Berita Mingguan CN - 10 Februari 2020



Dikutip dari detikcom...

Di media sosial ramai dibahas soal Dirjen Bimas Katolik Kementerian agama yang dijabat HM Nur Cholis Setiawan sebagai pelaksana tugas atau plt. Netizen mempertanyakan kenapa posisi itu diisi orang yang tidak beragama sama. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi pun memberi penjelasan. Dia mengatakan Nur Cholis Setiawan menjabat plt karena pejabat sebelumnya memasuki usia pensiun.

"Benar, untuk sementara Dirjen Bimas Katolik, yang sebelumnya dijabat Eusabius Binsasi, karena memasuki usia pensiun sejak Juli 2019, maka diangkat pejabat pelaksana tugas Sekjen Prof Dr Nur Cholis sampai ada pejabat yang baru secara definitif," kata Zainut saat dihubungi detikcom, Sabtu (8/2/2020).

"Sebelum Pak Nur Cholis bahkan pelaksana tugas dijabat oleh Dirjen Bimas Islam Prof Muhammadiyah Amin," sambungnya.

Memang benar, pejabat pelaksana tugas Dirjen Bimas Katolik dipegang oleh non-Katolik sudah terjadi lama. Sejak 1 Juli 2019 lalu ketika pejabat Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi memasuki usia pensiun.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin Kementerian Agama tidak memiliki program kaderisasi untuk jabatan penting itu hingga tidak ada satupun orang Katolik yang ada di eselon yang cukup untuk menggantikan pejabat lama? Lebih dari 6 bulan sejak pejabat yang lama pensiun sampai hari ini tidak juga ada pengganti yang definitif adalah fakta yang menunjukkan betapa bobroknya sistem administrasi kepegawaian di Kemenag.

Tapi yang paling menyedihkan atau tepatnya memalukan adalah reaksi dari KWI!

Juga dikutip dari detikcom... 

Sekretaris Komisi Kerasulan Awam KWI, Romo Paulus Christian Siswantoko menyatakan KWI tidak mempermasalahkan hal tersebut. Malah ia menyebut ada sisi positif yang bisa diambil dari keadaan tersebut. Dia berharap hubungan antarumat beragama jadi semakin harmonis.

"Sisi positif yang bisa diambil dari keadaan ini adalah dengan Plt Dirjen Bimas Katolik yang beragama Islam, semoga relasi masyarakat Islam dan Katolik bisa semakin baik, lebih-lebih untuk keadaan saat ini. Kerukunan, kedamaian, dan hidup bersama dalam perbedaan bisa lebih ditingkatkan dan diwujudnyatakan," demikian katanya.

Komentar kami, maaf romo... umat katolik Indonesia tidak butuh kerukunan yang merendahkan harga diri semacam itu. Yang kami inginkan adalah kerukunan sejati dimana kami memiliki juga harga diri dan martabat yang setara dengan umat lainnya.

Kita sebagai awam layak mempertanyakan, dimanakah fungsi KWI sebagai kumpulan gembala-gembala umat Katolik di Indonesia? Sama sekali tidak tercermin sikap gembala yang siap berjuang melindungi kepentingan domba-dombanya. Yang ada hanyalah sikap orang-orang upahan yang kompromistis dan cari aman.

Sementara itu kontroversi sakrilegi Sakramen Ekaristi di Vatikan masih tetap berlanjut.

Dikutip dari lifesitenews 7 Februari 2020...

Seorang uskup Vatikan membela pemberian Komuni Suci kepada presiden Argentina yang pro-aborsi dan juga gundiknya selama kunjungan mereka baru-baru ini ke Vatikan. Ia mengatakan hal itu hanyalah merupakan "masalah" bagi umat Katolik AS dan Kardinal Raymond Burke.

“Presiden [Argentina] tidak di-ekskomunikasi, jadi saya bisa memberinya Komuni... Kebijakan pro-aborsi tidak ada hubungannya dengan itu,” kata Uskup Sorondo.

Pandangan Uskup Sorondo amat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Kardinal Ratzinger dalam suratnya kepada para uskup AS untuk menghadapi kasus serupa di tahun 2004. Kardinal Ratzinger menulis demikian,

Ketika keterlibatan formal seseorang begitu jelas (dalam kasus seorang politisi Katolik yang pada kampanye pemilihannya secara konsisten mendukung aborsi dan eutanasia), pastornya harus menemui dia, mengajarnya tentang ajaran Gereja, memberi tahunya bahwa dia tidak boleh maju untuk menerima Komuni Suci sebelum ia mengakhiri kebijakannya yang berdosa tersebut, dan memperingatkannya bahwa ia akan ditolak untuk menerima Ekaristi jika tetap maju untuk menerimanya.

Perlu diingat bahwa sakrilegi terhadap Sakramen Ekaristi yang terjadi di Vatikan bukan hanya berkenaan dengan kasus aborsi, tapi juga karena kasus perzinahan publik mengingat Presiden Argentina dan gundiknya bukanlah pasangan yang diikat oleh perkawinan yang sah.

Dengan pembelaan Uskup Sorondo ini, kasus sakrilegi terhadap Tubuh Kristus di Vatikan makin bertambah parah. Tidak saja kasus ini terjadi di jantung Gereja Katolik atas sepengetahuan Paus Fransiskus, tapi juga dilakukan tanpa penyesalan sedikitpun. 

Dikutip dari lifesitenews 3 Februari 2020...

Dalam sebuah pernyataannya yang dimuat media Jerman Kath.net, Uskup Athanasius Schneider mengingatkan, "Paus Fransiskus memiliki tugas untuk mencegah para uskup di Jerman memimpin imam dan awam di 'jalur sinodal' yang mengarah pada jurang penyesatan."

Uskup Kazakhstan tersebut berpendapat bahwa "jalur sinodal" adalah upaya untuk meresmikan "doktrin sesat" dan praktik-praktik ”yang telah merusak Gereja di Jerman" selama beberapa dekade. Tujuan dari 'jalur sinodal' tersebut adalah mengeluarkan resolusi pada empat bidang yang berkenaan dengan ajaran dan penyelenggaraan Gereja di Jeman, yaitu independensi Gereja, kehidupan imam, peran wanita dalam Gereja, dan kehidupan perkawinan serta masalah seksualitas.

“Masalah yang penting dalam peristiwa tragis ini adalah fakta bahwa Paus Fransiskus, dengan diamnya, tampaknya mentolerir para uskup Jerman - terutama Kardinal Reinhard Marx [presiden konferensi para uskup Jerman] - yang secara terbuka telah menyatakan doktrin dan praktik sesat.... Paus tidak bisa tinggal diam saat dia menyaksikan 'serigala' sedang melahap kawanan domba atau 'pembakar' sedang membakar rumah," demikian pernyataan Uskup Athanasius Schneider.

Kita layak pesimis dengan pernyataan ini. Seperti yang kita ketahui Uskup Athanasius telah berkali-kali membuat pernyataan yang mengkritisi kebijakan Paus Fransiskus. Termasuk di antaranya meminta klarifikasi soal pernyataan Paus dalam dokumen "Human Fraternity" di Abu Dhabi yang secara tidak langsung menyatakan TUHAN menghendaki keberadaan semua agama, dan juga mengkritisi tragedi pachamama di Vatikan beberapa waktu lalu. Namun tidak satupun yang didengarkan atau ditanggapi secara positif oleh Paus Fransiskus.

Dikutip dari churchmilitant.com...

Masalah aborsi dan perubahan iklim diperbandingkan beberapa kali dalam pernyataan Uskup San Diego Robert McElroy, yang bersikeras bahwa umat Katolik tidak boleh menjadi pemilih yang mendasarkan pilihannya pada satu masalah saja.

Dalam upayanya untuk mempengaruhi suara umat Katolik pada pemilihan presiden yang akan datang, McElroy mengklaim bahwa aborsi dan perubahan iklim adalah "masalah kehidupan yang pokok" - tapi ia menyatakan perubahan iklim dapat mengakhiri lebih banyak kehidupan manusia.

Aborsi membunuh "lebih dari 750.000 anak yang belum lahir tiap tahunnya," tetapi "korban jiwa jangka panjang dari perubahan iklim yang tidak dikendalikan, jauh lebih besar dan mengancam masa depan umat manusia," kata McElroy.

Berbicara mengenai kontrasepsi, yang menurut ajaran Gereja Katolik dia akui "secara intrinsik jahat," McElroy menyatakan "adalah kejahatan moral yang jauh lebih besar bagi negara kita untuk meninggalkan Kesepakatan Iklim Paris daripada menyediakan alat kontrasepsi di pusat kesehatan federal."

Terlepas dari pernyataan ini dikeluarkan untuk mempengaruhi pilihan politik umat Katolik AS, kita melihat pergeseran prioritas yang signifikan dalam sikap sebagian hirarki Gereja Katolik sejak Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik "Laudato Si" yang berbicara soal lingkungan.

Banyak pihak yang mengatakan bahwa ensiklik 'Laudato Si' menunjukkan keberpihakan Paus Fransiskus pada agenda kaum globalis yang ingin mewujudkan 'sustainable development goals' atau tujuan-tujuan pembangunan yang berkesinambungan. Akibatnya prioritas Gerejapun mulai bergeser, dari keselamatan jiwa-jiwa menjadi pelestarian lingkungan! Dari Gereja yang mengarahkan manusia untuk memperoleh hidup kekal di surga menjadi Gereja yang sibuk ikut serta bersama kaum globalis membangun utopia di bumi. 

Pernyataan Uskup San Diego tadi menjadi buktinya!

Sumber referensi:

https://news.detik.com/berita/d-4891185/dirjen-bimas-katolik-diisi-pejabat-beragama-islam-ini-penjelasan-wamenag
https://news.detik.com/berita/d-4891541/plt-dirjen-bimas-katolik-beragama-islam-jadi-polemik-kwi-tak-terusik\
https://www.lifesitenews.com/news/exclusive-vatican-bishop-defends-giving-communion-to-pro-abortion-argentine-president-and-mistress
https://www.churchmilitant.com/news/article/climate-change-death-toll-larger-than-abortion
https://www.lifesitenews.com/news/bishop-schneider-the-pope-cannot-be-silent-as-he-watches-the-wolves-devour-the-flock

Posting Komentar

0 Komentar