Menemukan AGAMA Yang Paling Benar (part 2) | Membandingkan Yahudi VS Kristen VS Islam


 Transkrip video:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Sebelum melanjutkan topik ini, saya perlu menggarisbawahi sebuah kata kunci yang paling penting dalam memahami bagaimana kita dapat menemukan agama yang paling benar diantara ribuan agama yang ada di seluruh dunia. Kata kunci yang dimaksud adalah KEBENARAN. Seperti dalam bagian pertama, KEBENARAN menjadi tolok ukur yang kita gunakan untuk mengetahui bahwa agama yang paling benar itu hanya mungkin ada diantara agama-agama yang berdasarkan pada konsep Tuhan personal.

Mengapa?

Karena dalam agama-agama yang berdasarkan pada konsep Tuhan personal, kebenaran yang diterima itu diasumsikan berasal dari Tuhan sehingga ajaran kebenaran yang ada di dalamnya juga diasumsikan merupakan kebenaran yang utuh. Saya katakan "diasumsikan" karena agama-agama yang berdasarkan Tuhan personal ini setidaknya ada tiga golongan dan masing-masing mengklaim agamanya paling benar, padahal dalam kenyataannya hanya satu saja agama yang paling benar sebagaimana yang nanti akan saya tunjukkan dalam video ini.

Sementara itu dalam agama-agama yang berdasarkan pada konsep Tuhan impersonal, ajaran kebenaran yang dipahami sepenuhnya merupakan hasil dari upaya pencarian dan konstruksi akal budi manusia tanpa campur tangan pewahyuan Tuhan. Maka ajaran kebenaran yang ada dalam agama-agama tersebut tidak mungkin utuh atau lengkap. Selanjutnya, jika kebenaran yang tidak utuh ini dimutlakkan dalam satu konsep ajaran, maka ajaran tersebut menjadi salah. 

Itu sebabnya kita bisa katakan konsep Tuhan impersonal tidak lain merupakan penyimpangan atau gambaran yang tidak lengkap tentang TUHAN. Ketika konsep Tuhan impersonal ini dipercaya sebagai satu-satunya konsep Tuhan yang benar, akibatnya justru menjadi salah. Konsekuensinya, semua agama yang berdasarkan pada konsep Tuhan impersonal bukanlah agama yang benar.

Nah, mulai bagian ini dan seterusnya kita hanya akan membahas ketuhanan dalam konteks Tuhan personal sebagaimana yang dipercaya dalam ajaran Yahudi, Kristen dan Islam. Dalam konteks itu Tuhan adalah alfa dan omega, yaitu Dia yang menjadi awal dan akhir dari segala sesuatu, Sang Kebenaran Mutlak, Maha Kasih, dan Sang Pencipta segala yang ada, baik yang kelihatan maupun tak kelihatan.

Lalu kebenaran apakah yang diwahyukan Tuhan kepada manusia? Tentu saja kebenaran yang akan membuat manusia menjadi lebih baik. Ukuran "baik" di sini adalah menurut Tuhan sendiri, bukan menurut manusia. Karenanya kebenaran seperti itu tidak dapat dicari manusia melainkan harus diberikan oleh Tuhan sendiri yang mengetahui apa itu 'baik'. Kebenaran yang diwahyukan Tuhan inilah yang akan menjadi ukuran untuk menilai manakah agama yang paling benar diantara Yahudi, Kristen, dan Islam...

Tuhan mewahyukan kebenaran kepada manusia karena Dia mengasihi manusia dan ingin agar manusia memperoleh keselamatan kekal. Ingat, mengasihi itu artinya menghendaki yang terbaik bagi yang dikasihi. Maka kebenaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia adalah kebenaran terbaik yang mungkin diberikan Tuhan. Lalu seperti apakah kebenaran terbaik yang dapat diberikan Tuhan? Kebenaran terbaik itu tidak lain adalah KEBENARAN SEMPURNA yang dapat mengajarkan manusia untuk menjadi sempurna. Tidak ada kebenaran yang lebih baik dari itu.

Dengan akal budi dan hati nuraninya, manusia bisa merumuskan ajaran-ajaran yang dapat membuat manusia menjadi lebih baik menurut ukuran manusia. Tapi untuk menjadi sempurna, hanya Tuhan yang dapat mengajarkannya. Maka agama yang paling benar dan sungguh-sungguh berasal dari Tuhan seharusnya berisi ajaran kebenaran yang sempurna tersebut. Lalu di antara ketiga agama tadi, dimanakah terdapat ajaran kebenaran yang dapat membuat manusia menjadi sempurna?

Kita tidak akan menemukan ajaran yang mengajarkan kesempurnaan itu dalam agama Yahudi maupun Islam. Tapi dalam iman Kristen ajaran tersebut ternyata ada dan tertulis secara eksplisit.

"Karena itu haruslah kamu SEMPURNA, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (Mat. 5:48).

Yesus Kristus menuntut setiap manusia yang mengikuti ajaran-Nya untuk menjadi sempurna. Bukan sempurna menurut ukuran manusia yang subyektif dan relatif, tapi sempurna seperti Tuhan sendiri. Itu adalah ukuran sempurna yang obyektif dan mutlak. Adakah tuntutan yang sama atau lebih tinggi dari ini di dalam agama Yahudi maupun Islam? Sama sekali tidak ada!

Dan yang lebih meyakinkan, Yesus Kristus tidak hanya menuntut tapi juga mengajarkan caranya:

"Jikalau engkau hendak SEMPURNA, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Mat. 19:21).

Dari seluruh kitab suci yang ada di dunia, ini adalah satu-satunya ajaran yang secara eksplisit mengajarkan manusia langkah-langkah sistematis untuk menjadi sempurna seperti Tuhan! Ajaran seperti ini jelas tidak ada dalam ajaran Yahudi dan Islam!

Mungkin ada yang bertanya, bagaimanakah teks yang hanya satu kalimat itu dapat dipahami sebagai langkah-langkah sistematis untuk meraih kesempurnaan?

Mari kita bedah pernyataan tadi:

Pertama, "Pergilah.." 

Kata ini mengingatkan kita pada perkataan Yesus kepada wanita pelacur yang dibebaskan-Nya dari hukuman rajam, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi." Maka teks ini dapat diartikan sebagai METANOIA, atau pertobatan. Dalam perjalanan spiritual manusia, pertobatan selalu menjadi langkah pertama!

Kedua, "...juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga..."

Kata-kata ini dapat kita maknai sebagai KENOSIS, atau penyangkalan diri dari keduniawian demi Tuhan. Kenosis atau penyangkalan diri ini adalah kelanjutan dari langkah pertobatan. Yang termasuk tahap kenosis ini antara lain puasa, pantang, dan sebagainya.

Ketiga, "..kemudian datanglah kemari..."

Kata-kata ini dapat kita maknai sebagai COMMUNIO, atau bersatu dengan Yesus Kristus setelah kita bertobat dan menyangkal diri. Dalam iman Katolik, tahap persatuan dengan Tuhan ini diwujudkan secara nyata dalam Sakramen Ekaristi dimana kita menerima Tubuh Kristus dan dipersatukan dengan-Nya.

Keempat, "...dan ikutlah Aku."

Kata-kata ini dapat kita maknai sebagai IMITATIO atau meniru Tuhan. Imitatio adalah tahap terakhir dan puncak dari seluruh rangkaian langkah-langkah sistematis untuk menjadi sempurna, yaitu mengikuti teladan hidup Yesus Kristus!

Jadi secara ringkas ajaran iman Kristen mengajarkan manusia untuk menjadi sempurna seperti Tuhan melalui empat langkah ini: METANOIA (pertobatan), KENOSIS (penyangkalan diri), COMMUNIO (bersatu dengan Tuhan), dan IMITATIO (meneladani Yesus Kristus).

Ajaran ini menjadi benar dan sangat mungkin, justru karena adanya INKARNASI TUHAN yang ditolak oleh agama Yahudi dan juga Islam!

Jika Yesus Kristus bukan Tuhan yang berinkarnasi, ajaran tadi juga tidak mungkin dapat membuat manusia menjadi sempurna seperti Tuhan karena meneladani nabi manapun tidak akan mampu membuat manusia menjadi sempurna seperti Tuhan. Tapi karena Yesus Kristus adalah Tuhan yang berinkarnasi maka kebenaran yang diajarkan dan diteladankan-Nya adalah ajaran kebenaran yang sempurna.

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku," itulah yang dikatakan Yesus Kristus (Yoh.14:6). Yesus Kristus adalah Sang Sabda Tuhan itu sendiri, yaitu seluruh kebenaran Tuhan yang berinkarnasi dan hidup menjadi manusia. Maka siapapun yang mengikuti teladan Yesus Kristus, cepat atau lambat akan menjadi sempurna seperti Tuhan! Apakah itu mungkin tercapai? Sangat mungkin, karena kesempurnan tersebut akan terwujud bukan oleh upaya manusia, melainkan dengan pertolongan rahmat Tuhan!

Jadi, apabila tidak ada inkarnasi Tuhan maka sampai kapan pun tidak akan pernah ada ajaran untuk mencapai kesempurnaan. Jika kita balik, karena Tuhan itu mengajarkan kebenaran yang sempurna pada manusia, maka inkarnasi Tuhan pasti harus terjadi agar ajaran kebenaran yang sempurna tersebut dapat dinyatakan pada manusia. Dengan demikian pasti ada suatu masa dalam sejarah manusia dimana Tuhan berinkarnasi untuk menyatakan seluruh kebenaran-Nya yang sempurna. Itulah yang terjadi 2000 tahun yang lalu.

Di antara ketiga agama wahyu, hanya Kristen yang mengakui inkarnasi Tuhan. Ini konsisten dengan fakta bahwa hanya dalam ajaran iman Kristen terdapat ajaran untuk mencapai kesempurnaan seperti Tuhan. Maka agama Yahudi dan Islam yang menolak inkarnasi Tuhan dan tidak memiliki ajaran yang dapat membawa manusia pada kesempurnaan sudah pasti bukanlah agama yang benar!

Selanjutnya, Tuhan yang berinkarnasi hanya mungkin jika Tuhan itu TRINITAS, satu ALLAH dengan tiga pribadi ilahi yang berbeda: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Maka melalui inkarnasi Yesus Kristus Sang Putra Allah, manusia memperoleh kebenaran puncak tentang Tuhan, yaitu bahwa Tuhan itu trinitas. 

Jika kita ringkaskan: 

Dengan akal budinya sendiri manusia dapat mengenal Tuhan yang impersonal sebagai asal mula segala sesuatu. Dengan pewahyuan Tuhan melalui para nabi manusia dapat mengenal Tuhan yang personal sebagai Sang Pencipta yang maha kuasa. Dengan inkarnasi Tuhan, manusia dapat mengenal jati diri terdalam dari Tuhan, yaitu Allah Tritunggal Maha Kudus: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Mari kita bandingkan konsep Tuhan trinitarian dalam iman Kristen dengan konsep Tuhan unitarian seperti dalam ajaran Yahudi dan Islam. Sebelum adanya ciptaan, Tuhan unitarian ada sendirian dalam kekekalan. Artinya, Tuhan unitarian adalah tuhan yang maha kesepian sebelum adanya ciptaan. Dengan demikian tuhan unitarian bukanlah Tuhan yang sempurna karena tuhan seperti itu setidaknya memiliki satu kekurangan, yaitu pernah kesepian. 

Sebaliknya, sejak sebelum adanya ciptaan Tuhan trinitarian sudah hidup dalam kebahagiaan sempurna ketiga pribadi ilahi yang ADA BERSAMA dalam kekekalan. Jadi Tuhan trinitarian tidak pernah mengalami kesepian, sekalipun belum ada ciptaan. Maka ALLAH TRITUNGGAL adalah Tuhan yang sempurna dalam Diri-Nya sejak semula. 

Ini mengantarkan kita pada fakta penting, yaitu hanya dalam konsep trinitaslah manusia dapat mengenal Tuhan yang sempurna dalam Diri-Nya sendiri dan sekaligus Tuhan yang mengasihi manusia dengan kasih sempurna melalui karya penebusan di kayu salib! 

Memang agama Yahudi juga mempercayai Sabda Tuhan yang disampaikan oleh para nabi yang sama seperti yang dipercaya dalam iman Kristen. Tapi seluruh ajaran yang diterima para nabi belum merupakan ajaran yang lengkap. Ajaran tersebut masih harus digenapi oleh Yesus Kristus yang mereka tolak. Ketika ajaran yang belum lengkap ini menolak digenapi oleh inkarnasi Tuhan, maka ajaran tersebut menjadi salah.

Itu sebabnya Yesus Kristus berkata kepada orang-orang Yahudi yang menolak-Nya, "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu..." (Yoh.8:44).

Sementara Islam lebih parah, agama tersebut hanya menerima wahyu palsu. Sesungguhnya Tuhan tidak hanya menyatakan seluruh kebenaran yang utuh melalui inkarnasi Sang Putra Allah, tapi Tuhan juga menjaga seluruh kebenaran-Nya tetap utuh sempurna sampai akhir jaman melalui karya Roh Kudus. Dengan demikian mustahil bagi Tuhan menambahkan wahyu baru apapun, baik untuk menambahkan Sabda Tuhan yang sudah diterima ataupun untuk memperbaiki Sabda Tuhan yang konon dirusak manusia.

Mengapa demikian?

Pertama, tidak mungkin ada penambahan wahyu baru karena dengan inkarnasi Yesus Kristus Sang Putra Allah maka kebenaran Tuhan sudah dinyatakan seluruhnya kepada manusia secara utuh. Lalu ajaran apa lagi yang perlu ditambahkan pada ajaran yang sudah sempurna? Tentu saja tidak ada!

Kedua, juga tak perlu ada wahyu atau Sabda Tuhan yang diperbaiki karena Roh Kudus menjamin Sabda Tuhan yang sudah diterima manusia akan tetap utuh sampai akhir jaman. Jika Sabda Tuhan bisa dirusak maka itu berarti Tuhan tak dapat menjaga kebenaran yang sudah diwahyukan-Nya. Konsekuensi logisnya, penambahan wahyu baru apapun dengan tujuan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada Sabda Tuhan sebelumnya juga akan selalu sia-sia karena tidak ada jaminan wahyu yang baru tidak akan rusak seperti sebelumnya. Ini jelas mustahil!

Maka dengan kedua alasan tadi dapat kita katakan bahwa ajaran Islam yang diklaim berasal dari wahyu penutup sesungguhnya tidak berasal dari Tuhan.

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan sederhana tapi penting ini:

Tuhan hanya menyatakan seluruh kebenaran yang SEMPURNA satu kali dan kebenaran itu tetap terjaga SEMPURNA sampai akhir jaman. Selanjutnya, kebenaran yang sempurna itu akan mengajarkan manusia untuk menjadi SEMPURNA seperti Tuhan. Satu-satunya agama yang telah menerima seluruh kebenaran yang sempurna itu hanyalah KRISTEN, bukan yang lain.

Namun kita harus menerima fakta bahwa saat ini di seluruh dunia ada ribuan gereja yang mengaku Kristen. Semuanya dengan ajaran yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Sudah pasti mustahil semuanya sama-sama benar. Sesuai dengan janji Tuhan, Gereja yang didirikan-Nya akan tetap ada sampai akhir jaman (Mat.16:18). Maka pasti hanya satu Gereja saja yang benar diantara ribuan gereja yang ada saat ini. 

Pada video bagian berikutnya kita akan membahas manakah Gereja Kristus yang sesungguhnya diantara ribuan gereja Kristen yang ada di dunia ini?

Terima kasih atas perhatian anda...

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar