Gereja Antikristus Dan Misteri Dua Pedang Kalvari


Transkrip video:

Pax vobis, salam damai dan sejahtera bagi kita semua...

Motu Proprio Traditionis Custodes yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus telah menyadarkan kita pada sebuah fakta kontroversial: Gereja Antikristus sudah lama ada di tengah-tengah kita dan banyak orang Katolik yang terjebak di dalamnya!

Memang benar Gereja Antikristus sudah mulai ada sejak Konsili Vatikan II. Tapi dulu kita hanya melihatnya sebagai penyimpangan yang terjadi di dalam Gereja Katolik sebagai akibat dari penerapan semangat Konsili Vatikan II. 

Sejak lebih dari setahun yang lalu Uskup Agung Vigano mulai menyuarakan adanya gereja paralel, mulai menyinggung soal 'deep church' (gereja rahasia), dan dia juga berbicara soal Gereja Katolik yang tengah mengalami gerhana, bagaikan matahari yang sinarnya nyaris tak terlihat karena tertutup oleh bulan! Ini suatu ungkapan simbolik yang menggambarkan Gereja Kristus yang cahayanya sedang tertutup oleh Gereja Antikristus! Pernyataan-pernyataannya tersebut jelas mengindikasikan adanya dua gereja berbeda dalam Gereja Katolik!

Baru setelah Paus Fransiskus menerbitkan dokumen Traditionis Custodes, secara implisit kita mendapat kepastian bahwa Gereja Konsili memang berbeda dari Gereja Kristus yang diwariskan oleh para Rasul. Dan dengan menerapkan perumpamaan gandum dan lalang yang tumbuh dalam satu ladang, kita bisa menyimpulkan Gereja Konsili adalah Gereja Antikristus yang eksis berdampingan bersama Gereja Kristus di dalam Gereja Katolik!

Fakta ini dikonfirmasi juga oleh nubuat Rasul Paulus tentang kemurtadan yang harus terjadi menjelang kedatangan Kristus (2Tes.2:3) dan juga adanya sisa umat yang setia (Rm.11:5). Artinya Rasul Paulus juga sudah menubuatkan adanya banyak orang Kristen yang murtad yaitu Gereja Konsili yang mainstream alias Gereja Antikristus, DAN minoritas sisa umat yang setia yaitu Gereja Kristus!

Kalau saya berbicara soal Gereja Kristus dan Gereja Antikristus, bukan berarti ada dua organisasi atau dua struktur hirarki dalam Gereja Katolik. Organisasinya tetap satu, struktur hirarkinya juga satu, maka suka atau tidak suka kita tetap harus mengakui Paus dan hirarki Gereja Katolik yang sah. 

Yang membedakan keduanya adalah ajaran dan semangatnya. Gereja Kristus memiliki ajaran yang sama dengan ajaran yang diwariskan oleh para Rasul dan bapa-bapa Gereja. Sedangkan Gereja Antikristus sekedar memanfaatkan ajaran para Rasul sebagai pembenaran tapi kemudian menindas dan menyimpangkannya untuk menyebarkan ajaran baru yang penuh racun ekumenisme dengan dalih aggiornamento atau mengikuti perkembangan jaman.

Dengan kata lain Gereja Antikristus adalah semua orang Katolik, baik awam maupun klerus, yang mendukung KVII dan seluruh agenda ekumenismenya. Sementara Gereja Kristus adalah segelintir sisa orang Katolik, baik awam maupun klerus, yang tetap setia pada ajaran Gereja Katolik pra-konsili.

Adanya Gereja Antikristus menjadi tanda terjadinya masa penganiayaan terhadap Gereja Kristus seperti yang secara simbolik digambarkan dalam Kitab Wahyu 12. Periode penganiayaan Gereja ini memiliki 'type'-nya yang sempurna dalam Injil, yaitu penderitaan Kalvari yang harus dijalani oleh Tuhan kita. Bapa-bapa Gereja mengajarkan pada kita, seperti juga Yesus Kristus harus dikhianati dan menjalani penderitaan sampai mati sebelum bangkit dalam kemuliaan, demikian juga Mempelai-Nya. Gereja harus mengalami pengkhianatan dan menjalani penderitaan sampai "mati" sebelum dipulihkan dalam seluruh kemuliaannya.

Dua ribu tahun yang lalu sebagian murid-murid-Nya sempat tidak dapat menerima kenyataan bahwa Sang Mesias yang adalah Tuhan dan Guru mereka harus menderita sampai mati. Itu bisa terlihat dari sikap Petrus yang mencoba menghalangi Tuhan kita untuk pergi ke Yerusalem (Mat.16:22). Demikian juga hari ini banyak orang Katolik sulit menerima fakta bahwa Gereja harus mengalami penghinaan dan dinodai berbagai kenajisan sebagai bagian dari penderitaan kalvari yang harus dijalani. Mereka mencoba menyangkalnya dengan menganggap tidak ada yang salah dengan Gereja! Sama seperti burung unta yang menenggelamkan kepalanya di pasir agar tidak perlu melihat ancaman yang menakutkan!

Tapi sebagaimana penderitaan Tuhan kita adalah fakta, begitu pula sengsara Kalvari yang dialami Gereja sekarang juga fakta yang tidak bisa disangkal. Yang kita butuhkan adalah pertolongan dan rahmat Tuhan untuk memahami apa yang terjadi dan menjalaninya sebagai sisa umat yang setia.

Kabar buruknya...

Semua klerus, baik uskup maupun para imam, yang mendukung KVII tidak mungkin kita harapkan untuk menjadi gembala bagi kita dalam menjalani masa Kalvari Gereja.

Mengapa demikian?

Seperti juga penderitaan Kalvari bagi Tuhan kita dimulai dengan pengkhianatan Yudas Iskariot, demikian juga masa Kalvari bagi Gereja dimulai dengan pengkhianatan KVII! Para pendukung KVII jelas menolak untuk mengakui KVII sebagai pengkhianatan terhadap Gereja. Maka mereka pun tidak mungkin mengakui adanya penderitaan Kalvari yang sedang dijalani Gereja.

Selanjutnya, karena mereka tidak mengakui adanya penderitaan Kalvari yang tengah dialami Gereja, maka kita juga tidak mungkin mengandalkan mereka untuk membimbing kita dalam menjalani masa Kalvari. Singkatnya, mereka yang menolak mengakui adanya masalah mustahil dapat memberikan solusi!

Sebaliknya kaum klerus yang menolak KVII, seperti Uskup Agung Vigano dan segelintir kaum klerus lainnya dengan mudah dapat percaya KVII adalah sebuah pengkhianatan terhadap Gereja. Dengan demikian mereka juga percaya bahwa setelah pengkhianatan akan datang masa penderitaan Kalvari. Hanya dari mereka, yaitu kaum klerus yang menolak KVII inilah kita bisa mengharapkan bimbingan dan penggembalaan yang sejalan dengan kehendak Tuhan dalam menghadapi masa Kalvari bagi Gereja.

Kabar sangat buruknya...

Di Indonesia nyaris mustahil kita menemukan kaum klerus yang menolak KVII. Setidaknya sampai hari ini saya belum menemukannya. Saya memang mengenal beberapa imam atau presbiter yang terlihat tradisionalis dan beberapa kali mempersembahkan Misa Latin Tradisional. Tapi sayangnya mereka pun masih tetap mendukung KVII sehingga sulit diharapkan untuk dapat memahami situasi Kalvari yang sedang dialami Gereja.

Dan sekarang kabar baiknya...

Karena situasi penderitaan Kalvari yang dialami Gereja ini sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci, maka solusi untuk menghadapinya pun pasti ada dalam Kitab Suci.

Misalnya kita bisa meniru teladan Nabi Daniel yang hidup dalam pembuangan di Tanah Babel untuk menjadi model bagaimana kita harus menjalani kehidupan dalam Gereja Katolik yang sedang berada dalam kekuasaan Gereja Antikristus! Kita juga dapat meniru Rasul Yohanes yang tetap setia menemani Tuhan di Kalvari sebagai teladan bagaimana kita juga tetap setia menemani Gereja yang adalah Mempelai Kristus dalam menjalani segala penderitaannya. 

Bahkan kita bisa meniru Yudas Makabe yang berjuang merebut kembali Bait Allah sebagai model bagaimana pada waktunya kelak kita akan bangkit berjuang memurnikan Gereja dari kenajisan akibat semangat KVII. Termasuk juga membersihkan Gereja dari Misa Novus Ordo yang merupakan penghinaan bagi Tuhan kita!

Dan satu lagi, Injil juga memberikan petunjuk senjata rohani yang perlu kita miliki untuk menghadapi masa kalvari Gereja ini. Ini sangat penting karena kita pasti sangat membutuhkannya....

Saya akan mengutip pembicaraan yang terjadi setelah Perjamuan Terakhir:

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?" Jawab mereka: "Suatu pun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi." Kata mereka: "Tuhan, ini dua pedang." Jawab-Nya: "Sudah cukup." (Luk. 22:35-38).

Ada yang perlu kita perhatikan dalam perkataan Tuhan tersebut. Tuhan Yesus meminta para murid yang tidak memiliki pedang untuk menjual jubah mereka dan membeli pedang. Padahal saat itu hari sudah malam sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk menjual jubah dan membeli pedang. Selain itu dua pedang yang ditunjukkan para murid-Nya ternyata dikatakan Tuhan sudah cukup padahal musuh yang harus dihadapi banyak. Dan ketika Petrus menggunakannya di Taman Getsemani, Tuhan malah melarangnya.

Sekilas itu tampak membingungkan.

Maka perkataan Tuhan tersebut harus dimaknai secara simbolik. Perkataan tersebut BUKAN untuk menghadapi penderitaan Kalvari yang harus dijalani Tuhan kita saat itu, tapi untuk Kalvari yang lain. Perkataan itu ditujukan kepada semua orang Kristen, untuk mempersiapkan diri menghadapi penderitaan Kalvari yang harus dihadapi oleh Mempelai-Nya, yaitu Gereja!

Sekarang kita perlu mengetahui apa makna dari dua pedang yang dikatakan Tuhan cukup sebagai senjata bagi para pengikut-Nya. Tuhan pasti tidak akan membiarkan kita menghadapi masa Kalvari ini dengan tangan kosong! Maka kita punya alasan untuk meyakini dua pedang tersebut adalah dua senjata rohani yang sangat kita butuhkan dalam menghadapi masa Kalvari. 

Dua pedang itu adalah dua senjata rohani yang akan membuat orang-orang Kristen mampu bertahan dalam iman ketika menghadapi penderitaan dan penganiayaan yang harus dialami Gereja. Itu sekaligus juga dua senjata rohani yang pada waktunya kelak akan digunakan untuk memulihkan kembali segala sesuatu di dalam Kristus! Termasuk membersihkan Gereja-Nya dari semua pengaruh Gereja Antikristus dan memulihkan kembali kejayaannya!

Mengapa dua pedang?

Saya yakin ini erat hubungannya dengan nubuat di Taman Eden dimana Tuhan menetapkan permusuhan antara perempuan dan ular dan antara keturunan perempuan melawan keturunan ular (Kej.3:15). Ada dua pertempuran, tentu sangat logis jika pedang yang dibutuhkan juga dua. Pedang yang satu digunakan perempuan untuk melawan ular, sedangkan pedang yang lain digunakan keturunan perempuan untuk melawan keturunan ular!

Ada alasan lainnya mengapa kita membutuhkan dua pedang.

Jika sebelumnya Gereja harus menghadapi musuh-musuh yang berasal dari luar, maka di masa Kalvari ini kita juga harus menghadapi musuh dari dalam Gereja sendiri, yaitu para pendukung KVII. Secara logis kita pun membutuhkan dua macam senjata rohani yang berbeda!

Dalam sejarah Gereja, kita sudah mengenal sebuah senjata rohani, yaitu Doa Rosario. Bunda Maria memberikan senjata itu kepada St. Dominikus untuk menghadapi bidat albigensis di abad 13. Juga dalam perang Lepanto tanggal 7 Oktober 1571, keampuhan doa tersebut sebagai senjata rohani kembali terbukti ketika Armada Kepausan mampu mengalahkan Armada Kekalifahan Turki yang jauh lebih besar dalam sebuah pertempuran laut paling menentukan dalam sejarah.

Tapi itu baru satu pedang! Sedangkan yang tertulis dalam Injil kita memerlukan dua pedang Kalvari. Kita masih membutuhkan satu pedang rohani lainnya...

Dalam tradisi Gereja Timur ada sebuah doa yang sangat populer, sama populernya seperti Doa Rosario bagi Gereja Barat. Doa tersebut dikenal dengan nama Doa Yesus. Tradisi doa ini setidaknya sudah dimulai sejak abad 3 di saat Gereja Timur seluruhnya masih menjadi bagian dari Gereja Katolik. Maka Doa Yesus inipun sebenarnya merupakan bagian dari kekayaan rohani Gereja Katolik, sama seperti Doa Rosario. Hanya saja jika Doa Rosario berasal dari tradisi Gereja Barat, Doa Yesus berasal dari tradisi Gereja Timur!

Doa sederhana ini juga sudah membuktikan kekuatannya sebagai senjata rohani. Pada abad 10, Patriark Abraham dari Gereja Koptik di Mesir bersama umatnya mendaraskan doa ini dan berhasil memindahkan Bukit Mokattam sebagai bukti kebenaran Injil. Akibat mujizat tersebut orang-orang Kristen di Mesir selamat dari ancaman pembantaian oleh Kalifah Al-Muizz yang kemudian bertobat dan dibaptis.

Sekarang Doa Yesus yang sederhana tersebut dilengkapi dengan doa lain dan disempurnakan menjadi Doa Mazmur Yesus. Jika Doa Yesus sudah menunjukkan kekuatannya sebagai senjata rohani dengan berpindahnya Bukit Mokattam, kita punya alasan kuat untuk percaya bahwa Doa Mazmur Yesus yang menyempurnakan doa tersebut berpotensi memiliki kekuatan lebih besar lagi. Doa ini disebut Doa Mazmur Yesus selain karena terdiri dari 150 Doa Yesus sesuai dengan jumlah Mazmur, juga untuk menegaskan identitas simboliknya sebagai senjata rohani!

Lalu apa hubungan antara Mazmur dan senjata rohani?

Penulis Mazmur adalah Daud. Kalau kita berbicara tentang Daud, salah satu yang paling kita ingat adalah pertarungannya dengan Goliat. Pada pertarungan tersebut Daud menggunakan senjata yang sangat sederhana berupa pengumban batu. Meskipun sangat sederhana, senjata tersebut cukup untuk mengalahkan Goliat yang jauh lebih kuat dan bersenjata lengkap. 

Nah, pengumban batu yang digunakan Daud adalah 'type' atau simbol dari senjata rohani sederhana yang digunakan oleh umat Tuhan dalam menghadapi musuh-musuh yang jauh lebih kuat! Tentu bukan kebetulan jika bentuk pengumban batu Daud secara simbolik juga dapat diartikan sebagai untaian rosario atau komboskini! Dengan demikian pemberian nama "Mazmur" pada "Doa Mazmur Yesus" dimaksudkan untuk menunjukkan karakteristiknya sebagai senjata rohani.

Maka sangat tepat ketika Bunda Maria menyebut Doa Rosario yang diajarkannya kepada St. Dominikus sebagai "Mazmurku". Bunda Maria mengajarkan doa tersebut memang dengan tujuan sebagai senjata rohani untuk mengalahkan gerakan bidat albigensis di masa itu. Dengan demikian Doa Rosario sebenarnya dapat juga kita sebut sebagai Doa Mazmur Maria dan sejak awal memang dimaksudkan sebagai senjata rohani.

Dalam tradisi Gereja Katolik kita mengenal Hati Tak Bernoda Santa Maria dan Hati Kudus Yesus. Mengacu pada tradisi tersebut, cukup beralasan jika kita menempatkan Doa Mazmur Yesus yang merupakan penyempurnaan dari Doa Yesus sebagai pendamping dari Doa Rosario atau Doa Mazmur Maria untuk menjadi dua pedang Kalvari yang dimaksudkan oleh Injil! Keduanya juga sekaligus mewakili kekayaan rohani Gereja Timur dan Gereja Barat! 

Jadi sekarang kita sudah punya dua pedang yang cukup untuk menjadi senjata kita dalam menghadapi masa Kalvari seperti yang sudah dinubuatkan dalam Injil, yaitu Doa Rosario atau Doa Mazmur Maria dan Doa Mazmur Yesus! Saya tidak mengatakan ini satu-satunya penafsiran dan saya tetap terbuka pada kemungkinan lain. Tapi sampai detik ini saya tidak memiliki alternatif lain yang lebih baik untuk menafsirkan dua pedang yang disebutkan dalam Injil selain dari pada dua senjata rohani ini: Doa Rosario dan Doa Mazmur Yesus!

Jika dua pedang yang dimaksud dalam Injil memang Doa Rosario dan Doa Mazmur Yesus, maka mempraktekkan keduanya bukanlah sekedar pilihan yang bisa diabaikan. Itu suatu keharusan bagi kita di masa Kalvari ini. Maka mulai Bulan Oktober 2021, kami akan menambahkan Doa Rosario untuk bersama-sama dengan Doa Mazmur Yesus menjadi bagian dari doa rutin yang kami lakukan setiap hari. Ini akan menjadi upaya sederhana kita sebagai sisa umat Tuhan untuk menggenapi dua pedang Kalvari yang tertulis di Injil! Kegiatan ini akan dikoordinir melalui grup FB Indonesian Crusaders dan terbuka bagi semua Kristen, baik Katolik, Ortodoks, maupun Protestan.

Jika anda menyadari saat ini kita sedang menjalani masa Kalvari bagi Gereja dan anda ingin menjadi bagian dari sisa umat Tuhan yang setia, anda perlu menjadikan Doa Rosario dan Doa Mazmur Yesus sebagai dua pedang Kalvari. Anda kami undang untuk bergabung dengan grup FB kami dan mengikuti kegiatan doa bersama yang kami lakukan setiap hari. 

Apabila anda dari Gereja Ortodoks atau dari denominasi Protestan yang karena berbagai alasan masih belum dapat mengikuti kegiatan Doa Rosario, anda bisa mulai dengan mengikuti kegiatan Doa Mazmur Yesus lebih dahulu. Doa Mazmur Yesus bisa menjadi awal yang baik untuk mempersatukan kita semua sebagai sisa umat Tuhan di dalam satu Gereja yang kudus, katolik, dan apostolik.

Terima kasih atas perhatian anda...

Viva Christo Rey!

Posting Komentar

0 Komentar