Abp. Vigano: Konsili Vatikan II, Gereja Paralel, Dan Kerajaan Antikristus


Berikut adalah terjemahan bebas dari surat Uskup Agung Vigano yang dimuat website The Remnant tanggal 10 Juni 2020 yang lalu. Surat ini agak panjang, namun sangat penting untuk dipahami maknanya karena Uskup Vogano dengan analisis yang singkat namun padat mengungkapkan wajah buruk yang sesungguhnya dari Konsili Vatikan II. Juga Uskup Vigano dengan jujur mengakui bagaimana konsili tersebut telah menyesatkan dirinya dan banyak orang beriman lainnya.

Mereka yang masih mendukung Konsili Vatikan II sebaiknya merenungkan dengan seksama surat dari salah satu Gembala Gereja ini.

-----------------

Saya membaca dengan penuh minat esai dari Yang Mulia Athanasius Schneider yang diterbitkan di LifeSiteNews pada tanggal 1 Juni, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Italia oleh Chiesa e post concilio, berjudul "Tidak ada kehendak positif ilahi atau hak kodrati untuk keragaman agama." Penelitian Yang Mulia meringkas, dengan kejelasan dari mereka yang berbicara menurut Kristus, keberatan terhadap dugaan legitimasi pelaksanaan kebebasan beragama yang diteorikan oleh Konsili Vatikan Kedua, yang bertentangan dengan kesaksian Kitab Suci dan suara Tradisi, serta Magisterium Katolik yang merupakan penjaga setia dari keduanya.

Kelebihan esai Yang Mulia pertama-tama terletak pada pemahamannya tentang hubungan sebab akibat antara prinsip-prinsip yang disampaikan oleh Vatikan II dan efek konsekuensi logisnya dalam penyimpangan doktrinal, moral, liturgis, dan disiplin yang telah muncul dan semakin berkembang sampai pada keadaannya hari ini. 

Monster yang dihasilkan kaum modernis awalnya sekedar menyesatkan, tetapi terus tumbuh dan menguat, sehingga hari ini ia memperlihatkan identitas sesungguhnya dalam sifatnya yang subversif dan memberontak. Makhluk yang dikandung pada saat itu tetaplah sama, dan akan naif untuk berpikir bahwa sifatnya yang jahat dapat berubah. 

Upaya untuk mengoreksi ekses konsili - yang memunculkan 'hermeneutic of continuity' - telah terbukti tidak berhasil: Naturam expellas furca, tamen usque recurret [Usirlah alam keluar dengan garpu rumput; dia akan segera kembali]. Deklarasi Abu Dhabi - dan, sebagaimana diamati Uskup Schneider dengan tepat, gejala pertamanya di Pantheon (kuil berhala-berhala)  Assisi - "dikandung dalam semangat Konsili Vatikan Kedua" seperti yang dinyatakan oleh Bergoglio dengan bangga.

"Semangat Konsili" adalah legitimasi yang digunakan oleh inovator untuk menentang para pengkritik mereka, tanpa mereka sadari ungkapan itu justru mengakui warisan yang menegaskan tidak hanya kekeliruan dari deklarasi saat ini tetapi juga matriks sesat yang mereka gunakan sebagai pembenaran. Jika diamati lebih dekat, tidak pernah dalam sejarah Gereja ada Konsili yang menampilkan dirinya sebagai peristiwa bersejarah sehingga berbeda dengan konsili lainnya: tidak pernah ada pembicaraan tentang "Semangat Konsili Nicea" atau "Semangat Konsili Ferrara-Florence,” apalagi ”Semangat Konsili Trente,” sama seperti kita tidak pernah memiliki era “pasca-konsili” setelah Konsili Lateran IV atau Konsili Vatikan I.

Alasannya jelas: Konsili-konsili itu seluruhnya, tanpa pandang bulu, adalah ekspresi yang sama dari Gereja yang Kudus, dan karenanya juga suara Tuhan kita Yesus Kristus. Secara signifikan, mereka yang mempertahankan pembaharuan Vatikan II juga mematuhi doktrin sesat yang menempatkan Allah Perjanjian Lama bertentangan dengan Allah Perjanjian Baru, seolah-olah ada kontradiksi antara Pribadi Ilahi dari Tritunggal Mahakudus. 

Jelas sekali bahwa oposisi yang hampir bersifat gnostik atau kabbalistik ini berfungsi untuk melegitimasi suatu subjek baru yang berbeda dan menentang Gereja Katolik. Kesalahan doktrinal hampir selalu merupakan pengkhianatan bidaah terhadap doktrin Tritunggal, maka dengan kembali ke proklamasi dogma Tritunggal, doktrin-doktrin yang menentangnya dapat dikalahkan: ut in confessione veræ sempiternæque deitatis, et in Personis proprietas, et in essentia unitas, et in majestate adoretur æqualitas: Mengakui Keilahian yang benar dan abadi, kami memuja apa yang pantas bagi masing-masing Pribadi, kesatuan mereka dalam substansi, dan kesetaraan mereka dalam keagungan.

Uskup Schneider mengutip beberapa kanon Konsili Ekumenis yang mengusulkan doktrin yang, menurut pendapatnya, hari ini sulit diterima, seperti misalnya kewajiban untuk membedakan orang Yahudi dengan pakaian mereka, atau larangan bagi orang Kristen untuk melayani tuan yang beragama Muslim atau Yahudi. Di antara contoh-contoh itu ada juga persyaratan dalam traditio instrumentorum yang dideklarasikan oleh Konsili Florence, yang kemudian dikoreksi oleh Konstitusi Apostolik Pius XII, Sacramentum Ordinis.

Uskup Athanasius berkomentar: “Seseorang dapat berharap dan percaya bahwa Paus atau Konsili Ekumenis yang akan datang akan mengoreksi pernyataan-pernyataan salah yang dibuat oleh Vatikan II". Bagi saya ini tampaknya merupakan argumen yang, meskipun dibuat dengan niat baik, dapat merusak bangunan Katolik dari fondasinya. 

Jika kita mengakui bahwa mungkin ada tindakan-tindakan Magister yang, karena sensitivitas yang berubah, rentan terhadap pencabutan, modifikasi, atau interpretasi yang berbeda sesuai dengan perkembangan jaman, kita pasti akan jatuh di bawah kutukan Dekrit Lamentabili, dan kita akhirnya memberikan pembenaran kepada mereka yang, baru-baru ini, berdasarkan asumsi keliru tadi, menyatakan bahwa hukuman mati “tidak sesuai dengan Injil,” dan dengan demikian mengubah Katekismus Gereja Katolik. Dan, dengan prinsip yang sama, membenarkan juga bahwa pernyataan Beato Pius IX dalam Quanta Cura dikoreksi oleh Vatikan II, seperti harapan Yang Mulia bisa terjadi pada Dignitatis Humanae.

Di antara contoh-contoh yang dihadirkannya, tidak ada satupun yang merupakan kesesatan atau pandangan bidaah: fakta bahwa Konsili Florence menyatakan traditio instrumentorum diperlukan bagi validitas Ordo-ordo tidak mengkompromikan pelayanan imam di Gereja, dan menuntunnya untuk menerima Ordo-ordo secara invalid. Bagi saya juga tidak ada yang bisa menegaskan bahwa aspek ini, betapapun pentingnya, telah menyebabkan kesalahan doktrinal dari pihak umat beriman, sesuatu yang justru terjadi pada Konsili yang terbaru. 

Dan ketika dalam perjalanan sejarah berbagai aliran sesat muncul, Gereja selalu turun tangan segera untuk mengutuk mereka, seperti yang terjadi pada masa Sinode Pistoia pada tahun 1786, yang dengan cara tertentu merupakan pendahuluan dari Vatikan II, terutama di mana ia menghapus Komuni di luar Misa, memperkenalkan penggunaan bahasa lokal, dan menghapuskan doa-doa dari Kanon yang diucapkan dengan suara lirih; bahkan juga berteori tentang kolegialitas para uskup, mengurangi primat Paus menjadi hanya berfungsi semacam menteri. Membaca kembali tindakan-tindakan Sinode itu membuat kita kagum pada perumusan harfiah dari kesalahan yang sama yang kita temukan kemudian, dalam bentuknya yang meningkat, pada Konsili yang dipimpin oleh Yohanes XXIII dan Paulus VI. Di sisi lain, sama seperti Kebenaran berasal dari Tuhan, demikian pula kesesatan berasal Musuh-Nya, yang membenci Gereja Kristus dan jantungnya: Misa Kudus dan Ekaristi Mahakudus.

Ada saatnya dalam hidup kita ketika, melalui disposisi Penyelamatan, kita dihadapkan dengan pilihan yang menentukan untuk masa depan Gereja dan untuk keselamatan kekal kita. Saya berbicara tentang pilihan antara memahami kesalahan di mana praktis kita semua telah jatuh, hampir selalu tanpa niat jahat, dan ingin terus melihat ke arah lain atau membenarkan diri kita sendiri.

Kita juga telah melakukan kesalahan, antara lain, dengan menganggap orang beriman lain sebagai orang yang, terlepas dari perbedaan ide dan keyakinan mereka, masih termotivasi oleh niat baik dan mau memperbaiki kesalahan jika mereka bisa membuka diri pada iman kita. Bersama dengan banyak Bapa Konsili, kita menganggap ekumenisme sebagai suatu proses, sebuah undangan yang memanggil para pembangkang ke dalam satu Gereja Kristus, kaum pagan kepada satu Tuhan yang Sejati, dan orang-orang Yahudi kepada Mesias yang dijanjikan. Tetapi sejak itu diteorikan dalam komisi konsili, ekumenisme dikonfigurasikan sedemikian rupa sehingga bertentangan dengan doktrin yang sebelumnya dinyatakan oleh Magisterium.

Kita telah berpikir bahwa ekses-ekses tertentu hanyalah antusiasme berlebihan dari mereka yang terbawa semangat pembaharuan; kita dengan tulus percaya bahwa melihat Yohanes Paulus II dikelilingi oleh para penyembuh-penyembuh, biksu buddha, imam, rabi, pendeta Protestan dan para bidat lainnya adalah bukti kemampuan Gereja memanggil orang-orang untuk bersama-sama memohon perdamaian kepada Tuhan, sementara contoh otoritatif ini telah memprakarsai berbagai penyimpangan Pantheon serupa, bahkan hingga para Uskup membawa berhala pachamama yang najis di pundak mereka, yang diperhalus dengan dalih sebagai lambang dari keibuan yang sakral.

Jika gambar-gambar dari roh neraka dapat masuk ke dalam (Basilika) Santo Petrus, ini adalah buah yang sudah diramalkan pihak lain sejak awal. Banyak orang Katolik yang taat, dan mungkin juga mayoritas klerus Katolik, saat ini diyakinkan bahwa Iman Katolik tidak lagi diperlukan bagi keselamatan kekal; mereka percaya bahwa Allah Tritunggal yang diwahyukan kepada nenek moyang kita adalah sama dengan tuhannya Muhammad. Sudah dua puluh tahun yang lalu kita mendengar ini dikotbahkan dari mimbar-mimbar dan oleh para uskup, tetapi akhir-akhir ini kita mendengarnya dengan tegas dari Tahta tertinggi.

Kita tahu betul bahwa, dengan mengutip perkataan Kitab Suci 'Littera enim occidit, spiritus autem vivificat' [Hukum tertulis itu mati, tetapi roh memberi kehidupan] (2 Kor 3: 6)], kaum progresif dan modernis tahu bagaimana menyembunyikan ekspresi samar-samar pada teks-teks konsili, yang pada saat itu tampak tidak berbahaya bagi kebanyakan orang tetapi hari ini diungkapkan dalam makna subversifnya. Itulah metode yang dipakai dalam penggunaan frase 'subsistit in': mengatakan setengah kebenaran tidak hanya agar tidak menyinggung golongan kristen lain (dengan asumsi bahwa adalah sah untuk membungkam kebenaran dari Tuhan demi menghormati makhluk-Nya), tetapi dengan niat untuk dapat menggunakan setengah kesalahan yang akan langsung lenyap jika seluruh kebenaran diproklamirkan. Dengan demikian “Ecclesia Christi subsistit in Ecclesia Catholica” [Gereja Kristus ada di dalam Gereja Katolik] tidak menegaskan identitas keduanya, tetapi subsistensi satu di dalam yang lain dan, demi konsistensi, juga di gereja-gereja lain: ini adalah awal dari ibadah bersama antar agama, doa ekumenis, dan akhir yang tak terhindarkan dari perlunya Gereja demi keselamatan, persatuan dengannya, dan sifat misionernya.

Beberapa orang mungkin ingat bahwa pertemuan ekumenis pertama diadakan dengan para skismatik Timur, dan dengan sangat hati-hati dengan sekte Protestan lainnya. Selain dari Jerman, Belanda, dan Swiss, pada awalnya negara-negara bertradisi Katolik tidak menyetujui ibadah bersama antara imam Katolik dengan pendeta Protestan. Saya ingat bahwa pada saat itu ada pembicaraan untuk menghapus doksologi sebelum 'Veni Creator' agar tidak menyinggung Ortodoks, yang tidak menerima Filioque. Hari ini kita mendengar surah Alquran dibacakan dari mimbar gereja-gereja kita, kita melihat berhala kayu yang dipuja oleh para suster dan bruder, kita mendengar para Uskup mengingkari apa yang sampai kemarin menjadi alasan paling masuk akal dari begitu banyak ekstremisme. 

Apa yang diinginkan dunia, atas dorongan Masonry dan tangan-tangan nerakanya, adalah menciptakan sebuah agama universal yang bersifat humanis dan ekumenis, yang darinya Allah pencemburu yang kita puja harus disingkirkan. Dan jika ini yang diinginkan dunia, setiap langkah ke arah yang sama oleh Gereja adalah pilihan yang tidak menguntungkan yang akan berbalik melawan mereka yang percaya bahwa mereka dapat mencemooh Tuhan. Harapan akan Menara Babel tidak dapat dihidupkan kembali oleh rencana kaum globalis yang bertujuan untuk meruntuhkan Gereja Katolik, dan menggantinya dengan konfederasi penyembah berhala dan bidat yang disatukan oleh semangat persaudaraan universal. Tidak ada persaudaraan kecuali di dalam Kristus, dan hanya di dalam Kristus: qui non est mecum, contra me est [Siapa tidak bersama Aku, ia menentang Aku].

Sangat membingungkan bahwa hanya sedikit orang yang sadar terhadap perjalanan menuju jurang ini, dan hanya sedikit yang menyadari tanggung jawab dari hirarki tertinggi Gereja dengan mendukung ideologi anti-Kristen ini, seolah-olah para pemimpin Gereja ingin memastikan bahwa mereka memiliki tempat dan peran pada rombongan pemikiran yang selaras. Dan sungguh mengejutkan bahwa orang-orang tetap tidak ingin menyelidiki akar penyebab krisis saat ini, membatasi diri mereka untuk menyesali ekses-ekses saat ini seolah-olah itu bukan konsekuensi logis dan tak terhindarkan dari sebuah rencana yang dirancang beberapa dekade lalu. 

Jika pachamama dapat dipuja di sebuah gereja, itu karena Dignitatis Humanae. Jika kita memiliki liturgi yang diprotestankan dan kadang juga bersifat pagan, itu karena Mgr. Annibale Bugnini dan gerakan reformasi paska-konsili. Jika Deklarasi Abu Dhabi ditandatangani, itu karena Nostra Aetate. Jika kita sampai pada titik mendelegasikan keputusan pada Konferensi Uskup - bahkan dalam pelanggaran berat terhadap Concordat, seperti yang terjadi di Italia - itu karena kolegialitas, dan dalam versi terbarunya, sinodalitas.

Berkat sinodalitas, Amoris Laetitia menyebabkan kita harus mencari cara untuk mencegah apa yang begitu jelas sudah muncul sejak awal: bahwa dokumen ini, yang disiapkan oleh mesin organisasi yang canggih, dimaksudkan untuk melegitimasi Komuni bagi orang yang bercerai dan tinggal bersama, seperti halnya Querida Amazonia akan digunakan untuk melegitimasi imam wanita (seperti dalam kasus baru-baru ini "vikaris episkopal" di Freiburg) dan penghapusan selibat bagi imamat. Prelatus yang mengirim Dubia ke Fransiskus, menurut pendapat saya, menunjukkan kesalehan yang tulus: berpikir bahwa Bergoglio, ketika dihadapkan dengan kontestasi kesalahan yang diperdebatkan secara masuk akal, akan memahami, memperbaiki poin-poin heterodoks, dan meminta maaf.

Konsili telah digunakan untuk melegitimasi penyimpangan doktrinal yang paling buruk, inovasi liturgi yang paling berani, dan pelanggaran yang paling tidak bermoral, semuanya terjadi sementara Otoritas tetap diam. Konsili ini sangat ditinggikan sehingga diposisikan sebagai satu-satunya rujukan yang sah untuk umat Katolik, klerus, dan uskup, mengaburkan dan memandang dengan rasa jijik terhadap doktrin yang selalu diajarkan Gereja, dan melarang liturgi abadi yang selama berabad-abad telah menumbuhkan iman generasi tak terputus dari umat beriman, martir, dan orang-orang kudus. Antara lain, Konsili ini telah terbukti menjadi satu-satunya yang telah menyebabkan begitu banyak masalah interpretatif dan banyak kontradiksi sehubungan dengan Magisterium sebelumnya, sementara tidak ada satu konsili lain - dari Konsili Yerusalem hingga Vatikan I - yang tidak selaras dengan seluruh Magisterium atau yang membutuhkan banyak interpretasi.

Saya mengakuinya dengan tenang dan tanpa kontroversi: Saya adalah salah satu dari banyak orang yang, meskipun dengan banyak kebingungan dan ketakutan yang hari ini terbukti, mempercayai otoritas Hierarki dengan kepatuhan tanpa syarat. Pada kenyataannya, saya berpikir bahwa banyak orang, termasuk saya, pada awalnya tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa ada konflik antara kepatuhan terhadap Hierarki dan kesetiaan kepada Gereja. Apa yang membuat nyata ketidakwajaran ini yang bahkan saya sebut sebagai kesesatan, pemisahan antara Hierarki dan Gereja, antara kepatuhan dan kesetiaan, tentu saja Kepausan ini.

Di Kamar Air Mata yang bersebelahan dengan Kapel Sistina, sementara Msgr. Guido Marini menyiapkan rocchetto putih, mozzetta, dan stola untuk penampilan pertama Paus yang "baru terpilih", Bergoglio berseru: “Sono finite le carnevalate! [Karnaval sudah berakhir!],” Dengan sinis dia menolak lencana yang oleh semua Paus sampai saat itu dengan rendah hati diterima sebagai pakaian pembeda Vikaris Kristus. Tetapi kata-kata itu mengandung kebenaran, bahkan jika itu diucapkan tanpa sadar: pada 13 Maret 2013, topeng itu jatuh dari para konspirator, yang akhirnya terbebas dari kehadiran Benediktus XVI yang tidak nyaman dan dengan bangga akhirnya berhasil mempromosikan seorang Kardinal yang akan mewujudkan cita-cita mereka, untuk merevolusionerkan Gereja, membuat doktrin yang lunak, moral yang bisa diadaptasi, liturgi yang dapat diselewengkan, dan disiplin yang dapat dicampakkan. Dan semua ini dianggap, oleh pelaku utama konspirasi itu sendiri, konsekuensi logis dan penerapan Vatikan II yang jelas, yang menurut mereka telah dilemahkan oleh kritik yang diungkapkan oleh Benediktus XVI. Penghinaan terbesar dari Kepausan itu adalah mengizinkan perayaan Liturgi Tridentine yang terhormat secara bebas, suatu legitimasi yang akhirnya diakui dan menyangkal lima puluh tahun pengucilannya yang tidak sah. Bukan kebetulan bahwa pendukung Bergoglio adalah orang yang sama yang melihat Konsili sebagai momen pertama dari gereja baru, sedangkan yang sebelumnya adalah agama lama dengan liturgi lama.

Bukan kebetulan: apa yang orang-orang ini tegaskan dengan impunitas, mempermalukan kaum moderat, adalah apa yang juga diyakini oleh umat Katolik, yaitu: bahwa terlepas dari segala upaya 'hermeneutic of continuity' yang karam secara menyedihkan pada konfrontasi pertama dengan kenyataan krisis saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa sejak Vatikan II dan seterusnya sebuah gereja paralel dibangun, tumpang-tindih dan secara diametris menentang Gereja Kristus yang sejati. 

Gereja paralel ini semakin mengaburkan institusi ilahi yang didirikan oleh Tuhan kita untuk menggantikannya dengan entitas palsu, yang sejalan dengan agama universal yang awalnya diteorikan oleh Masonry. Ungkapan-ungkapan seperti humanisme baru, persaudaraan universal, martabat manusia, adalah semboyan dari humanitarian philantropik yang menyangkal Tuhan yang sejati, dari solidaritas horizontal inspirasi spiritualis yang samar-samar, dan irenisme ekumenis yang secara tegas dikutuk oleh Gereja. “Nam et loquela tua manifestum te facit [Dari bicaramu kamu dikenal]” (Mat.26:73): ungkapan yang sangat sering, bahkan obsesif ke kosakata yang sama dari musuh, menunjukkan kepatuhan terhadap ideologi yang diilhaminya; sementara di sisi lain penolakan sistematis terhadap bahasa Gereja yang jelas dan tegas menunjukkan keinginan untuk melepaskan diri tidak hanya dari bentuk Katolik tetapi juga dari substansinya.

Apa yang selama bertahun-tahun kita dengar diucapkan, secara samar-samar dan tanpa konotasi yang jelas, dari Tahta tertinggi, kita temukan diuraikan dengan benar dan tepat dalam manifesto para pendukung Kepausan sekarang: demokratisasi Gereja, tidak lagi melalui kolegialitas yang diciptakan oleh Vatikan II tetapi melalui jalur sinodal yang diresmikan oleh Sinode tentang Keluarga; pembongkaran pelayanan imamat dengan melamahkannya melalui pengecualian selibat imamat dan pelibatan perempuan dalam tugas yang mirip imamat; jalur senyap dari ekumenisme yang diarahkan kepada saudara-saudara yang terpisah kepada suatu bentuk pan-ekumenisme yang mereduksi Kebenaran dari Allah Tritunggal menjadi tingkat penyembahan berhala dan takhyul yang menyesatkan; penerimaan dialog antaragama yang mengandaikan relativisme agama dan mengecualikan penginjilan; demitologisasi Kepausan yang dituju oleh Bergoglio sebagai tema kepausannya; legitimasi progresif dari semua yang benar secara politis: teori gender, sodomi, perkawinan homoseksual, doktrin Malthusian, ekologisme, imigrasionisme... Jika kita tidak mengakui bahwa akar penyimpangan ini ditemukan dalam prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Konsili, tidak mungkin kita menemukan penyembuhan: jika diagnosis kita bersikeras, melawan semua bukti, untuk mengecualikan patologi awal, kita tidak bisa meresepkan terapi yang sesuai.

Operasi kejujuran intelektual ini membutuhkan kerendahan hati yang besar, pertama-tama dalam mengakui bahwa selama beberapa dekade kita telah digiring ke dalam kesalahan, dengan maksud baik, oleh otoritas hirarki yang tidak memahami bagaimana mengawasi dan menjaga kawanan domba Kristus: sebagian demi hidup yang tenang, sebagian karena memiliki terlalu banyak komitmen, sebagian karena kenyamanan, dan akhirnya sebagian dengan itikad buruk atau bahkan niat jahat. Orang-orang terakhir ini yang telah mengkhianati Gereja harus diidentifikasi, dipinggirkan, dipanggil untuk bertobat dan, jika mereka tidak bertobat, mereka harus dikeluarkan dari kawanan yang suci. Beginilah cara Gembala sejati bertindak, yang menjaga kawanan domba dan yang memberikan nyawanya bagi mereka; kita telah dan masih memiliki terlalu banyak gembala upahan, yang bagi mereka persetujuan dari musuh-musuh Kristus lebih penting daripada kesetiaan terhadap Sang Mempelai Kristus.

Sama seperti saya dengan jujur ​​dan sungguh-sungguh mematuhi perintah-perintah yang diragukan enam puluh tahun yang lalu, karena percaya itu mewakili suara penuh kasih dari Gereja, begitu pula hari ini dengan ketenangan dan kejujuran yang sama saya menyadari bahwa saya telah ditipu. Menjadi koheren hari ini bahwa dengan bertahan dalam kesalahan akan mewakili pilihan yang buruk dan akan membuat saya terlibat dalam penipuan ini. Mengaku kejelasan penilaian sejak awal tidak akan jujur: kita semua tahu bahwa Konsili lebih atau kurang adalah revolusi, tetapi kita tidak bisa membayangkan bahwa itu akan terbukti sangat menghancurkan, bahkan untuk pekerjaan mereka yang seharusnya mencegahnya. Dan jika sampai Benediktus XVI kita masih bisa membayangkan bahwa kudeta Vatikan II (yang disebut Kardinal Suenens sebagai "revolusi 1789 bagi Gereja") telah mengalami pelambatan, dalam beberapa tahun terakhir ini bahkan yang paling cerdik di antara kita telah mengerti bahwa sikap diam karena takut menyebabkan perpecahan, upaya untuk memperbaiki dokumen kepausan dalam makna Katolik untuk memperbaiki ambiguitasnya yang disengaja, permohonan dan dubia kepada Fransiskus yang tetap tidak dijawab dengan jelas, semuanya merupakan konfirmasi dari situasi kemurtadan yang paling serius pada tingkat tertinggi Hierarki, sementara orang-orang Kristen dan para imam merasa ditinggalkan tanpa harapan dan bahwa mereka ditanggapi oleh para uskup dengan sikap jengkel.

Deklarasi Abu Dhabi adalah manifesto ideologis dari ide perdamaian dan kerja sama antar agama yang dapat dimengerti jika berasal dari orang-orang kafir yang tidak memiliki cahaya Iman dan api Cinta Kasih. Tetapi siapa pun yang memiliki rahmat sebagai Anak Allah berkat Pembaptisan Kudus harus merasa ngeri pada gagasan untuk membangun Menara Babel versi modern yang menghujat, yang berusaha untuk mempersatukan satu Gereja Kristus yang sejati, pewaris janji-janji yang dibuat untuk Bangsa Terpilih, dengan mereka yang menyangkal Mesias dan dengan mereka yang menganggap gagasan tentang Allah Tritunggal sebagai penghujatan. Kasih Tuhan tanpa batas dan tidak mentolerir kompromi, jika bukan demikian maka itu bukan Kasih, yang tanpanya tidak mungkin untuk tetap berada di dalam Dia: qui manet in caritate, in Deo manet, et Deus in eo [..barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.] (1 Yoh 4:16).

Tidak masalah apakah itu deklarasi atau dokumen Magister: kita tahu betul bahwa pemikiran subversif dari para inovator bermain-main dengan dalih ini untuk menyebarkan kesesatan. Dan kita tahu betul bahwa tujuan dari inisiatif ekumenis antaragama ini bukan untuk mempertobatkan mereka yang terpisah dari satu Gereja Kristus, tetapi untuk menyimpangkan dan merusak mereka yang masih memegang iman Katolik, membuat mereka percaya bahwa adalah perlu untuk memiliki agama universal yang menyatukan tiga agama besar Abraham “dalam satu rumah”: ini adalah kemenangan rencana Masonik untuk mempersiapkan kerajaan Antikristus!

Apakah ini terwujud melalui Bula dogmatis, deklarasi, atau wawancara dengan Scalfari di La Repubblica tidak penting, karena para pendukung Bergoglio menunggu kata-katanya sebagai sinyal di mana mereka merespons dengan serangkaian inisiatif yang telah disiapkan dan diorganisir selama beberapa waktu. Dan jika Bergoglio tidak mengikuti arahan yang diterimanya, jajaran teolog dan klerus siap untuk meratapi "kesendirian Paus Fransiskus" sebagai premis untuk pengunduran dirinya (saya memikirkan contoh Massimo Faggioli dalam salah satu esainya baru-baru ini) . Di sisi lain, itu bukan pertama kalinya mereka memanfaatkan Paus ketika dia mengikuti rencana mereka dan menyingkirkannya atau menyerangnya segera setelah dia membangkang.

Hari Minggu lalu, Gereja merayakan Tritunggal Mahakudus, dan dalam Brevir ditawarkan pada kita pembacaan Symbolum Athanasianum, yang sekarang dilarang oleh liturgi konsili dan telah dikurangi menjadi hanya dua kali dalam reformasi liturgi tahun 1962. Kata-kata pertama dari Simbolum yang kini menghilang tetap ditulis dengan emas: “Quicumque vult salvus esse, ante omnia opus est ut teneat Catholicam fidem; quam nisi quisque integram inviolatamque servaverit, absque dubio di aeternum peribit - Siapa pun yang ingin diselamatkan, diatas segalanya ia harus memegang iman Katolik; Karena kecuali seseorang menjaga iman ini dengan utuh dan tidak tercela, tanpa keraguan ia akan binasa selamanya."

+ Carlo Maria Viganò

Terima kasih banyak atas perhatian anda..
Viva Christo Rey...

Posting Komentar

0 Komentar