Doa Mazmur Yesus Dan SEJARAH MENAKJUBKAN Tradisi Doa Kristen


Transkrip:

1. Pendahuluan:

Kerusakan lingkungan, bencana alam, perang, dan degradasi kemanusiaan menjadi tanda zaman ini. Banyak orang melihat solusinya adalah kembali memperhatikan alam, pengendalian populasi, mengembangkan pembangunan berkelanjutan, mengembangkan nilai-nilai humanisme, dan mengupayakan perdamaian. Beberapa solusi itu mungkin baik, tapi sayangnya tidak menyentuh akar masalah. Problem utama peradaban modern adalah manusia semakin melupakan Tuhan. 

Kita dapat ikut serta memperbaiki dan membangun peradaban dunia ini dengan cara sederhana, yaitu kembali menghadirkan Tuhan dalam hidup kita. Tanpa ini, semua solusi lain akan sia-sia. Salah satu cara untuk menghadirkan Tuhan dalam kehidupan kita adalah melalui doa. Itu sebabnya dalam Injil Tuhan mengajarkan kita Doa Bapa Kami.

Ada doa lain yang tidak secara langsung diajarkan oleh Tuhan, tapi dipraktikan-Nya ketika Ia berdoa semalaman sebelum memilih para Rasul. Dan juga ketika Ia berdoa di Taman Getsemani. Doa itu adalah doa sederhana yang diucapkan berulang-ulang. Kita sebut saja doa semacam ini sebagai doa repetitif. Meski Tuhan Yesus tidak mengajarkannya secara langsung, dalam iman kita percaya, Roh Kudus sendiri yang mengajarkan doa jenis ini kepada orang-orang Kristen di sepanjang sejarah. Tidak hanya di masa lalu, tapi juga di zaman sekarang.

2. Doa Yesus

Sejak Rasul Paulus menasehatkan orang-orang Kristen untuk berdoa setiap waktu, banyak orang Kristen mulai mempraktikkan doa repetitif ini. Rumusan doanya sederhana, misalnya: "Kyrie Eleison", "Tuhan kasihanilah aku...", "Yesus kasihanilah..", dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, ada sebuah rumusan doa singkat yang menjadi sangat populer: "Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa..." Rumusan yang populer ini terus bertahan hingga hari ini. Doa singkat dengan menyebut nama Tuhan yang diulang-ulang ini dalam tradisi Kristen Timur dikenal dengan nama "Doa Yesus." Inilah doa sederhana yang dipraktikkan para pertapa Kristen selama berjam-jam setiap hari.

Kekuatan dari doa sederhana ini terbukti pada abad ke 10 ketika Khalifah Al-Muiz menuntut orang-orang Kristen untuk membuktikan teks Injil, yaitu memindahkan bukit dengan kekuatan iman. Tuntutan ini diikuti ancaman jika gagal orang Kristen diberi pilihan: menjadi Muslim, diusir dari Mesir, atau dibunuh.

Pada hari yang ditentukan, pemimpin orang-orang Kristen Koptik Mesir yaitu Paus Abraham, memimpin orang-orang Kristen Koptik untuk bersama-sama mengucapkan doa sederhana, "Kyrie Eleison" sebanyak 400 kali. Setelah menyelesaikan doa sederhana tersebut, tiba-tiba secara ajaib Bukit Mokatam terangkat ke udara dan bergeser ke arah Barat mendekati sang Kalifah. Karena ketakutan melihat mujizat yang terjadi di depan matanya, Kalifah AL-Muiz meminta Paus Abraham untuk menghentikannya. Menurut sumber tradisi Kristen Koptik, pada hari itu Bukit Mokatam bergeser sejauh 3 kilometer dari tempatnya semula. Beberapa sumber juga mengatakan bahwa Kalifah Al-Muiz akhirnya dibaptis menjadi seorang Kristen.

3. Doa Rosario

Jika Doa Yesus adalah doa repetitif yang lahir dari tradisi kekristenan Timur, di kekristenan Barat juga ada tradisi doa semacam itu. Tradisi ini dimulai sekitar abad 8 di Irlandia. Pada waktu itu para biarawan Katolik selalu mendaraskan 150 Mazmur setiap pagi dalam doa brevir mereka. Banyak orang awam ingin mengikuti kebiasaan ini. Karena pada masa itu rakyat biasa umumnya buta huruf, mulai muncul kebiasaan doa Bapa Kami yang diulang sebanyak 150 kali mengikuti jumlah Mazmur. Doa sederhana ini kemudian dikenal dengan nama Paternoster dan mulai menyebar ke seluruh Eropa.

Pada abad 12 doa Salam Maria mulai populer. Sebagai dampaknya, biarawan Sistersian kemudian mengganti doa Bapa Kami pada doa Paternoster dengan Doa Salam Maria. Mereka menyebut doa yang baru ini sebagai Doa Mazmur Maria.

Perkembangan doa ini memasuki masa yang paling menentukan di abad 13. Ketika itu gerakan bidat albigensian sedang berkembang pesat di Perancis Selatan. Banyak orang Katolik yang mulai menentang ajaran Gereja dan mengikuti gerakan bidat ini. St. Dominikus yang prihatin dengan keadaan ini, berusaha mempertobatkan mereka dengan berkotbah. Tapi selama bertahun-tahun upayanya tidak mendatangkan hasil sehingga ia memutuskan untuk mengasingkan diri dan berdoa memohon pertolongan Bunda Maria.

Setelah tiga hari berdoa dengan tekun, St. Dominikus mendapatkan penampakan Bunda Maria yang berkata kepadanya, "Jangan heran bahwa sampai sekarang engkau memperoleh sedikit buah dari jerih payahmu; engkau telah menggunakannya di tanah yang tandus, yang belum disiram oleh embun rahmat ilahi. Ketika Tuhan berkehendak memperbarui wajah bumi, Ia memulainya dengan mengirimkan hujan penyubur berupa Salam Malaikat. Wartakanlah Mazmurku yang terdiri dari 150 Salam Malaikat dan 15 Doa Bapa Kami, dan engkau akan mendapatkan panen yang berlimpah."

Satu hal baru yang sangat penting yang diajarkan Bunda Maria kepada St. Dominkus adalah menambahkan renungan misteri Injil sebelum Doa Bapa Kami. Seluruhnya ada 15 misteri Injil. Ini membuat Doa Rosario yang diajarkan Bunda Maria menjadi sangat istimewa. Tradisi doa repetitif memang sudah banyak dikenal. Tidak hanya di dalam tradisi kekristenan seperti Doa Yesus dalam tradisi Gereja Timur, melainkan juga dalam tradisi doa di berbagai agama non-Kristen. Tapi baru dalam Doa Rosario inilah doa repetitif dipadukan secara harmonis dengan renungan Injil. Hal ini membuat Doa Rosario memiliki level yang berada di atas semua jenis doa repetitif lainnya.

Dan ternyata doa ini memiliki kuasa yang luar biasa. Banyak orang Katolik yang pada masa itu jatuh ke dalam gerakan bidat albigensian, bertobat dan kembali ke pangkuan Gereja. 

Bahkan doa ini tidak hanya memiliki kekuatan rohani untuk mempertobatkan orang, tapi juga memiliki kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuh Gereja secara militer. Itu terjadi ketika pasukan bidat albigensian yang berjumlah 30 ribu orang, pada tahun 1212 berhadapan dengan 1500 prajurit Katolik di benteng kota Muret.

Sementara panglima pasukan Katolik bersiap menghadapi pertempuran, St. Dominikus berdoa Rosario memohon pertolongan Tuhan. Kekuatan doa ini kemudian membuahkan keajaiban. Pasukan Katolik yang jauh lebih sedikit berhasil mengalahkan musuh yang berjumlah 30 ribu orang dan membuat mereka harus melarikan diri dari medan pertempuran.

Kekuatan Doa Rosario kembali terbukti pada tanggal 7 Oktober 1571, dalam perang Laut Lepanto. Ketika itu Armada Liga Suci yang dipimpin Raja Don Juan harus berhadapan dengan kekuatan Armada Kekalifahan Ottoman Turki yang jauh lebih kuat. 

Selama perjalanan menuju medan pertemouran hingga sebelum pertempuran terjadi, seluruh pasukan Armada Liga Suci berdoa Rosario. Sementara itu Paus St. Pius V juga memimpin umat Katolik di Roma untuk berdoa Rosario memohon pertolongan Tuhan. 

Dampak dari kekuatan doa ini luar biasa. Armada Kekalifahan Ottoman Turki yang saat itu menjadi armada laut terkuat di dunia, dihancurkan dalam pertempuran tersebut. Kemenangan ajaib ini berhasil menghentikan untuk seterusnya upaya invasi laut dari kekuatan Islam. Selanjutnya, Paus St. Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta Bunda Maria Ratu Kemenangan. Sampai sekarang Gereja Katolik masih merayakan hari bersejarah itu sebagai pesta Bunda Maria Ratu Rosario.

4. Doa Mazmur Yesus - Perpaduan Harmonis Dua Tradisi

Kekristenan Timur dan Barat, selama berabad-abad masing-masing sudah mengembangkan tradisi doa repetitifnya sendiri. Doa Yesus untuk kekristenan Timur dan Doa Rosario untuk kekristenan Barat. Apakah dengan demikian perkembangan tradisi doa repetitif dalam sejarah kekristenan sudah selesai?

Ternyata tidak.

Tradisi doa repetitif dalam kekristenan masih terus berlanjut dengan munculnya doa yang menggabungkan kesederhanaan Doa Yesus dan kedalaman Doa Rosario.

Semuanya berawal dari sekelompok orang-orang muda Katolik di Bandung, yang pada sekitar pertengahan tahun 90-an membentuk sebuah komunitas diskusi. Awalnya kegiatan mereka membahas masalah filsafat dan sosial-politik. Namun dalam perkembangannya berubah menjadi kelompok doa yang mencoba mempraktikkan bermacam-macam tradisi doa.

Terinspirasi buku "The Way of a Pilgrim" kelompok ini pada suatu hari mencoba mempraktikkan Doa Yesus. Tapi sebagai Katolik, alat yang mereka gunakan untuk menghitung pengulangan doa adalah untaian rosario. Pada dasarnya untaian rosario dirancang untuk mendaraskan dua macam doa dalam setiap dekade, yaitu 1 doa Bapa Kami dan 10 doa Salam Maria. Dari sini muncullah gagasan untuk menambahkan doa lain untuk diucapkan pada butir Bapa Kami.

Selanjutnya inilah Doa Yesus versi baru yang dipraktikkan di kelompok tersebut:

Pada butir Salam Maria:
"Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa."

Pada butir Bapa Kami:
"Tuhan Yesus Kristus, aku mengasihi Engkau."

Kedua doa ini disebut sebagai doa inti dan berakar kuat dalam Injil. Doa pertama adalah doa yang diajarkan Tuhan Yesus melalui perumpamaan doa pemungut cukai, dan sekaligus juga seruan orang buta di Yerikho. Sementara doa yang kedua terinspirasi oleh jawaban Petrus ketika ditanya oleh Tuhan Yesus sebanyak tiga kali.

Segera saja Doa Yesus versi baru ini menjadi doa favorit dalam kegiatan doa kelompok. Akhirnya pada tanggal 4 Juni 1996, komunitas ini memperoleh peneguhan bahwa Tuhan menghendaki doa ini terus dipraktekkan dan dikembangkan. Pada hari itu doa ini memperoleh nama baru, yaitu Meditasi Yesus. Awalnya, nama ini digunakan sekedar untuk membedakannya dengan nama Doa Yesus yang sudah dipakai untuk menyebut doa aslinya.

Sayang sekali, komunitas ini pada akhirnya harus bubar karena kesibukan anggota-anggotanya dan alasan-alasan lain sebelum mereka sempat mengembangkan doa ini lebih lanjut.

Pada tahun 2015, salah satu eks-anggota komunitas tersebut yang masih tekun mempraktekkan doa ini, menulis buku. Buku tersebut berjudul "Meditasi Yesus" dan diterbitkan oleh penerbit Kanisius, Yogyakarta. Rm. Istimoer Bayu ikut berpartisipasi menulis kata pengantar untuk buku tersebut. Sedangkan 'nihil obstat' diberikan oleh Rm. Hasto Rosariyanto, SJ dan 'imprimatur' oleh Rm. FX Sukendar Wignyosumarta, Pr. Dengan demikian doa ini resmi dinyatakan bebas dari hambatan doktrinal dan layak untuk dipraktekkan oleh umat Katolik.

Munculnya channel Youtube Crusader Network ikut memberikan kontribusi bagi perkembangan doa ini. Adanya komunitas online memunculkan kebutuhan untuk mengadakan kegiatan doa secara online untuk memupuk semangat spiritualitas komunitas ini. Dari sinilah muncul gagasan untuk mengembangkan Meditasi Yesus ke dalam format yang dapat digunakan dalam kegiatan doa online.

Setelah mencoba berbagai kemungkinan, akhirnya diputuskan untuk mengikuti format Doa Rosario dengan menambahkan renungan Injil. Tapi berbeda dengan Doa Rosario, tema renungan Injil yang dipilih lebih mirip dengan doa Jalan Salib, yaitu renungan misteri Kalvari. Renungan pertama dimulai dengan Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani, dan diakhiri dengan Tuhan Yesus dimakamkan. Total jumlah renungan ada 15.

Karena doa ini sudah sangat mirip dengan format Doa Rosario asli yang diajarkan Bunda Maria kepada St. Dominikus, nama doa ini pun ikut diubah menjadi Doa Mazmur Yesus mengikuti nama Doa Mazmur Maria yang diberikan oleh Bunda Maria. Jika tradisi Katolik mengenal ada Hati Kudus Yesus dan Hati Bunda Maria Tak Bernoda, maka cukup masuk akal kalau ada Doa Mazmur Yesus yang menjadi pasangan dari Doa Mazmur Maria atau Doa Rosario.

Dalam perkembangan selanjutnya, doa ini tidak hanya dibatasi pada format asli dengan 15 renungan misteri, tapi dapat ditambah dengan melanjutkan doa inti tanpa batas waktu. Pada doa tambahan ini Hati Kudus Yesus dipilih sebagai fokus renungan. Meski demikian nama doa ini tetap disebut sebagai Doa Mazmur Yesus.

Itu tadi sejarah singkat munculnya Doa Mazmur Yesus.

4. Anugerah Roh Kudus Untuk Zaman ini?

Sekarang muncul pertanyaan ini: apa yang menjadi kekuatan khas dari Doa Mazmur Yesus sehingga kehadirannya tidak sekedar menambah banyaknya variasi doa-doa dalam tradisi kekristenan yang sudah sangat banyak?

Salah satu kekuatan Doa Mazmur Yesus terletak pada rumusan doa inti yang kedua:

"Tuhan Yesus Kristus, aku mengasihi Engkau"

Setidaknya ada tiga teks Injil yang dikaitkan secara langsung dengan orang yang mengasihi Yesus.

"Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku" (Yoh.14:15)

"Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." (Yoh.14:21)

"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia." (Yoh.14:23)

Jadi setidaknya inilah tiga anugerah yang bisa kita harapkan dari Doa Mazmur Yesus: kesetiaan pada ajaran Tuhan, anugerah untuk memahami kebenaran, dan persatuan dengan Tuhan. 

Itu semua adalah anugerah yang sangat dibutuhkan di zaman sekarang....

Salah satu tanda-tanda zaman ini adalah hilangnya kesetiaan pada ajaran Tuhan, bahkan pada orang-orang terpilih sekalipun. Melalui doa ini, Tuhan akan menganugerahkan kita kekuatan untuk tetap setia pada ajaran Tuhan. Juga zaman ini ditandai oleh semakin kaburnya nilai-nilai kebenaran, termasuk pada orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran. Melalui doa ini Tuhan akan menganugerahkan kita karunia hikmat pengertian untuk memahami kebenaran. Dan tentang anugerah persatuan dengan Tuhan, itu adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual manusia. Itulah tiga anugerah penting yang bisa diperoleh setiap orang yang setia mempraktikkan doa ini dengan tekun.

Ada satu hal penting lagi. Karena doa ini merupakan perpaduan harmonis antara doa-doa dari tradisi Kristen Timur dan Barat, maka Doa Mazmur Yesus seharusnya dapat dipraktikkan oleh semua Kristen. Di tengah banyaknya kelompok Kristen yang berbeda-beda sekarang ini, kehadiran doa yang dapat dipraktikkan semua Kristen menjadi sangat penting. Doa semacam itu bisa menjadi salah satu sarana untuk membangun semangat persatuan Kristen.

Jadi, apakah kehadiran Doa Mazmur Yesus adalah karya Roh Kudus untuk zaman kita? Biarlah sejarah yang membuktikannya kelak. Yang lebih penting bagi kita, mari kita gunakan doa sederhana ini sebagai sarana rohani untuk menghadirkan Tuhan di dalam hidup kita masing-masing.


 



Posting Komentar

0 Komentar