TRADITIONIS CUSTODES Dan Terbongkarnya TOPENG Konsili Vatikan II (part 3 - selesai)


 Transkrip video:


Pax vobis, salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Dari dua video sebelumnya sudah sangat jelas bahwa kita sekarang masuk dalam periode akhir jaman dimana Gereja Kristus eksis bersama-sama dengan Gereja Antikristus di dalam satu wadah Gereja Katolik, tepat seperti perumpamaan gandum dan lalang. Dokumen Traditionis Custodes secara implisit sudah mengkonfirmasi itu!

Keberadaan Gereja Antikristus ini menjelaskan semua anomali yang terjadi di Gereja Katolik pasca-Konsili. Mulai dari berbagai sakrilegi terhadap Tubuh Kristus yang sengaja dibiarkan terjadi melalui penerimaan Komuni di tangan, skandal homoseksual yang begitu mengakar di kalangan hirarki, skandal doa bersama semua agama, Paus mencium Quran, Paus membiarkan azan berkumandang di Vatikan, skandal pachamama di Basilika St. Petrus, dan banyak lagi. Hanya dalam Gereja Antikristus saja itu semua dapat terjadi dan dibenarkan!

Itu juga menjelaskan mengapa Gereja Konsili melalui Paus Fransiskus dalam dokumen Traditionis Custodes menetapkan Misa Novus Ordo sebagai satu-satunya lex orandi Gereja Konsili! 

Misa Latin Tradisional yang sudah digunakan selama berabad-abad sudah pasti jauh lebih superior dari Misa Novus Ordo yang sengaja dibuat untuk mengakomodasi semangat ekumenisme. Keduanya dapat dibandingkan seperti korban persembahan Habel yang diterima Tuhan dan korban persembahan Kain yang diabaikan Tuhan. Ketika harus memilih salah satu, Gereja Konsili justru memilih Misa Novus Ordo yang miskin dengan berkat dan sebaliknya menyingkirkan Misa Latin Tradisional yang berlimpah dengan berkat Tuhan! Seperti ibu tiri yang jahat, yang memberikan ular ketika anaknya membutuhkan roti, begitulah perilaku Gereja Konsili alias Gereja Antikristus!

Keberadaan Gereja Antikristus bersama-sama Gereja Kristus belum pernah terjadi dalam sejarah Gereja sebelumnya. Jadi ini situasi yang menuntut tanggapan yang juga tidak biasa dari kita. Tapi karena situasi ini sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci seperti dalam perumpamaan gandum dan lalang, tentu di dalam Kitab Suci Tuhan juga sudah memberikan petunjuk bagaimana kita harus bersikap menghadapi situasi tersebut!

Bukan kebetulan jika dalam Kitab Wahyu juga disebutkan tentang dua perempuan. Yang satu adalah perempuan yang berselubung matahari (Why.12) dan lainnya adalah perempuan pelacur yang disebut sebagai Babel besar (Why.17-18). Perempuan yang berselubung matahari melambangkan Gereja Kristus yang dianiaya dan ingin disingkirkan. Sementara perempuan yang disebut Babel besar melambangkan Gereja Antikristus yang mencemarkan dirinya dengan keinginan dunia.

Mengenai Babel besar, inilah yang dikehendaki Tuhan bagi kita, "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya..." (Why.18:4-5).

Ini dengan tepat menggambarkan keadaan Gereja Konsili yang menyesatkan banyak umat Tuhan ke dalam agenda ekumenisme, yaitu membangun satu agama global yang akan melayani Tatanan Dunia Baru. Gereja Konsili yang sudah tidak setia pada Tuhan dan memilih melayani dunia memang tepat jika dilambangkan sebagai perempuan pelacur! Tuhan menghendaki kita segera keluar dari Gereja Konsili dan tidak ikut terlibat dalam agenda jahatnya yang melawan kehendak Tuhan!

Seperti yang saya singgung di video sebelumnya, penyesatan Gereja Konsili ini berlangsung secara gradual. Seperti kodok-kodok yang direbus dalam panci dengan api kecil, perubahan berlangsung secara bertahap sehingga membuat banyak sekali orang Katolik yang tidak menyadari bahaya dan agenda jahatnya. Hanya orang-orang terberkati seperti Mgr. Lefebvre yang mampu melihat kesesatan Gereja Konsili bahkan sebelum buah-buah buruknya bermunculan. 

Saya sendiri sampai dengan tahun 2013 termasuk orang yang loyal pada KVII. Baru setelah Paus Benediktus XVI mengundurkan diri dan digantikan oleh Paus Fransiskus, saya mulai menyadari buah-buah buruk yang begitu banyak dari KVII. Sejak saat itu saya mulai bersikap kritis hingga akhirnya memutuskan untuk menolak KVII. Uskup Agung Vigano juga termasuk orang-orang yang mulai menyadari masalah KVII di masa Paus Fransiskus. Secara jujur dia mengakui dalam sebuah pernyataan publik, bahwa selama ini dia telah tertipu! Kita berharap semakin banyak orang Katolik, baik klerus maupun awam, yang bersikap seperti Uskup Agung Vigano: mau dengan rendah hati dan jujur mengakui telah tertipu oleh KVII!

Sekarang, dengan adanya dokumen Traditionis Custodes seharusnya menjadi semakin jelas bahwa KVII memang menyesatkan dan harus ditolak! Dokumen ini menjadi pernyataan resmi yang implisit bahwa Gereja Konsili memang berbeda dengan Gereja Kristus yang diwariskan oleh para Rasul! Dokumen ini bagaikan peringatan terakhir bagi kodok-kodok konsili yang sedang direbus di dalam panci ekumenisme untuk segera keluar sebelum air menjadi terlalu panas! 

Mereka yang setelah adanya dokumen Traditionis Custodes masih juga tidak mau menyadari kesesatan Konsili Vatikan II mungkin memang akan seterusnya menjadi pengikut Gereja Konsili alias Gereja Antikristus sampai akhir. Jiwa mereka sudah berhasil dirusak oleh semangat ekumenisme terlalu dalam dan kemurtadan tampaknya sudah menjadi pilihan mereka. Dengan situsi demikian nubuat Rasul Paulus tentang kemurtadan sebelum kedatangan Tuhan (2Tes.2:3) menjadi sangat masuk akal!

Jika berbagai skandal dan buah-buah buruk yang terjadi pasca-Konsili ditambah dokumen Traditionis Custodes masih tidak juga menyadarkan mereka, mungkin memang tidak ada lagi yang dapat membuat mereka sadar. Hanya keajaiban Tuhan sajalah yang masih dapat menyelamatkan jiwa mereka!

Sekarang, bagi kita yang sudah menyadari kesesatan KVII, apa yang harus kita lakukan?

Sabda Tuhan dalam Kitab Wahyu (Why.18:4-5) jelas menghendaki kita keluar dari Gereja Konsili. Apakah itu berarti kita keluar dari Gereja Katolik dan memilih menjadi anggota Gereja lain?

Tentu saja TIDAK!

Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja Kristus! Di luar Gereja Katolik, tidak ada Gereja Kristus dan oleh karenanya tidak ada keselamatan! Gereja Katolik adalah satu-satunya bahtera yang dibangun Tuhan demi keselamatan kita. Apapun yang terjadi di dalam bahtera tersebut sudah diperhitungkan Tuhan sejak awal dan dipastikan tidak akan pernah membuat bahtera tersebut tenggelam! Maka tetap tinggal di dalamnya, yaitu tetap setia di dalam Gereja Katolik adalah pilihan logis satu-satunya!

Lalu apakah kita menjadi sedevakantis?

Juga tidak!

Kaum sedevakantis hampir sama dengan Katolik tradisionalis, mereka juga menolak KVII. Tapi mereka bertindak lebih jauh dengan menolak mengakui semua Paus setelah Paus Pius XII. Alasannya, semua Paus yang mengakui KVII adalah bidat dan karenanya mereka bukan Paus yang valid. Biasanya mereka mengambil sepotong-sepotong pandangan Bapa-bapa Gereja seperti St. Vincent Lerins, St. Robertus Belarminus, St. Cajetan, dan lain-lain, untuk mendukung posisi mereka.

Bagi sedevakantis, praktis hari ini sudah tidak ada satu kardinal pun yang valid dan konsekuensinya tidak mungkin ada Paus valid yang dapat dipilih untuk memimpin Gereja Katolik sampai kedatangan Tuhan! Akibatnya, posisi sedevakantis membuat kekosongan Tahta Petrus bersifat permanen! Ini jelas bertentangan dengan kehendak Tuhan yang mendirikan Gereja-Nya dengan Petrus sebagai fondasinya (Mat.16:18). Artinya, tanpa Petrus tidak ada Gereja Kristus! Karena Tuhan menjanjikan Gereja-Nya akan tetap ada sampai akhir jaman, maka Petrus dan para penggantinya juga akan tetap ada sampai akhir jaman!

Tahta Petrus memang bisa kosong sementara, seperti saat Paus yang lama meninggal dan menunggu terpilihnya Paus baru. Bahkan ada juga kekosongan Tahta Petrus yang berlangsung selama bertahun-tahun. Tapi bagaimanapun kekosongan tersebut sifatnya sementara, bukan permanen seperti yang terjadi akibat posisi kaum sedevakantis.

Bahkan Paus yang bidat pun pernah ada dalam sejarah, misalnya Paus Honorius di abad 7. Karena pandangan monoteletismenya yang bidat dia di-anathema (dikutuk) oleh Paus penggantinya. Tapi bagaimanapun Paus Honorius tetaplah Paus yang valid sampai dengan akhir hidupnya. Jadi, meskipun menurut pandangan Bapa-bapa Gereja Paus yang bidat tidak dapat menjadi Paus, harus ada keputusan resmi yang jelas untuk menyatakan itu. Selama tidak ada keputusan resmi yang tegas maka Paus tersebut tetap valid.

Karena posisi sedevakantis bertentangan dengan kehendak Tuhan maka kita harus menolaknya. Kaum sedevacantis pada dasarnya adalah skismatis, mereka tidak lagi menjadi bagian dari Gereja Katolik! Oleh karenanya kita tidak bisa mengikuti posisi mereka yang sesat!

Jadi kesimpulannya kita harus tetap di dalam Gereja Katolik dan tetap mengakui kepemimpinan Paus, tetapi kita tegas menolak KVII dan semua kesesatannya! 

Seperti yang anda pasti juga tahu, banyak video-video CN yang mengkritik keras Paus Fransiskus, tapi saya tetap mengakuinya sebagai Paus yang sah dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Rasul Petrus sebagai pemimpin para rasul pun pernah dihardik oleh Rasul Paulus di muka umum ketika melakukan kesalahan. Meski demikian Rasul Paulus tetap mengakui Rasul Petrus sebagai pemimpin Gereja Tuhan. Itu menjadi bukti bahwa Paus tidak infallibel dalam segala hal sehingga dalam hal tertentu tetap bisa salah. Oleh karenanya kita tidak bisa taat buta kepada seorang Paus, siapapun dia.

Untuk memahami posisi ini kita bisa mengambil teladan Nabi Daniel. 

Setelah penaklukan Yerusalem oleh Raja Nebukadnezar, Daniel hidup dalam pembuangan di Tanah Babel. Di sana Daniel hidup di tengah bangsa pagan penyembah berhala dan sekaligus juga mengabdi pada Raja Babel. Selama hidupnya di tanah Babel, Daniel tidak pernah memberontak ataupun menolak mengakui kepemimpinan raja-raja Babel yang berkuasa. Namun Daniel tetap setia pada imannya tanpa kompromi. Dia bahkan berani menentang perintah raja apabila perintah tersebut bertentangan dengan imannya, meski untuk itu ia harus menerima hukuman dimasukkan ke kandang singa. Daniel hidup di Tanah Babel sampai dengan kedatangan Raja Koresy yang membebaskan bangsa Israel kembali ke tanah mereka.

Kisah Daniel yang hidup di tanah pembuangan namun tetap setia pada imannya dan juga setia mengabdi pada raja-raja Babel dapat menjadi 'type' bagi orang-orang Katolik yang ingin menjadi bagian dari sisa umat yang setia di tengah Gereja Katolik yang saat ini dikuasai semangat KVII. Kita tetap tinggal di dalam Gereja Katolik, tetap mengakui Paus dan seluruh hirarki yang sah, namun setia tanpa kompromi pada iman Gereja Katolik pra-Konsili!

Seperti yang saya katakan tadi, Misa Latin Tradisional itu bagaikan persembahan korban bakaran Habel yang berkenan bagi Tuhan. Sementara Misa Novus Ordo adalah persembahan korban bakaran Kain yang tidak layak dan tidak disukai Tuhan. Maka dokumen Traditionis Custodes yang menetapkan Misa Novus Ordo sebagai satu-satunya lex orandi Gereja Konsili sama seperti sengaja memilihkan persembahan yang kurang baik bagi Tuhan dan menyembunyikan persembahan yang layak. Bukankah itu suatu penghinaan yang menyakitkan bagi Tuhan?

Maka setiap Misa Novus Ordo yang dirayakan di Gereja Konsili pada dasarnya adalah suatu penghinaan bagi Tuhan. Sebagai sisa umat yang setia dan mengasihi Tuhan, kita tidak bisa terlibat pada tindakan yang jelas-jelas merupakan penghinaan bagi Tuhan. Oleh karenanya kita pun tidak dapat terlibat dalam Misa Novus Ordo!

Ini memang menjadi dilema bagi kita di Indonesia dimana umumnya satu-satunya Misa yang ada di seluruh keuskupan hanyalah Misa Novus Ordo. Memang masih ada satu-dua imam yang menyelenggarakan Misa Latin Tradisional secara sembunyi-sembunyi. Tapi secara umum Misa Latin Tradisional bisa dianggap tidak tersedia. Apakah itu berarti kita tidak lagi mengikuti Misa entah sampai kapan, dan sebagai konsekuensinya semakin lama semakin terpisah dari kehidupan menggereja di paroki kita masing-masing?

Tidak, itu seperti sikap mau selamat sendiri dan tidak peduli pada Gereja.

Kita bisa belajar dari sebuah kisah yang meski tidak ada dalam Kitab Suci namun menurut tradisi cukup layak untuk dipercaya. Kisah tersebut terjadi di abad pertama saat orang-orang Kristen di Roma dikejar-kejar dan dianiaya. Rasul Petrus yang ingin menyelamatkan diri dari penganiayaan tersebut memilih pergi dari kota Roma. Tapi di tengah jalan dia berpapasan dengan Tuhan yang menampakkan Diri-Nya. 

Petrus bertanya, "Quo vadis Domine?" yang artinya, "Hendak kemanakah Engkau Tuhan?" Dan Tuhan menjawab, "Aku hendak ke Roma untuk disalibkan kembali!"

Jawaban itu langsung menyadarkan Rasul Petrus akan tanggung jawabnya sebagai gembala umat Kristen di Roma. Dia akhirnya kembali untuk menemani dan menguatkan mereka dalam penderitaan, meski untuk itu dia ditangkap dan dihukum mati dengan cara disalibkan terbalik.

Kita pun harus mengambil sikap seperti Rasul Petrus yang akhirnya memutuskan tidak lari dari tanggung jawab tapi memilih untuk ikut menderita bersama Gereja!

Misa Novus Ordo adalah suatu penghinaan bagi Tuhan dan sekaligus penganiayaan bagi Gereja Kristus. Meskipun demikian kita harus tetap menghadiri Misa Novus Ordo! Bukan untuk ikut merayakannya, karena tidak ada yang layak untuk dirayakan dalam Misa abal-abal tersebut. Tapi untuk ikut serta menemani Sang Mempelai Kristus, yaitu Gereja-Nya, yang tengah dianiaya. Itu sama seperti Yohanes yang hadir di Kalvari bukan untuk ikut menganiaya dan menyalibkan Tuhan kita tapi untuk setia menemani Tuhan dalam penderitaan-Nya!

Kita bisa sampai pada kesimpulan tersebut karena bapa-bapa Gereja memang mengajarkan bahwa seperti Kristus harus menjalani sengsara Kalvari dan mati di kayu salib sebelum bangkit dalam kemuliaan, Mempelai-Nya juga akan mengalami sengsara Kalvari sebelum keadaannya dipulihkan dalam kemuliaan. Sejak pengkhianatan para Yudas Iskariot modern dalam Konsili Vatikan II sampai hari ini, Gereja Katolik, yaitu Sang Mempelai Kristus memang sedang mengalami penderitaan Kalvari yang dimaksud.

Bagi kita sendiri, kehadiran dalam Misa Novus Ordo tersebut tidak ada gunanya. Tapi bagi Sang Mempelai Kristus kehadiran kita sangat berarti. Sama seperti kehadiran Yohanes sangat menghibur Tuhan kita yang tersalib, sehingga Tuhan berkenan menganugerahkan Bunda-Nya kepada Yohanes! Demikian juga kehadiran kita dalam Misa Novus Ordo adalah ungkapan kesetiaan kita untuk menemani Mempelai Kristus di tengah penderitaan Kalvari. Itu tindakan yang sangat berharga di mata Tuhan!

Selain itu, sama seperti Daniel yang menolak menerima makanan raja agar tidak menajiskan dirinya (Dan.1:8), kitapun tidak perlu ikut menerima komuni. Mungkin saja Sakramen Ekaristi tersebut tetap valid, tapi yang jelas tidak licit atau tidak layak karena dikonsekrasi dengan rumusan yang sudah diacak-acak dalam liturgi Misa yang tidak sepantasnya. Dan yang jelas hosti tersebut dikonsekrasi di dalam Gereja Antikristus! Itu kurang lebih sama seperi Sakramen Ekaristi yang dikonsekrasi dalam perayaan Misa Gereja Ortodoks! Sakramen tersebut memang valid tapi tidak licit karena dikonsekrasi di luar Gereja Kristus!

Tidak menerima komuni Misa Novus Ordo juga berarti kita menolak untuk ikut serta dalam penghinaan terhadap Tuhan dan penganiayaan terhadap Gereja-Nya! Tapi tidak menerima komuni pastilah merupakan penderitaan berat bagi kita. Maka dengan memutuskan tidak menerima komuni berarti kita merelakan diri untuk ikut serta ambil bagian dalam penderitaan yang sedang dialami Gereja! Tindakan itu juga bisa kita persembahkan sebagai silih atas penghinaan terhadap Tuhan dan penganiayaan terhadap Gereja-Nya!

Yohanes gagal menemani Tuhan kita saat penderitaan-Nya di Getsemani, tapi berkat pertolongan Bunda Maria dia tidak gagal menemani Tuhan dalam puncak sengsara-Nya. Demikian juga kita mungkin berkali-kali gagal untuk setia pada Gereja dalam banyak hal, tapi dengan pertolongan Bunda Maria semoga kita tidak gagal untuk menemani Sang Mempelai Kristus di saat puncak penderitaannya!

Lalu bagaimana dengan pengudusan jiwa kita yang seharusnya kita terima melalui Sakramen Ekaristi? 

Apa yang kita alami saat ini adalah keadaan luar biasa. Tuhan pasti tahu bahwa kita tidak menerima Sakramen Ekaristi bukan karena kelalaian kita tapi karena kita tidak ingin ikut menghina Dia! Dalam situasi luar biasa ini kita dapat mengupayakan pengudusan hidup kita melalui doa dan puasa. Meski tidak akan sama seperti menerima Sakramen Maha Kudus dalam kondisi yang normal, itu jauh lebih baik dari pada ikut menerima Sakramen Ekaristi tapi dengan menghina Tuhan kita!

Itu tadi adalah sikap defensif, bagaimana kita dapat bertahan menjaga kesetiaan iman Kristen di tengah Gereja Katolik yang nyaris dikuasai oleh Gereja Antikristus. Seperti dalam perumpamaan Injil ada waktunya lalang dikumpulkan dan dibakar, demikian juga ada waktunya kita sebagai sisa umat bertindak ofensif dengan meneladani sikap Yudas Makabe yang melancarkan perlawanan untuk memulihkan kembali Bait Suci yang tercemar. Bersama Bunda Maria, Santo Mikael Malaikat Agung dan semua orang kudus, pada waktu yang tepat kita sebagai sisa umat yang setia akan melawan segala kesesatan yang telah mencemari Gereja Tuhan dan memulihkan segala sesuatu di dalam Kristus.

Sambil tetap terbuka pada bimbingan Roh Kudus, sejauh yang saya tahu itu tadi adalah pilihan sikap terbaik yang dapat kita ambil saat ini untuk menghadapi situasi luar biasa yang sedang terjadi di Gereja Katolik.

Sebagai kesimpulan akhir dari seluruh video, di balik keputusannya yang mengecewakan banyak orang, dokumen Traditionis Custodes justru telah membuat topeng yang menutupi wajah buruk Konsili Vatikan II menjadi terbuka. Sekarang kita tahu bahwa akibat Konsili Vatikan II kita berada dalam situasi dimana perumpamaan gandum dan lalang yang tumbuh bersama dalam satu ladang sedang tergenapi! Kita sedang hidup dalam suatu masa dimana Gereja Kristus eksis berdampingan dengan Gereja Antikristus!

Tuhan tentu saja menghendaki kita untuk keluar dari jebakan Gereja Antikristus yang menyesatkan, namun tetap setia berada di dalam Gereja yang didirikan-Nya. Dengan mengambil teladan Daniel, Yohanes, Petrus, dan Yudas Makabe seperti yang sudah dijelaskan dalam video ini kita memilih untuk menjadi sisa umat yang setia di dalam Gereja-Nya, sambil tetap menghidupkan asa untuk pada waktu yang tepat dapat berjuang memulihkan segala sesuatu di dalam Kristus seperti yang dikehendaki-Nya!

Terima kasih atas perhatian anda...

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar