Inikah Sejarah Pembodohan Dalam Islam?


 

Transkrip video:

Kurang lebih 2400 tahun yang lalu ada sebuah percakapan menarik di serambi pengadilan di Athena antara Socrates dan seorang pendeta agama pagan Yunani bernama Euthyphro. Salah satu percakapan mereka berujung pada pertanyaan Socrates yang kemudian dikenal sebagai dilema Euthyphro.

Ini pertanyaan Socrates kepada Euthyphro:

"Apakah kesalehan itu disebut demikian karena para dewa menyukainya, atau para dewa menyukainya karena hal itu memang saleh?"

Ini pertanyaan dilematis yang sulit dijawab oleh Euthyphro karena apapun jawaban yang diberikan selalu menimbulkan masalah. Jika Euthyphro menjawab yang pertama maka kesalehan itu menjadi arbitrer atau sewenang-wenang, apapun akan disebut sebagai kesalehan jika para dewa menghendakinya meski tindakan itu secara intrinsik jahat atau tidak adil. Jika Euthyphro menjawab yang kedua, maka para dewa sebenarnya tidak memiliki otoritas karena mereka hanya mengikuti suatu prinsip yang ada di atas mereka.

Akhir percakapan keduanya berujung pada kebuntuan karena Euthyphro yang kesulitan memberikan jawaban, memilih meninggalkan percakapan dengan alasan sedang terburu-buru.

Dilema Euthyphro masih tetap relevan sampai sekarang dan menjadi pertanyaan paling mengganggu di berbagai agama. Pada video kali ini kita akan melihat bagaimana Islam dan Kristen menjawab dilema Euthyphro ini.

Kita akan mulai dengan Islam. Pertanyaannya sedikit dimodifikasi untuk konteks monotheisme:

"Apakah kebenaran disebut demikian karena Allah menghendakinya, atau Allah menghendakinya karena hal itu sesuai dengan kebenaran?"

Allah menurut Islam adalah Dzat yang Maha Tinggi, maka tidak mungkin ada prinsip apapun yang berada di atas-Nya. Dengan demikian Islam tidak mungkin memilih jawaban kedua. 

Selanjutnya, dalam Islam ada prinsip nasikh-mansukh atau pembatalan ayat. Dalam prinsip ini ayat yang terdahulu tidak lagi berlaku dan digantikan oleh ayat yang datang kemudian. Prinsip ini terungkap dalam Surah Al-Baqarah ayat 106:

"Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya."

Artinya, ada ayat-ayat dalam Al-Quran yang sudah tidak berlaku lagi karena dibatalkan oleh ayat yang turun kemudian.

Contoh paling terkenal adalah "ayat-ayat pedang" dalam Al-Quran. Misalnya, Surah At-Taubah ayat 5:

"Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu temui mereka, tangkaplah mereka, kepunglah mereka, dan intailah mereka di tempat pengintaian...."

Menurut banyak ulama Islam sendiri, satu ayat ini membatalkan lebih dari seratus ayat yang berbicara tentang perdamaian, toleransi, dan belas kasihan kepada non-Muslim.

Ini membuat Muslim secara prinsip dapat bermuka dua:

Pada saat lemah atau berada dalam keadaan minoritas, mereka menggunakan ayat-ayat damai dan mempromosikan Islam sebagai agama damai. Tetapi ketika keadaan mereka kuat dan situasi memungkinkan, mereka akan menerapkan ayat-ayat pedang yang kejam untuk menindas pengikut agama lain.

Kesimpulannya, dalam teologi Islam sesuatu itu benar karena Allah memerintahkannya, bukan karena secara objektif memang benar. Ini menunjukkan bahwa Islam terjebak pada jawaban pertama dari dilema Euthyphro. Konsekuensinya, kebenaran dalam Islam bersifat arbitrer atau sewenang-wenang karena hanya bergantung pada apapun yang dikehendaki Allah.

Keadaan ini diperparah lagi dengan fakta bahwa kehendak Allah sama absurdnya dengan jati diri Allah, yaitu sama-sama tak dapat dikenal. Tak ada teologi Islam yang dapat merumuskan kehendak Allah ini secara utuh dan koheren. Karena kehendak Allah yang menjadi sumber kebenaran ternyata tak dapat dikenal, maka kebenaran dalam Islam juga tidak memiliki kejelasan konsep dan sama-sama tidak dapat dikenal. 

Bahkan ulama-ulama Islam sendiri tidak dapat menjelaskan bagaimana ajaran-ajaran Al-Quran dapat dipahami secara sistematis karena ayat-ayat yang bertabur di dalamnya memang tidak memiliki sistematika apapun. Ajaran kebenaran dalam Islam itu bagaikan potongan-potongan puzzle yang tidak pernah dapat membentuk sebuah gambar utuh. 

Jika dalam video sebelumnya kita menyimpulkan Islam bukan agama kasih, kali ini kita bisa tambahkan satu lagi: Islam bukan agama kebenaran.

Sekarang, bagaimana ajaran Kristen menjawab dilema Euthyphro?

Dalam Injil Yesus berkata: 
"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh.14:6). 

Di sinilah Kekristenan menyelesaikan dilema Euthyphro dengan sangat elegan, yaitu dengan mengajarkan kebenaran sebagai kodrat dari Tuhan itu sendiri.

Dengan demikian kebenaran tidak berada di luar Tuhan, sehingga Tuhan harus tunduk pada apa yang ada di luar Diri-Nya. Tapi kebenaran juga tidak sewenang-wenang dari Tuhan, sehingga bisa berubah-ubah dan tidak konsisten. Alasannya jelas: Tuhan tidak dapat mengkontradisiksi Diri-Nya sendiri dengan memerintahkan apa yang tidak benar. Jadi kesimpulannya, ajaran iman Kristen lolos dari jebakan dilema Euthyphro dengan sangat mulus.

Sayangnya, Islam tidak dapat menyontek jawaban ini karena dalam Islam Allah bukanlah kebenaran. Ingat, dalam Al-Quran dikatakan bahwa Allah itu tidak serupa dengan apapun juga. Dengan demikian Allah juga mustahil sama dengan kebenaran. Maka tidak perlu heran jika Allah yang tidak jelas jati dirinya ini juga menurunkan kebenaran yang tidak jelas di dalam Al-Quran. Dapat kita simpulkan, Islam tidak lebih dari agama palsu yang tidak dapat mengajarkan kebenaran pada manusia.

Bandingkan dengan Tuhan dalam iman Kristen yang menurunkan kebenaran secara bertahap dan sistematis melalui para nabi. Lalu kebenaran itu digenapi dan disempurnakan dalam inkarnasi Tuhan sendiri. Kebenaran dalam iman Kristen bagaikan kumpulan puzzle yang dalam terang Roh Kudus secara sistematis membentuk sebuah kebenaran yang utuh dan koheren. Inilah agama yang mengajarkan seluruh kebenaran secara utuh kepada manusia.

Di video ini kita dapat belajar satu hal penting: bagaimana pertanyaan filosofis yang berusia lebih dari 2400 tahun telah menjadi pembeda antara Tuhan yang sejati dan tuhan palsu, antara agama yang benar dan agama abal-abal. Sekarang anda dapat menggunakan pertanyaan dilematis Euthyphro ini untuk mengkonfrontasi iman Islam tanpa mereka mampu memberikan jawaban yang memuaskan.

Argumen tentang Tuhan dan kebenaran ini dibahas secara mendalam dalam buku Islam dan Akal Sehat. Buku ini ditulis untuk siapapun yang percaya bahwa iman yang sejati tidak pernah takut pada pertanyaan filosofis yang jujur.

Dapatkan bukunya sekarang, link-nya ada di keterangan video.



Posting Komentar

0 Komentar