Transkrip Video:
Gelar Maha Pengasih dan Maha Penyayang sepertinya sudah menjadi gelar yang melekat erat pada Allah yang disembah Muslim. Dari 114 surah dalam Alquran nyaris semuanya, kecuali surah At Taubah, dimulai dengan ucapan "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang." Demikian juga setiap kali memulai aktivitas, umumnya Muslim yang taat akan mengucapkan kalimat yang sama.
Intinya, semua Muslim sudah menerima gelar tersebut sebagai kebenaran iman yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Tapi anehnya, ketika berbicara tentang ajaran kasih orang sama sekali tidak berpikir tentang Islam. Ini menimbulkan pertanyaan besar. Mengapa ada kesenjangan antara gelar yang melekat pada Allah, dan ajaran Islam? Mengapa Allah yang katanya Maha Pengasih dan Maha Penyayang justru tidak memberikan ajaran Islam yang kental dengan semangat kasih?
Inilah persoalan yang akan kita bahas dalam video kali ini.
Jika kita bertanya pada Muslim apa bukti Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang? Biasanya Muslim akan menjawab seperti ini, "Bukti kasih Allah ada dalam semua anugerah dan nikmat yang kita terima."
Ada juga Muslim yang berkata, "Saya berdoa dan memohon hanya kepada Allah. Lihatlah segala kekayaan, kemakmuran, dan kebahagiaan dunia yang saya nikmati ini. Semua itu pasti berasal dari Allah yang saya sembah dan menjadi tujuan dari segala permohonan saya!"
Intinya, Muslim percaya bahwa segala anugerah yang mereka terima adalah bukti dari kasih Allah kepada mereka. Benarkah demikian?
Belum tentu.
Mari kita lihat analogi berikut ini...
Seorang yang sangat miskin datang menghadap seorang Raja dan mengutarakan segala penderitaan hidupnya. Setelah mendengar keluh-kesahnya, sang raja pun mengambil sekantung uang dan memberikannya kepada orang miskin tersebut. Begitu mendapatkan uang yang jumlahnya jauh di atas harapannya, orang miskin itu pun berterima kasih dan memuji-muji kebaikan sang raja di sepanjang perjalanannya kembali ke rumah.
Di istana, para menteri juga memuji kebaikan sang raja sambil menanyakan mengapa ia begitu murah hati pada orang miskin tersebut. Raja itu berkata, "Seandainya si miskin tadi meminta harta 10 kali lipat dari itu, aku juga akan memberikannya. Kerajaan kita sangat kaya, pemberian itu bagaikan setetes air dari danau luas yang kita miliki. Kalian tahu alasan sesungguhnya mengapa aku memberikan uang kepada orang itu? Aku tidak ingin orang itu pulang ke daerahnya dan berbicara sesuatu yang buruk tentang kerajaan kita. Itu dapat membuat banyak orang marah dan memulai pemberontakan yang mengancam kerajaan kita. Jadi ini bukan soal kemurahan hati, tapi kecerdikan politik."
Begitulah...
Bagi si miskin, pemberian tersebut adalah bukti kemurahan hati sang raja. Tapi bagi sang raja, tindakan tersebut tidak ada hubungannya dengan kemurahan hati. Ada motif lain di balik itu, yaitu upaya politis untuk mempertahankan kekuasaan.
Demikian juga bagi Muslim, segala anugerah dan pemberian yang mereka percaya berasal dari Allah adalah bukti dari sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah yang mereka sembah. Sementara itu bagi Alah Islam, pemberian tersebut belum tentu didasari oleh kasih tapi oleh alasan-alasan lain. Di dalam Injil, iblis bahkan sanggup memberikan seluruh dunia dan segala kemegahannya kepada Yesus jika bersedia menyembahnya. Jelas pemberian yang begitu besar itu tidak ada hubungannya dengan motif kasih.
Intinya, pemberian tidak otomatis menjadi bukti kasih. Pandangan semacam itu sangat naif.
Sayangnya, tak ada satu pun ajaran Islam yang dapat memberikan bukti atau argumen meyakinkan bahwa Allah tauhid yang mereka sembah memberikan segala anugerah karena motif kasih. Tidak satu pun.
Ini berbanding terbalik dengan iman Kristen. Orang Kristen tidak perlu mengulang-ulang mantra Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Mereka sudah tahu Allah itu Kasih karena ada bukti nyata yang hadir dalam sejarah, yaitu penyaliban Yesus Kristus (yang adalah Putra Allah) demi keselamatan manusia. Cukup dengan satu bukti itu sudah meyakinkan semua orang bahwa segala sesuatu yang diberikan dan dilakukan Tuhan bagi kita, sudah pasti didasarkan pada KASIH.
Ini kata Yesus, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh.3:16)
Seperti Abraham yang rela mengurbankan Ishak sebagai bukti kasihnya kepada Tuhan, demikian juga Allah Bapa rela menyerahkan Anak-Nya yang tunggal sebagai bukti kasih-Nya kepada manusia.
Pertanyaannya, dimanakah dalam agama-agama lain, termasuk Islam, ada bukti kasih Tuhan yang lebih meyakinkan dari itu? Sama sekali tidak ada.
Dan Allah Tritunggal yang adalah Kasih itu juga terbukti dalam ajaran iman Kristen, yang menjadikan kasih sebagai pusat dari seluruh doktrinnya. Bandingkan ini dengan Allah Islam yang disebut sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang tapi sama sekali tak terlihat jejaknya dalam ajaran Islam.
Akhirnya Muslim harus menerima fakta kelam bahwa gelar Maha Pengasih dan Maha Penyayang dari Allah yang mereka sembah sebenarnya tidak lebih dari sekedar klaim verbal yang tak pernah ada buktinya. Itu cuma HOAX yang masih bertahan 14 abad lamanya karena diulang-ulang setiap saat bagaikan mantra sakti.
Argumen ini adalah sebagian dari banyak argumen menarik dalam buku Islam dan Akal Sehat. Buku ini ditulis untuk siapapun yang ingin mengenal Tuhan dan seluruh kebenaran-Nya, bukan hanya dengan iman yang buta tapi dengan kejujuran intelektual yang berani.









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar