Umat Katolik Berseru "Allahu Akbar" Saat Terjadi Gempa Di Gereja?


 

Transkrip:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Potongan video yang menggambarkan teriakan spontan "Allahu akbar" di dalam gereja saat Misa berlangsung di Gereja Kristus Raja Baciro Yogyakarta, sempat menjadi viral. Di media sosial video itu pun segera menjadi bahan tertawaan dan cibiran banyak orang.

Sementara dari kalangan Katolik muncul reaksi beragam. Ada yang kecewa, malu, sedih, ada yang menganggapnya sebagai video editan, ada yang mencoba mencari pembenaran dengan mengatakan pelaku adalah katekumen yang sedang belajar, dan ada juga yang menganggapnya bukan masalah...

[video]

Kalau anda merasa malu, kecewa, atau sedih, itu perasaan yang wajar dan sudah seharusnya demikian. Kita pasti sedih melihat umat Katolik yang sedang merasa terancam bahaya, secara spontan berseru pada allah-allah asing dan melupakan Yesus Kristus Sang Penyelamat meski sedang berada di dalam gereja saat Misa sedang berlangsung. Dan yang lebih menyesakkan, kejadian itu terjadi di dalam sebuah Gereja yang diberi nama mentereng: Kristus Raja! 

Betapa ironisnya...

Tapi kalau kita mau jujur, itu bukan semata-mata kesalahan umat. Apa yang terjadi adalah cermin kedangkalan iman Katolik yang terjadi di dalam Gereja Katolik. Dan itu tidak lepas dari sikap dan contoh buruk yang diberikan oleh hirarki, para klerus, dan kaum religius atas nama toleransi beragama...

Misalnya saja Uskup atau kardinal menyumbang sapi untuk Idul Adha, bukan sekali tapi seolah sudah menjadi tradisi rutin tiap tahun, peresmian gereja yang dimeriahkan kelompok marawis, acara natal yang diisi sholawatan dan tari-tarian sufi, suster-suster ikut sholawatan dan menyanyikan lagu lebaran, dan banyak lagi.

[video]

Adakah yang berani mengatakan itu semua dapat meningkatkan penghayatan iman Katolik? Omong kosong! Justru sebaliknya, itu menyuburkan sikap indiferentisme di kalangan umat Katolik dan sekaligus mendangkalkan iman Katolik mereka.

Injil mengajarkan hanya melalui Yesus Kristus orang dapat sampai kepada Bapa (Yoh.14:6), tapi demi toleransi para klerus menipu umat dengan menunjukkan ada banyak jalan untuk sampai kepada Tuhan. Selama berabad-abad Gereja Katolik mengajarkan tidak ada keselamatan di luar Gereja, tapi demi pujian dunia para klerus membodohi umat dengan tidak menyangkal keselamatan juga ada di agama-agama lain!

Dengan kualitas iman para klerus yang demikian bobrok, maka tidak heran jika umat Katolik yang sedang berada dalam bahaya justru lupa pada Tuhan Yesus Kristus Sang Penyelamat, dan lebih ingat untuk berseru pada allah-allah lain seperti yang biasa didengarnya sehari-hari...

Kedangkalan iman mereka adalah akibat pengaruh sikap dan pengajaran sesat dari para klerus serta kaum religius. Mulai dari para Uskup, imam-imam, bahkan hingga suster-suster!

Seharusnya video teriakan 'allahu akbar' saat gempa tadi bisa menjadi momen untuk mengadakan introspeksi diri bagi hirarki dan kaum religius Gereja Katolik di Indonesia. Tapi rasanya itu sulit dilakukan mengingat semangat indiferentisme memang sengaja ditumbuhkan Gereja Katolik di seluruh dunia demi agenda ekumenisme Konsili Vatikan II. Kemungkinan besar para klerus Indonesia tidak akan melakukan introspeksi, tapi mereka akan mencari pembenaran atau menganggapnya bukan masalah. Selama semangat Konsili Vatikan II tetap mempengaruhi Gereja Katolik, maka krisis iman yang terjadi akan semakin buruk. Ini berlaku tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia!

Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menjadikan video tersebut sebagai salah satu bukti kongkrit bahwa Gereja Katolik memang sedang mengalami krisis iman, bahkan proses kemurtadan, akibat pembaharuan sesat Konsili Vatikan II. Semoga hal tersebut dapat menyadarkan banyak orang Katolik untuk kembali pada iman para Rasul dan menolak Konsili Vatikan II serta semua pembaharuannya yang menyesatkan.

Terima kasih atas perhatian anda...

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar