Deklarasi Iman Katolik SSPX Yang Memojokkan Vatikan

 


Transkrip:
Menanggapi ancaman ekskomunikasi yang dikeluarkan oleh Kardinal Tucho Fernandez, pada 14 Mei 2026, Father Davide Pagliarani sebagai Superior Jenderal SSPX, menyampaikan sebuah Deklarasi Iman Katolik yang bersejarah kepada Paus Leo XIV. Dokumen ini menandai puncak dari ketegangan antara SSPX dan Takhta Suci yang sudah terjadi selama puluhan tahun.

Selama lebih dari setengah abad, SSPX telah menyuarakan keprihatinan mendalam tentang berbagai penyimpangan pasca-konsili yang menghancurkan iman dan moral Katolik. Sayangnya, satu-satunya respons dari Takhta Suci hanyalah berupa ancaman dan sanksi kanonik.

Melalui deklarasi ini, SSPX menyatakan dengan jelas dan terbuka ketaatan mereka kepada Iman Katolik. Bagi SSPX deklarasi ini adalah syarat minimum yang diperlukan untuk tetap berada dalam persekutuan dengan Gereja Katolik.

Ada beberapa point penting yang disampaikan dalam deklarasi.

Tentang Yesus Kristus dan Keselamatan, SSPX menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Penebus dan Penyelamat dunia. Hanya melalui Yesus Kristus saja ada jalan kepada Bapa. Dan karena peran Bunda Maria tak dapat dilepaskan dari karya penebusan Kristus, maka SSPX menolak penyangkalan atas gelar-gelar Bunda Maria yang sudah diterimanya dalam tradisi Gereja. 

Deklarasi ini juga menegaskan bahwa di luar Gereja Katolik Roma, tidak ada keselamatan atau pengampunan dosa. Dengan demikian setiap manusia tanpa kecuali, baik Kristen, Yahudi, Muslim, pagan, atau ateis, harus menjadi anggota Gereja Katolik untuk menyelamatkan jiwa mereka.

Tentang Mandat Misionaris, SSPX menyatakan bahwa Amanat Agung yang diberikan kepada para Rasul untuk memberitakan Injil dan memanggil setiap orang kepada Iman Katolik tetap mengikat hingga akhir zaman. Melepaskan mandat ini merupakan "kejahatan terberat terhadap umat manusia."

Tentang Kesatuan Gereja, SSPX menyatakan hanya Gereja Katolik Roma saja yang memiliki empat tanda Gereja sejati: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Kesatuan prinsip ini mengalir dari kepatuhan pada satu Iman yang benar. Penyangkalan terhadap satu kebenaran Iman saja, sudah menghancurkan keutuhan Iman. Oleh karena itu persatuan umat Kristen hanya dapat diwujudkan melalui panggilan penuh kasih pada iman Katolik yang satu, bukan melalui ekumenisme yang kompromis, yang menyejajarkan Gereja Katolik dengan gereja-gereja palsu.

Tentang Misa Kudus, SSPX menekankan bahwa Misa Kudus adalah kelanjutan Kurban Kalvari. Misa pada dasarnya bersifat penebusan dan pendamaian. Oleh karenanya SSPX menolak tegas pandangan yang mereduksi Misa menjadi "perjamuan kudus" atau "perayaan misteri Paskah tanpa kurban."

Tentang Hukum Moral, SSPX menegaskan bahwa hanya Sepuluh Perintah Allah yang disempurnakan dalam Khotbah di Bukit yang dapat menyelamatkan jiwa. Kode moral lainnya, misalnya yang berdasarkan hak asasi manusia atau penghormatan terhadap ciptaan, sama sekali tidak memadai.

Tentang penerimaan Komuni Kudus dalam keadaan berdosa, SSPX mengutip Rasul Paulus yang menyatakan bahwa barangsiapa menerima Komuni dalam keadaan berdosa telah makan dan minum penghukuman atas dirinya sendiri.

Selanjutnya tentang dosa-dosa yang melawan kodrat, SSPX menyatakan bahwa dosa-dosa ketidakmurnian yang melawan kodrat (misalnya gaya hidup LGBT) memiliki keburukan yang "selalu berseru kepada Tuhan untuk menuntut pembalasan." Oleh karenanya SSPX menolak tegas pengakuan "gaya hidup" semacam itu sebagai anugerah dari Tuhan, dan pasangan yang mempraktikkannya "sama sekali tidak dapat diberkati oleh para pelayan Gereja."

Tentang Otoritas Kristus atas Bangsa-bangsa, SSPX menyatakan bahwa institusi dan bangsa-bangsa harus tunduk kepada otoritas Yesus Kristus. Oleh karena itu, sekularisme merupakan penyangkalan implisit terhadap keilahian dan kemerajaan universal Kristus. Bagi SSPX, Kekristenan bukan sekadar fenomena historis, tetapi satu-satunya tatanan yang dikehendaki Tuhan di antara manusia. Dengan demikian bukan Gereja yang harus menyesuaikan diri dengan dunia, tetapi dunia yang harus diubah oleh Gereja.

Deklarasi SSPX ditutup dengan pernyataan yang sangat kuat: "Dengan bantuan Tuhan kita, kami lebih memilih mati daripada melepaskan iman dan prinsip-prinsip ini."

Dokumen ini, yang dikeluarkan pada Pesta Kenaikan Tuhan 2026, merepresentasikan garis pemisah tegas yang ditarik oleh SSPX dari Gereja Sinodal yang menjadi buah dari Konsili Vatikan II. 

Deklarasi ini menempatkan Vatikan pada situasi yang sangat tidak menyenangkan. Menyangkal pernyataan deklarasi ini akan menempatkan Vatikan pada posisi yang menyimpang dari ajaran iman apostolik. Menerima deklarasi ini berarti Vatikan harus mengakui kekeliruan atas semua perubahan yang mereka lakukan sejak Konsili Vatikan II. Sementara jika mereka diam saja, sikap itu akan menjadi lelucon satir dalam sejarah pengkhianatan Konsili Vatikan II.

Kami umat Katolik yang setia pada ajaran iman para Rasul menyatakan berdiri bersama SSPX.

Viva Christo Rey!


Posting Komentar

0 Komentar