan lagi. Tugas bangsa Israel untuk menerima Sabda Tuhan sudah selesai tuntas dengan datangnya Sang Sabda yang menjadi daging! 

Yesus menjelaskan ini ketika Ia ditanya mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa. Kata-Nya, "..Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?" (Luk.5:34). 

Logikanya..jika adanya Yesus membuat para pengikut-Nya tidak perlu berpuasa.. demikian juga kedatangan Yesus ke dunia membuat masa berpantang untuk mengkonsumsi binatang tertentu yang ditetapkan bagi bangsa Israel sudah berakhir.... Dengan kata lain hukum yang menetapkan haramnya binatang tertentu tidak berlaku lagi....

Ini seperti anak-anak sekolah yang harus mengenakan seragam selama mereka masih duduk di bangku SD sampai SMU.... Seragam tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah atau perkembangan kemampuan intelektual mereka.. Itu cuma disiplin untuk membentuk karakter sebagai pelajar. Setelah mereka lulus dan masuk perguruan tinggi, seragam itu tidak diperlukan lagi! Tentu akan lucu sekali kalau ada yang masih ngotot pakai seragam SMU saat kuliah...

Dengan memahami ini maka menjadi jelas mengapa bagi Kristen, hukum tentang makanan haram itu tidak diperlukan lagi! 

Lalu apakah larangan mengkonsumsi binatang tertentu seperti yang diperintahkan kepada Musa itu sesuatu yang salah?

Oh... sama sekali tidak.

Pengharaman binatang tertentu adalah bagian dari disiplin berpantang. Sama dengan berpuasa, berpantang adalah sesuatu yang baik... JIKA dipahami arti dan tujuannya. 

Dalam konteks hukum yang diterima Musa, tujuan dari berpantang ini adalah untuk membentuk bangsa Israel sebagai bangsa terpilih dan mempersiapkannya menerima Mesias.

Maka dengan kedatangan Yesus, tujuannya sudah tercapai. Selanjutnya disiplin berpantang ini tidak lagi memiliki tujuan maka tidak diperlukan lagi.. 

Itu sebabnya Yesus mengatakan tidak ada makanan yang haram!

Maka tetap mengikuti aturan haram dan halal akan menjadi tindakan yang sia-sia... Apalagi sampai memutlakkannya sehingga kosmetik dan sabunpun tidak boleh mengandung bahan baku binatang yang diharamkan! Ini hanya akan membuat manusia lupa pada perintah yang lebih penting sebagaimana yang sudah terjadi pada muslim selama 14 abad! 

Akibatnya, aturan haram-halalnya makanan malah menghambat manusia untuk mencapai kebenaran. Tidak heran hukum haram-halalnya makanan ini telah membuat muslim jadi munafik, lebay, dan tidak rasional lagi!

Ketimbang terobsesi aturan remeh-temeh soal makanan halal bukankah lebih baik memfokuskan hidup kita untuk menapaki jalan keselamatan dengan cara mengasihi Tuhan dan sesama? Itu yang jauh lebih penting dari pada soal haram-halalnya makanan!

Mungkin muslim ada yang berkomentar, "Orang Yahudi sampai sekarang masih menaati Hukum Taurat soal makanan haram..". 

Ya tentu saja... itu karena mereka tidak mau percaya Yesus adalah Mesias sehingga hukum itu mereka anggap masih berlaku sampai kedatangan mesias yang mereka tunggu! Kata-kata Yesus yang meniadakan makanan haram tidak diikuti mereka!

Saudara-saudaraku kaum muslim...

Mudah-mudahan penjelasan sederhana ini bisa membantu kalian memahami bagaimana sesungguhnya persoalan makanan halal ini...

Kalau saya ditanya mana yang saya pilih, makan babi panggang di bumi atau dapat 72 bidadari di surga? Saya pasti pilih makan babi panggang di bumi.. Alasannya... babi itu sudah diberi sertifikat halal oleh Yesus sejak 2000 tahun yang lalu, selain itu makan babi panggang jelas-jelas uenaaak tenan dan nyata... sementara janji 72 bidadari di surga itu sudah pasti bohongnya.

Kalian toh tidak pernah bisa menjelaskan mengapa babi itu haram selain mengatakan itu perintah Allah SWT... Ingat, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yesus tidak mengharamkan babi! Mengapakah kalian terus membiarkan diri kalian disusahkan dengan persoalan sepele makanan halal yang muncul akibat kenaifan Muhamad dalam mencontek ajaran Yahudi! Tidakkah kalian merasa lelah dan bosan terus-menerus dibohongi islam dengan ajaran-ajaran dangkal ini?

Gunakan akal sehat dan segera keluarlah dari agama plagiat ini selagi masih ada waktu! Agama ini hanya membebani kalian dengan berbagai perkara sepele yang dirancang iblis untuk memalingkan kalian dari perkara-perkara yang lebih penting bagi keselamatan jiwa kalian!

Kini saatnya kalian datang pada Yesus, sang Kebenaran sejati. Dia mengundang kalian, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu..." (Mat.11:28)