Mgr. MARCEL LEFEBVRE, Skismatik Atau Orang Kudus? (part 1)



Transkrip video:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Dalam bulan September 2022, hanya dalam waktu kurang dari seminggu Gereja Katolik mendapatkan tiga pukulan menyakitkan berturut-turut. Pertama, pernyataan Usk
up Athanasius Schneider pada tanggal 15 September 2022 yang terang-terangan menentang pandangan pluralisme Paus Fransiskus dalam kongres agama-agama dunia di Kazakhstan. Kedua, tanggal 16 September 2022 pernyataan resmi Uskup Athanasius Schneider dan beberapa Uskup lain, serta para imam, teolog, dan akademisi Katolik yang mengkritik keras sikap Paus Fransiskus dalam penerimaan komuni sebagaimana yang tertulis dalam ensiklik "Desiderio Desideravi" karena bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik dan pandangannya telah dikutuk oleh Konsili Trente. Dan terakhir, pada tanggal 20 September 2022 Konferensi Uskup Belgia secara resmi menerbitkan ritus pemberkatan untuk pasangan LGBT.

Pluralisme agama yang ditunjukkan Paus Fransiskus berasal dari gagasan kebebasan beragama. Sikap Paus Fransiskus yang menyesatkan dalam penerimaan komuni dipengaruhi oleh gagasan teologi Protestan yang masuk dalam liturgi Misa Novus Ordo demi agenda ekumenisme. Sementara sikap nekat Konferensi Uskup Belgia yang menerbitkan ritus pemberkatan pasangan LGBT muncul dari gagasan kolegialitas. Jadi secara simbolik pukulan menyakitkan bagi Gereja Katolik yang terjadi baru-baru ini mewakili buah-buah buruk dari tiga pembaharuan yang dibawa oleh Konsili Vatikan II: kebebasan beragama, ekumenisme, dan kolegialitas!

Kalau kita mau jujur melihat kenyataan dan mau menggunakan akal sehat seharusnya kita sadar bahwa rangkaian kejadian tersebut adalah salah satu pertanda yang amat jelas bahwa proses kemurtadan besar sebagaimana yang sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci menjelang akhir jaman (Luk.18:8, 2Tes2:3), sedang mengalami penggenapan. Dan tidak dapat disangkal lagi Konsili Vatikan II dengan segala upaya pembaharuannya memegang peran kunci dalam proses pemurtadan tersebut.

Memang kenyataan ini sangat menyakitkan bagi banyak orang Katolik. Tapi harus kita ingat bahwa Kitab Suci juga menubuatkan adanya sisa umat yang setia (Rm.11:5) yang akan menggenapi janji Tuhan bahwa Gereja-Nya tidak akan dikuasai alam maut! Artinya akan ada orang-orang yang dipilih Tuhan untuk membentuk dan memimpin sisa umat di tengah kemurtadan yang terjadi. Ini seharusnya menjadi harapan bagi kita di tengah banyak hal buruk yang terjadi di Gereja Katolik saat ini.

Jika kemurtadan yang terjadi di Gereja sangat dipengaruhi oleh pembaharuan yang dibawa Konsili Vatikan II, maka logikanya sisa umat ditandai oleh kesetiaan pada ajaran para Rasul dan sekaligus penolakan terhadap segala pembaharuan merusak dari Konsili Vatikan II. Ciri-ciri ini membawa kita pada seorang tokoh yang merupakan salah satu bapa konsili, yaitu Mgr. Marcel Lefebvre. Sikapnya yang tegas untuk setia pada ajaran tradisional Gereja dan menolak segala pembaharuan Konsili Vatikan II membuatnya menjadi pusat kontroversi hingga hari ini dan sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi kaum tradisionalis.



Marcel Lefebvre lahir di Tourcoing, Perancis, tanggal 29 November 1905 dari keluarga Katolik yang sangat taat. Ayahnya, Rene Lefebvre ikut berjuang melawan Nazi pada Perang Dunia II dan meninggal di kamp konsentrasi Sonnenburg, Polandia. 

Sebagai orang Katolik Perancis yang dididik dalam iman Katolik yang kuat, Marcel Lefebvre mengenal betul semangat Revolusi Perancis. Jika kebanyakan orang di dunia memuji-muji semangat kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan yang muncul dari Revolusi Perancis sebagai sumber inspirasi ideologi mereka, Marcel Lefebvre justru mengenal ketiganya sebagai mimpi buruk yang berbahaya bagi iman Katolik. Kesadaran ini kelak akan membentuk sikapnya dalam memahami Konsili Vatikan II sebagai "Revolusi Perancis' bagi Gereja Katolik.

Marcel Lefebvre ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1929. Pada tahun 1932 ia bergabung dengan ordo 'Holy Ghost Fathers' yang mengirimnya untuk melakukan karya misi di Afrika sebagai pengajar di seminari. Kemampuan akademisnya yang tinggi dan komitmennya yang luar biasa pada pendidikan calon imam membuatnya ditugaskan sebagai rektor seminari.

Pada tahun 1945 dia kembali ke Perancis dan menjadi seorang rektor seminari di Mortain. Pada tahun 1947 dia ditahbiskan menjadi Uskup Agung dan mendapat tugas sebagai vikaris apostolik untuk Dakkar. Hanya butuh waktu satu tahun, prestasi dan semangat misionarisnya yang luar biasa dalam membangun Keuskupan Dakkar membuat Paus Pius XII mengangkatnya sebagai Perwakilan Kepausan bagi seluruh wilayah Afrika Barat pada tahun 1948. Praktis dengan kedudukan itu Mgr. Marcel Lefebvre menjadi Uskup paling berpengaruh di seluruh Afrika.

Karya misinya sangat luar biasa. Dengan semangat ingin mewujudkan Kerajaan Kristus di Afrika dia membangun lebih dari 40 keuskupan baru, membangun seminari-seminari, biara-biara, sekolah-sekolah, dan banyak rumah sakit. Beberapa orang meyakini karya misi Mgr. Lefebvre ini menginspirasi Paus Pius XII dalam ensikliknya tentang misi, yaitu "Fidei Donum" yang diterbitkan pada tahun 1957.

Setelah karya misinya yang luar biasa di Afrika, Marcel Lefebvre kembali ke Perancis karena Paus Yohanes XXIII yang baru diangkat menggantikan Paus Pius XII mengambil kebijakan untuk memprioritaskan Uskup-uskup lokal. Pada tahun 1961 Paus Yohanes XXIII menunjuknya menjadi salah satu anggota komite persiapan Konsili Vatikan II untuk mempersiapkan draft bagi dokumen-dokumen konsili. Dan pada tahun 1962 ordo 'Holy Ghost Fathers' mengangkatnya menjadi Superior Jenderal.

Ketika pada tahun 1962 Konsili Vatikan II dibuka, Mgr. Marcel Lefebvre sangat yakin konsili tersebut akan menghasilkan dokumen-dokumen Gereja yang menguatkan posisi Gereja Katolik dalam menanggapi perubahan jaman. Namun harapan itu segera berubah menjadi kekecewaan karena di hari pertama konsili, draft dokumen persiapan yang dikerjakannya bersama uskup-uskup dan kardinal konservatif selama hampir dua tahun ditolak begitu saja. Draft persiapan tersebut digantikan oleh dokumen-dokumen yang sudah dipersiapkan kaum modernis dengan dukungan Paus Yohanes XXIII.

Latar belakang pendidikan Katoliknya di Perancis membuat Mr. Marcel Lefebvre peka terhadap pengaruh buruk gagasan Revolusi Perancis dalam konsili tersebut. Baginya Konsili Vatikan II adalah sebuah 'Revolusi Perancis' dalam Gereja Katolik. Ia segera dapat merasakan bahwa Konsili Vatikan II memang sengaja dimanfaatkan sebagai ajang untuk memasukkan gagasan modenis ke dalam ajaran Gereja Katolik agar sejalan dengan semangat perkembangan jaman. Bersama bapa-bapa konsili yang konservatif seperti Kardinal Ottaviani, Uskup Antonio de Castro Mayer, dan lain-lain, dia segera membentuk Coetus Internationalis Patrum sebagai benteng kaum tradisionalis untuk melawan pengaruh kaum modernis.

Sekalipun akhirnya gagasan-gagasan modernis tetap berhasil masuk ke dalam dokumen-dokumen konsili, setidaknya upaya keras Mgr. Lefebvre dan kawan-kawan berhasil mengimbanginya dengan masuknya teks-teks konservatif ke dalam dokumen. Kegigihan mereka juga berhasil memaksa Paus Paulus VI menegaskan sifat pastoral dari dokumen-dokumen konsili dan menyatakannya tidak bersifat infallible. 

Ini harus dicatat sebagai keberhasilan penting Mgr. Lefebvre dan kawan-kawan karena keadaan tersebut memberi peluang bagi siapapun untuk tetap setia pada ajaran tradisional Gereja Katolik dan menolak pembaharuan Konsili Vatikan II karena sifatnya yang tidak infallible dan tidak mengikat. Bahkan Fr. Gregory Hesse, seorang teolog kepausan, meyakini bahwa satu-satunya karya Roh Kudus dalam Konsili Vatikan II adalah menjaga konsili tersebut tidak dinyatakan sebagai infallible dan mengikat!

Setelah konsili berakhir, Mgr. Lefebvre segera merasakan langsung dampak perubahan yang terjadi akibat Konsili Vatikan II ketika ordo yang dipimpinnya menuntut berbagai pembaharuan sesuai semangat konsili. Keadaan tersebut memaksa Mgr. Marcel Lefebvre untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Superior Jenderal pada tahun 1968.

Perubahan paling signifikan setelah Konsili Vatikan II tidak lain adalah hadirnya Misa Novus Ordo yang sengaja dirancang untuk mengakomodasi teologi dan ibadat protestan ke dalam Misa Katolik demi agenda ekumenisme. Paus Paulus VI mempromulgasikan Misa Novus Ordo ini pada tahun 1970 untuk menggantikan Misa Tridentin dengan dalih menerapkan pembaharuan liturgi yang dituntut oleh konsili. Mgr. Lefebvre yang segera mengenali potensi kesesatan misa blasteran tersebut dengan tegas menolaknya dan memilih  tetap setia mempersembahkan Misa Tridentin.

Ketika Mgr. Lefebvre sedang merencanakan untuk pensiun, pada tahun 1970 sekelompok seminaris dari Perancis yang belajar di Roma mendatanginya. Mereka meminta Mgr. Lefebvre untuk mendidik mereka sebagai imam-imam tradisional yang bebas dari pengaruh merusak pembaharuan Konsili Vatikan II. Mgr. Lefebvre menyanggupinya dan pada tanggal 1 November 1970 dengan dukungan Uskup Charriere dari Keuskupan Fribourg - Swiss, dia mendirikan SSPX dengan tujuan untuk membentuk imam-imam yang setia pada ajaran dan liturgi tradisional Gereja Katolik. Pada tanggal 18 Februari 1971 Vatikan resmi mengakui SSPX.

Pendidikan seminari pada awalnya dilakukan di Universitas Dominikan setempat di Fribourg. Namun ketika pembaharuan Konsili Vatikan II mulai menyentuh Universitas tersebut Mgr. Lefebvre segera memindahkan pendidikan seminari SSPX ke Econe, Swiss.

Semangat tradisionalis Mgr. Lefebvre dan SSPX yang dipimpinnya, ditambah dengan penolakan tanpa kompromi untuk merayakan Misa Novis Ordo segera menempatkan mereka sebagai ancaman bagi upaya pembaharuan Konsili Vatikan II. Keberadaan mereka mulai ditentang dan ditekan banyak keuskupan serta hirarki Gereja Katolik pendukung konsili. Sampai akhirnya pada tanggal 21 November 1974 Mgr. Lefebvre mengeluarkan pernyataan tegas yang menolak segala bentuk pembaharuan konsili dan memilih tetap setia pada ajaran Gereja Katolik yang tradisional.

Pernyataannya ini mengundang reaksi keras dari Vatikan dengan mencabut status kanonik SSPX. Hingga akhirnya pada bulan Juni 1979 Mgr. Lefebvre mendapatkan suspensi dari Vatikan yang melarangnya untuk melakukan tugas-tugas sakramental dan imamat, termasuk untuk mempersembahkan misa dan mentahbiskan imam-imam. Tapi tekanan itu semua tidak menyurutkan semangat dan karya Mgr. Lefebvre. Dia tetap melakukan tugasnya dengan membentuk imam-imam dalam semangat ajaran tradisional Katolik dan bahkan tetap mentahbiskan mereka.

Alasan Mgr. Lefebvre menentang perintah dan larangan dari Vatikan adalah karena dia meyakini Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan II sedang ada dalam masa krisis. Keadaan ini memaksa dia untuk tetap melakukan apa yang sebelumnya sudah dia lakukan demi keselamatan jiwa-jiwa dan kemuliaan Tuhan. Meski demikian Mgr. Lefebvre menolak gagasan sedevakantis dan dengan sabar tetap membuka hubungan komunikasi dengan Vatikan karena dia percaya suatu saat keadaan akan berubah.

Pada tahun 1986, Paus Yohanes Paulus II mengadakan kegiatan doa bersama semua agama di Asisi. Bagi Mgr. Lefebvre kegiatan tersebut telah menempatkan Gereja Katolik setara dengan semua agama lain, dan itu berarti akhir dari misi pewartaan Injil Gereja Katolik. Kejadian itu tentu saja sangat memukul Mgr. Lefebvre yang begitu mencintai Kristus dan Gereja-Nya. Momen itulah yang membuat Mgr. Lefebvre berrencana mentahbiskan Uskup untuk menjamin kelangsungan ajaran dan liturgi tradisional Gereja Katolik melalui SSPX. 

Ia lalu mengadakan perundingan dengan Kardinal Ratzinger sebagai prefek CDF untuk membahas kemungkinan pentahbisan Uskup bagi SSPX. Namun setelah proses perundingan yang panjang Vatikan tidak juga memberikan kesepakatan yang pasti. Saat itu Mgr. Lefebvre sudah berusia 83 tahun dan kondisi kesehatannya sudah menurun akibat penyakit kanker yang dideritanya. Sadar bahwa Vatikan sengaja mengulur-ulur waktu untuk menunggu kematiannya, Mgr. Lefebvre memutuskan untuk segera mentahbiskan Uskup baru bagi SSPX. 

Pada tanggal 30 Juni 1988, dengan dibantu sahabatnya Uskup Antonio de Castro Mayer dari Brasil, Mgr. Lefebvre mentahbiskan 4 orang Uskup baru tanpa seijin Paus. Akibat dari tindakannya, dua hari kemudian Mgr. Lefebvre mendapatkan surat dari Vatikan yang menyatakan dirinya telah di-ekskomunikasi bersama-sama dengan Uskup de Castro Mayer dan keempat Uskup yang baru ditahbisakannya. Mgr. Lefebvre sendiri tidak mengakui ekskomunikasi itu karena dia yakin tindakannya perlu demi menyelamatkan Gereja dan banyak jiwa. 

Selain jatuhnya keputusan ekskomunikasi dari Vatikan, 15 orang imam SSPX juga mengundurkan diri karena mengganggap Mgr. Lefebvre telah bertindak terlalu jauh dengan membangkang terhadap otoritas Gereja. Dengan pertolongan Paus Yohanes Paulus II para pembelot SSPX ini mendirikan FSSP yang memberi keleluasaan mereka untuk tetap mengadakan Misa Tridentin dengan syarat mereka bersedia berkompromi untuk menerima semangat pembaharuan Konsili Vatikan II.

Bagi sebagian besar Katolik, tindakan Mgr. Lefebvre mentahbiskan Uskup tanpa seijin Paus ditafsirkan sebagai tindakan skismatik yang menempatkan dirinya dan SSPX di luar Gereja Katolik. Tapi Mgr. Lefebvre tetap teguh dalam pendiriannya dan dia mendapat dukungan dari sebagian besar kaum tradisionalis Katolik di seluruh dunia. Bagi kaum tradisionalis, Mgr. Lefebvre adalah seorang pahlawan. 

Mgr. Marcel Lefebvre meninggal dunia pada tanggal 25 Maret 1991 dengan tulisan di batu nisannya: TRADIDI QUOD ET ACCEPI, Aku meneruskan apa yang telah kuterima (1Kor.15:3). Mgr. Lefebvre mengakhiri pelayanannya bagi Gereja dengan mewariskan karya besar berupa hadirnya SSPX di 22 negara, 4 orang Uskup, 239 imam, dan 5 seminari tradisional. Dan warisannya yang terbesar adalah: meletakkan dasar penting bagi keberlangsungan SISA UMAT yang setia sebagai penggenapan janji Kristus bahwa Gereja-Nya tidak akan terkalahkan sampai akhir jaman.

Tapi muncul pertanyaan besar...

Gereja mengajarkan bahwa tujuan tidak menghalalkan cara (Rm.3:8). Sebagai contoh, pembangkangan Martin Luther terhadap otoritas Gereja di abad 16 membuat gerakan reformasi yang digagasnya sudah pasti bukan hal yang baik. Dan itu terbukti dengan pecahnya gerakan reformasi hingga berkeping-keping sampai hari ini. 

Lalu bagaimanakah kita dapat melihat tindakan Mgr. Marcel Lefebvre berbeda dengan pembangkangan Martin Luther sehingga sisa umat yang terinspirasi tindakannya tidak akan menemui nasib sama dengan gerakan reformasi Martin Luther?

Ini akan kita jawab di bagian ke dua..

Terima kasih atas perhatian anda..

Viva Christo Rey!

 

Posting Komentar

0 Komentar