Benteng Terakhir #4a - Bencana Wabah Dan Pertobatan Ekologis (bagian 1)


Transkrip video:

Pax vobis, damai sertamu...

Pada tahun 590, Paus Gregorius yang baru terpilih menghadapi persoalan besar. Italia sedang diguncang wabah mematikan yang merenggut banyak korban. Bahkan Paus Pelagius II yang sebelumnya menjabat ikut menjadi korban. Bencana wabah ini jauh lebih dahsyat dari wabah virus korona, karena di saat itu fasilitas kesehatan dan pengobatan sangat minim sehingga siapapun yang terkena wabah tersebut hampir pasti tidak tertolong lagi.

Menghadapi situasi sulit itu Paus Gregorius tidak gentar. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan Gereja pada saat-saat seperti itu.

Di Gereja Santa Sabina, Paus Gregorius mengundang orang-orang Roma untuk melakukan pertobatan seperti yang dilakukan penduduk Kota Niniwe di masa lalu,

"Lihatlah di sekitarmu: lihatlah pedang murka TUHAN sedang diacungkan ke seluruh penduduk. Kematian yang tiba-tiba merenggut kita dari dunia, nyaris tidak memberi kita waktu. Pada saat ini, lihatlah...ooh..berapa banyaknya orang yang direnggut oleh kejahatan dan tidak dapat berpikir tentang penyesalan."

Selanjutnya Paus Gregorius mengajak seluruh umat untuk mengangkat wajah kepada TUHAN dan memohon belas kasihan atas hukuman yang diberikan TUHAN demi mempertobatkan manusia. Untuk melunakkan murka Tuhan, Paus Gregorius memerintahkan seluruh umat untuk melakukan prosesi litani doa dari gereja-gereja di seluruh kota Roma menuju Basilika Santo Petrus di Vatikan. Mereka melakukannya dengan berjalan kaki secara perlahan dengan kepala ditutupi abu sebagai tanda pertobatan, sambil terus menyanyikan doa-doa litani sepanjang jalan. 

Selama prosesi berlangsung, wabah tidak berhenti menyerang dan membuat puluhan orang yang ikut dalam prosesi jatuh terkapar mati di jalan. Tapi Paus Gregorius tidak terpengaruh dan terus melanjutkan prosesi sambil memerintahkan untuk membawa gambar Bunda Maria yang dilukis oleh Santo Lukas Penginjil di barisan depan. 

Lalu keajaibanpun terjadi, ketika prosesi mendekati Basilika udara terasa makin bersih dan segar. Pada saat mereka berada di dekat Musolium Hadrian, tiba-tiba sekumpulan malaikat bernyanyi dan berkumpul di sekeliling gambar Bunda Maria. Setelah nyanyian para malaikat selesai, Paus Gregorius dan umat yang mengikuti prosesi melihat penampakan Malaikat Agung Santo Mikael yang berdiri di atas musolium. Ia mengeringkan pedang yang berlumuran darah, dan memasukkan pedang tersebut ke sarungnya. Itu suatu pertanda bahwa hukuman Tuhan sudah berakhir. Dan sejak saat itu wabahpun menghilang seluruhnya dari seluruh wilayah Italia.

Selanjutnya setelah wafat Paus Gregroius dikanonisasi dan mendapat gelar Paus Santo Gregorius Agung. Untuk mengingat mujizat yang terjadi, sejak kematian Paus Gregorius Agung Musolium Hadrian diganti namanya menjadi Kastil Santo Mikael dan di atasnya diletakkan patung Malaikat Agung Santo Mikael.

Ini bukan dongeng tapi kisah nyata yang tercatat dalam sejarah. Seperti itulah cara khas Gereja dalam menghadapi bencana wabah, yaitu dengan mengadakan pertobatan dan berbalik kepada Tuhan! Tidak ada yang lebih baik dari itu. Jika Injil mengatakan satu orang bertobat sudah membawa sukacita di surga, apalagi jika seluruh umat bertobat! Sebesar apapun murka dan hukuman TUHAN pada manusia, pasti akan berbalik menjadi berkat!

Secara tradisional, Gereja Katolik memang memandang bencana sebagai sarana Tuhan untuk menghukum dan mengingatkan manusia agar bertobat. 

Seorang bapa yang tidak pernah menghukum anak-anaknya saat mereka melakukan kesalahan adalah bapa yang tidak peduli dan tidak mengasihi anaknya. Sebaliknya seorang bapa yang mengasihi anak-anaknya pasti akan menghukum mereka jika mereka melakukan kesalahan, agar melalui hukuman tersebut anak-anaknya dapat tumbuh menjadi manusia dewasa yang baik. Demikianlah TUHAN juga menggunakan bencana sebagai salah satu sarana untuk menghukum dan mengingatkan anak-anak-Nya agar bertobat dan mengubah hidup mereka.

St. Alfonsus Liguori mengatakan, "Tuhan dalam kebaikan-Nya yang tak terbatas menginginkan hanya kebahagiaan kita dan ingin mengkomunikasikan kebahagiaan-Nya sendiri pada kita. Jika TUHAN menghukum kita, itu karena kita telah membuat TUHAN melakukannya akibat dosa-dosa kita.."

St. Bernardus dari Siena bahkan lebih spesifik mengatakan ada tiga bencana yang digunakan TUHAN untuk menghukum manusia akibat dosa-dosa: perang, wabah, dan kelaparan. Dan sekarang, hukuman TUHAN yang begitu nyata di jaman kita untuk mengingatkan manusia agar bertobat adalah wabah virus korona. Belum pernah ada bencana dalam sejarah Gereja yang tidak hanya mengakibatkan banyak kematian dan melumpuhkan ekonomi dunia, tapi juga membuat Gereja Katolik dilarang menyelenggarakan ibadah Misa nyaris di seluruh dunia!

Hanya TUHAN yang tahu persis, mengapa Dia mengijinkan bencana wabah virus korona ini terjadi pada manusia. Tapi menanggapinya dengan sikap tobat pasti merupakan tanggapan yang tepat dan pilihan paling bijak bagi umat beriman!

Tidak perlu sulit mencarinya, dosa-dosa manusia yang mengundang murka Tuhan dan membutuhkan pertobatan sudah begitu banyak dan begitu jelas terjadi di dunia. Mulai dari aborsi yang dilegalkan dimana-mana, termasuk juga di Indonesia untuk kasus-kasus tertentu. Bahkan di Cina aborsi dipaksakan oleh negara kepada perempuan-perempuan yang hamil di luar batas jumlah anak yang ditetapkan pemerintah. Ini merupakan pembunuhan terhadap jutaan bahkan miliaran nyawa manusia tidak berdosa! 

Lalu juga homoseksualitas, perzinahan dan seks bebas yang semakin menjadi norma di dunia modern. Sebagaimana perbuatan orang-orang di kota Sodom dan Gomorah telah mengundang murka TUHAN, demikian juga dosa-dosa tersebut. Selanjutnya gaya hidup hedonisme, materialisme dan semangat keduniawian juga telah menggiring manusia untuk semakin melupakan TUHAN.

Itu belum semua, masih banyak lagi. Tapi dosa-dosa itu saja sudah cukup jadi alasan bagi kita untuk percaya bahwa TUHAN memang menginginkan manusia untuk bertobat.

Dan yang terpenting bagi Gereja Katolik adalah menyadari dosa-dosa yang terjadi di Gereja Katolik sendiri!

Hanya satu momen di dalam Injil dimana TUHAN kita menumpahkan kemarahan-Nya. Yaitu ketika Bait Allah dicemari oleh kegiatan para pedagang! Jika kegiatan para pedagang yang sebetulnya bukan dosa saja sudah mencemari Bait Allah dan mengundang kemarahan TUHAN, apalagi jika di pusat Gereja Katolik, satu-satunya Gereja Kristus yang benar, terjadi pencemaran oleh praktek penyembahan berhala! Tidak bisa tidak pasti akan mengundang kemurkaan TUHAN!

Itulah yang terjadi pada skandal pachamama di Vatikan bulan Oktober tahun lalu! Skandal tersebut adalah pelanggaran terang-terangan terhadap perintah TUHAN yang pertama, terjadi di pusat Gereja Katolik, dan di depan Paus Fransiskus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik! 

Tidak lama setelah itu terjadi skandal sakrilegi lagi, juga masih di Vatikan. Bulan Februari yang lalu seorang presiden Argentina yang jelas-jelas pendukung aborsi menerima komuni suci bersama-sama dengan pasangan zinahnya. Itu pelecehan dan sakrilegi terhadap Sakramen Mahakudus yang sangat mencolok mata!

Kedua skandal tersebut jelas merupakan pencemaran Bait Allah yang jauh lebih parah dari apa yang dilakukan para pedagang di Yerusalem 2000 tahun yang lalu. Sampai dengan video ini dibuat, belum ada pernyataan penyesalan dari Vatikan atas kedua skandal tersebut. Jika karena kedua skandal itu murka TUHAN tumpah kepada manusia, maka itu sudah sewajarnya.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin Gereja Katolik sampai terjatuh pada skandal separah ini? 

Paus Fransiskus tidak sendiri. Apa yang dia lakukan dengan skandal pachamama dan pembiaran terhadap pelecehan Sakramen Ekaristi di Vatikan hanyalah buah-buah yang logis dari segala perubahan sistematis dan bertahap, yang sudah terjadi di Gereja Katolik sejak Konsili Vatikan II lebih dari 50 tahun lalu. 

Paus Paulus VI mengungkapkannya demikian, ".. melalui suatu celah, asap setan telah masuk ke dalam Gereja Tuhan". 

Sekarang kita tahu celah itu adalah Konsili Vatikan II!

Faktanya, Konsili Vatikan II telah menghasilkan rangkaian perubahan buruk yang membuat untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik, seorang Paus mencium Alquran tanpa penyesalan sebagaimana yang dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II! Juga di era Paus Yohanes Paulus II untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik mengadakan doa bersama dengan agama-agama lain, baik dengan kaum monoteis maupun kaum pagan. Doa bersama ini selain secara implisit telah menyangkal Yesus Kristus sebagai satu-satunya Penyelamat, juga merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perintah pertama TUHAN yang tidak menghendaki adanya allah-allah lain di hadapan-Nya.

Itu semua bisa terjadi karena Gereja Katolik paska konsili sudah kehilangan kepekaan iman terhadap kekudusan TUHAN dan karya penebusan Krstus! Dan keduanya secara sistematis memang sengaja mulai dihilangkan sejak Konsili Vatikan II!

Demi mengikuti semangat aggiornamento atau pembaharuan yang sesat, dokumen-dokumen konsili mulai mengajarkan toleransi dan penghormatan terhadap agama-agama lain, mengajarkan ekumenisme palsu untuk mempersatukan semua kelompok Kristen, dan mengajarkan perlunya perubahan ajaran Gereja demi mengikuti perkembangan jaman! 

Itu awalnya!

Selanjunya keadaan tersebut diperburuk lagi dengan disingkirkannya Misa Latin tradisional, yang digantikan dengan Misa Novus Ordo pada tahun 1969.

Lex orandi lex credendi lex vivendi, cara kita berdoa mempengaruhi cara kita beriman dan cara kita menjalani hidup. Maka digantinya Misa Latin tradisional yang begitu sakral dengan Misa 
Novus Ordo yang dangkal pasti sedikit atau banyak akan mengubah iman banyak orang Katolik dan juga cara mereka menjalani kehidupan! Ini terbukti dengan berbagai buah-buah buruk yang bermunculan di Gereja Katolik di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hingga akhirnya perubahan tersebut mengakibatkan skandal pachamama di Vatikan!

Salah satu perubahan penting dalam Misa Novus Ordo adalah imam tidak lagi menghadap altar sebagaimana yang biasa dilakukan sejak jaman para nabi, jaman para rasul, dan sepanjang sejarah Gereja Katolik hingga pertengahan abad 20. Sejak Misa Novus Ordo diberlakukan, imam memimpin Misa dengan menghadap umat seperti yang umum dilakukan pada gereja-gereja Protestan. 

Dengan perubahan ini maka esensi misa bukan lagi upacara korban salib Kristus tapi perayaan perjamuan kudus. Ini menurunkan bobot kesakralan Misa. Meski dua-duanya penting, tapi jelas ada perbedaan bobot kesakralan antara korban Kristus di Kalvari dan perjamuan kudus. Dan yang jelas, Rasul Paulus sendiri sudah mengingatkan bahwa Misa bukan perjamuan, tapi peringatan korban Kristus (1Kor.11:20-26).

Selanjutnya perubahan kecil tapi penting tersebut diikuti berbagai perubahan-perubahan lain yang makin mengikis kesakralan liturgi Ekaristi. Seperti misalnya, perempuan tidak lagi mengenakan mantila saat mengikuti misa, lektor dan misdinar perempuan mulai diperbolehkan, komuni diterima dengan tangan, dan kebiasaan untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa sebelum mengikuti Misa mulai menghilang.

Mantila tidak lagi digunakan karena dianggap sekedar tradisi budaya. Padahal itu bukan sekedar tradisi budaya. Kewajiban itu tercatat di dalam Kitab Suci dan memang perlu sebagai ungkapan rasa hormat pada kekudusan Tuhan. Seorang raja sekalipun harus melepaskan mahkotanya saat berdoa, sebagai tanda hormat pada kekudusan Tuhan. Demikian juga setiap perempuan harus menanggalkan mahkotanya saat mengikuti Misa. Tapi karena mahkota perempuan adalah rambutnya dan tidak dapat ditanggalkan, sebagai ganti rambut itu harus ditutupi mantila sebagai ungkapan rasa hormat kepada TUHAN. Dengan dihilangkannya ungkapan simbolik ini, rasa hormat pada kekudusan Tuhan dalam ibadat Misapun ikut berkurang.

Adanya lektor dan misdinar perempuan juga merupakan pelanggaran terhadap disiplin liturgi upacara korban yang sudah berlangsung sejak jaman para nabi. Sudah ketetapan Tuhan bahwa hanya laki-laki yang boleh mempersembahan korban dan berada di sekitar altar. Bahkan Tuhan kita memilih 12 rasul seluruhnya laki-laki karena mereka akan bertugas menjadi imam di altar persembahan! Demikian juga Rasul Paulus jelas mengatakan perempuan dilarang berbicara di depan Gereja (1Kor.14:34). Faktanya, adanya lektor dan misdinar perempuan selalu dimanfaatkan sebagai langkah awal bagi kaum feminis dan liberal untuk menuntut perubahan yang lebih besar dan merusak liturgi Ekaristi, yaitu adanya imam perempuan. Maka sejak awal keberadaan lektor dan misdinar perempuan seharusnya tidak dibenarkan. 

Ini tidak ada hubungannya dengan masalah kesetaraan martabat antara laki-laki dan perempuan. Ini masalah pembagian tugas yang berbeda sebagaimana sudah ditetapkan Tuhan dalam penyelenggaraan tata upacara korban. Jika dalam Kitab Perjanjian Lama tercatat bagaimana TUHAN memberikan instruksi yang detail bagi penyelenggaraan upacara korban, maka sudah selayaknya persembahan korban Ekaristi juga dilakukan menurut ketetapan TUHAN sendiri, bukan menurut kemauan dan selera manusia!

Yang paling parah adalah penerimaan komuni dengan tangan. Praktek merusak ini mulai diijinkan oleh Paus Paulus VI dalam Misa Novus Ordo. Selain praktek ini mengikis rasa hormat umat terhadap Sakramen Ekaristi, juga menimbulkan terjadinya sakrilegi atau pelanggaran terhadap kekudusan Tuhan. 

Pertama, menerima Sakramen Ekaristi dengan tangan, apalagi dilakukan sambil berdiri seperti menerima pembagian jatah sembako, sama sekali tidak mencerminkan rasa hormat terhadap Tubuh Kristus. Mungkin ada yang bilang yang penting adalah hati kita, bukan sikap dan cara kita dalam menerima Ekaristi. Sayangnya, jika kita sudah tidak tahu bagaimana bersikap yang layak dalam menerima Tubuh Tuhan lalu bagaimana kita bisa mengatakan hati kita sudah layak menerima-Nya? Itu argumen omong kosong!

Yang kedua, umat tidak berhak menyentuh Hosti yang sudah dikonsekrasi dengan tangannya. Bandingkan ini dengan Uza yang mati oleh murka Tuhan karena ia menyentuh Tabut Perjanjian (2Sam.6:6-7). Dan yang ketiga, pada penerimaan komuni dengan tangan, besar kemungkinannya akan ada remah-remah hosti yang jatuh di telapak tangan lalu tanpa sengaja terbuang ke lantai dan terinjak-injak. 

Umat yang menyentuh hosti dengan tangan, apalagi tanpa sengaja menginjak remah-remah hosti yang berjatuhan, adalah sakrilegi terhadap Tubuh Kristus. Dengan demikian setiap kali Misa Novus Ordo diadakan dengan penerimaan hosti di tangan, pasti selalu terjadi sakrilegi! 

Itu sebabnya Kardinal Francis Arinze, Prefek Kongregasi Liturgi Ilahi Dan Disiplin Sakramen di masa Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa "..penerimaan komuni di tangan adalah sebuah bencana!"

Perubahan orientasi Misa dengan imam menghadap umat, berbagai pelanggaran disiplin liturgi, dan penerimaan komuni di tangan pada akhirnya hanya menghasilkan buah-buah yang buruk. Kekudusan Misa sebagai upacara korban dan penghayatan umat terhadap Hosti sebagai Tubuh Kristus terus berkurang. Tanda yang paling nyata akan hal ini adalah menghilangnya kebiasaan untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa sebelum Misa. 

Di Indonesia Sakramen Pengakuan Dosa sekarang ini praktis sudah jatuh menjadi tradisi basa-basi 2 kali setahun menjelang Natal dan Paskah, seolah-olah umat Katolik hanya berdosa berat sebelum Natal dan Paskah saja. Tentu saja itu tidak mungkin. Akibatnya begitu banyak umat yang menerima Ekaristi setiap minggu dalam keadaan berdosa berat dan mencelakakan jiwanya sendiri (1Kor.11:27-29).

Demikianlah kita sebagai umat Katolik sebenarnya telah ikut berdosa berat selama bertahun-tahun dengan mengikuti Misa Novus Ordo! Tidak perlu heran jika dalam jangka waktu 50 tahun, perubahan akibat Konsili Vatikan II dan penerapan Misa Novus Ordo terus mengikis kekudusan ibadat Misa di Gereja Katoik dan menghasilkan berbagai sakrilegi yang semakin lama semakin parah. Jika sekarang terjadi skandal pachamama di Vatikan, itu semua hanyalah puncak yang terlihat dari berbagai perubahan merusak yang sudah terjadi sejak Konsili Vatikan II, dan sejak Misa Novus Ordo menggantikan Misa Latin Tradisional! Dan kerusakan itu terjadi dimana-mana di seluruh dunia!

Tidak hanya Paus Fransiskus dan sebagian hirarki, tapi kita semua umat Katolik yang setuju pada Konsili Vatikan II dan mendukung Misa Novus Ordo juga telah ikut ambil bagian dalam segala kerusakan di Gereja Katolik yang berujung pada skandal pachamama. 

Kita semua ikut bersalah dan harus bertobat!
Sudah saatnya keadaan ini diperbaiki mulai sekarang.

Bukan kebetulan bencana wabah virus korona ini akhirnya membuat ibadat misa tidak lagi dapat diselenggarakan secara publik selama bahaya wabah masih mengancam. Mungkin untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, kini tidak lagi terjadi sakrilegi oleh umat terhadap Tubuh Kristus dalam ibadat Misa di berbagai gereja! Oleh karena itu, saat umat Katolik hanya dapat mengikut ibadat Misa secara online adalah saat yang sempurna bagi kita semua untuk merenungkan segala kesalahan yang telah terjadi, menyesalinya, bertobat, dan bertekad untuk mengubahnya!

TUHAN tentunya menghendaki kita mengikuti ibadat Misa dengan cara yang layak tanpa ada sakrilegi, atau memang lebih baik tidak ada misa publik sama sekali!

Sekian dulu untuk bagian pertama ini...


Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar