Transkrip video:
Tentu anda pernah mendengar cerita ini:
Sekawanan kodok dimasukkan ke dalam sebuah kuali. Mereka terlihat nyaman karena mengira sedang dipindahkan ke kolam lain. Kuali itu kemudian dipanaskan dengan api kecil. Ketika air di kuali menjadi sedikit hangat beberapa kodok curiga dan segera lompat untuk meninggalkan kuali. Sebagian besar kodok lain tetap tinggal dan masih merasa nyaman. Air di kuali makin meningkat suhunya dan beberapa kodok lain mulai merasa tidak nyaman lalu melompat pergi meninggalkan kuali.
Tapi sama dengan sebelumnya, sebagian besar kodok masih tidak menyadari kenaikan suhu yang perlahan itu dan tetap merasa nyaman. Sampai akhirnya semua kodok mulai sadar ada masalah ketika air sudah begitu panas dan menyakiti seluruh tubuh. Mereka sangat ingin keluar dari kuali untuk menyelamatkan diri tapi tidak bisa karena otot-otot mereka sudah terlanjur rusak, hingga akhirnya semua kodok yang bebal itu harus menemui ajal sebagai kodok rebus.
Itu adalah gambaran karikatural dari apa yang sedang terjadi di Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan II. Sejak 60 tahun lalu dengan alasan semangat konsili, di Gereja Katolik terjadi berbagai perubahan. Awalnya ini tidak tampak sebagai penyimpangan ajaran. Yang terjadi hanyalah pembaharuan liturgi, pembaharuan semangat pastoral, upaya memajukan semangat toleransi demi persatuan Kristen dan perdamaian dunia, kepedulian pada kaum tertindas, dan banyak gagasan-gagasan progresif lain. Perubahan itu begitu halus sehingga sebagian besar orang Katolik mengira itu semua perubahan yang wajar dan perlu demi beradaptasi dengan zaman yang terus berubah.
Tapi sebagian kecil orang Katolik yang peka menyadari betul bahwa perubahan kecil itu hanyalah awal dari sebuah perubahan besar yang sedang dirancang. Mereka menolak perubahan itu dan kembali pada tradisi serta ajaran Gereja sebelum segala perubahan merusak itu terjadi.
Selanjutnya perubahan di Gereja semakin lama semakin ekstrim, dan semakin banyak orang Katolik yang mulai sadar adanya rancangan diabolik di balik semua itu. Mereka mulai menolak perubahan konsili dan kembali pada tradisi. Tapi sama seperti sebelumnya, sebagian besar Katolik masih juga tidak menyadari perubahan merusak itu. Celakanya, bahkan mereka sudah menjadi kebal dan beradaptasi ikut mendukung perubahan-perubahan tersebut. Mereka inilah orang-orang Katolik yang suatu saat akan menyadari masalah kemurtadan besar yang sebenarnya sedang terjadi di Gereja tapi sudah terlambat. Akibatnya, mereka harus ikut mengalami penghukuman bersama para hirarki yang menyimpang.
Sekarang mari kita bercermin.
Dalam konteks kisah kodok-kodok yang malang ini, sekodok apakah anda sebagai orang Katolik?
Apakah anda kodok terberkati yang peka dengan perubahan kecil dan segera meninggalkan kuali? Atau sebaliknya anda adalah kodok-kodok konsili yang bebal dan sama sekali tidak peka dengan segala perubahan yang semakin ekstrim sehingga baru sadar setelah semuanya terlambat?
Dalam Injil Tuhan berkata, "Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Mat.5:18) Perkataan itu juga berlaku untuk semua ajaran-Nya yang sudah dipercayakan para rasul: tidak satu iota pun yang boleh berubah sampai akhir zaman.
Maka ketika dengan alasan mengikuti semangat konsili dan pembaharuan ada beberapa ajaran Gereja Katolik yang berubah, seharusnya kita sadar ada yang salah dan Tuhan tidak menghendakinya. Tapi sayangnya sebagian besar orang Katolik tidak seperti itu.
Ketika liturgi Misa Kudus berubah semakin mirip liturgi Protestan, semua menganggapnya wajar. Ketika gerakan karismatik dari bidat Protestan berkembang di berbagai keuskupan, banyak yang ikut menyambut. Ketika Paus Yohanes Paulus II mengadakan doa bersama dengan tokoh berbagai agama, sebagian besar Katolik ikut berbangga. Termasuk ketika Paus Yohanes Paulus II mencium Quran, banyak yang melihatnya sebagai ungkapan kasih kepada kelompok lain.
Kini perubahan di Gereja semakin ekstrim, perceraian dinormalisasi melalui dokumen Amoris Laetitia, hubungan sesama jenis dimaklumi dan diberkati melalui dokumen Fiducia Supplicans, struktur hirarki Gereja dirusak dengan dalih sinodalitas, bahkan doktrin extra ecclesiam nulla salus disangkal dengan menyatakan semua agama adalah jalan menuju kepada Tuhan, dan banyak lagi. Sayangnya sampai di titik ini masih sangat banyak orang Katolik yang tidak juga sadar karena terus disesatkan oleh para uskup dan imam-imam konsili.
Mereka inilah kodok-kodok konsili yang bebal sekaligus malang. Mereka mengabaikan peringatan Kitab Wahyu:
"Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya." (Why.18:4-5)
Suatu saat mereka akan sadar ada masalah kemurtadan besar di Gereja, tapi mungkin semuanya sudah terlambat.
Jika anda masih peduli dengan keselamatan jiwa anda, segera sadari perubahan merusak yang sedang terjadi saat ini dan dengarlah seruan Kitab Suci untuk segera keluar dari kuali konsili yang membunuh jiwa-jiwa.
Apakah itu berarti keluar dari Gereja Katolik? Sama sekali bukan. Yang dimaksud adalah keluar dari semangat konsili yang merusak sambil tetap berada di dalam Gereja Katolik dengan berpegang pada tradisi dan ajaran iman para rasul yang tidak berubah. Itu seperti posisi yang diambil oleh SSPX dan komunitas-komunitas Katolik tradisional lain yang menolak perubahan konsili tanpa keluar dari Gereja Katolik.
Terima kasih atas perhatian anda...
Viva Christo Rey!









Kindle Unlimited Membership Plans
0 Komentar