Efek Mengerikan Dei Verbum 8: Dari Sinkretisme Hingga Paus Yang Mempromosikan Iblis Sebagai Tuhan?


Transkrip:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Inilah buah Konsili Vatikan II paling memalukan dan sekaligus menjijikkan: penghormatan berhala Pachamama di Basilika St. Petrus di Vatikan pada bulan Oktober 2019 yang dihadiri oleh Paus Fransiskus. Bukan sebuah kebetulan jika beberapa bulan setelah itu seluruh dunia dilanda pandemi virus berkepanjangan yang menyengsarakan banyak orang selama beberapa tahun! Hukuman dari Tuhankah? Peringatan keras dari Tuhankah? Bisa jadi memang demikian mengingat penghormatan terhadap berhala sudah pasti sangat melukai hati Tuhan.

Sampai detik ini Paus Fransiskus tidak pernah menyesali tindakan tersebut karena menganggap berhala Pachamama itu sebagai simbol Bunda Maria bagi orang-orang suku Amazon.

Hal sebaliknya, yang tidak kalah memalukan dan menjijikkan terjadi di Goa, India, tanah pusat misi Gereja Katolik di India yang pernah didatangi oleh St. Fransiskus Xaverius. Demi semangat inkulturasi, pada minggu ketiga masa Paskah yang lalu sebuah paroki disana mempromosikan patung dan gambar Bunda Maria sebagai simbol Dewi Hindu dan diberi penghormatan dengan ritual Hindu. Tujuannya adalah untuk membangun semangat persahabatan dan persaudaraan dengan umat Hindu disana.

Keduanya, skandal Pachamama di Vatikan dan skandal penghormatan simbol-simbol Bunda Maria sebagai simbol Dewi Hindu di India hanyalah sebagian contoh konkrit dari begitu banyak proses inkulturasi di Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan II, yang terjatuh pada semangat sinkretisme atau pencampuran iman.

Sebenarnya proses inkulturasi bukan hal yang asing dan terlarang di Gereja Katolik. Misa Latin Tradisional, Katedral dan Basilika yang megah, adikarya seni religius yang indah, dan tradisi-tradisi ritual Katolik yang sangat berbeda dengan adat-istiadat dan budaya di tanah Israel tempat kelahiran Gereja, adalah bukti proses inkulturasi yang terjadi di Gereja Katolik selama berabad-abad.

Tapi ada perbedaan jelas antara proses inkulturasi sebelum Konsili Vatikan II dan sesudahnya!

Sebelum Konsili Vatikan II Gereja Katolik paham betul bahwa ajaran iman para Rasul itu tidak boleh berubah, baik dengan mengurangi atau menambahkan unsur-unsur iman yang asing! Apapun proses inkulturasi yang terjadi selalu dipastikan ajaran iman para Rasul tetap utuh dan tidak terkontaminasi ajaran asing satu iota pun!

Harus diakui upaya inkulturasi yang bersifat sinkretis sebelum Konsili Vatikan II juga banyak terjadi sejak lama di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika, Cina, hingga Flores. Tapi semua upaya inkulturasi yang sinkretistik tersebut dipastikan selalu ditentang keras oleh Gereja!

Sayangnya hal yang sebaliknya justru terjadi setelah Konsili Vatikan II. Berkat Dei Verbum 8 yang mengajarkan EVOLUSI Sabda Tuhan dan tradisi iman para Rasul, Gereja Katolik pasca-Konsili memandang proses inkulturasi sebagai bagian dari evolusi Sabda Tuhan dan tradisi iman. Akibatnya, Gereja cenderung terbuka terhadap perubahan iman yang terjadi karena pengaruh sinkretisme.

Itu perbedaan yang sangat besar dan FATAL!

Dari Gereja Katolik yang setia menjaga utuh ajaran iman para Rasul sebelum Konsili Vatikan II, kini berkat Dei Verbum 8 yang dihasilkan Konsili Vatikan II, Gereja Katolik berubah menjadi Gereja yang terbuka pada pengaruh ajaran-ajaran asing. Praktis dengan segala perubahan tersebut kutukan Rasul Paulus dalam Galatia 1:8-9 secara formal telah DILANGGAR!

Itu yang menyebabkan berhala Pachamama dihormati di Basilika St. Petrus dan Bunda Maria dipromosikan sebagai Dewi Hindu di Goa, India!

Dan celakanya, proses inkulturasi yang merusak ini akan terus berlanjut semakin lama semakin parah! Sekarang di Brazil bahkan ritual pagan sudah resmi ikut masuk dalam liturgi Misa.

Di Indonesia proses inkulturasi sinkretis yang merusak ini juga banyak terjadi!

Mungkin anda tidak percaya kalau di Indonesia ada seorang imam Katolik yang tega mengadakan Misa di Papua dengan mengenakan pakaian tradisional lengkap dengan koteka! Tapi itulah yang terjadi! Juga ada seorang imam yang menyelenggarakan Misa dengan mengenakan kostum Barong khas Bali yang berbau satanik. Itu jelas sakrilegi dan penghujatan terhadap Tuhan! Tapi begitulah contoh kongkrit proses inkulturasi sinkretistik khas buah-buah buruk Konsili Vatikan II yang terjadi di depan mata kita!

Bagi para klerus pendukung konsili, mulai dari Paus hingga imam biasa, sudah tidak ada lagi upaya diskresi yang ketat untuk menjaga ajaran iman para Rasul karena kini Sabda Tuhan dan tradisi iman itu menurut Dei Verbum 8 berevolusi dan terus berubah.

Dan celakanya untuk mempermulus segala perubahan tersebut Paus Fransiskus mengajarkan konsep Tuhan baru yang disebutnya sebagai "God of surprises" atau kita terjemahkan saja sebagai "Tuhan yang penuh kejutan."

Tentang "Tuhan yang penuh kejutan" ini sudah dikatakan Paus Fransiskus pada beberapa kali kesempatan, misalnya:

"Kita harus terbuka kepada Tuhan yang penuh kejutan..." - Homili di Casa Santa Marta, 16 September 2013.

"Marilah kita membiarkan diri kita dikejutkan oleh Tuhan. Janganlah kita memiliki gagasan yang telah ditentukan sebelumnya tentang apa yang kita ingin Tuhan lakukan dan bagaimana kita ingin Dia melakukannya. Kita dipanggil untuk memperhatikan kejutan-Nya, bukan (mementingkan) gagasan kita." - Homili di Casa Santa Marta, 9 Mei 2017.

"Marilah kita selalu ingat bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kejutan. Dia selalu mengejutkan kita." - Sambutan kepada Para Peserta Sidang Paripurna Dewan Kepausan Bidang Kebudayaan, 18 November 2013.

Intinya, Paus Fransiskus mengajarkan kita tentang Tuhan yang selalu mengajarkan hal-hal baru yang tidak kita kenal sebelumnya! Itulah Tuhan yang penuh kejutan menurut Paus Fransiskus! Dengan menerima konsep Tuhan yang penuh kejutan ini diharapkan Gereja Katolik akan semakin terbuka pada semua perubahan apapun yang diusulkan oleh Paus dan hirarki konsili lainnya tanpa harus repot mempertimbangkan kesinambungannya dengan ajaran tradisi iman para Rasul! Intinya, ajaran Gereja Katolik di bawah Paus Fransiskus akan benar-benar baru dan berbeda berkat "inspirasi" dari Tuhan yang penuh kejutan!

Jadi siap-siaplah Tuhan yang penuh kejutan ini "menginspirasi" Gereja dengan AJARAN SERBA BARU DAN MENGEJUTKAN tentang LGBT, perceraian, kontrasepsi, imam selibat, imam perempuan, penginjilan, ekumenisme semua agama, teori evolusi, peradaban yang berkesinambungan, pelestarian lingkungan hidup, dan praktis tentang ajaran apapun yang sesuai dengan perkembangan jaman yang selalu berubah! Sinode Tentang Sinodalitas gagasan Paus Fransiskus yang sedang berlangsung sekarang akan membuat semua perubahan itu semakin tidak terbendung lagi dan berlangsung terus-menerus.

Mari kita bandingkan dengan ajaran Gereja Katolik asli dalam Konsili Vatikan I tentang Roh Kudus:

Karena Roh Kudus dijanjikan kepada penerus Petrus BUKAN agar mereka, melalui wahyu-Nya, dapat mengumumkan BEBERAPA AJARAN BARU, tetapi agar, dengan bantuan-Nya, mereka dapat secara religius MENJAGA dan dengan setia menguraikan wahyu atau deposit iman yang disampaikan oleh para Rasul.

Jadi bisa kita pastikan "Tuhan penuh kejutan" yang diajarkan oleh Paus Fransiskus BUKANLAH Roh kudus yang diutus oleh Yesus Kristus untuk membimbing Gereja-Nya! Logikanya, Tuhan penuh kejutan itu tidak lain adalah iblis, bapa segala dusta. Dengan demikian Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik di dunia, telah mengajarkan kita untuk percaya pada iblis yang mengajarkan ajaran-ajaran baru, dan yang praktis secara terang-terangan melanggar kutukan Rasul Paulus dalam Gal.1:8-9.

Celakanya, sebagian besar orang Katolik termasuk para klerusnya percaya! Entah hal itu karena akal sehat mereka tidak berfungsi baik, atau karena sudah dirusak oleh prinsip ketaatan buta!

Dengan fakta ini apakah masih ada yang menyangkal bahwa Gereja Katolik sedang terjatuh dalam proses kemurtadan besar yang melibatkan nyaris seluruh hirarki dan menyeret sebagian besar orang Katolik?

Kita beruntung masih ada beberapa klerus yang kritis terhadap apa yang terjadi di dalam Gereja Katolik saat ini seperti Uskup Agung Vigano, Uskup Athanasius Schneider, dan terakhir ditambah dengan Uskup Joseph Strickland dari Tyler, di negara bagian Texas, Amerika Serikat yang bersikap kritis dengan menulis dalam tweet-nya:

"Saya percaya Paus Fransiskus adalah Paus (pemimpin Gereja), Tapi sudah waktunya bagi saya untuk MENENTANG SEMUA PROGRAMNYA yang mengabaikan deposit iman (atau ajaran iman para Rasul). Ikuti Yesus."

Kami yakin masih ada juga klerus-klerus lainnya yang setia pada iman para Rasul meski jumlahnya sangat sedikit. Mereka itulah gembala-gembala sejati Gereja Katolik yang layak kita dengar dan kita ikuti. 
Tapi sayangnya di Indonesia kita tidak menemukan klerus semacam itu, baik kardinal, uskup, maupun imam-imam biasa. Setidaknya tak ada yang berani bersuara kritis secara terbuka padahal Paus St. Felix III sudah mengingatkan kita, "Diam terhadap kekeliruan adalah sama dengan mendukungnya."

Menghadapi proses kemurtadan besar yang membahayakan iman, sayangnya para klerus di Indonesia bersikap bagaikan burung onta yang menenggelamkan kepalanya di dalam pasir ketika bahaya datang. Mereka selalu menyangkal adanya krisis iman yang sedang terjadi di dalam Gereja dan membiarkan umat Katolik yang mereka gembalakan jatuh dalam proses kemurtadan besar.

Dalam Injil Tuhan Yesus mengatakan, "...Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak." (Luk.19:40).

Maka jangan salahkan kalau kami yang hanya awam sekarang berteriak-teriak keras mengingatkan kita semua akan bahaya besar yang sedang terjadi dalam Gereja Katolik. Kita sedang ada dalam krisis yang terbesar dalam seluruh sejarah Gereja. Selama para klerus diam tentang hal ini, pasti kami akan berteriak semakin keras!

Terima kasih atas perhatian anda...

Viva Christo Rey!
 

Posting Komentar

0 Komentar