Uskup Dan Imam Abal-Abal Di Sekitar Kita


Transkrip video:

Jika kita jeli melihat tanda-tanda zaman yang sedang terjadi di depan mata dalam beberapa tahun terakhir, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada Gereja Katolik hari ini adalah penggenapan dari nubuat akhir zaman tentang adanya kemurtadan menjelang kedatangan Kristus (2 Tesalonika 2 ayat 3). 

Murtad adalah penyangkalan terhadap iman. Kemurtadan besar di Gereja tidak terjadi dalam sekejap, tapi muncul secara bertahap dimulai dari penyimpangan atau pergeseran iman yang semakin lama semakin besar.

Jika penyimpangan terhadap iman di Gereja Katolik hanya terjadi pada tingkat imam atau uskup saja, dengan mudah penyimpangan itu dikoreksi atau jika perlu disingkirkan dari Gereja dengan mengekskomunikasi mereka yang menyimpang. Tapi jika penyimpangan itu melibatkan hirarki sampai pada pucuk pimpinan yang tertinggi, maka penyimpangan itu akan menetap, berkembang, dan akhirnya berubah menjadi penyangkalan iman yang menghancurkan Gereja. Itulah yang saat ini sedang terjadi dalam Gereja Katolik sejak Konsili Vatikan II. Buah-buah penyimpangannya yang kita lihat sekarang di Gereja Katolik sudah mengkonfirmasi hal ini.

Lalu bagaimana dengan janji Tuhan bahwa Gereja-Nya tidak akan terkalahkan? Nubuat itu tetap tergenapi dengan adanya sisa umat yang setia, yang menjaga keutuhan ajaran iman para Rasul hingga kemurtadan itu akhirnya disingkirkan. Soal adanya sisa umat ini juga sudah dinubuatkan oleh Rasul Paulus (Roma 11 ayat 2-5).

Berdasarkan itu semua maka saat ini Gereja Katolik terbagi ke dalam dua kelompok: mereka yang menggenapi nubuat kemurtadan besar dengan menyimpang dari ajaran iman para Rasul, dan mereka yang menggenapi nubuat sebagai sisa umat dengan tetap setia pada ajaran iman yang benar.

Kita dihadapkan pada situasi dimana mereka yang berbaju klerus, entah itu para imam, uskup, kardinal, atau bahkan Paus, tidak lagi memegang iman Katolik yang benar. Tapi tidak sedikit juga para klerus yang tetap setia menjaga iman yang benar meski dalam banyak kasus harus berkompromi (misalnya merayakan Misa Novus Ordo) karena tuntutan hirarki yang tidak dapat dielakkan. Pada para klerus yang setia ini kita masih dapat meletakkan harapan, setidaknya mereka dapat menjadi jembatan bagi umat Katolik untuk lepas sama sekali dari kemurtadan dengan mengarahkan umat Katolik menjadi sisa umat yang setia. Atau, suatu saat mereka sendiri akan bergabung dengan kelompok tradisionalis yang setia menjaga iman.

Tapi bagaimana kita membedakan para klerus yang murtad dan mereka yang masih punya harapan?

Ada sebuah pertanyaan yang dapat menjadi pembeda keduanya. Ini pertanyaannya: 

Apakah mereka percaya bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya agama yang dikehendaki Tuhan sebagai sarana keselamatan, atau dengan kata lain agama di luar Katolik tidak satu pun yang dapat menjadi sarana keselamatan?

Jika jawabannya tegas: YA, maka klerus tersebut masih punya harapan untuk menjadi bagian dari sisa umat. Sementara kalau jawabannya negatif, atau muter-muter tidak jelas dan ambigu, abaikan saja. Mereka adalah serigala berbulu domba. Jangan biarkan mereka mengajarkan iman kepada anda atau anak-anak anda karena mereka sendiri sudah tidak lagi memiliki iman Katolik yang benar. Jika ada orang buta menuntun orang buta maka keduanya akan masuk lubang, itu nasehat Injil.

Baru-baru ini Vatikan mengeluarkan dokumen berjudul "A Journey of Hope" yang disetujui oleh Paus Leo XIV. Dokumen tersebut dikeluarkan untuk memperingati 60 tahun dokumen "Nostra Aetate." Dokumen ini antara lain mendorong orang Katolik untuk menghormati dan menghargai agama-agama lain, tanpa sedikit pun menyinggung soal upaya penginjilan yang perlu bagi keselamatan mereka.

Dokumen ini secara tidak langsung jelas menyangkal Gereja Katolik sebagai satu-satunya sarana keselamatan. Dengan demikian kita bisa kategorikan dokumen ini sebagai bagian dari agenda pemurtadan yang harus kita tolak. Siapapun yang mendukung dokumen ini sudah pasti menjadi bagian dari kemurtadan besar yang sedang terjadi, entah sebagai serigala berbulu domba atau sebagai orang-orang yang terjebak dalam kemurtadan.

Tujuan utamanya satu: dalam jangka panjang menghancurkan Gereja Katolik sebagai satu-satunya sarana keselamatan dan menggantikannya dengan agama ekumenis universal rancangan si jahat.

Jadi sekarang apa yang kita pilih?

Ikut menyetujui semua agenda Gereja Katolik pasca-konsili yang mengarahkan kita untuk menerima sebuah agama universal? Atau tetap setia dalam iman Katolik sebagai sisa umat?

Sejalan dengan agenda Gereja itu gampang, tinggal ikut arus dan pasti didukung hirarki. Sementara menjadi sisa umat itu butuh perjuangan berat dan harus siap berseberangan dengan hirarki. Tapi seperti kata GK Chesterton, hanya mereka yang hidup mampu bergerak melawan arus, sedangkan yang mati akan bergerak mengikuti arus.

Posting Komentar

0 Komentar