Uskup Agung Vigano: Jujur, Saya Telah Ditipu!


Sebuah surat dari Uskup Agung Vigano yang ditulis tanggal 9 Juni 2020 lalu hampir dapat dipastikan akan membawa keguncangan bagi Gereja Katolik! Dalam surat tersebut Uskup Agung Vigano dengan jelas menguraikan bagaimana KVII telah menyesatkan banyak orang, termasuk dirinya, dengan menggiring mereka untuk membangun sebuah gereja paralel yang baru, yang pada akhirnya akan mengarah pada Gereja AntiKristus.

Surat ini begitu penting karena ditulis oleh seorang Gembala Gereja yang terkenal bersih dan jujur, yang telah membongkar skandal keuangan di Bank Vatikan semasa kepausan Benediktus XVI dan menjadi 'peniup peluit' kasus skandal homoseksual Kardinal McCarrick. Karena sepak terjangnya yang meresahkan banyak orang di Vatikan dia disingkirkan dari sana diangkat menjadi Apostolic Nuncio di Amerika Serikat sebelum akhirnya pensiun. Uskup Agung Vigano adalah 'orang dalam' yang tahu begitu banyak tentang apa yang sesungguhnya terjadi di balik tembok Vatikan, sehingga untuk mengatakan apa yang diketahuinya dia harus bersembunyi karena jiwanya terancam.

Uskup Agung Vigano sepakat dengan pernyataan Uskup Athanasius Schneider yang mengkaitkan deklarasi sesat Abu Dhabi dengan kekeliruan yang ada dalam dokumen KVII, Dignitatis Humanae. Namun ia tidak setuju jika solusinya adalah dengan merevisi teks-teks yang bermasalah. Uskup Agung Vigano membandingkan Konsili Vatikan II dengan Sinde Pistoia di tahun 1786 yang diadakan dengan semangat pembaharuan yang sama. Sinode itu akhirnya dikecam dan dokumen-dokumen yang dihasilkannya diabaikan!

Menurut Vigano Konsili Vatikan II sejak awal dibuat dengan intensi buruk: untuk menggantikan Gereja Kristus dengan Gereja 'baru' yang humanis dan ekumenis! Itu adalah gagasan masonik. Untuk memuluskan rencananya dan mengelabui banyak orang, dibuatlah teks-teks ambigu yang membuat banyak orang menganggap Konsili ini masih sejalan dengan ajaran tradisional Gereja. Sementara itu dengan memanfaatkan peluang dalam teks-teks yang ambigu, kaum inovator terus melakukan pembaharuan dengan dalih 'semangat konsili'. 

Ungkapan 'semangat konsili' yang sering digunakan sebagai alasan pembenaran terhadap berbagai perubahan yang terjadi, sesungguhnya telah mengindikasikan adanya perubahan dalam Gereja Katolik. Tidak pernah ada konsili dalam sejarah Gereja yang mengakibatkan adanya 'semangat konsili' yang baru. Tidak pernah ada 'semangat Nikea', 'semangat Trente', dan sebagainya. Sebabnya jelas, apa yang dihasilkan dalam konsili-konsili tersebut tidak mengubah apa-apa dan Gereja Katolik tetap sama seperti saat didirikan Kristus! Baru sejak Konsili Vatikan II Gereja Katolik berubah dan semakin tidak sama dengan Gereja Kristus. Dan perubahan itu secara tidak langsung diakui dan dikonfirmasi oleh hirarki Gereja Katolik paska konsili dengan selalu bericara soal "semangat Konsili Vatikan II."

Ini juga tercermin dalam hidup menggereja sekarang di negeri kita. Carilah satu imam di paroki manapun di Indonesia ini yang berani mengatakan Gereja Katolik sekarang punya semangat dan karakter yang sama dengan Gereja Katolik sebelum Konsili Vatikan II! Saya yakin akan sulit sekali menemukannya. Bukan hanya itu, tanyalah pada imam di paroki kita masing-masing, apakah benar di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan? Kita pasti sulit menemukan imam yang berani menjawab dengan tegas tanpa plintat-plintut, "Ya benar, di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan!"

Itu tanda jelas yang menunjukkan Gereja Katolik hari ini sudah memiliki roh yang berbeda dari Gereja Kristus! Bangunannya mungkin masih sama, struktur hirarkinya mungkin masih sama, tapi semangat dan karakternya sudah berbeda!

Karenanya menurut Uskup Agung Vigano, dokuman-dokumen Konsili Vatikan II perlu diabaikan dan dilupakan, sama seperti yang terjadi pada Sinode Pistoia! Dalam tanggapannya kepada Profesor Paolo Pasqualucci sehubungan dengan suratnya tanggal 9 Juni tersebut, Uskup Agung Vigano mengatakan tentang dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, "... adalah lebih baik apabila seluruhnya dibuang dan dilupakan!"

Ada yang menarik, dalam suratnya pada tanggal 9 Juni tersebut, Uskup Agung Vigano dengan jujur mengakui dirinya telah tertipu:

Sama seperti saya dengan jujur ​​dan sungguh-sungguh mematuhi perintah-perintah yang diragukan enam puluh tahun yang lalu, karena percaya itu mewakili suara penuh kasih dari Gereja, begitu pula hari ini dengan ketenangan dan kejujuran yang sama saya menyadari bahwa saya telah ditipu. Menjadi koheren hari ini bahwa dengan bertahan dalam kesalahan akan mewakili pilihan yang buruk dan akan membuat saya terlibat dalam penipuan ini.

Jadi adalah wajar apabila hari ini banyak dari kita yang percaya Konsili Vatikan II itu benar dan membawa perubahan yang dikehendaki Tuhan. Kita semua, sama seperti Uskup Agung Vigano dan semua gembala-gembala Gereja Katolik lainnya, telah ditipu. Dan hendaknya kita semua juga seperti Uskup Agung Vigano, segera sadar dan berubah. Sebab tetap bertahan dalam kesalahan ini akan sama artinya kita telah ikut serta dalam upaya penipuan dan penyesatan..

Setidaknya sikap yang diambil Uskup Agung Vigano sama seperti yang diingatkan Tuhan dalam Kitab Wahyu, "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya..." (Why.18:4).

Tuhan menghendaki kita keluar dari 'semangat Konsili Vatikan II' dan tetap setia pada Gereja-Nya yang benar hingga kedatangan-Nya kelak!

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar