Transkrip video:
Salam damai dan sejahtera..
Akhir Desember 2025, Iran kembali diguncang gelombang protes terbesar sejak demonstrasi menentang pemaksaan hijab tahun 2022. Kali ini kerusuhan dipicu oleh krisis ekonomi.
Aksi kerusuhan segera meluas ke berbagai kota dan mahasiswa dari berbagai universitas mulai ikut bergabung. Ini membuat kerusuhan menjadi semakin besar dan kompleks. Kini persoalan yang diangkat bukan cuma krisis ekonomi tapi juga tuntutan politik, yaitu penolakan atas rezim teokratis Islam Iran yang sudah berkuasa selama 47 tahun lamanya.
Kerusuhan atau demonstrasi menentang rezim teokratis Iran sebenarnya bukanlah hal baru. Sebelumnya sudah pernah terjadi, dan dalam hitungan hari berhasil diredam.
Namun kerusuhan kali ini berbeda. Keberhasilan serangan Israel dalam perang 12 hari yang berhasil menghabisi banyak perwira, membuat militer Iran dalam kondisi sangat lemah. Akibatnya para demonstran mempunyai kepercayaan diri yang sangat besar. Mereka tidak hanya menuntut kejatuhan rezim teokratis yang berkuasa, tapi juga menginginkan kembali berkuasanya dinasti Pahlevi sebagai pemimpin Iran. Faktor inilah yang membuat demonstrasi kali ini berdampak signifikan dan berpotensi pada kejatuhan rezim Islam Iran.
Jika kerusuhan kali ini berujung pada kejatuhan rezim Islam Iran, maka itu akan menjadi tonggak sejarah yang penting.
Mengapa demikian?
Setelah kekhalifahan Islam dibubarkan tahun 1924 dan berbagai kekalahan memalukan negara-negara Arab dalam perang melawan Israel, banyak muslim merasa menjadi pecundang dan kehilangan harga diri mereka. Maka ketika Ayatollah Khomeini berhasil menumbangkan Shah Iran dan mengubah Kerajaan Iran menjadi Republik Islam Iran, semangat kaum muslim di seluruh dunia kembali bangkit.
Termasuk juga impian mereka untuk mendominasi dunia. Di berbagai belahan dunia, propaganda dan dakwah Islam garis keras semakin meningkat yang diikuti dengan tuntutan untuk menerapkan hukum syariah di berbagai negara.
Kita bahkan bisa melihat fenomena itu di negara kita.
Sebelum revolusi Iran 1979, muslim di Indonesia umumnya sangat toleran. Kita tidak melihat perempuan berhijab di jalan-jalan umum. Bahkan di sekolah-sekolah Islam, murid perempuan tidak ada yang mengenakan hijab kecuali di madrasah dan pesantren.
Tapi di awal dan pertengahan tahun 80-an, mulai muncul trend perempuan berhijab, baik di sekolah-sekolah ataupun di perguruan tinggi. Dan sekarang perempuan berhijab sudah menjadi pemandangan umum di banyak kota-kota di Indonesia. Itu semua tidak lepas dari pengaruh revolusi Islam Iran yang menggerakkan semangat propaganda dan dakwah Islam, tidak hanya sebagai agama tapi juga sebagai kekuatan sosial, ekonomi dan politik.
Dan yang berbahaya, keberhasilan revolusi Islam Iran juga ikut membangkitkan semangat kelompok-kelompok Islam radikal untuk berjihad dan mendominasi dunia dengan berbagai cara, termasuk dengan terorisme.
Singkatnya, keberhasilan revolusi Islam Iran adalah simbol dari kebangkitan kekuatan Islam dunia.
Maka ketika sekarang rakyat Iran berdemonstrasi besar-besaran menuntut bubarnya rezim Islam Iran dan kembalinya dinasti Pahlevi, ini juga akan menjadi momen simbolik bersejarah...jika berhasil.
Momen ini akan menunjukkan pada semua orang bahwa amibisi Islam untuk menguasai dunia adalah mimpi yang harus dilupakan. Islam sudah terbukti gagal membangun sebuah negara, bagaimana mungkin mereka bisa membangun peradaban? Jangan kita percayakan pembangunan gedung bertingkat pada orang yang tidak sanggup membangun pagar.
Mari kita berharap rakyat Iran berhasil menumbangkan rezim Islam Iran agar dunia tidak lagi direpotkan ambisi bodong kaum Islamis yang hanya membawa kerusakan demi kerusakan.
Terima kasih atas perhatian anda..
Viva Christo Rey!









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar