Berdirinya Israel Dan Genosida Yahudi

 


Transkrip:

Salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Pada video pertama kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa menurut dokumen tertua yang ada, yaitu Alkitab, pemilik tanah Palestina adalah bangsa Yahudi. Dan dengan kemerdekaan negara Israel pada tahun 1948 yang diakui oleh PBB, kepemilikan itu sekarang juga sudah diakui secara sah menurut hukum internasional.

Tapi fakta tersebut tetap tidak bisa menghentikan propaganda para pendukung Palestina yang selalu meneriakkan slogan berbau genosida, "From the river to the sea, Palestine will be free!" yang arti sesungguhnya adalah menuntut hapusnya negara Israel untuk digantikan dengan negara Palestina. Jadi yang sesungguhnya menjadi tuntutan para pendukung Palestina jelas bukan solusi damai dua negara (atau "two-state solution"), tapi mereka menginginkan hanya ada satu negara saja yang boleh ada, yaitu Palestina!

Untuk memahami persoalan ini dengan lebih baik, mari kita melihat bagaimana munculnya negara Israel dan berbagai konflik yang menyertainya.

Keberadaan negara Israel sekarang ini tidak bisa lepas dari gagasan seorang Yahudi bernama Theodor Herzl. Karena keprihatinan yang mendalam melihat begitu banyak penderitaan dan penindasan yang dialami bangsa Yahudi di berbagai negara, ia menuliskan perlunya sebuah negara bagi bangsa Yahudi dalam sebuah pamflet berjudul "De Judenstaat" pada tahun 1896.

Gagasan ini segera menyebar diantara orang-orang Yahudi yang kemudian mengadakan kongres zionisme pertama pada tahun 1897. Pada awalnya ada beberapa alternatif lokasi untuk negara Yahudi ini, misalnya: Argentina, Uganda, Alaska, dan lain-lain. Namun pada akhirnya mereka sepakat untuk manjadikan tanah Palestina yang menjadi tempat asal nenek moyang mereka sebagai tempat bagi negara Yahudi yang mereka cita-citakan.

Gagasan Theodor Herzl ini kemudian mendorong sebagian orang Yahudi di Eropa mulai bermigrasi ke tanah Palestina. Inilah yang kemudian dikenal dengan nama gerakan zionisme.

Pada tahun 1904, Theodor Herzl mengunjungi Paus St. Pius X untuk meminta dukungan bagi gerakan zionisme ini. Tapi Paus mengatakan bahwa dia tidak dapat mendukung gerakan tersebut namun juga tidak melarang atau menghalanginya. Sikap netral ini dapat dipahami karena dukungan terhadap gerakan zionisme dapat menjadi skandal iman seolah-olah Gereja Katolik mengakui atau mendukung iman Yahudi.

Momen terpenting bagi gerakan zionisme muncul setelah kemenangan Inggris dan sekutunya dalam Perang Dunia I. Perlu dicatat bahwa selama Perang Dunia I banyak orang-orang Yahudi kaya yang memberikan dukungan finansial bagi Inggris dan sekutu-sekutunya. Sebagai balas jasa atas dukungan orang-orang Yahudi, setelah Inggris memenangkan perang dan mengambil alih tanah Palestina serta Trans-Yordania dari Kekalifahan Ottoman Turki, pada tahun 1917 Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menyatakan dukungannya atas pendirian negara Yahudi di tanah Palestina dan Trans-Yordania.

Setelah terbitnya Deklarasi Balfour, semakin banyak orang Yahudi yang datang ke tanah Palestina dan juga Trans-Yordania. Tapi dalam perkembangannya, orang-orang Arab di Trans-Yordania melakukan pemberontakan. Akibatnya mandat penuh Liga Bangsa-Bangsa yang diberikan kepada Inggris pada tahun 1922 hanyalah untuk wilayah Palestina, sementara untuk wilayah Trans-Yordania status Inggris hanya sebagai pelindung. Namun kondisi ini sudah cukup memberikan harapan bagi orang-orang Yahudi untuk mewujudkan negara mereka sendiri.

Perlu dicatat, bahwa kedatangan orang-orang Yahudi ke Palestina bukanlah dengan cara semena-mena menduduki tanah orang-orang Arab yang ada di sana dengan bantuan pemerintah Inggris. Mereka melakukannya melalui transaksi jual-beli tanah yang legal. Biasanya, kepada kaum pendatang Yahudi orang-orang Arab menjual tanah-tanah mereka yang tidak produktif, seperti tanah-tanah di padang gurun dan sebagainya, dengan harga yang jauh di atas harga pasar pada masa itu.

Namun orang-orang Yahudi pendatang ini kemudian mengolah tanah-tanah yang tidak produktif tersebut dan mengubahnya menjadi daerah pertanian yang subur serta bernilai ekonomi tinggi. Inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan sosial dan berbagai ketegangan dengan warga Arab. Ditambah dengan semangat anti-Yahudi yang dihidupkan oleh para pemuka agama Islam, kecemburuan sosial ini kemudian meningkat menjadi konflik kekerasan. Akibatnya sejak tahun 1920 hingga tahun 1939 muncul berbagai upaya penindasan dan pembantaian dari kelompok-kelompok bersenjata Arab terhadap warga Yahudi di Palestina. Fakta ini biasanya jarang diungkap oleh para pendukung Palestina.

Konflik berkepanjangan antara komunitas Arab dan Yahudi ini kemudian mendorong pemerintah Inggris membentuk Komisi Peel untuk mencari solusinya. Pada tahun 1937 Komisi Peel merekomendasikan perlunya partisi atau pemisahan wilayah antara komunitas Arab dan Yahudi di tanah Palestina. Gagasan inilah yang kelak diadopsi oleh PBB pada tahun 1947.

Ada sebuah fakta gelap yang juga jarang sekali diungkap oleh para pendukung Palestina tentang konflik Arab-Yahudi di tanah Palestina ini. Pada tanggal 4 November 1941 saat Perang Dunia II sedang berlangsung, Mufti Yerusalem, Haji Amin Al-Hussaini, pergi menemui Hitler. Salah satu tujuannya adalah meminta dukungan untuk menghabisi atau mengusir orang-orang Yahudi di Palestina mengingat Hitler juga memiliki kebencian yang sama terhadap Yahudi. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, diadakanlah "Operasi Atlas' pada bulan Oktober 1944 yang bertujuan untuk melakukan infiltrasi dan meracuni sumber-sumber air komunitas Yahudi. Namun operasi ini terbongkar dan gagal total.

Meski tidak memberikan hasil kongkrit, pertemuan Mufti Yerusalem dan Hitler serta Operasi Atlas yang gagal sudah cukup untuk menjadi bukti sejarah atas kuatnya kebencian komunitas Arab yang dikompori oleh ulama-ulama Islam, terhadap komunitas Yahudi!

Setelah Perang Dunia II, bencana Holocaust yang menimpa bangsa Yahudi di Eropa menimbulkan simpati dan dukungan yang semakin luas bagi terwujudnya negara Yahudi. Akibatnya gelombang migrasi Yahudi ke tanah Palestina semakin banyak sehingga populasinya meningkat dengan sangat pesat. Pada tahun 1931, populasi orang-orang Yahudi di Palestina diperkirakan sekitar 175 ribu orang. Namun setelah Perang Dunia II populasinya meningkat menjadi 650 ribu orang.

Satu tahun menjelang berakhirnya mandat Inggris di Palestina, yaitu tahun 1947, melalui resolusi nomor 181 PBB menawarkan "Rencana Partisi" yang membagi dua wilayah Palestina. Dalam "Rencana Partisi" tersebut disebutkan bahwa satu bagian wilayah Palestina untuk warga Yahudi, sedangkan bagian lain untuk orang Arab lokal, sementara itu kota Yerusalem berada di bawah pengawasan internasional. Pada dasarnya pembagian wilayah oleh PBB dalam "Rencana Partisi" tersebut tidak memuaskan kedua belah pihak, namun orang Yahudi bersedia berkompromi dan menerimanya sementara orang-orang Arab dengan tegas menolak. Inilah usulan solusi dua negara yang pertama, hasilnya Yahudi setuju tapi Arab menolak!

Sehari menjelang berakhirnya mandat Inggris di Palestina, yaitu tanggal 14 Mei 1948, David Ben Gurion menyatakan kemerdekaan negara Yahudi yang diberi nama ISRAEL, dengan batas-batasnya sesuai usulan PBB dalam Rencana Partisi 1947. Tindakan ini ternyata menyulut kemarahan orang-orang Arab. 

Tidak berapa lama kemudian negara-negara Arab di sekitarnya, yaitu Mesir, Irak, Suriah, Yordania, dan Arab Saudi, bersama-sama mulai menyerang negara Israel yang baru saja merdeka. Meski perang ini tidak seimbang, secara ajaib peperangan ini berhasil dimenangkan oleh Israel. Perang Israel-Arab ini berakhir pada tahun 1949 melalui gencatan senjata. Israel menyebutnya sebagai perang kemerdekaan.

Dampak dari perang kemerdekaan ini, Israel memperoleh wilayah yang jauh lebih besar dari apa yang ditetapkan PBB melalui Rencana Partisi 1947. Sementara itu wilayah yang sebelumnya direncanakan bagi komunitas Arab lokal seperti Jalur Gaza dikuasai oleh Mesir, sedangkan wilayah "Yudea dan Samaria" serta Yerusalem dikuasai oleh Yordania. Selanjutnya wilayah "Yudea dan Samaria" ini oleh Yordania diubah namanya menjadi wilayah "Tepi Barat." Demikian juga kota Yerusalem oleh Yordania dibagi dua menjadi Yerusalem Barat dan Yerusalem Timur. Garis gencatan senjata setelah perang Israel-Arab inilah yang sekarang sering disebut-sebut sebagai garis perbatasan sebelum tahun 1967 dan digunakan sebagai acuan untuk solusi "dua negara" bagi konflik Israel-Palestina.

Perang kemerdekaan Israel juga menyebabkan sekitar 600 ribu orang Arab di Palestina mengungsi ke berbagai negara seperti Lebanon, Suriah, dan Yordania. Terusirnya ratusan ribu orang Arab akibat perang ini kemudian sering disebut sebagai peristiwa "Nakba" atau bencana. Mereka inilah yang menjadi cikal-bakal dari pengungsi Palestina sekarang ini.

Kemudian pada tahun 1964 Yasser Arafat mendirikan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) yang bertujuan untuk memusnahkan negara Israel dan menggantinya dengan negara Palestina merdeka. Sejak Yasser Arafat mendirikan PLO inilah orang-orang Arab di Palestina mulai dikenal sebagai bangsa Palestina. Jadi bangsa Palestina sebenarnya tidak lain adalah bangsa fiktif ciptaan Yasser Arafat yang lahir dari semangat genosida untuk menghapuskan negara Israel!

Semangat genosida untuk melenyapkan negara Israel itu sangat jelas terlihat pada logo PLO yang menggambarkan seluruh negara Israel, termasuk Jalur Gaza dan Tepi Barat, sebagai negara Palestina merdeka yang mereka cita-citakan. Semangat genosida ini juga yang tercermin dari slogan para pendukung Palestina, "From the river to the sea, Palestine will be free!" Dengan demikian bagi orang-orang Palestina dan para pendukungnya, musnahnya negara Israel adalah syarat mutlak bagi kemerdekaan Palestina!

Pada tahun 1967, tiga negara Arab yaitu Mesir, Suriah, dan Yordania merencanakan serangan besar-besaran ke Israel. Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser sebelum perang terjadi bahkan sempat sesumbar untuk mengusir semua orang Yahudi ke laut! Namun Israel yang mengetahui rencana tersebut memutuskan untuk segera melakukan serangan kilat terlebih dahulu. Perang ini kemudian dikenal dengan nama: Perang 6 hari. 

Perang tersebut kembali dimenangkan secara ajaib oleh Israel dan berakibat wilayah Israel bertambah luas menjadi hampir 3 kali lipat. Setelah perang tersebut Israel menguasai sepenuhnya Jalur Gaza dan Tepi Barat (atau "Yudea dan Samaria"), Gurun Sinai yang direbut dari Mesir, serta Dataran Tinggi Golan yang direbut dari Suriah.

Setelah kekalahan memalukan dalam "Perang 6 Hari" ini beberapa negara Arab berkumpul di Khartoum, ibukota Sudan, dan mengeluarkan pernyataan TIGA TIDAK yang terkenal: tidak berdamai dengan Israel, tidak mengakui Israel, dan tidak bernegosiasi dengan Israel.

Pada hari Sabat dan bulan puasa Yahudi, tepatnya tanggal 6 Oktober 1973, Mesir dan Suriah mengadakan serangan mendadak yang hampir saja dapat mengalahkan Israel. Namun dengan perjuangan yang berat Israel berhasil membalikkan keadaan dan sekaligus mempertahankan sebagian besar wilayah-wilayah yang sudah direbutnya dalam perang tahun 1967. Perang ini kemudian dikenal sebagai "Perang Yom Kippur." Inilah perang terbuka yang terakhir antara Israel dan negara-negara Arab sebelum terjadinya berbagai upaya perundingan damai.

Apa yang dapat kita simpulkan dari sejarah berdirinya negara Israel dan berbagai konflik yang mengikutinya?

Jauh sebelum kemerdekaan Israel, memang sudah ada upaya-upaya untuk menindas dan bahkan meniadakan keberadaan orang-orang Yahudi di Palestina. Itu fakta! 

Upaya orang-orang Arab di Palestina untuk menindas dan membantai komunitas-komunitas Yahudi sejak tahun 1920 ditambah dengan upaya kerjasama yang dibangun antara Mufti Yerusalem Haji Amin al-Husaini dengan Hitler pada tahun 1941, dan Operasi Atlas yang gagal tahun 1944, menjadi bukti sejarah yang tak dapat dibantah tentang adanya upaya genosida terhadap komunitas Yahudi di Palestina.

Demikian juga penolakan orang-orang Arab Palestina atas "Rencana Partisi" 1947 oleh PBB sebenarnya bukan didasarkan pada pembagian wilayah yang tidak adil atau alasan-alasan lain. Seberapa besar pun wilayah yang didapatkan orang-orang Arab Palestina dalam Rencana Partisi PBB, PASTI TETAP AKAN DITOLAK. Alasan sesungguhnya adalah mereka TIDAK MENGHENDAKI KEBERADAAN NEGARA YAHUDI di tanah Palestina, entah sekecil apapun itu!

Itulah sebabnya setelah negara Israel menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1948, beberapa negara Arab langsung berperang mengeroyoknya dengan satu tujuan: yaitu untuk mengusir semua orang Yahudi dari tanah Palestina! Begitu juga perang-perang Arab-Israel selanjutnya dilakukan dengan tujuan yang sama: negara-negara Arab ingin memusnahkan negara Israel dan menghapusnya dari peta Timur Tengah!

Bahkan pendirian PLO oleh Yasser Arafat juga didasarkan niat yang sama: yaitu genosida terhadap bangsa Yahudi dengan cara menghapuskan negara Israel dari peta! PLO didirikan pada tahun 1964 dimana pada saat itu wilayah Jalur Gaza dikuasai oleh Mesir dan Tepi Barat (atau "Yudea dan Samaria") dikuasai oleh Yordania. Jika tujuan PLO adalah untuk memperoleh negara Palestina merdeka, mengapa mereka tidak pernah menuntutnya dari Mesir atau Yordania? Mengapa mereka hanya melakukan perlawanan terhadap Israel saja?

Jawabannya jelas: negara Palestina merdeka bukanlah tujuan PLO yang sebenarnya! Niat utama PLO cuma satu: yaitu melakukan genosida terhadap bangsa Yahudi dengan cara melenyapkan negara Israel! Sementara itu negara Palestina merdeka hanyalah sekedar bonus apabila tujuan utama itu tercapai!

Para pendukung Palestina selalu beralasan bahwa Israel adalah negara penjajah yang menduduki wilayah milik bangsa Palestina secara tidak sah. Tapi itu alasan omong kosong! 

Kita tahu ketika negara Israel menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1948, tidak ada yang namanya bangsa Palestina. Tanah Palestina dulunya selama berabad-abad dikuasai oleh Kekalifahan Ottoman Turki, kemudian setelah Perang Dunia I diberikan mandatnya kepada Inggris oleh Liga Bangsa-Bangsa. Jadi tidak pernah ada yang namanya negara atau kerajaan bernama Palestina. Oleh karenanya narasi bahwa Israel menduduki atau menjajah tanah bangsa Palestina sesungguhnya sama sekali tidak benar!

Selain itu kedatangan orang-orang Yahudi ke tanah Palestina juga dilakukan secara legal dan mereka membeli tanah-tanah yang mereka tempati melalui transaksi jual-beli yang sah. Jadi ketika negara Israel menyatakan kemerdekaannya, mereka hanya mengklaim wilayah yang sudah ditetapkan oleh PBB dan tidak pernah merebut atau menduduki tanah milik bangsa Palestina yang pada waktu itu memang tidak ada. Ingat, dokumen Rencana Partisi 1947 oleh PBB sama sekali tidak menyebut tanah bagi bangsa Palestina, tapi bagi orang Arab dan orang Yahudi! Itu fakta sejarah!

Jadi sekarang kita bisa melihat konflik Israel dengan Palestina dan negara-negara Arab dalam perpektif yang jelas:

Bagi negara Israel, konflik tersebut adalah perjuangan eksistensial untuk mempertahankan diri dari upaya pemusnahan! Sementara bagi orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai bangsa Palestina dan juga bagi negara-negara Arab serta negara-negara Timur Tengah lainnya, konflik tersebut adalah upaya genosida yang jahat untuk menentang kehadiran bangsa Yahudi di tengah-tengah mereka! Dengan demikian selama Palestina tidak mengubah paradigmanya, dukungan terhadap Palestina sama artinya dengan dukungan terhadap upaya genosida terhadap dangsa Israel!

Maka tidak heran jika dalam konflik tersebut tampaknya Tuhan lebih berpihak pada Israel!

Terima kasih atas perhatian anda...


Viva Christo Rey!


Posting Komentar

0 Komentar