Menemukan AGAMA Yang PALING BENAR (part 3)


  Transkrip video:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Pada video bagian kedua kita sudah melihat bagaimana KEBENARAN SEMPURNA menjadi tolok ukur yang penting untuk menentukan manakah agama yang paling benar diantara ketiga agama wahyu, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Dengan menggunakan tolok ukur itu ternyata hanya Kristen saja yang telah menerima kebenaran sempurna, sementara Yahudi dan Islam tidak memilikinya. Maka dengan mudah dapat kita simpulkan Kristen adalah agama yang paling benar.

Tapi masalahnya, ada ribuan kelompok atau gereja yang mengaku Kristen dan memiliki ajaran yang berbeda-beda. Pastinya mustahil semua gereja tersebut sama-sama benar. Video kali ini akan menjelaskan secara gamblang, jelas, dan sederhana bagaimana kita dapat menemukan satu Gereja Kristus yang sejati diantara ribuan gereja Kristen yang ada di dunia saat ini. Sama seperti video bagian kedua, kita juga akan menggunakan tolok ukur obyektif yang menjadi acuan untuk menentukan satu-satunya Gereja Kristus. 

Kita akan mulai dengan memahami untuk apa Tuhan menyatakan KEBENARAN-NYA pada manusia. Jika manusia tidak jatuh ke dalam dosa, kodrat manusia akan tetap seperti saat diciptakan Tuhan dan keadaan di bumi juga seperti di dalam surga. Manusia diciptakan serupa dengan gambar Tuhan dan bumi juga diciptakan sebagai gambaran surga. Dengan keadaan seperti itu inkarnasi Tuhan untuk menyatakan seluruh kebenaran yang menyelamatkan tentu juga tidak diperlukan. 

Tapi sayangnya karena bujukan iblis, manusia jatuh ke dalam dosa.

Akibat kejatuhan tersebut, ada dua hal yang rusak: manusia dan dunia. Yang dimaksud dunia dalam konteks ini adalah kumpulan manusia sebagai sebagai komunitas peradaban dan seluruh habitat tempat tinggalnya. Kedua hal itulah yang ingin dipulihkan Tuhan melalui seluruh KEBENARAN yang diwahyukan-Nya. Jadi KEBENARAN yang sempurna tersebut harus dapat memulihkan kembali apa yang menjadi rusak karena dosa.

Tapi kebenaran yang sempurna saja tidak cukup. Sama seperti sebuah negara tidak cukup hanya memiliki undang-undang atau hukum yang baik saja, tapi perlu juga ada aparat pelaksana undang-undang dan penegak hukum agar undang-undang yang baik tersebut dapat berfungsi. Maka agar kebenaran sempurna yang diwahyukan Tuhan dapat mencapai tujuannya, yaitu mampu menguduskan manusia dan dunia, tentu dibutuhkan juga sarana yang SEMPURNA. Harus ada orang-orang yang ditugaskan untuk mewartakan kebenaran tersebut dan menjaganya tetap utuh sempurna. Itulah Gereja yang didirikan Tuhan kita dengan Petrus sebagai dasarnya:

"Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (Mat.16:18)

Gereja Kristus ini akan menguduskan manusia agar kembali pada kodratnya semula sebagai ciptaan yang serupa dengan gambar Tuhan DAN sekaligus juga menguduskan seluruh dunia bagi terwujudnya Kerajaan Allah. Kedua tugas itu tercermin dalam perintah untuk menjadi sempurna (Mat.5:48) dan pengharapan akan datangnya Kerajaan Allah dalam doa Bapa Kami (Mat.6:10). Karena didirikan oleh Yesus Kristus dan disertai Roh Kudus maka Gereja Kristus ini memiliki segala hal yang diperlukan untuk menguduskan manusia dan dunia, serta tetap eksis sampai akhir jaman. Atau jika diringkas: Tuhan mendirikan Gereja-Nya yang menyelamatkan, SEKALI untuk SELAMANYA!

Tentang pengudusan manusia, pada video sebelumnya sudah dijelaskan bahwa dalam Injil Tuhan sudah memberikan ajaran bagaimana kita dapat menjadi sempurna seprti Tuhan (Mat.19:21). Tapi ajaran Injil saja tidak cukup karena manusia tidak dapat menjadi sempurna dengan kekuatan dan upayanya sendiri. Manusia mutlak membutuhkan rahmat dari Tuhan yang dicurahkan melalui berbagai sakramen Gereja. Maka selain memiliki seluruh kebenaran yang utuh Gereja Kristus pastinya juga dibekali semua sakramen yang dibutuhkan bagi pengudusan manusia.

Lalu bagaimana dengan pengudusan dunia? Dunia dikuduskan dengan menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi melalui penginjilan dan pembaptisan semua orang! Maka Gereja harus memiliki instrumen yang mampu mewartakan Injil ke seluruh dunia secara utuh dan sekaligus menjadi model atau cikal bakal dari Kerajaan Allah. Mustahil Gereja dapat menjadi sarana Tuhan untuk mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi jika Gereja sendiri tidak dibekali semua elemen penting yang dibutuhkan sebagai Kerajaan Allah.

Jadi Gereja Kristus HARUS memiliki empat ciri ini:

Gereja Kristus itu SATU karena Tuhan Yesus hanya mendirikan Gereja-Nya sekali untuk selamanya. Gereja Kristus itu KUDUS karena dibimbing oleh Roh Kudus, bebas dari noda kesesatan, dan memiliki semua sarana sakramental yang dibutuhkan untuk menguduskan manusia dan dunia. Gereja Kristus itu KATOLIK karena bertugas mewartakan Injil Kristus dan membaptis SEMUA ORANG demi terwujudnya satu Kerajaan Allah yang universal di muka bumi. Gereja Kristus itu APOSTOLIK karena mewartakan seluruh tradisi dan ajaran para Rasul secara utuh. Keempat ciri itu akan menjadi tolok ukur obyektif untuk mengenali manakah Gereja Kristus diantara ribuan gereja yang ada di dunia saat ini. Keempat ciri ini juga terungkap dalam Sahadat Nikea: Gereja yang SATU, KUDUS, KATOLIK, dan APOSTOLIK.

Mungkin ada orang yang sadar kalau gereja yang diikutinya tidak masuk dalam kriteria Gereja Kristus lalu berpikir: jika gereja saya bukan Gereja Kristus maka semua gereja yang lain juga bukan. Tentu pandangan seperti ini tidak benar karena bertentangan dengan janji Tuhan bahwa Gereja-Nya akan terus ada sampai akhir jaman. Mengatakan Gereja Kristus yang sejati hari ini sudah tidak ada lagi sama saja dengan mengatakan Tuhan kita tidak menepati janji-Nya! Pandangan semacam itu adalah penghujatan terhadap Tuhan kita!

Atau ada orang yang berpikir bahwa Gereja Kristus itu dulu memang ada namun kemudian menjadi rusak dan sekarang hadir kembali dalam sebuah gereja baru yaitu gereja yang diikutinya. Ini pun sama kelirunya dan sekaligus juga penghujatan terhadap Tuhan. Dengan mengatakan Gereja Kristus pernah rusak dan hilang dalam sejarah lalu muncul kembali sama saja dengan mengatakan Tuhan kita pernah gagal menjaga Gereja-Nya. Faktanya, Gereja Kristus itu hadir dalam sejarah secara berkesinambungan tanpa pernah terputus sejak jaman para rasul hingga hari ini dan sampai dengan kedatangan Tuhan! Jadi Gereja Kristus harus dapat dilacak eksistensinya secara berkesinambungan sampai pada jaman para Rasul.

Harus kita ingat, sekalipun sekarang ada ribuan gereja Kristen, pada mulanya hanya ada satu saja yaitu Gereja Kristus. Maka dengan melacak berbagai sebab perpecahan gereja dan menerapkan ciri-ciri Gereja Kristus kita bisa menemukan dengan pasti manakah Gereja Kristus diantara ribuan gereja-gereja Kristen yang ada. 

Secara umum ada dua kategori penyebab perpecahan Gereja, yaitu bidat dan skisma. Bidat adalah menolak sebagian ajaran Gereja Kristus dan skisma adalah menolak persatuan dengan Gereja Kristus meski tetap mengakui semua pokok-pokok ajarannya.

Tentang penolakan sebagian ajaran Gereja, Rasul Yakobus berkata demikian:

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (Yak.2:10)

Rasul Paulus juga mengatakan demikian:

Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. (Gal.9:5)

Maka menolak sebagian ajaran Gereja ATAU menambahkan ajaran baru yang berbeda ke dalam ajaran Gereja sama dengan mengubah seluruh ajaran Gereja. Itu sama saja dengan mengajarkan 'injil yang berbeda' seperti yang dikutuk oleh Rasul Paulus hingga dua kali berturut-turut:

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Gal.1:8-9)

Jangan dibayangkan 'injil yang berbeda' itu ajaran yang berbeda sama sekali dari ajaran para Rasul. Cukup sedikit saja penambahan atau pengurangan dari ajaran para Rasul sudah membuatnya menjadi 'injil yang berbeda' sebagaimana yang dimaksud oleh Rasul Paulus. Prinsip yang amat ketat untuk menjaga keutuhan ajaran Gereja ini sejalan dengan ciri Gereja Kristus yang KUDUS dan bebas dari kesesatan apapun!

Jadi, kalau ada gereja Kristen yang menyangkal sebagian ajaran para Rasul atau menambahkannya meski hanya satu iota, gereja tersebut termasuk dalam golongan bidat dan pastinya bukan Gereja Kristus. Bahkan para pemimpinnya ada di bawah kutukan Rasul Paulus karena telah bersalah mengajarkan injil yang berbeda! Misalnya ada gereja yang menolak Maria sebagai Bunda Allah, gereja tersebut adalah bidat. Menolak Yesus sebagai Tuhan atau menolak Trinitas, gereja tersebut adaah bidat. Menolak Tradisi Suci atau pengajaran lisan dari para Rasul, gereja tersebut adalah bidat. Menolak suksesi apostolik, gereja tersebut adalah bidat. Menolak sebagian atau seluruh sakramen-sakramen Gereja, gereja tersebut juga bidat. Dan sebagainya.

Yang termasuk golongan bidat ini antara lain pengikut arianisme-reborn seperti Saksi Yehovah karena mereka menolak Trinitas. Kemudian Gereja Nestorian karena mereka mengajarkan paham monofisit yang menyangkal dua kodrat Yesus Kristus. Lalu semua denominasi Protestan karena mereka menolak Tradisi Suci sebagai salah satu sumber Sabda Tuhan selain Kitab Suci, menolak Gereja yang kelihatan, menolak suksesi apostolik, menolak sebagian besar sakramen-sakramen Gereja, dan banyak lagi. Karena ajaran-ajarannya yang sudah berbeda dengan ajaran para Rasul dan ditambah lagi sakramen-sakramennya juga tidak lengkap seperti pada semua denominasi Protestan, maka gereja-gereja bidat tersebut tidak dapat menjadi sarana pengudusan bagi manusia dan dunia! Mereka semua sudah pasti tereliminasi dari kandidat sebagai Gereja Kristus. 

Sekarang yang tersisa tinggal Gereja Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks...

Secara formal Gereja Ortodoks muncul tahun 1054 sebagai akibat dari skisma besar yang dipicu masalah penambahan kata 'filioque' dalam Sahadat Nikea. Tapi sebenarnya proses pemisahan itu sudah berlangsung berabad-abad sebelumnya secara gradual.

Awalnya Gereja Kristus terbagi menjadi tiga patriarkat berdasarkan wilayah geografisnya: Roma, Antiokhia, dan Alexandria. Ketika Kaisar Konstantin memindahkan ibukota Kekaisaran Romawi ke Konstantinopel, dibentuklah patriarkat Konstantinopel di abad 4. Sementara itu patriarkat Yerusalem baru dibentuk pada abad 5. Patriarkat Roma disebut sebagai Gereja Barat, sedangkan keempat patriarkat lainnya disebut sebagai Gereja Timur.

Karena kedudukannya yang dekat dengan ibukota Kekaisaran Romawi, maka Gereja Konstantinopel ini segera menjadi pusat dari seluruh Gereja Katolik Timur. Tidak hanya itu, sedikit demi sedikit mulai tumbuh rivalitas dengan Gereja Roma di Barat: bagaimana mungkin Gereja Konstantinopel yang ada di ibukota harus terus tunduk pada Gereja Roma? Akibatnya mulailah muncul semangat kolegialitas diantara Gereja Timur yang berupaya membuat mereka semakin independen dari pengaruh Gereja Roma.

Maka ketika Gereja Roma menambahkan kata 'filioque' pada Sahadat Nikea, segera saja semua Gereja Timur sepakat menolaknya. Gereja Timur memandang penambahan tersebut mengubah rumusan Sahadat Nikea yang mengatakan Roh Kudus berasal dari Bapa. Sementara dengan penambahan kata 'filioque' maka Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Perubahan ini oleh Gereja Timur tidak bisa diterima.

Sebenarnya penambahan kata 'filioque' tersebut dilakukan oleh Gereja Roma untuk merespon tantangan dari kaum arianisme yang sampai dengan abad ke 5 masih aktif di wilayah Gereja Barat. Penambahan kata 'filioque' sama sekali tidak mengubah makna rumusan Sahadat Nikea, tapi membuatnya lebih jelas. 

Kasusnya sama seperti doktrin Trinitas yang dirumuskan dalam Konsili Nikea tidak mengubah ajaran Gereja tapi membuatnya lebih jelas. Atau dengan penambahan frasa pada rumusan tanda salib Gereja Timur. Bentuk asli rumusan tanda salib sesuai Injil adalah "Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus" tapi kemudian Gereja Timur mengubahnya menjadi, "Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, Satu Tuhan..." Penambahan frasa "Satu Tuhan" yang digunakan Gereja-gereja Timur sama sekali tidak mengubah makna tanda salib, tapi membuat gagasaan keesaan Tuhan dalam konsep Trinitas semakin jelas. Penambahan tersebut diperlukan mengingat Gereja-gereja Timur hidup berdampingan dengan muslim yang menganggap Kristen menyembah tiga tuhan.

Demikian juga penambahan kata 'filioque' sebenarnya tidak mengubah makna rumusan sahadat iman. Penambahan tersebut justru mendapatkan dasarnya yang kuat dari Kitab Suci:

Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. (Why.22:1)

Teks ini amat jelas merupakan tipologi dari Trinitas yang menggambarkan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Begitu juga pandangan St. Agustinus:

"Kita tidak dapat mengatakan bahwa Roh Kudus juga tidak berasal dari Anak, karena Roh yang sama bukan tanpa alasan dikatakan sebagai Roh Bapa dan Anak."

Dengan demikian penentangan Gereja Timur terhadap 'filioque' patut diduga lebih banyak dipengaruhi oleh masalah rivalitas terhadap Gereja Barat ketimbang substansi kebenaran ajaran iman. Gereja Timur menganggp penambahan sepihak yang dilakukan Gereja Roma tanpa melalui konsili tersebut telah melukai harga diri mereka sebagai Gereja yang memiliki kedudukan setara.

Perseteruan tentang 'filioque' ini akhirnya memuncak ketika pada tahun 1054 Kardinal Humbert da Silva Candida sebagai utusan Paus dan Patriark Michael Cerularius saling mengekskomunikasi satu sama lain yang berlanjut dengan skisma besar. Akibatnya Gereja Timur menolak kepemimpinan Paus dan selanjutnya menyebut diri mereka sebagai Gereja-gereja Ortodoks yang terpisah dari Gereja Roma.

Sebenarnya ada upaya untuk mempersatukan kembali Gereja-gereja Ortodoks ke dalam Gereja Katolik. Misalnya saja pada Konsili Ferrara-Florence di abad 15. Saat itu delegasi Gereja-gereja Ortodoks bersedia menerima penambahan kata 'filioque' dan kembali mengakui primat Paus. Namun keputusan ini secara sepihak dicabut kembali akibat tekanan keras dari orang-orang Ortodoks yang menentang persatuan Gereja. Akibat dari penyangkalan sepihak ini fatal, seolah mendapat hukuman Tuhan, tepat di hari raya Pentakosta pada tanggal 29 Mei 1453 Konstantinopel jatuh ke tangan muslim sampai hari ini! Tidak tertutup kemungkinan kejatuhan Konstantinopel tepat di hari raya Pentakosta merupakan isyarat dari Roh Kudus bahwa penolakan mereka untuk bersatu dengan Gereja Katolik adalah sebuah kesalahan.

Selain itu, dengan menerapkan salah satu ciri Gereja Kristus, yaitu Gereja yang SATU, Gereja-gereja Ortodoks juga sudah gagal memenuhi kriteria sebagai Gereja Kristus. Penyebabnya karena Gereja-gereja Ortodoks terdiri dari beberapa gereja dengan yurisdiksi yang terpisah, misalnya Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Ortodoks Syria, Gereja Ortodoks Rusia, dan sebagainya. Dengan demikian mereka sudah pasti bukanlah Gereja Kristus yang SATU. Itu akibat mereka menolak kepemimpinan Petrus yang sesungguhnya menjadi unsur pemersatu mereka! Padahal Tuhan Yesus sendirilah yang menetapkan Petrus sebagai pemimpin Gereja-Nya:

"Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat.16:18-19)

Kepala Gereja adalah Kristus. Tapi karena Tuhan harus meninggalkan Gereja-Nya untuk sementara waktu, maka kepemimpinan tersebut diwakilkan kepada Petrus dengan menyerahkan kunci Kerajaan Surga sebagai simbol otoritas. Penyerahan kunci Kerajaan Surga ini secara implisit menyiratkan harapan bahwa kelak ketika Tuhan Yesus Kristus datang kembali sebagai Raja, Petrus akan menyerahkan kembali kunci tersebut. Dengan demikian Tuhan menghendaki kepemimpinan Petrus atas Gereja Kristus sebagai Wakil-Nya BERSIFAT PERMANEN dan berkesinambungan hingga saat kedatangan-Nya kembali.

Maka penyangkalan Gereja-gereja Ortodoks atas kepemimpinan Petrus bertentangan dengan kehendak Tuhan, bertentangan dengan ajaran dan tradisi para rasul, dan bertentangan dengan tradisi Gereja Kristus selama berabad-abad.

Juga, penolakan kepemimpinan Paus membuat Gereja Ortodoks mustahil menjadi sarana untuk mewujudkan Kerajaaan Allah. Penyebabnya adalah: penolakan Gereja-gereja Ortodoks pada model hirarkis-monarkis yang menjadi cikal-bakal Kerajaan Allah. Logikanya, Kerajaan Allah yang hirarkis-monarkis hanya dapat diwujudkan melalui gereja yang juga berkarakter hirarkis-monarkis, bukan gereja-gereja yang berkarakter kolegial seperti pada Gereja-gereja Ortodoks! Jadi sekalipun Gereja-gereja Ortodoks memiliki ajaran iman para Rasul dan semua sakramen yang dibutuhkan untuk menguduskan manusia, mereka PASTI gagal menguduskan dunia untuk mewujudkan Kerajaan Allah.

Kesimpulannya:

1. Gereja-gereja Ortodoks Oriental, Nestorian, dan denominasi Protestan yang jumlahnya ribuan itu tidak lebih dari kelompok bidat yang mengajarkan ajaran yang berbeda dari ajaran para Rasul. Bahkan semua denominasi Protestan juga tidak memiliki sakramen-sakramen yang lengkap sebagai sarana pengudusan. Maka gereja-gereja tersebut sudah pasti bukan Gereja Kristus.

2. Gereja-gereja Ortodoks yang memisahkan diri dari Gereja Katolik pada tahun 1054 adalah kelompok skismatis. Meskipun mereka mengaku mengikuti ajaran para Rasul namun menolak mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja. Akibatnya, sekalipun memiliki semua sarana yang diperlukan untuk menguduskan manusia, Gereja-gereja Ortodoks tidak dapat menjadi sarana untuk menguduskan dunia dengan mewujudkan Kerajaan Allah. Gereja-gereja Ortodoks juga bukan Gereja Kristus.

3. Gereja Katolik yang dipimpin Paus adalah satu-satunya Gereja Kristus yang kudus dan apostolik, yaitu Gereja yang mengajarkan ajaran para Rasul secara utuh dan sekaligus memiliki semua sarana untuk menguduskan manusia dan dunia seperti yang dikehendaki Tuhan. Melalui Gereja Katolik inilah nubuat Tuhan kepada Abraham tergenapi sempurna: "Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat..." (Kej.22:18).

Ini dikonfirmasi dengan kesinambungan Gereja Katolik yang dapat dilacak keberadaannya hingga jaman para Rasul. Sementara denominasi Protestan paling tua baru ada di abad 16, dan Gereja-gereja Ortodoks juga baru ada sejak tahun 1054 sebagai nama baru dari Gereja Katolik Timur yang memisahkan diri dari Gereja Katolik Barat.

Tapi ada masalah yang sangat besar....

Sejak Konsili Vatikan II ternyata Gereja Katolik juga jatuh dalam kesesatan modernisme dan ekumenisme. Ibadatnya tidak lagi menggunakan Misa Apostolik tapi menggunakan Misa Novus Ordo yang merupakan misa blasteran Katolik-Protestan demi memenuhi agenda ekumenisme. Ajarannya juga mulai terkontaminasi semangat ekumenisme yang sesat dan terus berubah mengikuti keinginan jaman yang sedang berjalan menuju kebinasaan. Ini terlihat dari buah-buahnya berupa pelanggaran terhadap ajaran iman para Rasul yang terang-terangan dan terus dibenarkan seperti doa bersama semua agama, Paus mencium Quran, berhala Pachamama dihormati di Basilika St. Petrus, Paus ikut aktif dalam upacara pagan, dan banyak lagi.

Singkatnya, hanya dalam waktu beberapa dekade saja, Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan II berubah menjadi garam yang tidak asin lagi. Bukan lagi Gereja yang menguduskan dunia, tapi dunialah yang mempengaruhi dan mencemari Gereja! Jelas Gereja Kristus yang kudus dan apostolik tidak mungkin seperti itu. Apakah itu berarti Gereja Kristus telah berhasil dikalahkan oleh gerbang alam maut dan janji Tuhan untuk menjaga Gereja-Nya gagal? Ini akan kita bahas di video selanjutnya...

Terima kasih atas perhatian anda..

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar