Tauihid VS Trinitas - Siapa Yang Menang?

 


Transkrip Video:

Muslim sering mengejek konsep Trinitas dengan pertanyaan yang sama:

"Bagaimana mungkin 1 + 1 + 1 = 1?" Dan banyak orang Kristen terus mencoba bersikap defensif dengan berusaha menunjukkan kesalahpahaman Muslim tentang konsep Trinitas.

Pada video kali ini kita mengambil pendekatan yang berbeda. Kita akan bersikap ofensif dan menunjukkan secara tegas bahwa Trinitas tidak hanya sejalan dengan akal sehat, tapi juga satu-satunya konsep ketuhanan yang koheren secara logis.

Ikuti terus video ini karena di bagian akhir kita akan memberikan jawaban yang jitu terhadap tuduhan bahwa konsep Trinitas bertentangan dengan logika matematis. Sebuah jawaban yang membuat Muslim tidak punya celah lagi untuk menuduh konsep Trinitas bertentangan dengan akal sehat.


KLIK DISINI

Kita akan mulai pembahasan video dengan membongkar kelemahan mendasar konsep tauhid Islam.

Di video sebelumnya kita sudah membongkar kelemahan konsep tauhid dengan pertanyaan sederhana: seperti apakah Allah sebelum segala sesuatu diciptakan?

Pertanyaan ini memojokkan Allah tauhid sebagai tuhan yang sendirian dan kesepian sebelum ada ciptaan, dan sekaligus tuhan yang sifat kasihnya hanya berupa potensi yang tak teraktualisasi. Ini menunjukkan bahwa Allah itu tidak sempurna, dengan demikian konsep tauhid Islam adalah konsep ketuhanan yang salah.

Kelemahan berikutnya justru dibongkar sendiri oleh Muslim dalam konflik Mutazilah. Berdasarkan pemikiran rasionalnya, kelompok Mutazilah sampai pada kesimpulan bahwa Al-Quran sebagai Sabda Allah hanyalah ciptaan. Alasannya, jika Al-Quran itu bukan ciptaan maka ada yang lain selain Allah. Keadaaan itu mustahil karena melanggar prinsip tauhid.

Pandangan kaum Mutazilah ini ditentang keras oleh kelompok konservatif Asyariah. Mereka berpendapat bahwa Al-Quran sebagai Sabda Allah bersifat kekal. Sayangnya kelompok Asyariah ini tidak memiliki argumen yang cukup untuk menjelaskan bagaimana Al-Quran bisa kekal bersama Allah tanpa melanggar prinsip tauhid. 

Polemik ini berakhir berkat campur tangan kekuasaan. Kelompok Mutazilah tersingkir dan sekarang Islam mainstream mengikuti pandangan kaum Asyariah yang menyatakan Al-Quran itu bersifat kekal.

Ironisnya, argumen untuk membenarkan Sabda Allah kekal bersama-sama dengan Allah tanpa melanggar keesaan Allah justru tersedia dalam teologi Trinitas. Dalam iman Kristen, Sabda itu ada bersama-sama Allah sejak kekal dan Sabda itu adalah Allah. Ini seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 1:1. Dengan demikian pandangan Asyariah sebenarnya meminjam konsep trinitas yang mereka sangkal demi mempertahankan Islam dari serangan fatal kaum Mutazilah.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa konsep tauhid sebenarnya sudah runtuh dan hanya bertahan tetap eksis sampai sekarang dengan cara meminjam konsep Trinitas.

Lalu bagaimana dengan konsep Trinitas?

Di video sebelumnya kita telah melihat kesempurnaan Tuhan ter-refleksi dalam ciptaan-Nya. Di video ini kita juga akan melihat jejak konsep Trinitas ini dari ciptaan-Nya.

Tuhan adalah Pencipta kehidupan. Ada prinsip filosofis yang sangat mendasar: seorang pencipta tidak bisa menciptakan sesuatu yang sama sekali asing baginya. Contoh: seorang pelukis hanya bisa melukis apa yang ada dalam pengetahuan, ingatan, dan gagasannya.

Jika Tuhan menciptakan kehidupan, maka Tuhan sendiri harus sudah memiliki unsur utama pembentuk kehidupan itu secara sempurna dalam Diri-Nya.

Pertanyaannya: unsur apa yang menjadi syarat adanya kehidupan?

Apakah udara untuk bernafas, makanan untuk mempertahankan kelangsungan hidup, atau unsur-unsur material pembentuk tubuh kita? Bukan! Malaikat juga hidup, tapi tidak membutuhkan udara, makanan, atau unsur-unsur material. Itu bukanlah syarat pembentuk kehidupan yang dimaksud.

Ada tiga unsur utama pembentuk kehidupan. Tanpa salah satu diantaranya, tak mungkin ada kehidupan.

Pertama, eksistensi. Untuk hidup, sesuatu harus ada terlebih dahulu. Ini fondasi paling dasar. 

Kedua, kesadaran. Kehidupan tidak sekadar ada, tapi juga punya kesadaran tentang dirinya dan lingkungannya.

Ketiga, kehendak. Kehidupan yang lengkap bukan hanya ada dan sadar, tapi juga memiliki kehendak untuk bergerak, memilih, mengarahkan diri pada yang lain dan membangun relasi.

Eksistensi, kesadaran, dan kehendak. Tiga elemen ini adalah fondasi dari kehidupan yang lengkap. Jika Tuhan adalah pencipta kehidupan, maka ketiga elemen ini mutlak harus ada pada Tuhan dalam bentuk yang sempurna. Ini kunci penting untuk memahami konsep Trinitas.

Di Gunung Horeb Tuhan menampakkan Diri dalam bentuk semak terbakar kepada Musa dan memperkenalkan Diri-Nya sebagai "AKU ADALAH AKU" (Kel.3:14). Ini sebenarnya penerjemahan yang kurang tepat. Menurut Kitab Suci versi Latin Vulgata, pernyataan Tuhan itu adalah "Ego sum qui sum" atau dalam bahasa Inggris versi Douay-Rheims diterjemahkan sebagai, "I AM who AM" yang artinya "Aku yang ADA."

Jadi Tuhan memperkenalkan Diri-Nya pertama kali kepada Musa sebagai Sang Eksistensi mutlak, Dia yang ada sejak kekal sampai kekal. Sang Eksistensi mutlak yang menjadi dasar pertama dari kehidupan inilah yang kita kenal sebagai BAPA, pribadi Allah yang pertama.

BAPA yang hidup memiliki kesadaran. Karena tidak ada apapun selain Diri-Nya, maka kesadaran yang ada pada BAPA adalah kesadaran tentang Diri-Nya sendiri. Itulah LOGOS atau Sabda yang keluar dari Bapa. Karena BAPA memiliki kesadaran yang sempurna, maka LOGOS yang keluar dari BAPA ini tepat sama dengan Diri-Nya sendiri. Sabda yang keluar dari Bapa itulah yang disebut PUTRA, pribadi Allah yang kedua, yang secara esensi sama dengan BAPA.

Sekarang ada dua pribadi ilahi, BAPA dan PUTRA. Keduanya sama-sama menyadari Diri-Nya dan keberadaan yang lain sehingga dari keduanya muncul kehendak. Bapa memiliki kehendak terhadap PUTRA dan sebaliknya PUTRA memiliki kehendak terhadap BAPA. Kehendak sempurna yang muncul dari keduanya adalah KASIH. Dalam relasi kasih sempurna ini BAPA memberikan yang terbaik kepada PUTRA, yaitu seluruh Diri-Nya. Demikian juga PUTRA memberikan yang terbaik kepada BAPA, yaitu seluruh Diri-Nya. KASIH sempurna yang berasal dari BAPA dan PUTRA inilah yang kita kenal sebagai ROH KUDUS, yang memiliki esensi sama dengan BAPA dan PUTRA.

Karena BAPA tidak pernah ada tanpa kesadaran, maka PUTRA ada bersama-sama dengan BAPA sejak kekal. Demikian juga karena BAPA dan PUTRA tidak pernah ada tanpa relasi kasih di antara keduanya, maka ROH KUDUS juga ada bersama-sama dengan BAPA dan PUTRA sejak kekal. Jadi BAPA, PUTRA, dan ROH KUDUS adalah tiga pribadi ilahi yang memiliki satu esensi ilahi yang sama dan ada sejak kekal dalam kehidupan yang sempurna penuh kasih. Ketiganya SAMA dalam segala hal: sama dalam kekekalan, sama dalam kemuliaan, sama dalam kekudusan, sama dalam kuasa. Yang membedakan ketiganya hanyalah relasi: BAPA tidak berasal dari siapapun, PUTRA berasal dari BAPA, ROH KUDUS berasal dari BAPA dan PUTRA.

Karena dalam ALLAH TRITUNGGAL sudah terdapat kehidupan yang sempurna penuh kasih, tidak perlu ada lagi pribadi ilahi yang lain. Ini sekaligus menjelaskan mengapa hanya ada tiga pribadi ilahi dalam konsep ketuhanan Kristen.

Dengan memahami konsep Trinitas dari sudut pandang elemen pembentuk kehidupan, sekarang kita tidak hanya sekedar percaya, tapi juga tahu bahwa Tuhan yang benar pasti Trinitas, bukan yang lain. Itulah jati diri TUHAN yang paling lengkap dan koheren, yang dapat dikenali manusia.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan klasik Muslim, "Bagaimana mungkin 1 + 1 + 1 = 1?"

Jawaban kita, "Itu model matematika yang salah dan tidak pernah digunakan Kristen untuk menjelaskan Trinitas. Itu cuma logika strawman."

Ada dua model matematis yang kita gunakan untuk menjelaskan Trinitas. Jika yang dimaksud pribadi ilahi maka yang digunakan adalah model:

1 + 1 + 1 = 3, Kristen memang percaya ada TIGA pribadi ilahi. Tidak ada yang salah dengan itu.

Tapi jika yang dimaksud adalah esensi ilahi, maka model matematis yang digunakan adalah:

∞ + ∞ + ∞ = ∞, esensi ilahi yang tak terbatas lebih tepat dilambangkan sebagai bilangan ∞, bukan bilangan 1 yang terbatas. Juga tidak ada yang salah dengan model matematis ini.

Dengan demikian sekarang sudah tidak ada lagi peluang Muslim untuk menuduh Trinitas sebagai konsep yang bertentangan dengan logika.

Kesimpulan akhir, konsep tauhid Islam ditumbangkan dengan telak oleh konsep Trinitas Kristen.

Argumen ini dibahas secara lebih lengkap dalam buku "Islam dan Akal Sehat". Buku ini ditulis untuk mengajak siapapun agar berani berpikir dan menggunakan akal sehat dalam memahami masalah ketuhanan.

Dapatkan bukunya sekarang, link-nya ada di keterangan video.


Posting Komentar

0 Komentar