Imam Katolik Memberkati Perkawinan Anjing? | Degradasi Kesakralam Di Dalam Gereja Katolik

 


Transkrip:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 14 Juli 2023, sebuah acara perkawinan dengan adat Jawa berbiaya 200 juta rupiah menjadi viral di media sosial. Masalahnya, yang dipestakan dalam acara tersebut adalah sepasang anjing bernama Jojo dan Luna. Dan yang menghebohkan, pada video tersebut tampak seorang imam Katolik, Rm. Lorenzo Heli, OFM.Cap. yang bertugas di Paroki St. Fransiskus Asisi - Tebet, memberikan berkat pada kedua mempelai anjing tersebut.

Tentu saja kejadian ini mengundang pro dan kontra yang ramai di media sosial. Diantara mereka yang kontra ada yang memprotes kegiatan tersebut sebagai penistaan terhadap upacara perkawinan yang sakral. Bagaimana mungkin upacara yang menjadi tanda sakralnya ikatan perkawinan dua manusia digunakan untuk perkawinan anjing yang hanya tahu bagaimana hidup mengikuti naluri hewani?

Mereka yang memprotes kegiatan tersebut antara lain lembaga kebudayaan dan penggiat budaya Jawa yang memandang kegiatan tersebut sebagai tindakan pelecehan dan penistaan terhadap budaya Jawa yang adiluhung.

Tapi yang sangat mengherankan, kita tidak melihat protes serupa dilakukan oleh hirarki atau klerus Gereja Katolik meski jelas-jelas di dalamnya ada seorang imam Katolik yang aktif terlibat dalam upacara pemberkatan. Dari imam yang bersangkutan memang sudah ada klarifikasi bahwa kegiatan yang dia lakukan tidak lebih dari 'pet-blessing' atau pemberkatan hewan biasa.

Sejauh ini tak ada teguran ataupun protes dari Uskup yang bersangkutan.  Bahkan dari imam-imam youtuber terkenal, tidak satu pun yang memprotes kegiatan tersebut. Yang ada, sebagian mencoba mengalihkan masalah pada persoalan 'menganjingkan manusia', sedang lainnya mencoba membela dengan mengatakan kegiatan 'pet-blessing' atau pemberkatan hewan adalah hal yang dibenarkan dalam Gereja Katolik!

Pet-blessing atau memberkati hewan ternak, hewan peliharaan, dan sejenisnya bukan hal yang aneh dan tentu saja baik jika dilakukan sesuai proporsinya. Catat, jika dilakukan sesuai proporsinya! Hal itu sama seperti kita meminta pemberkatan rumah, lahan pertanian, peternakan, kendaraan, dan sebagainya dengan tujuan agar semua yang telah diberkati itu dapat membantu kita hidup memuliakan Tuhan.

Tapi memberkati dua hewan dalam rangka kegiatan yang jelas-jelas dimaksudkan sebagai upacara perkawinan bagi kedua hewan tersebut, tentu tidak pada tempatnya untuk mendapatkan pemberkatan gerejawi! Itu menjadi batu sandungan bagi banyak umat beriman sebagai pelecehan atas ritual gerejawi! Upaya meremehkan persoalan tersebut sebagai sekedar 'pet-blessing' biasa tampak menjadi upaya pembenaran yang memalukan.

Lembaga dan penggiat budaya Jawa yang sekuler saja tahu bahwa kegiatan tersebut adalah pelecehan dan penistaan terhadap upacara perkawinan adat Jawa. Dan tidak sekedar memprotes, kini bahkan mereka memperkarakan masalah itu ke ranah hukum!

Tapi hebatnya para klerus Katolik, termasuk Uskup, yang mengaku sebagai rohaniwan tidak menganggapnya sebagai masalah! Ini luar biasa memalukan dan harus menjadi keprihatinan kita semua! Bayangkan, orang sekuler ternyata lebih peka terhadap kesakralan suatu ritual ketimbang rohaniwan Katolik! Sudah separah itukah kualitas para rohaniwan Katolik sekarang?

Akhirnya, kita umat Katolik di Indonesia sekarang memang terpaksa harus mengalami nasib buruk karena digembalakan oleh Uskup dan imam-imam yang sudah tidak mampu lagi menghargai kesakralan Gereja!

Mengecewakan, tapi itulah faktanya...

[video]

Mari kita lihat kejadian ini dalam konteks yang lebih luas dari sekedar menanggapi kehebohan upacara perkawinan anjing yang sudah lewat. Akan jauh lebih berguna jika kita melihat kejadian tersebut sebagai bagian dari tanda-tanda semakin hilangnya kesakralan dan nilai-nilai kekudusan di dalam Gereja Katolik. Dengan cara ini kita bisa memahami apa yang sedang terjadi di Gereja Katolik dan berupaya mencari solusinya demi keselamatan jiwa kita serta orang-orang yang kita cintai, dan terutama demi kemuliaan Tuhan!

Kita harus berani jujur mengakui bahwa sejak Konsili Vatikan II telah terjadi perubahan orientasi dalam Gereja Katolik. Tuhan sebagai pusat hidup menggereja mulai digantikan oleh manusia dan alam, melalui masuknya gagasan-gagasan humanisme dan naturalisme yang berkedok semangat aggiornamento atau pembaharuan mengikuti perkembangan jaman.

Ini tampak terlihat jelas dalam liturgi Misa. Dari Misa Latin Tradisional yang sepenuhnya berpusat pada Tuhan, setelah Konsili Vatikan II diubah menjadi Misa blasteran Novus Ordo yang mulai menempatkan manusia sebagai pusat. Perubahan ini tercermin dari liturgi misa blasteran Novus Ordo yang terbuka pada berbagai perubahan untuk menyesuaikan kondisi dan kebutuhan manusia. Misalnya saja dalam Tata Perayaan Ekaristi terbaru, sekarang umat tidak lagi berlutut saat konsekrasi yang merupakan momen tersakral dalam Misa. Juga penerimaan hosti yang adalah Tubuh Kristus, umat tidak lagi menerimanya dengan berlutut dan langsung di lidah, tapi dengan tangan dan sambil berdiri. Ini jelas pergeseran sikap yang signifikan terhadap kesakralan liturgi dibandingkan Misa Latin Tradisional!

Bergesernya pusat hidup menggereja dari Tuhan yang sengaja dilakukan secara sistematis itulah yang ikut menggerus kesakralan dalam Gereja Katolik sejak Konsili Vatikan II hingga hari ini.

Kita bisa lihat bagaimana dengan tanpa rasa bersalah Paus Yohanes Paulus II menyelenggarakan doa bersama semua agama di Asisi tahun 1986 dan juga mencium Quran beberapa tahun kemudian.

Selanjutnya melompat jauh ke masa Paus Fransiskus, pada tanggal 8 Desember 2015, tepat di hari raya Bunda Maria dikandung tanpa noda, Paus Fransiskus mengijinkan Basilika St. Petrus yang merupakan salah satu tempat paling sakral di Gereja Katolik menjadi ajang proyeksi gambar-gambar binatang liar dalam acara bertajuk, "Fiat Lux: Illuminating Our Common Home." 

[video]

Meskipun momen itu hanya beberapa jam, itu sama saja dengan membiarkan Basilika St. Petrus menjadi sarana corat-coret untuk mengekspresikan gagasan-gagasan sekuler yang tidak sejalan dengan fungsi Basilika yang sakral.

Kemudian bulan Oktober 2019 muncul skandal Pachamama dimana di hadapan Paus Fransiskus dan banyak Kardinal serta Uskup, berhala Pachamama diarak dan dihormati di dalam Basilika St. Petrus. Itulah puncak penistaan terhadap kesakralan Gereja Katolik yang dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh hirarki Gereja!

Sekarang, kalau seorang imam Katolik memberikan pemberkatan pada upacara perkawinan anjing, yang bahkan di mata orang sekuler merupakan penistaan terhadap upacara perkawinan, kita memang layak prihatin tapi sekaligus juga harus sadar bahwa itu adalah cermin dari degradasi kesakralan yang sedang terjadi di Gereja Katolik. Upaya pembenaran yang dilakukan imam yang bersangkutan dan berbagai "pembelaan" yang dilakukan oleh imam-imam youtuber semakin mempertegas situasi ini. Memang secara sistematis kesakralan Gereja Katolik sedang dirusak!

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Mengubah arah Gereja Katolik yang sedang dalam proses degradasi dan perusakan jelas tidak mungkin kita lakukan. Terutama karena upaya perusakan itu dilakukan dari pucuk hirarki tertinggi. Gereja Katolik yang ada dalam pengaruh Konsili Vatikan II, atau kita sebut saja Gereja Konsili, pasti akan terus berjalan semakin buruk dan menghancurkan dirinya sendiri!

Yang bisa kita lakukan adalah menolak untuk ikut ambil bagian dari upaya penghancuran Gereja Katolik yang berkedok pembaharuan. Kita dapat melakukannya dengan menolak Konsili Vatikan II dan semua pembaharuannya yang merusak, sambil tetap mengakui hirarki Gereja yang sah bagaikan Nabi Daniel yang tetap mengabdi dan setia pada raja-raja Babel.

Salah satu caranya adalah dengan bergabung dalam komunitas Legio Christi Regis yang bertekad dengan pertolongan rahmat Tuhan untuk menjadi bagian dari sisa umat Tuhan. Dengan cara ini kita tetap ada di dalam Gereja Katolik namun tidak ikut tercemar oleh arus kemurtadan yang membinasakan jiwa, dan sekaligus suatu saat kita dapat ikut serta membangun kembali Gereja Kristus!

Terima kasih atas perhatian anda...


Posting Komentar

0 Komentar