Pukulan Telak Bagi Paus Fransiskus Di Kazakhstan




Transkrip video:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Pada tanggal 14-15 September lalu di Kazakhstan diadakan Kongres ke 7 para pemimpin agama-agama dunia dan tradisional. Kongres ini dihadiri para pemimpin agama-agama besar dunia, termasuk Paus Fransiskus yang mewakili Gereja Katolik.

Dalam pernyataanya pada pembukaan kongres Paus Fransiskus antara lain mengatakan:

“Kebebasan beragama adalah hak dasar, utama dan tidak dapat dicabut yang perlu dipromosikan di mana-mana, hak yang tidak boleh dibatasi hanya pada kebebasan beribadah.”

Selanjutnya Paus Fransiskus mengatakan, “Setiap orang berhak untuk memberikan kesaksian di depan umum tentang imannya, untuk menawarkannya tanpa memaksa.” Tapi bersamaan dengan itu Paus Fransiskus juga mengecam upaya proselitisme dan indoktrinasi agama.

Demi menekankan pentingnya keberagaman agama, Paus Fransiskus mengajak semua delegasi untuk “ … dengan teguh mempertahankan identitas kita sendiri, terbuka pada keberanian orang lain dan pada perjumpaan persaudaraan. Hanya dengan cara ini, di sepanjang jalan ini, di masa-masa gelap tempat kita hidup ini, kita dapat memancarkan cahaya Pencipta kita.”

Dalam kesempatan berbicara di kongres tersebut tidak sedikit pun Paus menyebut Tuhan kita Yesus Kristus. Bahkan demi memberi kesan agar dapat diterima semua agama, Paus mengganti istilah "TUHAN" dengan kata-kata yang netral seperti "Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta, dan Yang Ilahi"

Pada akhir kongres dibacakan deklarasi yang salah satu poin-nya kembali menyuarakan pesan keberagaman agama yang sama seperti pada dokumen "Human Fraternity", yaitu pernyataan bahwa keberagaman agama dikehendaki oleh Tuhan.

Berikut cuplikannya...

[video]

Deklarasi bersama ini kemudian ditandatangani oleh semua delegasi. Namun ada yang aneh. Tidak lama setelah dokumen ditandatangani, teks deklarasi tersebut diubah secara diam-diam. Point nomor 10 deklarasi tersebut bunyinya menjadi:

"Kami mencatat bahwa pluralisme dalam hal perbedaan warna kulit, jenis kelamin, ras, bahasa dan budaya adalah ekspresi dari kebijaksanaan Tuhan dalam penciptaan. Keragaman agama diizinkan oleh Tuhan dan, oleh karena itu, setiap paksaan terhadap agama dan doktrin agama tertentu tidak dapat diterima."

Padahal teks yang dibacakan di akhir kongres dan ditandatangani berbunyi demikian:

“Kami mencatat bahwa pluralisme dan perbedaan agama, warna kulit, jenis kelamin, ras dan bahasa adalah ekspresi dari kebijaksanaan kehendak Tuhan dalam penciptaan. Maka setiap insiden pemaksaan terhadap agama dan doktrin agama tertentu tidak dapat diterima.”

Kemungkinan besar perubahan itu atas desakan delegasi Gereja Katolik yang khawatir teks tersebut kembali mendapat tentangan keras dari kaum tradisionalis seperti yang terjadi pada dokumen "Human Fraternity" pada tahun 2019. Tapi bagaimanapun yang ditandatangani para delegasi dan dibacakan secara resmi pada penutupan kongres adalah teks yang lama, bukan teks yang dikoreksi diam-diam setelah itu!

Apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus soal kebebasan beragama bertentangan dengan ajaran iman Katolik! Sejak jaman para Rasul hingga sebelum Konsili Vatikan II, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan semua orang berhak atas kebebasan beragama. Paus Leo XIII dalam ensiklik "Libertas" mengatakan, "...adalah bertentangan dengan akal bahwa kebenaran dan kekeliruan memiliki hak yang sama!" Dengan demikian manusia memang punya hak untuk mengikuti agama yang benar, tapi sebaliknya tidak punya hak untuk mengikuti agama yang salah.

Juga ketidaksetujuannya dengan proselitisme bertentangan dengan kehendak Tuhan. Proselitisme dalam arti sebenarnya adalah mengajak orang lain untuk menjadi anggota kelompok kita. Dalam Amanat Agung Tuhan kita berkata, "... pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.. " (Mat.28:19-20). Itu adalah proselitisme karena memerintahkan para Rasul untuk tidak hanya mengajarkan Injil tapi juga menjadikan semua orang sebagai Kristen. Jadi penolakan Paus Fransiskus terhadap proselitisme melawan Amanat Agung Tuhan kita!

Pernyataan-pernyataan Paus Fransiskus dalam kongres ini bukan hal baru dan tidak mengejutkan sama sekali. Itu hanya menegaskan kembali komitmen Paus Fransiskus untuk menjalankan amanat Konsili Vatikan II yang mendukung pluralisme dan ekumenisme semua agama. Dalam semangat pluralisme, semua agama sama kedudukannya karena masing-masing agama hanyalah ekspresi dan cara yang berbeda-beda untuk menyembah "Tuhan" yang sama. Dan dalam semangat ekumenisme, semua agama-agama yang berbeda itu dipersatukan dalam semangat persaudaraan manusiawi. Dengan demikian Gereja Katolik tidak lebih baik kedudukannya dibandingkan Gereja-gereja Ortodoks, rubuan denom Protestan, Islam, Budha, Hindu, Konghucu, dan sebagainya.

Agama-agama lain, sekalipun mengaku menyembah Tuhan Sang Pencipta, tidak mengakui ALLAH TRITUNGGAL yaitu satu-satunya ALLAH yang benar. Mereka menyembah allah-allah lain! Maka ekumenisme semua agama sebagaimana yang secara implisit menjadi agenda dari Konsili Vatikan II adalah pelanggaran langsung terhadap perintah pertama dari sepuluh Perintah Allah, "Jangan ada allah-allah lain di hadapan-Ku!".

Muncul pertanyaan, mengapa dunia menginginkan dan mendorong ekumenisme semua agama? 

Sederhana! Karena ekumenisme semua agama adalah langkah untuk membangun SATU AGAMA EKUMENIS GLOBAL sesuai rencana Antikristus dan bapa segala dusta untuk membangun Menara Babel yang baru. Itu tidak lain adalah Kerajaan Iblis yang menyangkal dan ingin menggantikan Kerajaan ALLAH di muka bumi. Ironisnya, dengan Konsili Vatikan II Gereja Katolik ikut serta dalam agenda tersebut.

Seperti yang saya katakan tadi, apa yang dilakukan Paus Fransiskus di Kazakhstan bukan hal baru dan kita nyaris sudah bosan mendengarnya. Ya begitulah Paus Fransiskus, satu-satunya Paus yang formasi imamatnya murni dihasilkan oleh semangat konsili.

Tapi yang paling menarik adalah apa yang dilakukan oleh Uskup Athanasius Schneider, seorang Uskup Auksilier Astana, Kazakhstan yang menjadi tuan rumah dari kongres tersebut. 

Di tengah media massa yang menyoroti serta memuji semangat pluralisme dan ekumenisme dalam kongres tersebut tiba-tiba Uskup Athanasius Schneider mencuri perhatian dunia dengan pernyataan tegasnya yang mengkritik kongres tersebut sebagai upaya mempromosikan "supermarket agama dimana orang bebas memilih agama yang mereka suka." 

Uskup Athanasius tegas mengatakan, “Kami (Gereja Katolik) bukan salah satu dari banyak agama; kami adalah satu-satunya agama sejati yang Tuhan perintahkan kepada semua orang untuk percaya... Tidak ada jalan lain menuju keselamatan.”

Ketika tingkah para Paus konsili selama lebih dari setengah abad telah meyakinkan dunia bahwa Gereja Katolik sudah berubah dan tidak lagi memposisikan dirinya sebagai satu-satunya agama yang benar, kini mereka tersadar... Ternyata masih ada Uskup Katolik yang setia pada ajaran teradisional Gereja, yang dengan tegas tanpa basa-basi menyatakan Gereja Katolik sebagai satu-satunya agama yang benar dan jalan keselamatan.

Hal ini tentu saja menampar keras wajah Paus Fransiskus dan semua Paus-paus Konsili lainnya...

Yang lebih istimewa, Uskup Athanasius Schneider adalah seorang Uskup di negara Kazakhstan yang mayoritas penduduknya adalah muslim! Ini luar biasa! Kita tidak dapat membayangkan ada Uskup Indonesia yang berani tegas menyatakan hal yang sama. Kenyataannya Uskup-uskup di negeri kita kebanyakan ekumenis dan kompromis, yang setiap bulan puasa menyediakan katedral sebagai tempat untuk kegiatan buka bersama dan di hari Idul Adha ikut menyumbang sapi. Atau uskup yang rela berlutut untuk mendapat berkat dari pendeta bidat. Itulah wajah menyedihkan uskup-uskup Indonesia sejauh yang saya tahu...

Kalau dalam skala 10, Uskup Athanasius Schneider layak mendapat nilai antara 9 dan 10. Dia nyaris sempurna sebagai penerus para Rasul. Sementara Uskup-uskup Indonesia sebagai perbandingan, mohon maaf, menurut saya nilainya ya cukup 4 saja atau paling tinggi 5,5 karena selama saya menjadi seorang Katolik, saya belum pernah mendengar ada seorang Uskup di Indonesia yang tegas di muka publik berani mengatakan Gereja Katolik sebagai satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya jalan keselamatan. Tidak pernah sekalipun! 

Bukan bermaksud merendahkan, kita sebagai umat Katolik di negara yang besar ini sangat rindu memiliki Uskup yang berkarakter dan layak menjadi gembala umat di masa sulit ini. Kita rindu punya Uskup berkualitas seperti Uskup Athanasius Schneider atau Uskup Agung Vigano yang sungguh-sungguh peduli pada keselamatan jiwa-jiwa dan kemuliaan Tuhan.

Terlepas dari apa yang dilakukan Paus Fransikus dam para Paus konsili untuk menghancurkan Gereja Katolik agar menjadi sama rendah dengan agama-agama lain ternyata Roh Kudus masih tetap melindungi Gereja Katolik. Roh Kudus menginspirasi gembala sejati seperti Uskup Athanasius Schneider untuk menyuarakan kebenaran yang harus didengarkan semua orang, yaitu Gereja Katolik adalah satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya jalan keselamatan.

Semoga sikapnya menjadi inspirasi bagi banyak orang Katolik, termasuk Uskup-uskup di Indonesia yang juga harus bertugas sebagai gembala umat di tengah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim!

Terima kasih atas perhatian anda...

Viva Christo Rey!

 

Posting Komentar

0 Komentar